Tags

, ,

“Saya kan orang miskin” ujar bapak setengah baya itu, “Makanya saya jarang melakukan ibadah yang pakai uang, apalagi membeli kambing untuk berkurban, lah wong untuk makan setiap bulan aja saya bingung” sambil menghisap rokoknya dalam-dalam ketika saya menyampaikan nasihat tentang pentingnya berkurban.

Teringat perkataan salah seorang dosen saya dahulu, “Sebagian besar orang Indonesia yang merokok adalah orang miskin. Karena stress akibat pendapatan bulanannya yang minim, maka ia lampiaskan dengan merokok”. Terlepas dari serius atau nggaknya perkataan dosen saya itu, tapi bisa diperhatikan memang ada benarnya juga, bahwa sebagian besar orang miskin merokok.

Saya perhatikan bapak yang mengaku miskin itu, rokok yang dihisapnya memang bukan rokok berkelas, hanya rokok merk abal-abal dengan harga yang saya prediksi nggak menyentuh angka lima ribu rupiah. Namun semurah apapun rokok itu, tetaplah uang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain keluarganya.

Kita hitung ringan saja lah, jika harga rokok itu 3ribu rupiah dan bapak itu menghabiskan dua bungkus sehari (perokok malah biasanya lebih dari dua bungkus sehari loh), maka dalam sehari saja ia harus mengeluarkan uang untuk rokok sebanyak 6ribu rupiah. Jika dalam satu bulan ada 30 hari, maka 180ribu sebulan hilang sia-sia. Angkanya memang nggak fantastik, tapi untuk orang miskin yang penghasilan per bulannya nggak sampai satu juta, itu angka yang banyak, 18 persen dari 1 juta.

Sekarang coba berandai-andai, jika si bapak nggak merokok dan menyisihkan uang 6ribu itu untuk ditabung, maka dalam sebulan ia sudah menabung 180ribu. Dan dalam waktu 8 bulan ke depan, ia sudah bisa mengumpulkan uang untuk membeli satu ekor hewan kurban. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi gunung.

Maka jika anda menghabiskan uang lebih dari 6ribu sehari untuk rokok tapi kemudian ngaku-ngaku nggak mampu untuk berkurban, maka alasan anda nggak bisa diterima. Untuk merokok yang merusak diri sendiri aja anda mampu, masa berkurban yang notabenenya untuk kebaikan dunia dan akhirat anda bilang nggak mampu! Aneh.