Tags

, , , , , , ,

 

Oleh : Irhamni Rahman, Guru Model SGI 3 di SDN 22 Sarang Burung Usrat, Sambas, West Borneo.

Jika guru Indonesia melipat senyum ramahnya karena pagi ini ia mendapat potongan gaji sebab ia terlambat menaruh ibu jarinya di atas mesin presensi, maka seharian yang ia pikirkan hanya tentang bagaimana menutupi kekurangan kebutuhan bulanan, dan buyarlah segala RPP yang telah direncanakan semalaman.

 

Jika guru Indonesia berkantung mata dan kehilangan suara karena semalaman suntuk di depan layar kaca memberi semangat kepada tim bola favoritnya, maka seharian ia akan menjadi gagu dan kehilangan arah belajar disebabkan kasur empuk dan tumpukan bantal yang menantinya di rumah.

Jika guru Indonesia bermuram durja karena teman sejawatnya telah ber-Xenia sedangkan ia harus puas dengan honda supranya, maka bagaimana ia mampu mengajarkan kepada para siswa bahwa hidup bersahaja bukan berarti tidak bahagia?

Jika guru Indonesia berada di sekolah tanpa semangat karena sedang dirundung masalah keluarga, maka bagaimana ia mampu memotivasi para siswa yang tengah patah arang dalam hiruk pikuk pertengkaran ayah-ibunya?

Jika guru Indonesia senang sekali “menjilat” sana-sini demi sebuah “posisi”, maka bagaimana ia mampu membangun para siswa agar memiliki harga diri dengan mental taqwa?

Jika guru Indonesia bersedih hati dan kehilangan tawa candanya karena ia tengah berpatah hati, maka bagaimana ia mampu menjadi “tempat sampah” para siswa yang butuh bercerita tentang serba-serbi hati masa remaja mereka.

Guru Indonesia pun masih terklasifikasi sebagai manusia, sekalipun para siswa acap kali mendewakan segala kata, sikap, dan titahnya, namun sekali lagi, manusia ya tetap saja manusia. Tapi sekarang pertanyaannya yang akan saya lemparkan kepada para guru Indonesia adalah … “Siapa suruh mau jadi guru Indonesia???” Bukankah ketika kita telah memilih menjadi guru Indonesia itu artinya kita telah memutuskan menempuh perjalanan dengan mengenakan jaket kehidupan yang bertuliskan “Sebuah profesi dengan tuntutan tugas nabi. Serentetan tugas dengan skala dunia-akhirat. Setumpuk amanah dengan taruhan terseok dan berdarah-darah. Maka, nikmatilah!”

Kalau para guru Indonesia masih senang berselimut dalam segala pernak-pernik kegalauan, lalu mau dibawa kemana anak didik Indonesia? Hendak membangun makna apa bersama mereka di tengah dunia yang terus menuntut mereka sebagai generasi masa depan yang akan membawa pencerahan sebuah negara yang “terwariskan berantakan”? Bagaimana mau berbagi tentang pelajaran kehidupan, kalau pelajaran yang akan diajarkan hari ini saja tak terencanakan?

Tunggu! Apakah definisi galau dalam kepala saya sama dengan yang seperti dalam kepala Anda? Kalau saya memaknai “galau” sebagai “keadaan yang tidak stabil” a.k.a “labil”, itu artinya seseorang sedang menghadapi polisi tidur-polisi tidur, kerikil-kerikil, dan serba-sebi warna hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka, toh harus dijalani juga. Well, bisa dibilang setiap orang pasti pernah mengalami keadaan tidak mengenakkan dalam hidup mereka, pun guru Indonesia.

Nah, permasalahannya adalah kalau guru Indonesia sedang ber-GALAU-ria dan tak tersikapi dengan “pakaian keguruannya”, maka apa jadinya keadaan kelas Anak Indonesia hari itu? Hari berikutnya dan berikutnya lagi? Apalagi kalau galaunya terlalu lama. Mungkin sebagian orang boleh berkata, “ Nanti juga stabil lagi” atau “Biarkan waktu yang membuat dia kembali seperti semula.” Nah, masalahnya adalah kalau rentang waktu yang dibutuhkan seorang guru untuk menjadi stabil lagi telah menorehkan sikap-sikap yang tidak semestinya di hadapan siswa dan terlanjur membekas dalam memori hidupnya serta berdampak a,b,c,d sampai z, lalu apa kata dunia?

Guru boleh saja galau, tetapi tidak dihadapan siswa. Guru boleh saja sedih, tetapi pilihlah “tempat tersendiri”. Guru pasti pernah kecewa tetapi “luka” bukan untuk dipajang di hadapan kelas yang seharusnya penuh cinta. Guru boleh saja merasa lelah dan sakit tetapi bukan untuk dijadikan alasan agar para siswa pun tersakiti dengan kata-katanya yang menyelekit.

Jadi guru itu pilihan, sebuah hobi yang menuntut pengabdian sepenuh hati. Maka kalau masih suka menggalau di hadapan mata anak didik kita, mengeluh bahkan ketika tak berpeluh, menggerutu hanya karena RPP yang senantiasa harus diperbaharu, ya mundur saja, sebelum lebih banyak anak Indonesia yang terkebiri karakternya sejak dini.

 

Jadi guru berat banget siiih.. “Siapa suruh jadi Guru???”

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI