Tags

, , , , , , , , , ,

Dia adalah sahabat kecilku, sebut saja namanya Budi. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas satu SMP. Tubuhnya tinggi semampai, hidung mancung, berkulit kuning langsat, dan berambut lurus. Untuk ukuran wajahnya, ia memang good looking. Jika dilihat dari luar, sahabat kecil ku itu terlihat normal dan tidak memiliki kelainan apapun. Tapi ternyata tidak!!

Nasib sahabat kecil ku memang tidak begitu beruntung, setiap kali ia menggenggam suatu benda, pasti benda itu akan jatuh dari genggamannya. Entah itu ballpoint, pensil, gelas, piring, atau mainan apapun, maka pasti akan jatuh ke lantai. Genggamannya memang tidak begitu kuat. Malang juga baginya karena kedua orang tuanya adalah orang tua yang cukup sibuk dan jarang di rumah. Bahkan kelainan yang dialaminya itu tidak diketahui oleh orang tuanya yang selalu berangkat pagi dan pulang malam. Dimata orang tuanya, Budi seperti anak-anak lainnya, normal!!

Nasibnya mulai membaik ketika kakeknya memutuskan untuk hidup bersama keluarganya di hari tua. Ketika orang tuanya pergi kerja, maka sehari-harinya Budi ditemani oleh sang kakek yang sangat menyayanginya. Saat itulah, ketika Budi mengambil buku di meja untuknya, tiba-tiba saja buku yang sudah ada digenggamannya terjatuh. Diambil lagi dan berjalan beberapa langkah ke sang kakek, buku itu jatuh lagi. Sang kakek heran.

“Sayang, coba sini!” panggil si kakek, “Biarkan saja bukunya di lantai, nanti kakek ambil sendiri”

Budi berjalan menuju kakeknya, “Coba kamu pegang ini Budi” sang kakek memberikan ballpoint yang ada padanya. Budi memegangnya dan beberapa detik kemudian ballpoint itu terjatuh.

“Coba ulang lagi, sayang. Pegang yang kuat ya” pinta si kakek lembut.

Diambilnya ballpoint itu oleh Budi, digenggam beberapa saat dan terjatuh lagi. ‘Ada yang aneh dengan tangan mu sayang’ batin si kakek sambil mengusap-usap kepala Budi.

Keesokan harinya, ketika orang tua Budi sudah berangkat bekerja. Sang kakek membawa Budi ke rumah sakit, dokter syaraf. Setelah memeriksa Budi sejenak, dokter itu berujar.

“Bapak bisa ceritakan masa pertumbuhan anak ini secara detail?”

“Sebenarnya saya tidak tahu persis karena saya kakeknya, tapi setahu saya tidak ada yang aneh selama pertumbuhannya”

“Baiklah, kalau begitu besok datang lagi saja kesini bersama kedua orang tuanya. Karena pasti ada yang terjadi selama pertumbuhan anak ini”

“Baik Dok!!”

Keesokan harinya, si kakek berhasil membujuk kedua orang tua Budi untuk menyempatkan diri ke dokter memeriksakan anaknya. Awalnya mereka tidak mau, tapi ketika si kakek menunjukkan kelainan pada genggaman Budi, barulah mereka mau mengantarkan Budi ke dokter.

Di ruangan dokter, “Coba bapak dan ibu ingat lagi selama pertumbuhan anak ini, ada yang berbeda dari anak-anak yang lain atau tidak?”

Ibu Budi terlihat mengerutkan keningnya, berpikir “Sepertinya tidak ada yang aneh Dok!”

“Coba pikirkan lagi Bu! Pasti ada yang berbeda..”. Ibu Budi kembali mencoba mengingat-ingat lagi tentang masa kecil anaknya.

“Ma.. bukankah dulu Budi bisa berjalan tanpa merangkak ya?” ujar Ayah Budi mengingatkan istrinya.

“Oh iya Dok, anak saya ini dulu bisa berjalan tanpa merangkak! Kami sebagai orang tua jelas senang dan bangga dengan perkembangan Budi yang selangkah lebih dulu dari anak-anak lain”

“Saya yakin itulah masalahnya” ujar si dokter, sedangkan orang tua Budi bingung, “Begini bu, merangkak itu adalah proses yang harus dilalui dalam pertumbuhan anak menuju berjalan. Benarlah kata Allah bahwa tidak ada yang sia-sia, termasuk proses merangkak ini. Merangkak berfungsi untuk menguatkan otot-otot dan syaraf tangan si anak”

Kini mereka mengerti mengapa Budi selalu menjatuhkan apapun yang ada digenggamannya. “Lalu apa yang bisa dilakukan untuk kesembuhan anak saya dok?”

“Cuma ada satu cara, menguatkan otot-otot dan syaraf tangannya Bu”

“Caranya bagaimana dok?”

“Terapi merangkak! Budi harus merangkak minimal satu jam setiap hari”

Sejak saat itulah Budi merangkak minimal satu jam setiap sore di rumahnya. Dan ajaib, setahun kemudian genggaman Budi menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Sahabat sekalian, hikmah yang bisa kita ambil dari Budi sahabat kecil ku itu adalah :

Beri perhatian ke anak-anak! Anak-anak itu tidak mengerti uang, mereka hanya butuh kasih sayang dan perhatian orang tuanya. Mencari uang memang harus, tapi juga jangan sampai melupakan anak-anak di rumah. Bagaimana mungkin anda menyia-nyiakan amanah anak padahal di luar sana banyak pasangan suami istri yang mendambakan kehadirannya.

Semua yang terjadi di kehidupan kita, adalah proses yang akan menguatkan anda. Seperti merangkak yang berguna untuk menguatkan otot dan syaraf tangan. Maka cobaan, rintangan, cacian, atau kritikan adalah proses Allah untuk menjadikan kita lebih hebat! Seperti cacat ku sekarang, saya yakin ini adalah cara Allah untuk membuatku jauh lebih kuat. Atau seperti masalah yang sedang anda hadapi sekarang, yakinlah jika masalah itu sudah dihadapi maka anda akan menjadi pribadi yang berbeda, lebih kuat dan bijak!

Yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Seperti Budi, ketika ia masih kecil dan bisa berjalan tanpa harus merangkak, orang tuanya bangga karena merasa anaknya selangkah lebih maju dari anak yang lain. Padahal itulah yang menyebabkan kelainan pada genggamannya.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI