Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebelum dikirim ke Sambas untuk mengabdi, kami Dhuafa Sinting (julukan yang disematkan oleh Reza Indra Giri Amriel untuk Guru Model SGI) dikumpulkan di ruangan tempat biasa kamu kuliah tentang pendidikan untuk pengumuman penempatan. Terlihat ada raut-raut wajah harap-harap cemas.

Penyematan istilah Dhuafa Sinting ini punya sejarah sendiri, ketika itu kami pertama kali dikumpulkan di Aula LPI Dompet Dhuafa, stadium general!! Agenda intinya sebenarnya adalah memberikan motivasi lebih kepada kami bahwa langkah yang kami lakukan, bergabung bersama Sekolah Guru Indonesia (SGI) untuk mengajar di daerah eksotik Indonesia adalah langkah yang baik, benar, dan mulia.

Saat itulah, Reza Indra Giri Amriel sebagai keynote speaker berujar “Saya itu pengagum orang pintar, terutama orang-orang pintar dan bermanfaat seperti kalian” sambil memberikan isyarat menunjuk kepada kami, 32 orang SGI’ers! “Di saat teman-teman seusia kalian memilih bekerja di perusahaan ternama dan di kota, kalian malah mau bergabung di SGI Dompet Dhuafa! Mengajar di daerah entah berantah, Kalian sinting! Dhuafa Sinting!” sontak semua peserta yang hadir terpingkal-pingkal mendengar istilah itu, termasuk kami.

Dhuafa, karena kami berada di bawah naungan Dompet Dhuafa. Sudah lumrah di Bogor, jika bekerja di Dompet Dhuafa, orang hanya akan bilang ujungnya saja, “Kerja di Dhuafa ya mas?” tanya seorang sopir Angkot ketika melihat pakaian ku yang berlambang Dompet Dhuafa. Sedangkan sinting, disematkan karena kami memilih jalan yang berbeda dari teman-teman seusia kami. Ketika mereka memilih bekerja di perusahaan ternama dan di kota, kami malah memilih bergabung menjadi Guru Model SGI.

Sejak saat itulah, tidak tahu kenapa saya menjadi suka dengan sebutan Dhuafa Sinting. Unik!

Sebenarnya beberapa hari sebelum pengumuman penempatan itu, saya sudah tahu akan di tempatkan dimana dan dengan siapa saja.

Malam hari di asrama SGI, ada sebuah laptop menyala dan email yang terbuka. Aku penasaran dan mendekatinya, ku lihat dan Masya Allah, pengumuman penempatan! Dengan jantung berdebar ku telusuri file di laptop itu, mencari namaku! Ketemu!!

Sambas, team leader Syaiha! Anggota, Irhamni Rahman, Junita, Jamil Abdullah, dan Gusti Rahayu!

Yes!! Ucap ku girang sambil mengepalkan tangan.

Mendapatkan tim seperti mereka jelas sebuah anugerah. Mereka berempat adalah orang yang fleksibel dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Bukan berarti teman-teman SGI’ers yang lain tidak! Tapi menurutku, anggota ku keempatnya memiliki kesamaan dan mudah bekerja dalam tim.

Irhamni Rahman. Eitss, ini bukan laki-laki ya (Di Foto Profil, no 2 dari kiri)! Biasa dipanggil Imma! Lulusan jurusan bahasa Arab Universitas Indonesia ini adalah peserta SGI terkreatif! Ide-idenya brilian! Imma juga orang yang mudah sekali berkorban demi tim Sambas! Kini Imma mengabdi di Desa Sarang Burung Usrat, kec. Jawai, Kab. Sambas.

Junita (Di Foto Profil yang tengah) adalah lulusan jurusan Ekonomi Universitas Sri Wijaya. Ia adalah anggota tim Sambas yang paling rame dan paling PeDe! Nggak ada Junita, maka tim sambas nggak rame!! Junita juga mudah akrab dengan siapapun, makanya sering sekali darinya lah kami mendapatkan panggilan untuk mengisi pelatihan motivasi guru atau pelatihan lainnya. Kini Junita mengabdi di Desa Seranggam, Kec. Selakau, Kab. Sambas.

Jamil Abdullah (Di Foto Profil no satu dari kiri) adalah lulusan Teknologi Pertanian Universitas Makassar. Inilah soulmate ku! Kalau kami berkenalan ke orang-orang, saya selalu duluan, “Syaiful pak!” ujar ku sambil menjulurkan tangan. Berikutnya baru Jamil, “Jamil Pak!” ujarnya sambil juga menjulurkan tangan. “Jadi kami berdua, Syaiful jamil”. Dengan begini orang akan lebih mudah mengingat nama kami. Jamil mirip seperti Junita, rame dan mudah akrab dengan siapapun. Selain itu, kelebihan lainnya adalah suaranya bagus sekali. makanya kalau sedang mengisi pelatihan, saya sering memintanya menjadi backing sound, menyanyikan sebuah lagu sesuai materi training. Kini Jamil mengabdi di Desa Senabah, Kec. Sejangkung, Kab. Sambas.

Gusti Rahayu adalah lulusan Fisika Universitas Andalas, Padang (Di Foto Profil no 4 dari kiri). Karena ia adalah orang minang, kami biasa memanggilnya Uni Ayu. Uni Ayu selalu bisa diajak seru-seruan. Mudah bergaul dan beradaptasi. Uni Ayu juga bersuara merdu seperti Jamil. Ia sering menjadi teman duet Jamil kalau menjadi backing sound di acara training motivasi yang kami lakukan. Kini Uni Ayu mengabdi di Desa Sendoyan, Kec. Sejangkung, Kab. Sambas.

Sampai saat ini, lima bulan kami di Sambas, belum pernah sekalipun antara kami terjadi gesekan. Malah setiap kali kami kumpul untuk rapat koordinasi, suasana jadi rame dan asik. Ah.. mendapatkan anggota tim seperti mereka benar-benar anugerah! Guys! Tetap semangat dan mari terus tebar manfaat di Sambas. Waktu kita tinggal sedikit disini, sekitar lima bulan lagi!

Selamat Pagi Guru Indonesia!!