Tags

, , , , , , , , ,

Nyaris lima bulan saya mengabdi di pedalaman Kalimantan Barat, di bilangan kec. Sebawi, kab. Sambas, tepatnya di SDN 01 Kota Bangun. Jika dari Sambas, membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di tempat ku mengabdi. Dua jam itu terdiri dari sekitar sejam perjalanan ke kec. Sebawi, kemudian perjalanan akan dilanjutkan masuk ke dalam semak belukar. Jalanannya hanya gang dengan jalan setapak dan akan menyeberang sungai yang cukup besar.

“Ya Allah, emang di dalem sana ada perkampungan ya?” gumamku ketika pertama kali masuk ke dalam dusun ini. Sepanjang jalan setapak itu, kiri dan kanannya hanya ada hutan sagu, persawahan, dan rumah-rumah warga dengan model panggung.

Ya, nyaris lima bulan saya disini, sudah banyak amunisi yang kugunakan untuk membuat pelajaran di kelas menyenangkan. Mulai dari yel-yel, nyanyian, dongeng, games, teknik dan metode mengajar yang tidak hanya ceramah, dan sebagainya. Amunisi itu saya keluarkan sedikit demi sedikit, awalnya adalah nyanyian.

Tak kan pernah menyerah, Itu anak Kota Bangun!! Selalu tulus belajar, itu anak Kota Bangun!! Belajar dengan hati sekolah sepenuh jiwa, itulah anak Kota Bangun!!. Inilah nyanyian pertama yang saya ajarkan ke anak-anak. Tujuannya adalah agar mereka memiliki jiwa nasionalisme kepada dusun dan sekolahnya. Selain itu, nyanyian ini juga saya harapkan bisa memberikan motivasi lebih untuk anak-anak, agar tidak pernah menyerah, selalu tulus belajar, dan bersekolah dengan ceria.

Olalalaa!! Olalalaa.. Olililiii!! Olililiii.. Bola.. Bola.. Bola!! Bola.. Bola.. Bola… ditendang? GOL!! Disepak? GOL!! Anak-anak ku sangat menyukai sepak bola, maka inilah lagu kedua yang kuajarkan kepada anak-anak. Sedangkan ketika mengaji, aku ajarkan kepada mereka tepuk anak sholeh dan tepuk senyum.

Empat amunisi awal itu sudah cukup membuat mereka riang selama empat bulan ku di daerah pengabdian. Walau saya sering mengulang-ngulangnya, mereka tidak pernah sekalipun bosan. Sederhana bukan??

Hingga di sebuah momen, saya lupa waktu itu saya mengadakan kegiatan apa ke anak-anak, tapi ada salah seorang guru nyeletuk “Kayak anak TK aja nih pak Syaiful ke anak-anak”. Ada sedikit perasaan tersinggung juga sih diremehkan begitu, tapi saya biarkan saja. Walau dianggap seperti anak TK dan diremehkan, toh anak-anak suka dan antusias kepadaku.

Ya!! anak-anak suka jika saya yang mengajar atau memandu kegiatan. Hal ini terbukti pada kegiatan buka puasa kemarin, “Eeehhh udah lah pak, kasih pak syaiful aja lah speakernya, kalau sama pak Syaiful pasti seru!!” ujar anak kelas lima. Ia bosan hanya diceramahin oleh pemandu acara pertama. Teknik ceramah itu mungkin tidak akan bermasalah jika dipakai di depan anak SMA atau anak kuliahan. Tapi ini anak SD, anak-anak!! Mereka masih suka bermain dan bersenang-senang.

Membuat anak-anak suka dan ceria adalah tujuanku, tapi ada tujuan yang lebih besar, membuat guru-guru disini mencontohku, mengikuti apa yang kulakukan dengan cara mereka masing-masing. Jikapun tidak bisa membuat nyanyi-nyanyian, yel-yel, atau tepuk-tepuk, paling tidak mereka bisa memakai yang sudah kuberikan. Jadi, ketika bulan dua nanti saya meninggalkan daerah ini, saya berharap guru-guru sudah bisa mengajar dengan menyenangkan.

Sayangnya, sudah nyaris lima bulan saya disini, tanda-tanda itu belum banyak terlihat. Dari sembilan guru yang ada, baru satu yang terlihat mencoba mengikutiku, yang lain masih saja mengajar dengan metode tradisional. Duduk manis di kursi guru kemudian ceramah dan memaksa anak-anak untuk diam memperhatikan. Bahkan yang lebih parah adalah ada guru yang masuk kelas sebentar kemudian memberikan tugas (mencatat atau mengerjakan LKS) ke anak-anak, sedangkan ia keluar hingga pelajaran selesai.

Pernah sekali saya bicara ke salah satu guru, “Pak, kalau mengajar pakai lagu-lagu yang sudah saya ajarkan ke anak-anak, atau tepuk-tepuk ini” sambil mengajarkan lagu dan tepuk ke guru itu.

Tapi apa jawabnya, “Ah, saya tidak berani pak Syaiful, saya malu kalau mau seperti itu di depan anak-anak! Saya nggak PeDe!”

Malu? Nggak pede?

Gubrak!!

Jadi guru SD itu harus bisa masuk ke dunia anak-anak, setelah itu barulah ajak mereka ke dunia kita. Siswa SD adalah anak-anak, maka jadilah anak-anak jika ingin berhasil mengajar di kelas.

 

Masih malu? Atau nggak pede? Suruh siapa jadi guru SD!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI