Tags

, , , , , , , , ,

Kemarin setelah sahur, anak buah  saya nelpon. Ya, anak buah! Walau bukan bos besar, Alhamdulillah sekarang saya sudah punya empat anak buah. Eits.. tunggu dulu, bukan anak buah dalam pekerjaan loh ya! Anak buah adalah istilah orang Sambas untuk menyebut keponakan. Jadi yang saya maksud adalah keponakan saya ada empat.

Anak buah saya yang paling besar bernama Fajar dan sekarang sudah duduk di bangku pesantren sederajat SMP kelas satu. Ia adalah anak buah yang paling ku banggakan karena prestasinya yang gemilang, selalu juara di kelasnya, juara ceramah cilik untuk kabupaten Mukomuko, Bengkulu, juara adzan, dan masih banyak lagi. Ia juga adalah anak buah yang sudah bisa membaca Al Quran sejak kecil dan sejak kelas tiga SD ia sudah shalat lima waktu sehari semalam.

Dulu almarhum ayah saya yang mengajarkan itu semua! Ayah memang ingin sekali salah satu keturunannya ada yang di pesantren. Awalnya dulu saya yang diarahkan ke pesantren, tapi karena di kabupaten Mukomuko tempo dulu nggak ada pesantren yang bagus, saya tidak mau. Saya meminta untuk pesantren di Jawa, tapi ayah tidak mengizinkan. Ya sudah saya masuk SMP saja.

Setelah sahur kemarin, ketika hendak merebahkan diri sejenak di kasur, tiba-tiba hape ku bergetar..

“Assalamu’alaikum… ada apa Jar?”

“Wassalamu’alaikum..” jawabnya, “Nggak ada apa-apa Man? Cuma mau nelpon aja, mumpung lagi di rumah ibu. Ini bentar lagi aku udah mau ke pesantren lagi”. Letak pesantrennya memang masih berada di kawasan Mukomuko, sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.

“Oia, gimana di pesantren? Betah nggak?”

“Alhamdulillah betah Man, banyak temennya dan ramah-ramah semua!”

“Alhamdulillah” ujarku ikut bahagia mendengarnya, “Udah mulai belajar apa sekarang Jar?”

“Minggu kemarin belum belajar, Man. Masih masa perkenalan aja. Cuma bahasa Arab yang udah masuk”

“Terus udah bisa bahasa Arab dong sekarang?”

“Tau sedikit, kan baru masuk sekali.. Kalau siapa namamu, Man ismuka? Namaku Fajar, Ismii Fajar. Terus apa lagi ya.. Oia, kalau apa kabar itu, Kaifa Halukum? Jawabnya Alhamdulillah bil khoir

“Yah kalau itu Paman juga tau!!” Saya nggak mau kalah, “Kalau jadwal kesehariannya gimana Jar?”

“Bangun kan pas Shubuh, terus shalat berjamaah di masjid, wajib! Habis itu menghapal Al Quran sampe jam 6 pagi, baru ke kamar lagi rapi-rapi sama mandi sampe jam 6.30. Terus sarapan pagi bersama! Sekolah masuk jam 7.30 sampe jam 1 siang. Istirahat sampe Ashar terus main bola atau olah raga apa aja. Habis Maghrib tilawah di masjid”

“Syukurlah.. yang penting kamu betah disana. Terus belajar yang rajin ya Jar. Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam..”

Sahabat, begitulah penggalan percakapan ku dengan anak buah ku kemarin. Karena sudah sore dan kadar glukosa sudah sangat menipis, maka silakan ambil hikmah masing-masing ya.. ditunggu di komentarnya! Hehe..

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.