Tags

, , , , ,

“Ah telat lu, begini nih masyarakat Indonesia, janjinya sih jam 8, ini udah lewat setengah jam baru datang” ujar Rio sambil menyeruput secangkir kopi panas yang baru saja disajikan oleh pelayan warkop.

“Sory bro, gue baru aja selesai jilid skripsi, tadi fotokopian langganan gue penuh, makanya antri” Dani berkilah, “Mas, Indomie rebus satu ya, pakai telur dan tambahin cabe dua aja”

“Sip mas” jawab pelayan singkat.

Rio dan Dani adalah sahabat karib sejak tahun pertama kuliah di perguruan tinggi ternama di bilangan Bogor.  Persahabatan mereka berawal dari sebuah kepanitian besar di kampusnya, Open House Mahasiswa Baru. Ketika itu mereka bekerja sama di satu divisi Dana Usaha. Walau mereka tidak satu jurusan tapi persahabatan itu tetap terjaga hingga sekarang, saat mereka sudah hampir lulus.

Saat ini mereka adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusannya masing-masing dan sedang berjuang untuk lulus tepat waktu, empat tahun. Rio jurusan Statistika. Saat ini ia sedang menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Dani jurusan Agronomi dan Hortikultura yang baru saja melalui ujian kelulusan dengan sangat baik.

“Eh iya Rio, skripsi lu gimana? Udah kelar belum?” tanya Dani membuka pembicaraan.

“Mulai deh Lu nanya-nanyain skripsi, emang nggak ada topik lain Dan?” Rio malas menjawab pertanyaan Dani. Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan tentang skripsi dan kelulusan adalah pertanyaan horor dan tidak mengasikkan untuk kedua telinga dan hatinya.

“Yah sewot, kayak ibu-ibu aja lu bro!” Dani meledek karibnya.

“Doain aja, semoga bulan ini udah bisa sidang” ujar Rio, “Sekarang lagi revisi, kemarin udah dikasih ke dosen pembimbing dan harus revisi lagi. kalau diitung-itung ini udah delapan kali gue revisi bro. tapi dosen pembimbing gue belum juga nawarin gue untuk maju sidang”

“Nikmati aja, namanya juga proses”

“Ini mas mie rebusnya” ujar pelayan kepada Dani. “Terimakasih mas!” jawab Dani singkat.

“Lu udah makan belum? Kalau belum pesen aja. Gue traktir” tawar Dani sambil menuangkan kecap dan saos ke mie rebusnya.

“Nggak deh, gue ngopi aja”

Malam itu warung kopi langganan mereka tidak begitu ramai. Maklum, bukan weekend. Padahal kalau weekend warung kopi ini akan ramai dikunjungi oleh mahasiswa sekedar untuk nongkrong menikmati secangkir kopi sambil nonton liga Inggris bersama-sama. Sedangkan malam itu hanya ada 3 orang saja, Rio, Dani, dan seorang tukang ojeg yang sedari tadi menikmati sebatang rokoknya dan secangkir kopi.

“Eh iya Dan, ada masalah apa nih lu ngajak ketemuan malem-malem begini? Tumben..”

“Tentang akhwat bro!”

“Kenapa emang? Bukannya kemarin lu udah ta’aruf ya? Lu juga bilang tuh akhwat udah oke, terus kenapa lagi?”

“Akhwatnya sih udah oke dan mau melanjutkan ke jenjang pernikahan sama gue. Masalahnya, pas dia bilang ke orang tuanya, nggak dapet restu bro!” Dani menjelaskan. “Padahal semua kakak-kakaknya udah mendukung dan setuju sama gue, cuma umi sama abinya yang belum ngasih restu bro. Ada saran nggak?”

“Emang apa alasannya lu nggak direstui? Seorang Dani yang pinter, sudah punya usaha kecil-kecilan, dan sudah lulus ini ditolak? Bingung gue!”

“Maklumlah bro, tuh akhwat kan anak bungsu, jadi orang tuanya ingin dia dapet yang udah settle. Nah gue kan masih megap-megap njalanin bimbel sama warung makan gue”

“Emang kalau udah kerja, ada yang bisa jamin satu hari setelah menikah masih punya kerjaan? Nggak kan!! Alasannya nggak logis. Terlalu bergantung sama materi, padahal rejeki udah diatur kan?”

“Itukan pendapat kita bro, anak muda yang masih sedikit pengalaman” Dani bijak, “Gue sih nerima alasan orang tuanya, lagian kan mana ada orang tua yang tega membiarkan anaknya hidup menderita”

“Nah itu lu udah tau, terus masalahnya apa?”

“Menurut lu, gue harusnya gimana? Memperjuangkannya terus atau nyari yang lain yang bisa nerima gue apa adanya sekarang?”

“Begini bro..” ujar Rio sambil membenarkan posisi duduknya menjadi lebih serius, “Menurut gue, Lu kembali ke tujuan lu menikah deh! Lu menikah untuk apa? Kalau masih sama kayak dulu, mencari pendamping yang bisa terus nguatin di jalan kebaikan, ya mending lu cari yang lain”

“Tapi gue udah punya rasa ke akhwat itu bro”

“Halah, nggak usah mellow deh lu!!” ujar Rio, “Menikah itu kan bukan hanya menyatukan dua insan yang saling mencinta, tapi menyatukan dua keluarga, jadi kalau ada keluarga yang nggak merestui, mending cari yang lain aja lah”

Dani merenungi setiap ucapan sahabatnya, memang ada benarnya juga. Selama ini ia lebih fokus pada dengan siapa ia menikah, dan melupakan tujuan menikah yang sebenarnya. Jika sudah jelas tujuan menikahnya, harusnya dengan siapapun (asal punya tujuan yang sama) ia menikah tetap bisa berjalan, bukan?

 

Malam terus merangkak naik, hingga dua karib inipun berpisah untuk menggantungkan harapan esok hari.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI