Tags

, , , , , , , ,

 

Satu hal yang menarik di Kota Bangun tempat ku mengabdi sekarang adalah senyum ceria anak-anak yang selalu hadir untuk ku ketika saya lewat atau kebetulan bertemu dimana pun. Anak-anak memang manusia paling jujur dan ikhlas, makanya senyum mereka menenangkan dan terkadang menggemaskan. Tentu akan berbeda dengan orang dewasa yang tersenyum karena ada maksud tertentu bukan?

Misalnya ketika berjalan setiap sore untuk shalat berjamaah di masjid. Jarak sekolah, tempat tinggal ku ke masjid sekitar 300-400 meter, di sepanjang jalan itulah anak-anak yang kebetulan bertemu akan menyapa, “Assalamu’alaikum Bapak…” sambil tersenyum memamerkan gigi mereka yang rusak karena jarang gosok gigi. Tidak sampai di situ saja, mereka kemudian akan mengekori ku menuju ke masjid.

Selain senyum mereka yang menentramkan, mereka juga selalu bersemangat ketika saya masuk kelasnya dan senyum ceria itu selalu hadir ketika saya di kelas mereka. Pernah di suatu pagi, ketika guru-guru telat datang ke sekolah, seorang anak datang ke kantor guru dan berujar, “Pak masuk ke kelas kami lah” dia merayuku.

“Pagi ini bapak ngajar Matematika di kelas enam sayang” jawabku menjelaskan, “Emang pelajaran apa sekarang?”

“Agama Pak, tapi gurunya belum datang”

“Masuk aja di kelas dan baca buku paketnya, tunggu gurunya datang ya sayang” Sebenarnya kasihan membiarkan mereka sendirian tanpa guru, tapi bagaimana mungkin saya bisa menghandle beberapa kelas sekaligus?

“Bapak aja deh yang masuk..”

“Bapak nggak bisa sayang, sebentar lagi gurunya datang kok”

“Ehhh.. tapi lebih enak bapak yang ngajar.. Bapak aja ya yang masuk” Andai aku bisa berubah menjadi banyak seperti Naruto, mungkin sudah ku lakukan saat itu dan masuk ke beberapa kelas sekaligus untuk mengajar.

Lain lagi dengan kejadian kemarin, Rabu 8 Agustus 2012, saya dan pemuda di Kota Bangun mengadakan buka bersama anak-anak kelas 4, 5, dan 6. Panitia meminta anak-anak untuk datang jam 3 sore, namun karena cucian ku yang numpuk, akhirnya saya baru bisa hadir di masjid sekitar jam 15.40an.

Di masjid acara sudah di mulai, salah seorang guru sedang menjelaskan keutamaan Ramadhan. Sayangnya Ia menjelaskan dengan metode ceramah dan mengharuskan anak-anak diam. Tentu saja anak-anak tidak bisa mengikuti dengan baik, karena mereka masih suka bermain dan bersenang-senang.

Sedang asik-asiknya guru itu berbicara (padahal anak-anak gelisah dan tidak fokus mendengarkan), salah seorang anak berujar, “Ehh udah ah Pak, kasih pak Syaiful aja, biar pak Syaiful yang ngomong”

Gubrak!!! Berani sekali anak itu bicara begitu! Gumamku. semua anak tertawa. Sedangkan saya hanya tersenyum dan memberi isyarat kepada mereka, tidak boleh begitu!

Untungnya si guru masih muda dan tidak mudah tersinggung. Si guru masih terus berbicara, namun ketika Ia sudah tidak bisa menghandle anak-anak, ia menyudahi ceramahnya dan menyerahkan micropon kepada ku. Saya pandangi anak-anak yang ada di depan ku dan tersenyum.

“Tepuk diam!!!” teriakku.

Dengan semangat mereka mengikuti instruksiku, prok.. prok.. prok.. “Sssttt.. Ssssttt..”

prok.. prok.. prok.. “Sssttt.. Ssssttt..”

prok.. prok.. prok.. “Diaaam!!” dan seketika masjid menjadi sunyi karena anak-anak sudah diam semua. Dan agenda buka puasa yang awalnya membosankan menjadi menarik hingga selesai. Sore itu, saya bahagia karena setelah berbuka, anak-anak tersenyum ceria mendatangiku, menarik-narik kemejaku, “Pak Syaiful, besok kita buka bersama lagi lah sampai puasa selesai”

Saya tersenyum sambil berujar, “Insya Allah ya sayang”

Beberapa hal inilah yang membuat saya betah di daerah eksotis pedalaman Kalimantan Barat ini. Disini memang tidak seramai kota Bogor, tidak ada mal atau tempat hiburan lain, tapi hadirnya anak-anak menjadi hiburan tersendiri bagiku.

Jadi ketika ada teman yang baru saja chat di fb dan berkata “Betah nih kayaknya di Kalimantan? Sampe lebaran nggak pulang.. berarti ada yang membuat kamu betah dong SyaiHa.. jangan-jangan dapet calon istri orang situ ya?”

Bukan! Betahku disini karena anak-anak, generasi negeri tercinta ini!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI