Tags

, , , , , , , ,

Beberapa hari ini siswa ku, kelas 5 dan kelas 6 berkali-kali dan setiap hari mendatangiku, “Pak, kapan kami les matematika, Pak?”

Tambahan pelajaran ini adalah keinginan mereka, bukan keinginanku! Tapi bukannya aku tidak mau, hanya takut mengganggu aktivitas bermain mereka saja. tapi ternyata mereka lah yang meminta. Mereka ingin belajar bersama ku dan meninggalkan aktivitas bermain mereka sejenak!

Aneh, tumben anak-anak semangat sekali untuk belajar! Padahal waktu saya sekolah dulu, males banget kalau disuruh belajar, apalagi les! Bukan kah lebih mengasikkan ngegames dari pada belajar? Kalau pun saya datang les, itu karena ada pacar saya saja.. hehehe.. Gumamku. Sudah disuruh les aja saya sering bolos datang, eh ini siswa ku malah minta les! Kan aneh!

Atau mungkin mereka mulai sadar bahwa kemampuan mereka sangat rendah dalam pelajaran Matematika. Sebenarnya bukan karena kemampuan mereka yang tidak bagus, tapi lebih kepada kebiasaan guru kelas rendah mereka dulu yang jarang masuk kelas dan hanya meninggalkan tugas atau catatan saja tanpa menjelaskannya. Akibatnya, di kelas tinggi sekarang, mereka kewalahan mengikuti materi yang kuajarkan.

“Baik, kalau gitu kelas lima lesnya hari Senin dan Rabu. Nah kalau kelas 6 les nya hari Selasa dan Kamis”

“Jam berape, Pak?”

“Ehmm.. kalau jam 2 bise keh? Kalak baliknye jam setengah 4!” ujarku sambil mengikuti Bahasa Melayu Kalimantan mereka.

“Biseeeeee..” ujar mereka hampir serentak. Raut wajah mereka sumringah, senang karena akhirnya bisa les dengan ku.

Les pertama mereka mulai berjalan minggu ini. Mereka antusias! Saya bilang jam 2 masuknya, tapi mereka datang jauh lebih awal, akibatnya saya tidak bisa istirahat sejenakpun! Tapi saya menikmatinya! Nanti saat saya kembali ke Bogor, momen seperti ini akan menjadi kenangan tersendiri dalam hidup ku.

*****

Hari ini seorang guru mendatangiku ketika sedang memasukkan nilai Latihan dan Pekerjaan Rumah anak-anak.

“Lagi ngapain pak Syaiful??”

“Eh ini, lagi memasukkan nilai anak-anak” jawabku, “Nilai latihan dan PR..”

Dia mendekati dan melihat-lihat beberapa buku siswa di meja ku, “Rajin banget nih, Pak!”

“Iya Bu.. kasihan kan kalau anak-anak sudah kita kasih latihan dan PR tapi kita nggak menilainya, lagi pula ini juga untuk tabungan nilai mereka nanti kalau nilai mereka jelek di ujian”

Raut wajahnya berubah, mungkin dia tersindir. Biarlah. Tapi begitulah fenomena guru di negeri kita, sering sekali Penilaian Berbasis Kelas (PBK) nya tidak dijalankan dengan baik. anak-anak diberi latihan, tugas, PR, atau apalah namanya, tapi guru tidak memberikan nilai. Atau kalaupun diberikan nilai, tidak didokumentasikan dengan baik, bukan?

“Oh iya, Pak Syaiful ngasih les ke anak-anak ya?”

“Iya Bu.. kemarin les anak kelas 6, hari ini les anak kelas 5”

Dia sedikit mendekat dan mengecilkan volumenya suaranya, agak berbisik ia berkata “Gratis, Pak? Nggak dibayar? Kok mau sih, Pak?”

Aku cuma tersenyum, “Saya kan cuma tinggal beberapa bulan lagi di sini, Bu. Bulan 2 tahun depan saya sudah akan kembali ke Bogor. Jadi di sisa waktu yang ada, saya ingin berbuat sesuatu untuk anak-anak. Mudah-mudahan dengan tambahan pelajaran ini, Matematika mereka menjadi lebih baik”

Cuma itu yang bisa saya katakan ke guru itu. Bisa saja saya bilang “Emang semua harus dinilai dengan uang ya, Bu? Bagi saya, melihat senyum ceria anak-anak itu sudah menjadi kepuasan tersendiri yang jauh lebih berharga dari hanya beberapa lembar rupiah! Bagi saya, sebuah anggukan isyarat bahwa ia mengerti tentang pelajaran yang saya sampaikan sudah cukup!”

Tapi semua urung saya ucapkan, saya simpan rapi saja di hati. Saya berhusnudzon, “mungkin saja selama ini gaji dari ia mengajar memang tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarganya”.

“Tapi dia PNS loh Syaiful!!” Bisik syetan di dada ku.

“Eh sudah-sudah, nggak boleh su’udzon!!”

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI