“Wow orangnya bisa terbang!!” ujar Waldi (kelas 5) takjub ketika salah satu anggota Potograper Pantura Sambas menjelaskan teknik Levitasi dengan menampilkan poto dua orang yang terbang (kedua kakinya tidak menginjak tanah). Anak-anak menjadi lebih takjub lagi ketika poto berikutnya ditampilkan, ada orang yang mendorong angkong sambil terbang.

“Ah itu pakai tali, mana mungkin orang bisa terbang!” Rio tak mau kalah.

Pemateri dari Potograper Pantura Sambas hanya senyum-senyum kecil, kemudian memanggil Rio maju ke depan, “Ayo kamu silakan maju! Abang buktikan kalau poto terbang itu nggak pake tali”

Dengan pongahnya, Rio maju ke depan. “Sekarang berdiri seperti orang hendak berlari ya, kemudian nanti hitungan ketiga lompat. Seperti ini saja lompatnya” ujar pemateri sambil memperagakan lompatannya. “Bisa?”

“Bisa lah bang!”

“Oke, siap ya Rio. Satu.. dua.. tiga..” beberapa jempretan dari lima orang  anggota Potograper Pantura Sambas secara bersamaan ke arah Rio yang sedang lompat.

“Gimana, dapet nggak?” tanya pemateri ke teman-temannya.

“Ini aku dapet” ujar salah satu anggota. “Aku juga dapet!” yang lain mengikuti.

“Coba langsung pindahkan ke laptop biar yang lain ngeliat!

Tak beberapa lama, poto Rio yang seperti terbang (kedua kakinya tak menginjak lantai) terpampang di layar, “Wuuiiihhh, bagus inyan tok!! (Wuuiiihhh bagus sekali itu!!)” ujar anak-anak hampir bersamaan! Takjub.

Ya! Sore ini ada Kelas Berbagi jilid dua di sekolahku dari dua komunitas #SedekahSambas dan Potograper Pantura, Sambas. Jika dulu #SedekahSambas datang dengan membawa beberapa mahasiswa untuk melaksanakan kelas berbagi, Pengenalan Laptop, maka sore ini #SedekahSambas kembali hadir dengan membawa komunitas Potograper Pantura dalam acara Kelas Berbagi, Belajar Teknik Dasar Potograpi.

Sore ini ada 20 orang yang datang dari Komunitas Potograpi Pantura dan menyediakan 7 kamera DSLR yang bisa digunakan untuk belajar bersama anak-anak. Kamera yang berjejer di depan benar-benar membuatku mupeng (muka pengen!). Berbaris rapi sekali, mulai dari Nikon D3100, Canon 1100D, Canon 500D, Canon 550D, dan sebagainya.

Dalam Kelas Berbagi kali ini, jumlah anak yang hadir ada 32 orang. Karena jumlah kamera yang dipakai hanya ada tujuh, maka saya membagi anak-anak ke dalam tujuh kelompok kecil yang beranggotakan empat orang. Masing-masing kelompok akan mendapatkan satu kamera dan satu mentor, si pemilik kamera.

“Baik, anak-anak dan kakak-kakak mentor, dalam Kelas Berbagi ini, ajarkan dua atau tiga teknik memotret saja. Tapi yang levitasi itu wajib” ujarku.

 

Walau awalnya siswaku malu-malu dan takut memegang barang mewah itu, namun lama-kelamaan mereka mulai berani dan antusias jempret sana-sini menggunakan kamera dari Komunitas Potograpi Pantura. Bahkan mereka keluar ruangan masjid untuk hunting poto bersama kakak mentor masing-masing. Menjelang buka puasa, walau antusias anak-anak masih tinggi, praktek memotretnya harus dihentikan.  Kemudian dilanjutkan pemutaran hasil jempretan mereka. Momen ini benar-benar membuat mereka bahagia, berkali-kali mereka terpingkal-pingkal melihat hasil jempretan temannya.

 

Alhamdulillah, batinku puas!

Setelah berbuka, ketika hendak wudhu, seorang siswaku mendekat “Pak Syaiful, besok belajar moto lagi ya?”

Saya tersenyum dan berkata padanya, “Sayang, bilang aja sama abangnya tuh..” sambil menunjuk ke salah satu anggota Potograper Pantura, Sambas.

 

Terimakasih #SedekahSambas dan Potograper Pantura Sambas, semoga semua yang sudah kita lakukan bermanfaat bagi anak-anak di Kota Bangun! Amin.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI