Tags

, , , , , , , ,

Suasana kelas riuh, ramai.  Hampir semua mata tertuju ke satu arah, titik tengah kelas. Seorang anak lelaki berdiri di atas meja, tangan kanannya menggenggam sebuah buku tulis yang digulung bak mic dan diarahkan ke arah mulutnya. Di pojok belakang, seorang anak hanya diam, tidak larut jingkrak-jingkrak seperti yang lain.

Meja di tengah ruangan dinaiki bocah lelaki dan dijadikan panggung konsernya, sedangkan anak-anak yang lain adalah penonton sekaligus fans setianya. Bocah yang menjadi pusat perhatian bernyanyi dan bergaya seperti Pasha ungu, artis kesayangannya.

..Kau sangka aku akan menyerah

Kau sangka aku akan pasrah

Dirimu tak pedulikan aku

Walau cinta hanya untukmu

Walau kasih hanya untukmu

Walau sayang hanya untukmu

Untukmu, untukmu, untukmu..

“Yei.. yei..” teriak anak-anak yang lain. Sungguh ramai kelas ini. Nyaris semua ikut berteriak-teriak girang, kecuali seorang bocah manis di pojok ruangan, di kursi paling belakang. Saking riuhnya, bocah-bocah mungil itu tidak menyadari kalau seorang guru muda, guru magang dari Universitas Swasta di bilangan Jakarta sudah berdiri di depan. Ini hari pertamanya magang di SD yang ada di bilangan Parung, Bogor.

“Mereka benar-benar menggemaskan..” gumam si guru magang. Si guru tidak menegur tapi malah memperhatikan sejenak polah anak-anak didiknya.

Hingga ada sepasang mata yang menyadari kehadirannya, “Eh.. udah-udah, ada guru baru tuh..” teriaknya. Konser kelas yang tadinya riuh, sekarang perlahan tapi pasti menyepi dan berhenti. Si Pasha Ungu turun dari panggung miliknya dan kini duduk manis, malu.

“Assalamu’alaikum anak-anak!!”

“Wa’alaikumsalam bu guru..” serentak.

“Apa kabar hari ini??”

“Alhamdulillah baik, Bu..” Serempak lagi.

“Aih nggak seru kalo jawabannya begitu” ujar bu guru, “Sekarang, kalau ibu tanya apa kabar anak-anak, kalian jawabnya.. Alhamdulillah, pikiran ku” Sambil menunjuk kepala masing-masing dengan dua telunjuk tangannya, “Tubuhku..” sambil menyedekapkan kedua tangan di dada, Hatiku..” sambil menggenggam tangan kanan masing-masing di letakkan di jantungnya, “Fresh.. fresh.. fresh.. Dahsyat!!!”

“Bisa??”

“Bisa bu..”

“Kita coba ya..” bu guru tersenyum, manis sekali, “Apa kabar anak-anak??”

“Alhamdulillah, pikiranku, tubuhku, hatiku, fresh.. fresh.. fresh.. dahsyat!!”

“Nah begitu dong.. kita harus selalu semangat setiap pagi dan setiap hari ya sayang..”

Setelah itu bu guru memperkenalkan dirinya, Nevi Dian Vilantie. Nevi menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan praktek lapang. Ia akan belajar mengajar di SD ini selama sebulan ke depan.

“Nah ibu kan sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran kalian ya sayang memperkenal diri masing-masing..” Nevi memberi instruksi, “Sebutkan nama dan cita-citanya.. Baik sayang, kita mulai dari yang paling kanan ibu ya” Nevi menunjuk ke satu arah, “Iya, kamu sayang.. silakan.. yang keras ya suaranya..”

Bergiliran satu-satu bocah mungil itu memperkenal diri masing-masing dan menyebutkan cita-citanya. “Saya ingin jadi dokter”, atau “saya ingin jadi guru”, atau “saya ingin jadi pemain bola”, dan lainnya, cita-cita umum kebanyakan anak-anak Indonesia.

Tiba giliran di tengah ruangan kelas, “Saya ingin jadi penyanyi bu..” ujar si Pasha Ungu yang tadi menjadi perhatian kelas.

“Bagus.. Amiin..” ujar Nevi.

Sampai juga giliran si bocah manis, perempuan mungil yang sedari tadi diam tak bersuara. Murung, tapi sebenarnya wajahnya manis sekali.

“Nama saya Vivi bu, saya ingin jadi Presiden..”

“Hahaha…” kompak semua anak yang lain tertawa, meremehkan.

“Eh nggak boleh begitu ya sayang, kita hargai semua cita-cita teman-teman kita. Yuk amin bareng-bareng..”

“Aaamiiin..” kompak.

“Vivi kenapa ingin jadi presiden?” Nevi terusik dengan cita-cita yang paling berbeda dibandingkan dengan anak yang lain.

“Biar cepet kaya bu.. biar mama nggak selalu berangkat kerja malem dan pulang pagi. Vivi ingin kayak anak-anak yang lain, Bu, kalau tidur sama mama, didongengin, dimanja, dan disayang..”

DEG!! Tertohok sekali Nevi mendengar ocehan bocah manis itu.

*****

Saat istirahat di kantor, Nevi menceritakan pengalaman pertamanya masuk di kelas Satu B barusan, termasuk menceritakan perihal Vivi ke guru lainnya.

“Eh bu, Vivi itu anak seorang PSK di daerah Parung ini..” ujar salah satu guru senior.

“Iya bu, benar.. semua guru juga sudah tau itu..” ujar guru yang lain mengiyakan. Seketika tubuh Nevi lemas, merinding membayangkan kehidupan salah satu siswanya.

Sekarang Vivi masih kecil, jelas tidak mengetahui pasti jenis pekerjaan yang dilakoni sang mama, Ia hanya tahu mamanya bekerja keras tiap malam dan pulang pagi dengan dandanan yang memang menggoda. Vivi tidak tahu bahwa mamanya meneteskan keringat kenikmatan, berlendir, dan mendesah-desah memuaskan nafsu si hidung belang hampir tiap malam. tapi semua itu dilakukan atas nama cinta, cinta kepada anaknya, Vivi.

“Vivi nggak ingin mama jadi pelacur!!”

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.