Tags

, , , , , , ,

Malam itu, tubuh Arman masih lelah. Bagian pinggang hingga lehernya serasa kaku dan pegal-pegal semua. Bagaimana tidak, Ia baru saja tiba dari Kalimantan Barat satu jam yang lalu. Perjalanan yang baru saja dilaluinya dari pelosok Kalimantan Barat hingga ke kota Bengkulu memakan waktu nyaris seharian penuh.

Nggak terbayang deh jika ditempuhnya pakai kapal laut. Naik pesawat aja capeknya begini, apalagi naik kapal yang memakan waktu berhari-hari, gumamnya. Seandainya bisa memilih, tentu Arman lebih suka berada di atas kasur empuk untuk meluruskan tulang-tulang punggungnya. Tapi, Ia urung melakukannya. Besok ia sudah harus melanjutkan perjalanan ke kampungnya, Kab. Mukomuko, enam jam dari kota Bangkulu. Malam inilah waktu baginya untuk sekedar nongkrong bersama sahabat lamanya.

Ditemani rembulan dan ratusan bintang di langit malam, Ia dan beberapa sahabat SMA nya bernolgia di Pantai Panjang, Bengkulu. Ada Soni, wahid, dan Nezi.

“Cak mano kabar bini samo anak kau, Son? Anak kau lah pacak ngomong yo kini? (gimana kabar istri mu, Son? Anakmu udah bisa ngomong ya sekarang?)”

“Alhamdulillah baik Bang” Jawab Soni singkat, “Aih anak ambo tuh masih umur limo bulan bang, belum pacak ngomong lah (Aih.. anak ku tuh baru lima bulan bang, ya belum bisa ngomong lah)” Walau usia mereka sebaya, namun Arman memang biasa dipanggil Abang oleh teman-temannya.

“Anaknyo Wahid tuh Bang yang udah pacak ngomong, cerewet nian nyo (anaknya wahid tuh bang yang sudah bica ngomong, cerewet banget anaknya)” Nezi menimpali sambil menghisap sebatang Rokok miliknya.

“Siapo dulu gaeknyo cik, Nurwahid!! (Siapa dulu orang tua, Nurwahid!!)” Bangga.

“Tinggal kito lah, Zi yang belum menikah. Menikmati kebebasan!” ujar Arman berusaha berdamai dengan hatinya.

“Eits.. kito?? Kau ajo kali bang!! Hahaha” Nezi tidak terima, “Kalau lancar bulan depan ambo jugo nak nikah Bang! Oia, iko nah undangannyo, dari pado lupo, mending ambo kasih sekarang ajo ke kalian” Nezi membagikan undangan ke tiga sahabatnya.

“Eh.. samo siapo? Masih samo Niken anak IPA 1 yang dulu tuh?”

“Yoyoi bang..”

“Barokallah bro.. Barokallah..” hati Arman semakin kecut. Padahal dulu ketika SMA, empat sekawan ini mengira Arman lah yang akan menikah duluan. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Dua teman karibnya sudah memiliki buah hati yang menggemaskan, satu yang lain bulan depan akan menyusul. Ah, begitulah jodoh, tidak ada yang tahu.

“Kau tuh lah bang.. Sibuk ajo ngurusin orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan sano. Kerjo terus sampe lupo belum nikah.. hahaha” mereka tertawa.

“Sial!”

Malam mulai merangkak naik dan Pantai Panjang semakin ramai oleh motor-motor yang berseliweran kesana-kemari. Sepasang sejoli selalu berpelukan mesra di atas roda dua yang lewat di hadapan mereka. Mencari tempat yang agak semak dan gelap. Entahlah apa yang mereka lakukan disana.

“Arman, kau ingek dak kek Nevi? (Arman, kau ingat sama Nevi nggak?) Adik kelas kau SMP dulu, yang sekolah di SMK N 4 Kota Bengkulu?” tiba-tiba Wahid ingat sesosok perempuan yang mungkin cocok buat Arman.

“Ingek.. ngapo Hid?”

“Kito main ke rumah nyo lah, mumpung belum terlalu malam”

Langsung saja, dua kendaraan roda dua mereka meluncur di Jalanan Suprapto, Bengkulu. Lurus saja hingga simpang SKIP dan berbelok ke kiri menuju Sawah Lebar. Walau sudah hampir tiga tahun ditinggalkan, Bengkulu tidak banyak perubahan.

Tiba di sebuah rumah mungil di bilangan Sawah Lebar, Bengkulu. “Assalamu’alaikum.. “ sambil mengetok pintu.

“Wa’alaikumsalam..” pintu terbuka, “Eh kak Wahid, masuk lah kak”

Empat sahabat karib itu masuk ke dalam rumah sederhana dan duduk di depan TV. Hanya itulah ruang tamu, bercampur dengan ruang keluarga. “Dwi, kok sepi? Mano ayuk Nevi?”

“Ayuk Nevi lagi keluar bentar samo gaek beli martabak cak nyo”

“Wah kebetulan nih perut laper.. hehehe” Soni bercanda. Arman yang belum pernah sekalipun ke rumah ini, lebih banyak diam. Ia perhatikan sekeliling rumah, sederhana, tidak ada yang mewah.

Tak beberalama lama, “Assalamu’alaikum.. eh ada tamu toh? Kebetulan nih nevi baru aja beli makanan” ujar Ibunda Nevi.

Subhanalloh.. Ini nevi? Kok sekarang berubah? Cantik sekali dia.. padahal dulu nggak begini deh! Atau aku saja ya yang nggak pernah memperhatikan? Dada Arman bergemuruh, melihat sesosok anggun masuk, tubuhnya tinggi semampai, berbusana gamis merah dan jilbab yang menjuntai dengan warna senada. Astaghfirulloh hal ‘adzim, Arman memalingkan wajahnya ke arah lain.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan martabak habis, serta waktu juga yang sudah larut. Keempat sahabat ini kemudian pamit.

Di perjalanan, di atas roda dua yang dikendarai wahid, Arman lebih banyak diam, melamun. Wajah anggun Nevi masih saja membayanginya. Ia masih tak percaya dengan perubahan drastis yang terjadi pada adik kelasnya. Dulu Arman tidak pernah mau melirik ke Nevi, bukan karena tidak cantik, tapi karena busana ketat yang selalu menempel di tubuhnya. Perempuan dengan busana ketat bukan tipe Arman. “Gue nggak rela tubuh istri gue dinikmati sama mata banyak orang bro, gue cemburu” bagitu kata Arman, dulu, ketika sahabatnya bertanya mengapa tidak bisa jatuh cinta sama perempuan berbaju ketat?

“Cak mano Man, Nevi cantik kan?” Wahid membuyarkan lamunannya.

“Eh.. apo, Hid?” Arman tidak mendengar pertanyaan Wahid, suara motor dan angin yang menerpa telinganya serta lamunannya membuat ia tidak fokus mendengar suara Wahid.

“Nevi cantikkan?” Wahid mengulangi pertanyaannya lebih singkat.

“Ya iya lah, masa ganteng..”

“Ambo tau kok selera kau cak mano.. dari dulu kan kau suko nyo kek perempuan yang pakaiannya kayak karung, besar-besar dan longgar-longgar” Kedua sahabat itu tertawa masih di atas motor kesayangan Wahid.

*****

Dua bulan kemudian, di sebuah kamar pengantin yang indah dan harum, kamar itu tidak begitu luas. Hanya ada ranjang dan meja kecil saja. Di atas meja kecil itu tersimpan sekeranjang buah, mulai dari apel, jeruk, anggur, dan melon. Tak lupa ada sekotak susu cair dan gelasnya serta sebatang cokelat dengan merk terkenal.

Arman dan istrinya sedang melakukan dua rekaat shalat berjamaah pertama mereka. Sebuah bentuk kesyukuran atas nikmat tuhan yang tak terkira, sungguh nikmat tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?

“Mas cinta banget sama adek..” ujar Arman selepas berdoa, sambil menatap mata indah istrinya, cantik sekali.

 

“Karena Allah mas.. Cintai adek karena Allah..” suara Nevi lembut, mencium tangan Arman. Malam itu menjadi malam tak terlupakan untuk mereka. Sungguh indahnya menahan, saat berbuka penuh kejutan.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI