Hari ini saya mendapatkan jatah untuk menjadi guru pendamping di kelas IC SDIT Birrul Walidain. Mendampingi ibu Beta dan Bu Ani menenangkan 28 siswanya yang sangat aktif. Berlarian kesana kemari, riuh, gaduh. Namun sekali lagi, dalam kegaduhan itu saya mendapatkan sebuah kenyataan bahwa setiap anak tetap mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Saya salut.

Di kelas ini, ada beberapa anak yang sangat aktif melebihi batas kewajaran, namun saya tertarik kepada satu orang, Yasser. Wajah dan namanya menandakan bahwa ia adalah anak keturunan Arab. Hidungnya mancung dan ganteng. Tapi Yasser adalah anak yang sangat berbeda, Ia tidak pernah mau mengerjakan tugas yang diberikan bu Beta, tidak pernah diselesaikannya. Selain itu Ia juga merupakan anak yang mudah tersinggung, hari ini saja Ia tiga kali berkelahi dengan teman sekelasnya.

Perkelahian itu memang hanya karena hal-hal yang wajar, mungkin hanya karena sebuah candaan saja. Yasser selalu yang memulai perkelahian itu, memukul temannya berkali-kali. Jelas saja temannya tidak terima dan membalas, Yasser menangis. Dua kali Yasser berkelahi dengan Arief dan sekali dengan Luthfi Besar. Nama Luthfi ada dua di kelas ini, satu bertubuh kecil dan satu bertubuh lebih besar, maka untuk membedakannya ditambahkan kecil dan besar saat bu Beta memanggilnya.

(Yasser dan Arief sesaat setelah berkelahi, makan bersama sambil bercanda kembali)

Inilah ajaibnya anak-anak, setelah beberapa menit yang lalu berkelahi, beberapa menit kemudian mereka sudah kembali damai dan melupakan semuanya. Seperti Yasser dan Arief. Dua kali berkelahi dan dua kali pula berdamai, berpelukan. Seakan tidak pernah ada apa-apa dengan mereka. Ah andai saja kita sebagai manusia dewasa juga bisa begitu, mungkin tidak akan ada kekerasan yang terjadi di negeri ini.

Sayangnya, terkadang kitalah sebagai orang tua, manusia yang notabene sudah dewasa justru tidak bisa berdamai dengan segera. Anak kita berkelahi dengan anak tetangga, kita juga ikut marahan dengan orang tua anak itu, padahal toh anak kita dan anak tetangga sudah bermain seperti biasa. Seakan tidak ada apa-apa dengan mereka.

Pembaca sekalian, hari ini saya banyak belajar dari Yasser dan Arief. Berdamai segera walau beberapa menit sebelumnya terjadi perkelahian diantara keduanya. Menyenangkan sepertinya jika bisa seperti mereka, tidak ada dendam yang tersimpan, tidak ada dengki, dan iri hati. Semoga saja saya bisa terus menjadi orang yang selalu memperbaiki diri dari hari ke hari. Amin.

Advertisements