Tags

, , , , ,

“Ma Diah mau ngelanjutin kuliah S3 ya tahun depan?” ujar Diah kepada ibunya, “Kebetulan kata temen Diah tahun depan ada bukaan beasiswa ke Amerika”

Diah adalah magister Manajemen Universitas Indonesia. Saat ini ia sudah menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Jogjakarta. Kuliah S1 dan S2nya berjalan dengan sangat baik dan manakjubkan. Itulah sebabnya setelah lulus S1 ia mendapatkan rekomendasi S2 dan diangkat menjadi dosen. Walau masih dosen bantu, tapi Diah menikmatinya.

“Nduk, kalau kamu kuliah terus, terus kapan mau menikahnya?” Aisyah, ibunda Diah mulai resah memikirkan putri sulungnya yang hingga usia hampir kepala tiga namun belum juga mencapatkan jodoh. “Kalau kamu kuliah lagi, nanti semakin susah mendapatkan jodoh untukmu. Lha wong sekarang aja udah S2 banyak laki-laki yang minder mau melamarmu!”

Diah Hapsari, adalah putri sulung Aisyah dan Aziz. Wajahnya tergolong menawan. Sebenarnya tidak sedikit yang sudah mencoba untuk melamar Diah, tapi memang belum berjodoh, ya mau gimana lagi. Diah lebih sering menolak setiap lelaki yang datang padanya, bukan karena apa-apa, Diah hanya merasa bahwa lelaki yang datang ke rumahnya selama ini belum ada yang layak menjadi imam dirinya dan anak-anaknya nanti.

Ada yang sudah mapan, tapi tidak bisa membaca Al Quran. Bagaimana mungkin dia akan menjadi imamku jika membaca Al Quran saja nggak bisa! Ada juga yang sudah S2 seperti dirinya, namun shalat lima waktunya suka lalai. Orang yang shalat bener-bener aja belum tentu diterima ibadahnya, lah ini malah shalatnya lalai, aku nggak mau!

“Iya ma, Diah juga ingin segera menikah, tapi Allah belum ngasih sampai sekarang, kita kan nggak bisa berbuat apa-apa”

“Kamu itu loh nduk, standarnya jangan terlalu tinggi. Kemarin Mauludi datang, wajahnya ganteng, udah kerja dan punya rumah, eh malah kamu tolak. Lah terus kamu mau nyari yang bagaimana?”

Saat ini Aisyah sudah sangat kahwatir terhadap jodoh anaknya yang tak kunjung datang. Selain ingin menimang cucu, Aisyah juga sudah tidak tahan mendengar gunjingan dari warga terhadap anaknya. Bagi masyarakat jawa, seorang gadis yang belum menikah hingga usia hampir tiga puluh tahun adalah sebuah aib. Gunjingan dari kiri dan kanan, serta depan dan belakang setiap hari selalu singgah di telinga Aisyah. “Eh si Diah itu, udah tua tapi masih aja belum menikah, habisnya udah berkali-kali lelaki datang ke rumahnya, eh malah di tolak, maunya apa coba? Atau jangan-jangan dia nggak suka sama laki-laki kali ya??”

“Hush.. jangan ngomong sembarangan bu.. nggak boleh. Diah kan gadis baik dan sholehah di desa kita”

“Terus apa dong namanya kalau gitu? Bisa saja kan, Diah pake busana muslimah yang longgar-longgar untuk menutupi kelainannya itu”

Perbincangan itu terjadi pagi tadi ketika ibu-ibu sedang berkumpul di warung untuk membeli sayuran dan bumbu masak lainnya. Saat Aisyah datang lah baru gunjingan-gunjingan itu berhenti. Tapi tetap saja ada pandangan-pandangan aneh ke arahnya. Hal ini membuat Aisyah tidak berlama-lama, ketika semua keperluannya sudah terpenuhi, ia langsung pulang. Jengah berada di kumpulan ibu-ibu yang suka sekali ikut campur urusan orang lain.

*****

“Diah nggak punya standar yang terlalu tinggi kok ma, Diah cuma ingin ikutin apa yang sudah dikatakan gusti nabi aja, ingin cari suami yang bener-bener bisa jadi imam Diah dan anak-anak nanti! Baca Al Qurannya bagus! Akhlaknya bagus! Shalatnya bagus! Pokoknya yang agamanya bagus”

“Yah itu juga tinggi nduk. Kamu terima aja kalau memang ada lelaki yang ngelamar kamu lagi. Kalau memang agamanya masih belum bagus, nanti kamu bimbing suami kamu biar jadi lebih baik”

“Ma, suami itu kan imam. Harusnya dia yang membimbing Diah dan anak-anak Diah nanti, jadi bukan Diah yang harus membimbingnya. Repot nanti membimbing anak-anak kalau Diah juga harus membimbing suami. Lagian mengajak orang ke kebaikan itu susah loh Ma, emang gampang ngajak orang untuk shalat, tilawah, sedekah?” Diah menjelaskan, “Udah ya ma, mama tenang aja, terus aja berdoa dengan doa terbaik untuk jodoh Diah. Diah yakin kok kalau Allah udah percaya sama Diah, pasti jodoh itu akan segera datang” Diah menenangkan Aisyah sambil memeluknya erat sekali. “Diah sayang sama mama..”

“Mama juga sayang sama kamu nduk..”

Ah begitulah, jodoh itu misteri dari Allah. Ada orang yang sudah kebelet sekali menikah, tapi kalau Allah bilang belum ya belum. Ada juga yang belum mau menikah, kemudian memasang tembok tinggi-tinggi, tapi kalau Allah bilang sekarang, ya menikahlah ia. Untuk yang belum menikah, yuk terus berikhtiar menjemput jodoh kita masing-masing.