Tags

, , , , , , ,

“Pak Syaiful dulu mondok dimana?” tanya seorang pegawai KUA kec. Sebawi, Kab. Sambas, Kalimantan Barat kepada ku sesaat setelah saya mengisi ceramah di pengajian ibu-ibu sekecamatan dalam naungan Badan Komunikasi Majelis Ta’lim (BKMT) Kecamatan.

“Wah saya nggak pernah mondok Pak” jawab ku singkat, “Dulu saya SD, SMP, SMA, terus kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB)”

“Loh nggak ada basic agama sama sekali ya pendidikannya? Tapi kok bisa ceramah sebagus tadi?” ujarnya. Padahal yang kusampaikan hanya biasa saja, bapak itu yang terlalu berlebihan, atau cuma menghiburku saja, entahlah.

“Saya dulu ngajinya sama almarhum ayah saya, Pak”

“Oh.. Ayahnya pendiri pesantren??”

Haduh.. “Bukan Pak, ayah saya petani biasa di Bengkulu. Ayah saya juga bukan lulusan pesantren, cuma lulusan PGA yang gagal jadi guru dan merantau ke Bengkulu”

Pegawai KUA itu menggaruk kepalanya yang saya yakin tidak gatal. Mungkin ia hanya bingung, masa nggak ada basic pendidikan agamanya kok bisa ngisi ceramah??

Lain lagi kejadian tadi malam. Saat Remaja Masjid mengadakan safary ramadhan desa, mereka mengajak ku. Awalnya saya heran, setahu saya sampai tadi malam, Safary Ramadhan itu adalah mengunjungi dan shalat di masjid berbeda bergantian selama bulan puasa dan biasanya hanya di lakukan oleh orang-orang penting saja, misal Camat, Bupati, Anggota DPR/ DPRD, atau orang penting lainnya.

Tapi bagi pemuda disini, Safary Ramadhan itu adalah mengunjungi masjid lain lalu ngadain kegiatan disana. Walau kami bukan orang penting, tapi tadi malam kami tetap diperlakukan bak pejabat pemerintahan. Maka jadilah tadi malam Safary Ramadhan pertama ku.

Agenda Safary Ramadhan kami adalah silaturahim dan memberikan siraman rohani ke jamaah. Saya lah yang ditunjuk secara tiba-tiba untuk maju ke depan dan ceramah. Alhamdulillah walau dadakan saya masih bisa menyampaikan pesan Allah dalam waktu satu jam. Sebenarnya masih ada yang ingin disampaikan, tapi saya sengaja menghentikannya karena ada sebagian jamaah yang sudah mengantuk.

Sebagian besar jamaah memang masih fokus memperhatikan, bahkan ketika saya mengucapkan “Mungkin hanya sampai disini dulu yang dapat saya sampaikan..”

Ada jamaah yang nyeletuk, “Masih awal tok e pak, terusinlah..”

Saya paham, di desa tempat ku mengabdi sekarang siraman rohani, tausiyah, nasihat, atau apalah namanya memang hampir tidak pernah ada. Itulah mengapa mereka merasa haus akan hal itu. Tapi saya juga tidak boleh mendzolimi sebagian kecil jamaah yang sudah kelelahan dan mengantuk.

Setelah selesai memberi tausiyah, tokoh agama desa Sebangun berujar “Pak Syaiful, ceramahnya bagus! Nanti pas shalat idul fitri bapak jadi khatibnya ya..?”

Deg!!! Jantung ku seakan berhenti sejenak, shock!! “Wah pak, saya belum pernah jadi khatib shalat idul fitri loh”

Nggak apa-apa, saya yakin pak Syaiful Bisa kok”

“Insya Allah, Pak” akhirnya saya mengiyakan. Soalnya sayang juga ditolak, yah itung-itung belajar. Kapan lagi saya dapat kesempatan belajar seluas ini??

Kini di sisa Ramadhan yang masih seminggu lagi, masih ada dua masjid yang harus ku kunjungi untuk ceramah disana, masih ada tiga hari mengisi pesantren kilat di sekolah, dan masih ada satu hari mengisi training motivasi di MTs. Semua ku lakukan semata-mata untuk terus belajar!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI