Tujuan Menikahmu Apa?

Tags

, , , , ,

“Ah telat lu, begini nih masyarakat Indonesia, janjinya sih jam 8, ini udah lewat setengah jam baru datang” ujar Rio sambil menyeruput secangkir kopi panas yang baru saja disajikan oleh pelayan warkop.

“Sory bro, gue baru aja selesai jilid skripsi, tadi fotokopian langganan gue penuh, makanya antri” Dani berkilah, “Mas, Indomie rebus satu ya, pakai telur dan tambahin cabe dua aja”

“Sip mas” jawab pelayan singkat.

Rio dan Dani adalah sahabat karib sejak tahun pertama kuliah di perguruan tinggi ternama di bilangan Bogor.  Persahabatan mereka berawal dari sebuah kepanitian besar di kampusnya, Open House Mahasiswa Baru. Ketika itu mereka bekerja sama di satu divisi Dana Usaha. Walau mereka tidak satu jurusan tapi persahabatan itu tetap terjaga hingga sekarang, saat mereka sudah hampir lulus.

Saat ini mereka adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusannya masing-masing dan sedang berjuang untuk lulus tepat waktu, empat tahun. Rio jurusan Statistika. Saat ini ia sedang menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Dani jurusan Agronomi dan Hortikultura yang baru saja melalui ujian kelulusan dengan sangat baik.

“Eh iya Rio, skripsi lu gimana? Udah kelar belum?” tanya Dani membuka pembicaraan.

“Mulai deh Lu nanya-nanyain skripsi, emang nggak ada topik lain Dan?” Rio malas menjawab pertanyaan Dani. Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan tentang skripsi dan kelulusan adalah pertanyaan horor dan tidak mengasikkan untuk kedua telinga dan hatinya.

“Yah sewot, kayak ibu-ibu aja lu bro!” Dani meledek karibnya.

“Doain aja, semoga bulan ini udah bisa sidang” ujar Rio, “Sekarang lagi revisi, kemarin udah dikasih ke dosen pembimbing dan harus revisi lagi. kalau diitung-itung ini udah delapan kali gue revisi bro. tapi dosen pembimbing gue belum juga nawarin gue untuk maju sidang”

“Nikmati aja, namanya juga proses”

“Ini mas mie rebusnya” ujar pelayan kepada Dani. “Terimakasih mas!” jawab Dani singkat.

“Lu udah makan belum? Kalau belum pesen aja. Gue traktir” tawar Dani sambil menuangkan kecap dan saos ke mie rebusnya.

“Nggak deh, gue ngopi aja”

Malam itu warung kopi langganan mereka tidak begitu ramai. Maklum, bukan weekend. Padahal kalau weekend warung kopi ini akan ramai dikunjungi oleh mahasiswa sekedar untuk nongkrong menikmati secangkir kopi sambil nonton liga Inggris bersama-sama. Sedangkan malam itu hanya ada 3 orang saja, Rio, Dani, dan seorang tukang ojeg yang sedari tadi menikmati sebatang rokoknya dan secangkir kopi.

“Eh iya Dan, ada masalah apa nih lu ngajak ketemuan malem-malem begini? Tumben..”

“Tentang akhwat bro!”

“Kenapa emang? Bukannya kemarin lu udah ta’aruf ya? Lu juga bilang tuh akhwat udah oke, terus kenapa lagi?”

“Akhwatnya sih udah oke dan mau melanjutkan ke jenjang pernikahan sama gue. Masalahnya, pas dia bilang ke orang tuanya, nggak dapet restu bro!” Dani menjelaskan. “Padahal semua kakak-kakaknya udah mendukung dan setuju sama gue, cuma umi sama abinya yang belum ngasih restu bro. Ada saran nggak?”

“Emang apa alasannya lu nggak direstui? Seorang Dani yang pinter, sudah punya usaha kecil-kecilan, dan sudah lulus ini ditolak? Bingung gue!”

“Maklumlah bro, tuh akhwat kan anak bungsu, jadi orang tuanya ingin dia dapet yang udah settle. Nah gue kan masih megap-megap njalanin bimbel sama warung makan gue”

“Emang kalau udah kerja, ada yang bisa jamin satu hari setelah menikah masih punya kerjaan? Nggak kan!! Alasannya nggak logis. Terlalu bergantung sama materi, padahal rejeki udah diatur kan?”

“Itukan pendapat kita bro, anak muda yang masih sedikit pengalaman” Dani bijak, “Gue sih nerima alasan orang tuanya, lagian kan mana ada orang tua yang tega membiarkan anaknya hidup menderita”

“Nah itu lu udah tau, terus masalahnya apa?”

“Menurut lu, gue harusnya gimana? Memperjuangkannya terus atau nyari yang lain yang bisa nerima gue apa adanya sekarang?”

“Begini bro..” ujar Rio sambil membenarkan posisi duduknya menjadi lebih serius, “Menurut gue, Lu kembali ke tujuan lu menikah deh! Lu menikah untuk apa? Kalau masih sama kayak dulu, mencari pendamping yang bisa terus nguatin di jalan kebaikan, ya mending lu cari yang lain”

“Tapi gue udah punya rasa ke akhwat itu bro”

“Halah, nggak usah mellow deh lu!!” ujar Rio, “Menikah itu kan bukan hanya menyatukan dua insan yang saling mencinta, tapi menyatukan dua keluarga, jadi kalau ada keluarga yang nggak merestui, mending cari yang lain aja lah”

Dani merenungi setiap ucapan sahabatnya, memang ada benarnya juga. Selama ini ia lebih fokus pada dengan siapa ia menikah, dan melupakan tujuan menikah yang sebenarnya. Jika sudah jelas tujuan menikahnya, harusnya dengan siapapun (asal punya tujuan yang sama) ia menikah tetap bisa berjalan, bukan?

 

Malam terus merangkak naik, hingga dua karib inipun berpisah untuk menggantungkan harapan esok hari.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

 

Advertisements

Jodohku Tak Kunjung Datang

Tags

, , , , ,

“Ma Diah mau ngelanjutin kuliah S3 ya tahun depan?” ujar Diah kepada ibunya, “Kebetulan kata temen Diah tahun depan ada bukaan beasiswa ke Amerika”

Diah adalah magister Manajemen Universitas Indonesia. Saat ini ia sudah menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Jogjakarta. Kuliah S1 dan S2nya berjalan dengan sangat baik dan manakjubkan. Itulah sebabnya setelah lulus S1 ia mendapatkan rekomendasi S2 dan diangkat menjadi dosen. Walau masih dosen bantu, tapi Diah menikmatinya.

“Nduk, kalau kamu kuliah terus, terus kapan mau menikahnya?” Aisyah, ibunda Diah mulai resah memikirkan putri sulungnya yang hingga usia hampir kepala tiga namun belum juga mencapatkan jodoh. “Kalau kamu kuliah lagi, nanti semakin susah mendapatkan jodoh untukmu. Lha wong sekarang aja udah S2 banyak laki-laki yang minder mau melamarmu!”

Diah Hapsari, adalah putri sulung Aisyah dan Aziz. Wajahnya tergolong menawan. Sebenarnya tidak sedikit yang sudah mencoba untuk melamar Diah, tapi memang belum berjodoh, ya mau gimana lagi. Diah lebih sering menolak setiap lelaki yang datang padanya, bukan karena apa-apa, Diah hanya merasa bahwa lelaki yang datang ke rumahnya selama ini belum ada yang layak menjadi imam dirinya dan anak-anaknya nanti.

Ada yang sudah mapan, tapi tidak bisa membaca Al Quran. Bagaimana mungkin dia akan menjadi imamku jika membaca Al Quran saja nggak bisa! Ada juga yang sudah S2 seperti dirinya, namun shalat lima waktunya suka lalai. Orang yang shalat bener-bener aja belum tentu diterima ibadahnya, lah ini malah shalatnya lalai, aku nggak mau!

“Iya ma, Diah juga ingin segera menikah, tapi Allah belum ngasih sampai sekarang, kita kan nggak bisa berbuat apa-apa”

“Kamu itu loh nduk, standarnya jangan terlalu tinggi. Kemarin Mauludi datang, wajahnya ganteng, udah kerja dan punya rumah, eh malah kamu tolak. Lah terus kamu mau nyari yang bagaimana?”

Saat ini Aisyah sudah sangat kahwatir terhadap jodoh anaknya yang tak kunjung datang. Selain ingin menimang cucu, Aisyah juga sudah tidak tahan mendengar gunjingan dari warga terhadap anaknya. Bagi masyarakat jawa, seorang gadis yang belum menikah hingga usia hampir tiga puluh tahun adalah sebuah aib. Gunjingan dari kiri dan kanan, serta depan dan belakang setiap hari selalu singgah di telinga Aisyah. “Eh si Diah itu, udah tua tapi masih aja belum menikah, habisnya udah berkali-kali lelaki datang ke rumahnya, eh malah di tolak, maunya apa coba? Atau jangan-jangan dia nggak suka sama laki-laki kali ya??”

“Hush.. jangan ngomong sembarangan bu.. nggak boleh. Diah kan gadis baik dan sholehah di desa kita”

“Terus apa dong namanya kalau gitu? Bisa saja kan, Diah pake busana muslimah yang longgar-longgar untuk menutupi kelainannya itu”

Perbincangan itu terjadi pagi tadi ketika ibu-ibu sedang berkumpul di warung untuk membeli sayuran dan bumbu masak lainnya. Saat Aisyah datang lah baru gunjingan-gunjingan itu berhenti. Tapi tetap saja ada pandangan-pandangan aneh ke arahnya. Hal ini membuat Aisyah tidak berlama-lama, ketika semua keperluannya sudah terpenuhi, ia langsung pulang. Jengah berada di kumpulan ibu-ibu yang suka sekali ikut campur urusan orang lain.

*****

“Diah nggak punya standar yang terlalu tinggi kok ma, Diah cuma ingin ikutin apa yang sudah dikatakan gusti nabi aja, ingin cari suami yang bener-bener bisa jadi imam Diah dan anak-anak nanti! Baca Al Qurannya bagus! Akhlaknya bagus! Shalatnya bagus! Pokoknya yang agamanya bagus”

“Yah itu juga tinggi nduk. Kamu terima aja kalau memang ada lelaki yang ngelamar kamu lagi. Kalau memang agamanya masih belum bagus, nanti kamu bimbing suami kamu biar jadi lebih baik”

“Ma, suami itu kan imam. Harusnya dia yang membimbing Diah dan anak-anak Diah nanti, jadi bukan Diah yang harus membimbingnya. Repot nanti membimbing anak-anak kalau Diah juga harus membimbing suami. Lagian mengajak orang ke kebaikan itu susah loh Ma, emang gampang ngajak orang untuk shalat, tilawah, sedekah?” Diah menjelaskan, “Udah ya ma, mama tenang aja, terus aja berdoa dengan doa terbaik untuk jodoh Diah. Diah yakin kok kalau Allah udah percaya sama Diah, pasti jodoh itu akan segera datang” Diah menenangkan Aisyah sambil memeluknya erat sekali. “Diah sayang sama mama..”

“Mama juga sayang sama kamu nduk..”

Ah begitulah, jodoh itu misteri dari Allah. Ada orang yang sudah kebelet sekali menikah, tapi kalau Allah bilang belum ya belum. Ada juga yang belum mau menikah, kemudian memasang tembok tinggi-tinggi, tapi kalau Allah bilang sekarang, ya menikahlah ia. Untuk yang belum menikah, yuk terus berikhtiar menjemput jodoh kita masing-masing.

Suruh Siapa Jadi Guru SD

Tags

, , , , , , , , ,

Nyaris lima bulan saya mengabdi di pedalaman Kalimantan Barat, di bilangan kec. Sebawi, kab. Sambas, tepatnya di SDN 01 Kota Bangun. Jika dari Sambas, membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di tempat ku mengabdi. Dua jam itu terdiri dari sekitar sejam perjalanan ke kec. Sebawi, kemudian perjalanan akan dilanjutkan masuk ke dalam semak belukar. Jalanannya hanya gang dengan jalan setapak dan akan menyeberang sungai yang cukup besar.

“Ya Allah, emang di dalem sana ada perkampungan ya?” gumamku ketika pertama kali masuk ke dalam dusun ini. Sepanjang jalan setapak itu, kiri dan kanannya hanya ada hutan sagu, persawahan, dan rumah-rumah warga dengan model panggung.

Ya, nyaris lima bulan saya disini, sudah banyak amunisi yang kugunakan untuk membuat pelajaran di kelas menyenangkan. Mulai dari yel-yel, nyanyian, dongeng, games, teknik dan metode mengajar yang tidak hanya ceramah, dan sebagainya. Amunisi itu saya keluarkan sedikit demi sedikit, awalnya adalah nyanyian.

Tak kan pernah menyerah, Itu anak Kota Bangun!! Selalu tulus belajar, itu anak Kota Bangun!! Belajar dengan hati sekolah sepenuh jiwa, itulah anak Kota Bangun!!. Inilah nyanyian pertama yang saya ajarkan ke anak-anak. Tujuannya adalah agar mereka memiliki jiwa nasionalisme kepada dusun dan sekolahnya. Selain itu, nyanyian ini juga saya harapkan bisa memberikan motivasi lebih untuk anak-anak, agar tidak pernah menyerah, selalu tulus belajar, dan bersekolah dengan ceria.

Olalalaa!! Olalalaa.. Olililiii!! Olililiii.. Bola.. Bola.. Bola!! Bola.. Bola.. Bola… ditendang? GOL!! Disepak? GOL!! Anak-anak ku sangat menyukai sepak bola, maka inilah lagu kedua yang kuajarkan kepada anak-anak. Sedangkan ketika mengaji, aku ajarkan kepada mereka tepuk anak sholeh dan tepuk senyum.

Empat amunisi awal itu sudah cukup membuat mereka riang selama empat bulan ku di daerah pengabdian. Walau saya sering mengulang-ngulangnya, mereka tidak pernah sekalipun bosan. Sederhana bukan??

Hingga di sebuah momen, saya lupa waktu itu saya mengadakan kegiatan apa ke anak-anak, tapi ada salah seorang guru nyeletuk “Kayak anak TK aja nih pak Syaiful ke anak-anak”. Ada sedikit perasaan tersinggung juga sih diremehkan begitu, tapi saya biarkan saja. Walau dianggap seperti anak TK dan diremehkan, toh anak-anak suka dan antusias kepadaku.

Ya!! anak-anak suka jika saya yang mengajar atau memandu kegiatan. Hal ini terbukti pada kegiatan buka puasa kemarin, “Eeehhh udah lah pak, kasih pak syaiful aja lah speakernya, kalau sama pak Syaiful pasti seru!!” ujar anak kelas lima. Ia bosan hanya diceramahin oleh pemandu acara pertama. Teknik ceramah itu mungkin tidak akan bermasalah jika dipakai di depan anak SMA atau anak kuliahan. Tapi ini anak SD, anak-anak!! Mereka masih suka bermain dan bersenang-senang.

Membuat anak-anak suka dan ceria adalah tujuanku, tapi ada tujuan yang lebih besar, membuat guru-guru disini mencontohku, mengikuti apa yang kulakukan dengan cara mereka masing-masing. Jikapun tidak bisa membuat nyanyi-nyanyian, yel-yel, atau tepuk-tepuk, paling tidak mereka bisa memakai yang sudah kuberikan. Jadi, ketika bulan dua nanti saya meninggalkan daerah ini, saya berharap guru-guru sudah bisa mengajar dengan menyenangkan.

Sayangnya, sudah nyaris lima bulan saya disini, tanda-tanda itu belum banyak terlihat. Dari sembilan guru yang ada, baru satu yang terlihat mencoba mengikutiku, yang lain masih saja mengajar dengan metode tradisional. Duduk manis di kursi guru kemudian ceramah dan memaksa anak-anak untuk diam memperhatikan. Bahkan yang lebih parah adalah ada guru yang masuk kelas sebentar kemudian memberikan tugas (mencatat atau mengerjakan LKS) ke anak-anak, sedangkan ia keluar hingga pelajaran selesai.

Pernah sekali saya bicara ke salah satu guru, “Pak, kalau mengajar pakai lagu-lagu yang sudah saya ajarkan ke anak-anak, atau tepuk-tepuk ini” sambil mengajarkan lagu dan tepuk ke guru itu.

Tapi apa jawabnya, “Ah, saya tidak berani pak Syaiful, saya malu kalau mau seperti itu di depan anak-anak! Saya nggak PeDe!”

Malu? Nggak pede?

Gubrak!!

Jadi guru SD itu harus bisa masuk ke dunia anak-anak, setelah itu barulah ajak mereka ke dunia kita. Siswa SD adalah anak-anak, maka jadilah anak-anak jika ingin berhasil mengajar di kelas.

 

Masih malu? Atau nggak pede? Suruh siapa jadi guru SD!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

 

Wow Orangnya Terbang!

“Wow orangnya bisa terbang!!” ujar Waldi (kelas 5) takjub ketika salah satu anggota Potograper Pantura Sambas menjelaskan teknik Levitasi dengan menampilkan poto dua orang yang terbang (kedua kakinya tidak menginjak tanah). Anak-anak menjadi lebih takjub lagi ketika poto berikutnya ditampilkan, ada orang yang mendorong angkong sambil terbang.

“Ah itu pakai tali, mana mungkin orang bisa terbang!” Rio tak mau kalah.

Pemateri dari Potograper Pantura Sambas hanya senyum-senyum kecil, kemudian memanggil Rio maju ke depan, “Ayo kamu silakan maju! Abang buktikan kalau poto terbang itu nggak pake tali”

Dengan pongahnya, Rio maju ke depan. “Sekarang berdiri seperti orang hendak berlari ya, kemudian nanti hitungan ketiga lompat. Seperti ini saja lompatnya” ujar pemateri sambil memperagakan lompatannya. “Bisa?”

“Bisa lah bang!”

“Oke, siap ya Rio. Satu.. dua.. tiga..” beberapa jempretan dari lima orang  anggota Potograper Pantura Sambas secara bersamaan ke arah Rio yang sedang lompat.

“Gimana, dapet nggak?” tanya pemateri ke teman-temannya.

“Ini aku dapet” ujar salah satu anggota. “Aku juga dapet!” yang lain mengikuti.

“Coba langsung pindahkan ke laptop biar yang lain ngeliat!

Tak beberapa lama, poto Rio yang seperti terbang (kedua kakinya tak menginjak lantai) terpampang di layar, “Wuuiiihhh, bagus inyan tok!! (Wuuiiihhh bagus sekali itu!!)” ujar anak-anak hampir bersamaan! Takjub.

Ya! Sore ini ada Kelas Berbagi jilid dua di sekolahku dari dua komunitas #SedekahSambas dan Potograper Pantura, Sambas. Jika dulu #SedekahSambas datang dengan membawa beberapa mahasiswa untuk melaksanakan kelas berbagi, Pengenalan Laptop, maka sore ini #SedekahSambas kembali hadir dengan membawa komunitas Potograper Pantura dalam acara Kelas Berbagi, Belajar Teknik Dasar Potograpi.

Sore ini ada 20 orang yang datang dari Komunitas Potograpi Pantura dan menyediakan 7 kamera DSLR yang bisa digunakan untuk belajar bersama anak-anak. Kamera yang berjejer di depan benar-benar membuatku mupeng (muka pengen!). Berbaris rapi sekali, mulai dari Nikon D3100, Canon 1100D, Canon 500D, Canon 550D, dan sebagainya.

Dalam Kelas Berbagi kali ini, jumlah anak yang hadir ada 32 orang. Karena jumlah kamera yang dipakai hanya ada tujuh, maka saya membagi anak-anak ke dalam tujuh kelompok kecil yang beranggotakan empat orang. Masing-masing kelompok akan mendapatkan satu kamera dan satu mentor, si pemilik kamera.

“Baik, anak-anak dan kakak-kakak mentor, dalam Kelas Berbagi ini, ajarkan dua atau tiga teknik memotret saja. Tapi yang levitasi itu wajib” ujarku.

 

Walau awalnya siswaku malu-malu dan takut memegang barang mewah itu, namun lama-kelamaan mereka mulai berani dan antusias jempret sana-sini menggunakan kamera dari Komunitas Potograpi Pantura. Bahkan mereka keluar ruangan masjid untuk hunting poto bersama kakak mentor masing-masing. Menjelang buka puasa, walau antusias anak-anak masih tinggi, praktek memotretnya harus dihentikan.  Kemudian dilanjutkan pemutaran hasil jempretan mereka. Momen ini benar-benar membuat mereka bahagia, berkali-kali mereka terpingkal-pingkal melihat hasil jempretan temannya.

 

Alhamdulillah, batinku puas!

Setelah berbuka, ketika hendak wudhu, seorang siswaku mendekat “Pak Syaiful, besok belajar moto lagi ya?”

Saya tersenyum dan berkata padanya, “Sayang, bilang aja sama abangnya tuh..” sambil menunjuk ke salah satu anggota Potograper Pantura, Sambas.

 

Terimakasih #SedekahSambas dan Potograper Pantura Sambas, semoga semua yang sudah kita lakukan bermanfaat bagi anak-anak di Kota Bangun! Amin.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

 

Ceramah Sederhana dengan Kemasan Berbeda

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Pak Syaiful, ngape bentar inyan tok ngasi ceramahnye? Padahal kamek masih suke ndengarin (Pak Syaiful, kenapa sebentar sekali memberi ceramahnya, padahal kami masih suka mendengarkannya)” ujar salah seorang jamaah ibu-ibu kepada ku malam ini. Padahal sudah hampir satu jam saya menyampaikan materi.

“Tadi saya liat jamaah udah kapak bu, makenye saya berhenti jak lah, dari pade ngantuk”

“Daan pak, masih suke inyan tadi tok, ape lagi ade video nye (Nggak pak, masih suka sekali tadi, apalagi ada videonya)”

“Kapan-kapan kesini lagi ya Pak!” ujar imam masjid menimpali, “Disini juga kan ada 3 surau, jadi kalau sempat kunjungi salah satunya”

“Insya Allah Pak!”

Desa Sebangun, Kec. Sebawi, Kab. Sambas, Kalimantan Barat adalah desa tempat ku mengabdi sekarang. Desa ini terdiri dari tiga dusun, Dusun Kota Bangun, Dusun Sekenang, dan Dusun Sebawi B. Malam ini adalah Safary Ramadhan Desa kedua. Sebelumnya sudah sukses dilaksanakan di Dusun Kota Bangun, dan selanjutnya, tanggal 17 Agustus nanti adalah Safary Ramadhan terakhir di Dusun Sebawi B.

Malam ini memang sedikit berbeda dari Safary Ramadhan pertama. Bukankah kita dianjurkan untuk lebih baik dari sebelumnya? Makanya jika Safary Ramadhan pertama aku dan teman-teman hanya mengandalkan Alquran dan pengeras suara saja, malam ini aku menggunakan laptop dan infokus untuk mengisi ceramah. Beberapa ice breaking pun saya gunakan untuk menciptakan suasana yang hidup.

Materi yang saya sampaikan sebenarnya sangat sederhana, Belajar dari Bayi! dan hanya ada empat hal yang saya sampaikan. Pertama, Bayi itu tidak pernah menyerah! Contoh kasus yang sampaikan adalah ketika bayi belajar berjalan. Perhatikanlah, berkali-kali bayi akan jatuh bangun. Tapi tidak pernah sekalipun ia menyerah hingga ia bisa berjalan. Jika pada suatu ketika saat belajar berjalan dan jatuh kemudian si bayi menyerah, putus asa! Maka bayi tidak akan pernah bisa berjalan. Untungnya bayi tidak pernah menyerah! Maka kita manusia dewasa harusnya juga begitu, jangan pernah menyerah.

Kedua, bayi itu ikhlas! Contoh kasus yang saya sampaikan adalah ketika bayi tersenyum. Ada yang tidak suka melihat bayi tersenyum? Saya yakin kita semua pasti suka melihat bayi tersenyum, bukan? Menentramkan dan menenangkan sekaligus menggemaskan. Mengapa? Karena bayi itu ikhlas! Ia tersenyum karena memang ia ingin tersenyum. Bukan karena mertua, bukan karena pacar, bukan karena harta, dan lain-lain.

Ketiga, bayi adalah manusia yang paling jujur! Untuk yang satu ini saya memutarkan video tentang anak bayi yang lebih bisa dipercaya dari pada orang dewasa. Semua jamaah tertawa menyaksikan video yang hanya berdurasi 1 menit. Bahkan saya memutarnya dua kali karena permintaan jamaah.

Keempat, bayi itu seperti kertas putih, kita lah orang tuanya (ayah-ibu, guru, dan lingkungan) yang akan menuliskan apa di atasnya. Tulislah dengan kalimat yang indah dan pelan-pelan, karena jika terlalu kencang kita menekannya, maka kertas itu akan robek.

Sederhana bukan? Tapi ternyata jamaah suka! Mengapa? Tentu karena kemasan yang menarik dan berbeda dari biasanya. Jika selama ini mereka hanya duduk dan mengandalkan telinga saja saat mendengarkan ceramah, malam ini untuk pertama kalinya mereka menggunakan indera lebih banyak di ceramah ku.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

Penipuan Video Mesum

Tags

, , , , , ,

Setelah selesai makan sahur tadi pagi, sebelum melaksanakan shalat Shubuh, saya mencari hape jadul saya. Saya memiliki dua hape, satu adalah Samsung galaxy mini, dan satu lagi cuma hape hape jadul yang keberadaannya ku anak tirikan. Pulsa ku isi hanya ketika masa aktifnya hampir tiba, jarang kubawa kemana-mana, atau bahkan kubiarkan saja low bat hingga seharian.

Sebelum shalat Shubuh itulah saya mencari hape jadul yang sudah terbengkalai sejak tadi malam. Ketemu! Ku aktifkan dan ternyata ada sms masuk, ku buka. Aarrgghhh, sms aneh lagi!

“Video mesum anda ada di tangan saya! Jika anda tidak ingin keluarga dan aparat kepolisian tahu, jangan banyak tanya!! Hubungi saja nomor ini 085287062209!!”

Mendapatkan sms ancaman seperti itu, bukannya takut dan cemas, saya malah langsung senyum-senyum sendiri. video mesum yang mana? Sama siapa? Perasaan saya tidak pernah punya video mesum! Dasar penipuan!

Hape jadul ku ini memang langganan mendapatkan sms-sms nggak jelas. Mulai dari yang “Ma (atau Pa, sayang, dsb), papa lagi di kantor polisi nih, tolong isikan pulsa 20ribu ke nomor baru papa dulu ya! jangan sms atau telpon dulu, nanti kalau urusannya sudah selesai papa yang telpon mama”. Hey!!! Saya laki-laki, enak saja manggil saya mama!! Dasar penipu!!

Atau sms-sms promo yang entah benar atau tidak, “Dapatkan harga promo Ramadhan tiket pesawat domestik dan internasional, reservasi online cepat dan praktis. Hub CS 081298355557, atau kunjungi web kami www.sinar-travel.com. Untuk sms yang berbau promo tidak pernah saya pedulikan, saya memang tidak suka belanja.

Atau sms yang seperti ini, “Mengenai rumah Bapk/Ibu tolong jangan ditawarkan dulu ke yang lain. Karena saya dan suami sangat berminat. Tolong hubungi pak Rahmat untuk membicarakan masalah harga 085218127913”. Sejak kapan saya mau menjula rumah ya? Lagian lah wong rumah saja belum punya, lalu rumah siapa yang mau dijual??

Tentu masih banyak lagi sms-sms lainnya yang mirip. Saya yakin temen-temen juga pernah mengalaminya, bukan? Tapi untuk yang video mesum itu baru pagi ini saya dapatkan. Penipuan lewat sms kerap terjadi mungkin karena ada dua alasan. Pertama, biaya yang murah atau bahkan gratis! Kedua, sms pasti akan dibaca sebelum dihapus. Coba aja kalau nggak percaya, jika ada sms pasti kita harus membukanya untuk bisa menghapusnya bukan? Maka mau tidak mau kita akan membacanya juga.

Semoga tulisan amburadul ini menjadi pengingat buat kita semua untuk selalu berhati-hati. Dan bagi anda yang punya video mesum pribadi, berhati-hatilah menjaganya atau agar lebih aman, hapus saja lah. Semoga bermanfaat!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

Disangka Anak Pesantren

Tags

, , , , , , ,

“Pak Syaiful dulu mondok dimana?” tanya seorang pegawai KUA kec. Sebawi, Kab. Sambas, Kalimantan Barat kepada ku sesaat setelah saya mengisi ceramah di pengajian ibu-ibu sekecamatan dalam naungan Badan Komunikasi Majelis Ta’lim (BKMT) Kecamatan.

“Wah saya nggak pernah mondok Pak” jawab ku singkat, “Dulu saya SD, SMP, SMA, terus kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB)”

“Loh nggak ada basic agama sama sekali ya pendidikannya? Tapi kok bisa ceramah sebagus tadi?” ujarnya. Padahal yang kusampaikan hanya biasa saja, bapak itu yang terlalu berlebihan, atau cuma menghiburku saja, entahlah.

“Saya dulu ngajinya sama almarhum ayah saya, Pak”

“Oh.. Ayahnya pendiri pesantren??”

Haduh.. “Bukan Pak, ayah saya petani biasa di Bengkulu. Ayah saya juga bukan lulusan pesantren, cuma lulusan PGA yang gagal jadi guru dan merantau ke Bengkulu”

Pegawai KUA itu menggaruk kepalanya yang saya yakin tidak gatal. Mungkin ia hanya bingung, masa nggak ada basic pendidikan agamanya kok bisa ngisi ceramah??

Lain lagi kejadian tadi malam. Saat Remaja Masjid mengadakan safary ramadhan desa, mereka mengajak ku. Awalnya saya heran, setahu saya sampai tadi malam, Safary Ramadhan itu adalah mengunjungi dan shalat di masjid berbeda bergantian selama bulan puasa dan biasanya hanya di lakukan oleh orang-orang penting saja, misal Camat, Bupati, Anggota DPR/ DPRD, atau orang penting lainnya.

Tapi bagi pemuda disini, Safary Ramadhan itu adalah mengunjungi masjid lain lalu ngadain kegiatan disana. Walau kami bukan orang penting, tapi tadi malam kami tetap diperlakukan bak pejabat pemerintahan. Maka jadilah tadi malam Safary Ramadhan pertama ku.

Agenda Safary Ramadhan kami adalah silaturahim dan memberikan siraman rohani ke jamaah. Saya lah yang ditunjuk secara tiba-tiba untuk maju ke depan dan ceramah. Alhamdulillah walau dadakan saya masih bisa menyampaikan pesan Allah dalam waktu satu jam. Sebenarnya masih ada yang ingin disampaikan, tapi saya sengaja menghentikannya karena ada sebagian jamaah yang sudah mengantuk.

Sebagian besar jamaah memang masih fokus memperhatikan, bahkan ketika saya mengucapkan “Mungkin hanya sampai disini dulu yang dapat saya sampaikan..”

Ada jamaah yang nyeletuk, “Masih awal tok e pak, terusinlah..”

Saya paham, di desa tempat ku mengabdi sekarang siraman rohani, tausiyah, nasihat, atau apalah namanya memang hampir tidak pernah ada. Itulah mengapa mereka merasa haus akan hal itu. Tapi saya juga tidak boleh mendzolimi sebagian kecil jamaah yang sudah kelelahan dan mengantuk.

Setelah selesai memberi tausiyah, tokoh agama desa Sebangun berujar “Pak Syaiful, ceramahnya bagus! Nanti pas shalat idul fitri bapak jadi khatibnya ya..?”

Deg!!! Jantung ku seakan berhenti sejenak, shock!! “Wah pak, saya belum pernah jadi khatib shalat idul fitri loh”

Nggak apa-apa, saya yakin pak Syaiful Bisa kok”

“Insya Allah, Pak” akhirnya saya mengiyakan. Soalnya sayang juga ditolak, yah itung-itung belajar. Kapan lagi saya dapat kesempatan belajar seluas ini??

Kini di sisa Ramadhan yang masih seminggu lagi, masih ada dua masjid yang harus ku kunjungi untuk ceramah disana, masih ada tiga hari mengisi pesantren kilat di sekolah, dan masih ada satu hari mengisi training motivasi di MTs. Semua ku lakukan semata-mata untuk terus belajar!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

Calon Istri?? Bukan!!

Tags

, , , , , , , ,

 

Satu hal yang menarik di Kota Bangun tempat ku mengabdi sekarang adalah senyum ceria anak-anak yang selalu hadir untuk ku ketika saya lewat atau kebetulan bertemu dimana pun. Anak-anak memang manusia paling jujur dan ikhlas, makanya senyum mereka menenangkan dan terkadang menggemaskan. Tentu akan berbeda dengan orang dewasa yang tersenyum karena ada maksud tertentu bukan?

Misalnya ketika berjalan setiap sore untuk shalat berjamaah di masjid. Jarak sekolah, tempat tinggal ku ke masjid sekitar 300-400 meter, di sepanjang jalan itulah anak-anak yang kebetulan bertemu akan menyapa, “Assalamu’alaikum Bapak…” sambil tersenyum memamerkan gigi mereka yang rusak karena jarang gosok gigi. Tidak sampai di situ saja, mereka kemudian akan mengekori ku menuju ke masjid.

Selain senyum mereka yang menentramkan, mereka juga selalu bersemangat ketika saya masuk kelasnya dan senyum ceria itu selalu hadir ketika saya di kelas mereka. Pernah di suatu pagi, ketika guru-guru telat datang ke sekolah, seorang anak datang ke kantor guru dan berujar, “Pak masuk ke kelas kami lah” dia merayuku.

“Pagi ini bapak ngajar Matematika di kelas enam sayang” jawabku menjelaskan, “Emang pelajaran apa sekarang?”

“Agama Pak, tapi gurunya belum datang”

“Masuk aja di kelas dan baca buku paketnya, tunggu gurunya datang ya sayang” Sebenarnya kasihan membiarkan mereka sendirian tanpa guru, tapi bagaimana mungkin saya bisa menghandle beberapa kelas sekaligus?

“Bapak aja deh yang masuk..”

“Bapak nggak bisa sayang, sebentar lagi gurunya datang kok”

“Ehhh.. tapi lebih enak bapak yang ngajar.. Bapak aja ya yang masuk” Andai aku bisa berubah menjadi banyak seperti Naruto, mungkin sudah ku lakukan saat itu dan masuk ke beberapa kelas sekaligus untuk mengajar.

Lain lagi dengan kejadian kemarin, Rabu 8 Agustus 2012, saya dan pemuda di Kota Bangun mengadakan buka bersama anak-anak kelas 4, 5, dan 6. Panitia meminta anak-anak untuk datang jam 3 sore, namun karena cucian ku yang numpuk, akhirnya saya baru bisa hadir di masjid sekitar jam 15.40an.

Di masjid acara sudah di mulai, salah seorang guru sedang menjelaskan keutamaan Ramadhan. Sayangnya Ia menjelaskan dengan metode ceramah dan mengharuskan anak-anak diam. Tentu saja anak-anak tidak bisa mengikuti dengan baik, karena mereka masih suka bermain dan bersenang-senang.

Sedang asik-asiknya guru itu berbicara (padahal anak-anak gelisah dan tidak fokus mendengarkan), salah seorang anak berujar, “Ehh udah ah Pak, kasih pak Syaiful aja, biar pak Syaiful yang ngomong”

Gubrak!!! Berani sekali anak itu bicara begitu! Gumamku. semua anak tertawa. Sedangkan saya hanya tersenyum dan memberi isyarat kepada mereka, tidak boleh begitu!

Untungnya si guru masih muda dan tidak mudah tersinggung. Si guru masih terus berbicara, namun ketika Ia sudah tidak bisa menghandle anak-anak, ia menyudahi ceramahnya dan menyerahkan micropon kepada ku. Saya pandangi anak-anak yang ada di depan ku dan tersenyum.

“Tepuk diam!!!” teriakku.

Dengan semangat mereka mengikuti instruksiku, prok.. prok.. prok.. “Sssttt.. Ssssttt..”

prok.. prok.. prok.. “Sssttt.. Ssssttt..”

prok.. prok.. prok.. “Diaaam!!” dan seketika masjid menjadi sunyi karena anak-anak sudah diam semua. Dan agenda buka puasa yang awalnya membosankan menjadi menarik hingga selesai. Sore itu, saya bahagia karena setelah berbuka, anak-anak tersenyum ceria mendatangiku, menarik-narik kemejaku, “Pak Syaiful, besok kita buka bersama lagi lah sampai puasa selesai”

Saya tersenyum sambil berujar, “Insya Allah ya sayang”

Beberapa hal inilah yang membuat saya betah di daerah eksotis pedalaman Kalimantan Barat ini. Disini memang tidak seramai kota Bogor, tidak ada mal atau tempat hiburan lain, tapi hadirnya anak-anak menjadi hiburan tersendiri bagiku.

Jadi ketika ada teman yang baru saja chat di fb dan berkata “Betah nih kayaknya di Kalimantan? Sampe lebaran nggak pulang.. berarti ada yang membuat kamu betah dong SyaiHa.. jangan-jangan dapet calon istri orang situ ya?”

Bukan! Betahku disini karena anak-anak, generasi negeri tercinta ini!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI

Dhuafa Sinting!!

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebelum dikirim ke Sambas untuk mengabdi, kami Dhuafa Sinting (julukan yang disematkan oleh Reza Indra Giri Amriel untuk Guru Model SGI) dikumpulkan di ruangan tempat biasa kamu kuliah tentang pendidikan untuk pengumuman penempatan. Terlihat ada raut-raut wajah harap-harap cemas.

Penyematan istilah Dhuafa Sinting ini punya sejarah sendiri, ketika itu kami pertama kali dikumpulkan di Aula LPI Dompet Dhuafa, stadium general!! Agenda intinya sebenarnya adalah memberikan motivasi lebih kepada kami bahwa langkah yang kami lakukan, bergabung bersama Sekolah Guru Indonesia (SGI) untuk mengajar di daerah eksotik Indonesia adalah langkah yang baik, benar, dan mulia.

Saat itulah, Reza Indra Giri Amriel sebagai keynote speaker berujar “Saya itu pengagum orang pintar, terutama orang-orang pintar dan bermanfaat seperti kalian” sambil memberikan isyarat menunjuk kepada kami, 32 orang SGI’ers! “Di saat teman-teman seusia kalian memilih bekerja di perusahaan ternama dan di kota, kalian malah mau bergabung di SGI Dompet Dhuafa! Mengajar di daerah entah berantah, Kalian sinting! Dhuafa Sinting!” sontak semua peserta yang hadir terpingkal-pingkal mendengar istilah itu, termasuk kami.

Dhuafa, karena kami berada di bawah naungan Dompet Dhuafa. Sudah lumrah di Bogor, jika bekerja di Dompet Dhuafa, orang hanya akan bilang ujungnya saja, “Kerja di Dhuafa ya mas?” tanya seorang sopir Angkot ketika melihat pakaian ku yang berlambang Dompet Dhuafa. Sedangkan sinting, disematkan karena kami memilih jalan yang berbeda dari teman-teman seusia kami. Ketika mereka memilih bekerja di perusahaan ternama dan di kota, kami malah memilih bergabung menjadi Guru Model SGI.

Sejak saat itulah, tidak tahu kenapa saya menjadi suka dengan sebutan Dhuafa Sinting. Unik!

Sebenarnya beberapa hari sebelum pengumuman penempatan itu, saya sudah tahu akan di tempatkan dimana dan dengan siapa saja.

Malam hari di asrama SGI, ada sebuah laptop menyala dan email yang terbuka. Aku penasaran dan mendekatinya, ku lihat dan Masya Allah, pengumuman penempatan! Dengan jantung berdebar ku telusuri file di laptop itu, mencari namaku! Ketemu!!

Sambas, team leader Syaiha! Anggota, Irhamni Rahman, Junita, Jamil Abdullah, dan Gusti Rahayu!

Yes!! Ucap ku girang sambil mengepalkan tangan.

Mendapatkan tim seperti mereka jelas sebuah anugerah. Mereka berempat adalah orang yang fleksibel dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Bukan berarti teman-teman SGI’ers yang lain tidak! Tapi menurutku, anggota ku keempatnya memiliki kesamaan dan mudah bekerja dalam tim.

Irhamni Rahman. Eitss, ini bukan laki-laki ya (Di Foto Profil, no 2 dari kiri)! Biasa dipanggil Imma! Lulusan jurusan bahasa Arab Universitas Indonesia ini adalah peserta SGI terkreatif! Ide-idenya brilian! Imma juga orang yang mudah sekali berkorban demi tim Sambas! Kini Imma mengabdi di Desa Sarang Burung Usrat, kec. Jawai, Kab. Sambas.

Junita (Di Foto Profil yang tengah) adalah lulusan jurusan Ekonomi Universitas Sri Wijaya. Ia adalah anggota tim Sambas yang paling rame dan paling PeDe! Nggak ada Junita, maka tim sambas nggak rame!! Junita juga mudah akrab dengan siapapun, makanya sering sekali darinya lah kami mendapatkan panggilan untuk mengisi pelatihan motivasi guru atau pelatihan lainnya. Kini Junita mengabdi di Desa Seranggam, Kec. Selakau, Kab. Sambas.

Jamil Abdullah (Di Foto Profil no satu dari kiri) adalah lulusan Teknologi Pertanian Universitas Makassar. Inilah soulmate ku! Kalau kami berkenalan ke orang-orang, saya selalu duluan, “Syaiful pak!” ujar ku sambil menjulurkan tangan. Berikutnya baru Jamil, “Jamil Pak!” ujarnya sambil juga menjulurkan tangan. “Jadi kami berdua, Syaiful jamil”. Dengan begini orang akan lebih mudah mengingat nama kami. Jamil mirip seperti Junita, rame dan mudah akrab dengan siapapun. Selain itu, kelebihan lainnya adalah suaranya bagus sekali. makanya kalau sedang mengisi pelatihan, saya sering memintanya menjadi backing sound, menyanyikan sebuah lagu sesuai materi training. Kini Jamil mengabdi di Desa Senabah, Kec. Sejangkung, Kab. Sambas.

Gusti Rahayu adalah lulusan Fisika Universitas Andalas, Padang (Di Foto Profil no 4 dari kiri). Karena ia adalah orang minang, kami biasa memanggilnya Uni Ayu. Uni Ayu selalu bisa diajak seru-seruan. Mudah bergaul dan beradaptasi. Uni Ayu juga bersuara merdu seperti Jamil. Ia sering menjadi teman duet Jamil kalau menjadi backing sound di acara training motivasi yang kami lakukan. Kini Uni Ayu mengabdi di Desa Sendoyan, Kec. Sejangkung, Kab. Sambas.

Sampai saat ini, lima bulan kami di Sambas, belum pernah sekalipun antara kami terjadi gesekan. Malah setiap kali kami kumpul untuk rapat koordinasi, suasana jadi rame dan asik. Ah.. mendapatkan anggota tim seperti mereka benar-benar anugerah! Guys! Tetap semangat dan mari terus tebar manfaat di Sambas. Waktu kita tinggal sedikit disini, sekitar lima bulan lagi!

Selamat Pagi Guru Indonesia!!

Siapa Suruh Mau Jadi Guru? (Ketika Para Guru Indonesia Menggalau)

Tags

, , , , , , ,

 

Oleh : Irhamni Rahman, Guru Model SGI 3 di SDN 22 Sarang Burung Usrat, Sambas, West Borneo.

Jika guru Indonesia melipat senyum ramahnya karena pagi ini ia mendapat potongan gaji sebab ia terlambat menaruh ibu jarinya di atas mesin presensi, maka seharian yang ia pikirkan hanya tentang bagaimana menutupi kekurangan kebutuhan bulanan, dan buyarlah segala RPP yang telah direncanakan semalaman.

 

Jika guru Indonesia berkantung mata dan kehilangan suara karena semalaman suntuk di depan layar kaca memberi semangat kepada tim bola favoritnya, maka seharian ia akan menjadi gagu dan kehilangan arah belajar disebabkan kasur empuk dan tumpukan bantal yang menantinya di rumah.

Jika guru Indonesia bermuram durja karena teman sejawatnya telah ber-Xenia sedangkan ia harus puas dengan honda supranya, maka bagaimana ia mampu mengajarkan kepada para siswa bahwa hidup bersahaja bukan berarti tidak bahagia?

Jika guru Indonesia berada di sekolah tanpa semangat karena sedang dirundung masalah keluarga, maka bagaimana ia mampu memotivasi para siswa yang tengah patah arang dalam hiruk pikuk pertengkaran ayah-ibunya?

Jika guru Indonesia senang sekali “menjilat” sana-sini demi sebuah “posisi”, maka bagaimana ia mampu membangun para siswa agar memiliki harga diri dengan mental taqwa?

Jika guru Indonesia bersedih hati dan kehilangan tawa candanya karena ia tengah berpatah hati, maka bagaimana ia mampu menjadi “tempat sampah” para siswa yang butuh bercerita tentang serba-serbi hati masa remaja mereka.

Guru Indonesia pun masih terklasifikasi sebagai manusia, sekalipun para siswa acap kali mendewakan segala kata, sikap, dan titahnya, namun sekali lagi, manusia ya tetap saja manusia. Tapi sekarang pertanyaannya yang akan saya lemparkan kepada para guru Indonesia adalah … “Siapa suruh mau jadi guru Indonesia???” Bukankah ketika kita telah memilih menjadi guru Indonesia itu artinya kita telah memutuskan menempuh perjalanan dengan mengenakan jaket kehidupan yang bertuliskan “Sebuah profesi dengan tuntutan tugas nabi. Serentetan tugas dengan skala dunia-akhirat. Setumpuk amanah dengan taruhan terseok dan berdarah-darah. Maka, nikmatilah!”

Kalau para guru Indonesia masih senang berselimut dalam segala pernak-pernik kegalauan, lalu mau dibawa kemana anak didik Indonesia? Hendak membangun makna apa bersama mereka di tengah dunia yang terus menuntut mereka sebagai generasi masa depan yang akan membawa pencerahan sebuah negara yang “terwariskan berantakan”? Bagaimana mau berbagi tentang pelajaran kehidupan, kalau pelajaran yang akan diajarkan hari ini saja tak terencanakan?

Tunggu! Apakah definisi galau dalam kepala saya sama dengan yang seperti dalam kepala Anda? Kalau saya memaknai “galau” sebagai “keadaan yang tidak stabil” a.k.a “labil”, itu artinya seseorang sedang menghadapi polisi tidur-polisi tidur, kerikil-kerikil, dan serba-sebi warna hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka, toh harus dijalani juga. Well, bisa dibilang setiap orang pasti pernah mengalami keadaan tidak mengenakkan dalam hidup mereka, pun guru Indonesia.

Nah, permasalahannya adalah kalau guru Indonesia sedang ber-GALAU-ria dan tak tersikapi dengan “pakaian keguruannya”, maka apa jadinya keadaan kelas Anak Indonesia hari itu? Hari berikutnya dan berikutnya lagi? Apalagi kalau galaunya terlalu lama. Mungkin sebagian orang boleh berkata, “ Nanti juga stabil lagi” atau “Biarkan waktu yang membuat dia kembali seperti semula.” Nah, masalahnya adalah kalau rentang waktu yang dibutuhkan seorang guru untuk menjadi stabil lagi telah menorehkan sikap-sikap yang tidak semestinya di hadapan siswa dan terlanjur membekas dalam memori hidupnya serta berdampak a,b,c,d sampai z, lalu apa kata dunia?

Guru boleh saja galau, tetapi tidak dihadapan siswa. Guru boleh saja sedih, tetapi pilihlah “tempat tersendiri”. Guru pasti pernah kecewa tetapi “luka” bukan untuk dipajang di hadapan kelas yang seharusnya penuh cinta. Guru boleh saja merasa lelah dan sakit tetapi bukan untuk dijadikan alasan agar para siswa pun tersakiti dengan kata-katanya yang menyelekit.

Jadi guru itu pilihan, sebuah hobi yang menuntut pengabdian sepenuh hati. Maka kalau masih suka menggalau di hadapan mata anak didik kita, mengeluh bahkan ketika tak berpeluh, menggerutu hanya karena RPP yang senantiasa harus diperbaharu, ya mundur saja, sebelum lebih banyak anak Indonesia yang terkebiri karakternya sejak dini.

 

Jadi guru berat banget siiih.. “Siapa suruh jadi Guru???”

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI