Tags

, , , , , , ,

Tumbuh dan berkembang adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindari. Kecil jadi besar, anak-anak jadi dewasa, dan hidup menuju kematian, itulah kepastian. Sayang, terkadang kita semua lalai menapaki kehidupan dengan torehan tinta kebaikan, terbuai dengan kesenggangan dan lupa meraih mimpi yang diharapkan, “Kan masih ada besok” menjadi alasan klasik untuk menunda pekerjaan.

Kebiasaan buruk inilah yang membuat banyak diantara kita yang tidak bisa mempersiapkan masa depannya dengan baik. Ketika sadar, ternyata ia sudah menginjak usia matang, dewasa. Padahal sepertinya baru kemarin anak-anak, eh sekarang sudah mau punya anak. Waktu pun terbuang sia-sia tanpa persiapan bekal memadai.

Setiap orang pasti pernah mengalaminya, lalai memanfaatkan waktu. Seperti kemarin saat seorang sahabat mengirim sebuah pesan singkat..

“Saya ngerasa tertekan menjalani kehidupan nih. Ngerasa nggak siap aja dengan tanggung jawab yang semakin besar”. Saya sih kemudian menjawab semau saya saja, “Kehidupan ini kan Allah yang atur sedemikian rupa, jadi apapun yang terjadi sekarang, kita pasti bisa menghadapinya. Semua sudah Allah perhitungkan”.

Coba jika sebelumnya sudah disiapkan untuk menghadapi masa sekarang, seharusnya ia tidak akan merasa tertekan. Kemungkinan hari-hari sebelumnya sering bersantai dan kurang persiapan.

Atau ada juga sahabat lain yang galau dengan masalah jodohnya.

“Pengen kembali ke masa-masa belasan tahun..” bunyi pesannya, “Masa dimana nggak ada beban yang berat”

“Emang kenapa?” tanyaku penasaran.

“Iya mas, baru sadar ternyata sekarang udah 24 tahun, masa yang sudah seharusnya bisa hidup mandiri dan harus segera memikirkan masa depan, termasuk masalah jodoh”

“Namanya juga hidup, tumbuh dan berkembang itu kepastian, semua orang mengalaminya” jawabku, “Jalanin aja masa sekarang sebaik-baiknya”

“Tapi terkadang takut untuk menikah, takut salah pilih. Menikah itu kan bukan untuk sebulan dua bulan, kalau bisa untuk selamanya. Nah kalau salah pilih kan bisa berabe

“Mintalah petunjuk sama Allah, Dia yang mengetahui rahasia langit dan bumi”

“Iya mas..”

“Kalau memang sudah siap menikah, ya menikah saja” jawabku lagi.

“Saya sudah banyak membaca buku-buku pernikahan dan ta’aruf mas, tapi semakin saya membaca, saya kok malah semakin yakin bahwa saya belum siap ya. Ngerasa belum settle

Ya, kemapanan adalah alasan utama yang sering digunakan untuk menunda pernikahan. Terutama orang tua si perempuan, jika yang datang adalah lelaki dengan pekerjaan yang masih serabutan, maka kemungkinan besar akan di tolak. Padahal, jikapun saat ini si lelaki sudah mapan, apakah ada yang bisa menjamin seminggu kemudian semua harta dan kemapanan itu masih ada? Tidak ada kan yang bisa menjamin?

“Terus kalau menunggu siap, kapan dong siapnya? Seharusnya kan persiapan itu sudah dilakukan dari dulu” pancingku, “Toh kan kamu sekarang sudah sarjana, masa untuk mencari sejuta dua juta sebulan nggak bisa?”

Dia diam, lama sms ku tak berbalas. “Menikah itu kan ibadah, jadi wajar kalau setan senantiasa membisikkan keraguan dan was-was ke hati manusia yang ingin menikah. Kan jelas tuh di Al Quran, surat An Nas, dialah (setan) yang membisikkan rasa was-was di hati manusia” ujarku melanjutkan.

“Iya mas, makasih ya. Semoga aja saya dan mas segera diberikan jodoh yang sesuai dan bisa menapaki kehidupan ke depan menjadi lebih baik dengan pasangan masing-masing”

“Amin. Yang penting teruslah berbenah. Karena persiapan menjemput jodoh yang baik adalah senantiasa berbenah menjadi lebih baik”

“Siap mas. Terimakasih”

“Yup, sama-sama”

Sebuah kepastian bahwa semakin kesini, tanggung jawab yang akan kita emban menjadi semakin besar. Maka persiapkan diri mulai dari sekarang. Tidak ada kata terlambat. Teringat akan sebuah nasihat dari seorang kawan, “Bro, setiap orang pasti akan mengalami satu titik tersukses dalam hidupnya, maka sebelum titik itu datang, persiapkan diri dari sekarang”

 

Jadi sebelum titik tersukses kita datang, yuk terus bersiap diri!

SYAIFUL HADI.

 

Advertisements