Tags

, , , , , , , , , , , ,

Cuaca kota Jakarta hari itu panas, sama seperti biasanya. Matahari tanpa malu-malu tebar pesona di atas langit biru nan indah. Jalanan padat merayap, ramai sekali. Sedangkan asap kendaraan dan debu jalanan beterbangan mengotori udara. Daun-daun pepohonan penghias jalan tidak lagi berwarna hijau, sudah dibedaki oleh debu dan asap kendaraan. Ada yang berwarna cokelat karena debu yang tebal, namun tak sedikit yang berwarna hitam karena asap kendaraan. Ah kasihan pepohonan itu.

Sementara itu, di pinggiran ibu kota, di sebuah rumah sederhana duduklah dua perempuan kakak-beradik, bercengkerama. Sesekali dua malaikat kecil sang kakak mengusik obrolan mereka dengan permintaan yang bermacam-macam. Mulai dari minta buatin susu lah, ganti celana karena ngompol lah, minta jajan lah, dan sebagainya.

Dua kakak beradik ini cukup akrab satu sama lain. Dulu ketika si kakak belum menikah, mereka justru seperti sahabat dekat yang suka saling menumpahkan perasaan masing-masing, curhat. Dulu si kakak yang lebih sering bercerita tentang isi hatinya, tentang hubungannya yang tidak direstui. Sang adik, dengan bijak hanya berkata, “Cece harus yakin, ayah sama ibu cuma butuh keyakinan cece aja, kalau cece yakin, ayah sama ibu pasti nanti merestui. Tapi kalau cece nggak yakin, ayah sama ibu malah semakin kuat nggak setujunya sama mas Dodi”.

Itu dulu, sekarang keadaan berbalik. Si adik menghadapi kondisi yang mirip, jika dulu si kakak tidak di restui karena perbedaan suku, si kakak asli betawi, sedangkan Dodi Jawa tulen. Kini Si adik tak direstui karena pekerjaan.

“Ce.. adek udah ngomong lagi ke ayah tentang keinginan adek menikah sama Khalid”

“Terus ayah bilang apa?” tanya si kakak sambil sibuk menyuapi malaikat bungsunya. Sebenarnya ia sudah tau bahwa orang tua mereka pasti belum merestui.

“Ayah nggak setuju Ce. Masih dengan alasan yang sama, kata ayah pekerjaan Khalid tidak bisa menjamin kehidupan adek nanti..”

“Emang pekerjaan Khalid sekarang apa dek? Cece lupa. Kemarin pas kamu kasih biodatanya ke Cece, belum sempet Cece baca semua eh udah entah kemana sekarang. Maklumlah, Asyfa dan Adlina ini kan masih kecil-kecil, suka sembarangan ngambil barang apa aja yang bisa diraihnya”

“Khalid sekarang lagi merintis bimbelnya, Ce. Walau baru berjalan dua bulan, tapi adek ngeliat kerja keras dan usahanya itu. Lagian kan yang penting itu tetap berpenghasilan dengan apapun pekerjaannya”

“Iya bener” ujar si kakak, “Cuma ayah dan ibu itu kan masa lalu nya buruk untuk urusan materi, dek. Kamu ingat kan dulu kita harus pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain, makan seadanya, dan pernah di akhir bulan kita dimarahi hanya karena telat membayar sewa rumah” si kakak mengenang masa lalu keluarganya, “Gaji ayah yang hanya sebagai guru honor, jelas tidak bisa mencukupi kita. Untunglah sekarang ayah sudah diangkat jadi PNS dan tunjangan guru di Jakarta sekarang sudah membaik”

“Iya Ce, adek ingat semuanya kok”

“Ayah sama ibu cuma nggak ingin kamu merasakan hal yang sama dengan mereka dek. Ayah dan ibu cuma ingin yang terbaik untuk mu”

“Tapi rejeki itu Allah yang atur kan, Ce. Mungkin Khalid memang belum mapan sekarang, tapi adek ngeliat Khalid mampu bekerja keras”

“Nah kalau kamu yakin, terus kenapa mesti bingung?”

“Ya bingung lah, Ce, kan ayah sama ibu masih nggak setuju kalau adek nikah sama Khalid”

“Adek, kalau kamu udah yakin, kamu harus kuat!” si kakak menerawang ke masa lalunya, ”Ayah sama ibu cuma butuh keyakinan kamu aja, dek, kalau adek yakin ayah sama ibu pasti nanti merestui. Tapi kalau adek nggak yakin, ayah sama ibu malah semakin kuat nggak setujunya sama Khalid”.

Si Kakak ingat kata-kata adiknya inilah yang dulu berhasil membuatnya kuat dan akhirnya mendapatkan restu menikah dengan Dodi, pujaan hatinya, kini dua malaikat kecil hasil pernikahannya sedang imut-imutnya, menanti tumbuh menjadi penerus negeri.

“Kamu ingat, kalimat itulah yang membuat Cece kuat untuk terus memburu restu ayah dan ibu dulu” ujar si kakak, “Kalimat itu dari lidah kamu Dek”

Walau matanya basah, sang adik tetap tersenyum. Bagaimana bisa dulu ia yang menjadi penguat kakaknya, justru kini hampir terpuruk dan putus asa menanti restu orang tua. Dalam kegelisahannya ia kembali meneguhkan hati untuk memperjuangkan restu dari orang tuanya untuk si pujaan hati, Muhammad Khalid.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.