Tags

, , , , , , ,

Mendekati lebaran, dusun Kota Bangun tempat ku mengabdi sekarang menjadi sedikit lebih ramai. Warga Kota Bangun yang merantau satu persatu pulang ke tanah kelahirannya untuk merayakan lebaran bersama keluarganya masing-masing. Dari yang ku dengar, sebagian yang merantau itu tidak pasti pulang setahun sekali atau tidak. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun malah baru pulang sekarang.

Seperti yang kuketahui dari Abduh setelah shalat tarawih tadi malam, “Pak, Ibunya Obeng murid kita yang kelas satu sudah pulang dari Malaysia!” ujar Abduh kepada ku.

“Oh.. Syukurlah..” jawabku, “Sudah lama ya pak orang tua Obeng itu merantau di Malaysia?”

“Kayaknya sudah lebih dari dua tahun dan baru pulang sekarang. Dulu berangkatnya pas Obeng masih kecil, sekarang Obeng sudah kelas satu”

Bagi warga Dusun Kota Bangun, Kec. Sebawi, Kab. Sambas, Kalimantan Barat, bekerja di Malaysia memang menjadi pilihan menarik. Saat di rumah sendiri tidak bisa berbuat banyak, di rumah tetangga malah bisa sedikit mengais rejeki dan menghidupi keluarganya. Walau akhir-akhir ini kita dan tetangga itu sering bersi tegang, tak bisa dipungkiri bahwa tetangga kita itu menjanjikan lebih bagi anggota keluarga kita!

Bahkan sahabat ku pernah berujar, “Di perbatasan Malaysia-Indonesia, siapa yang sakit pasti akan diobati! Mereka tidak akan bertanya, kamu dari Negara mana? Agamanya apa? Sukunya apa? dan sebagainya, yang penting diobati dulu hingga lebih baik! bandingkan dengan dalam Negara kita, baru masuk rumah sakit saja langsung ditanya, siapa yang akan menanggung biayanya? Lengkapi administrasinya dulu baru si sakit akan diobati! Jika tidak bisa membayar dan melengkapi administrasi maka si sakit dibiarkan mati!”

Kasihan sekali bukan? Itulah fenomena di Negara kita, tidak semua memang, tapi begitulah sebagian besar.

Selain itu, Negara tetangga kita, Malaysia terbilang dekat sekali dari Kalimantan Barat, hanya satu malam menggunakan kendaraan roda empat sudah sampai. Dua hal ini lah yang menyebabkan banyak warga Dusun Kota Bangun yang merantau ke Malaysia.

Siswa ku yang lain kutanyakan tentang ayahnya yang juga merantau di Malaysia, “Dul, kapan ayah kamu pulang?”

“Biasanya seminggu sebelum lebaran pak! Kemarin udah telpon katanya sekitar tanggal 14an pulangnya”

“Ayah selalu pulang setiap tahun ya Dul?”

“Iya pak”

Tapi ada juga yang merantau ke Malaysia hingga bertahun-tahun tak pulang. Kalau bang Thoyyib cuma tiga kali puasa, tiga kali lebaran tak pulang-pulang, maka salah satu orang tua siswa ku sudah lima kali puasa dan lima kali lebaran tak pulang. Semua demi sesuap nasi dan sekeranjang berlian!

Sampai saat ini saya tidak pernah membayangkan sengsaranya hidup jauh dari istri (suami) dan anak-anak jika sudah menikah! Kita semua memang butuh uang, tapi keluarga jelas membutuhkan kasing sayang, perhatian, dan cinta! Terutama anak-anak. Kita juga punya kebutuhan biologis, bagaimana mungkin menyalurkannya dengan baik jika jauh dari istri (suami)?

Tapi sekali lagi, inilah hidup! Mereka memilih untuk merantau demi keluarga dan anak-anak! Lagian merantaunya mereka juga karena cinta dan kasihnya kepada keluarga dan anak-anaknya. Bagi siapapun yang membaca dan sekarang juga sedang mengais rejeki di negeri orang, semoga selalu sehat dan berkah. Amiinn..

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI