Tags

, , , , , , , , , ,

 

Penulis : DYAH RINA

Sudah hampir dua minggu Anjani berada di rumah Ayu. Dan selama itu pula tak sekalipun Anjani merengek minta pulang. Hari-hari Ayu pun berubah drastis. Biasanya saat tidak memberi les atau dapat job menyanyi dia akan mati gaya seharian. Paling membantu Murti masak di dapur, atau memainkan Andro sekedar update status di Facebook, atau menulis tweet di akun twitternya.

 

Tapi semenjak ada Anjani, tidak ada lagi cerita mati gaya. Yang ada Ayu malah hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri kecuali untuk tidur. Dari pagi hingga malam hari ada saja hal yang dikerjakannya untuk atau besama Anjani. Memandikan, menyuapi dan mengajarinya makan, mengajaknya bermain dan menemaninya tidur hingga Ayu pun ikut tertidur.

Sesekali Ayu juga mengajaknya jalan-jalan mengelilingi desa dengan motor atau sekedar jalan-jalan ke pasar yang tak jauh dari rumah mereka. Dan setiap pulang dari pasar, selalu saja ada barang-barang baru yang dibeli Ayu untuk Anjani. Mulai baju, aksesoris, mainan sampai biskuit kesukaan Anjani. Bukan cuma Ayu, Murti dan Samsul pun demikian. Setiap datang dari kota, Samsul selalu membawa sesuatu untuk Anjani. Bisa susu dalam kemasan, biskuit atau buah. Bagi Murti dan Samsul, siapa tahu saja Anjani bisa puat pancingan agar segera punya anak. Maklum saja, sejak menikah empat tahun lalu, mereka belum dikaruniai anak. Jadi wajar jika mereka begitu mendambakan keturunan. Dan hasrat itu sementara ini bisa mereka curahkan dengan menyayangi Ajani. Apalagi bagi Murti dan Samsul, Bayu bukan orang lain lagi. ‘Anggap saja sedang mengasuh keponakan’ begitu kata mereka.

Dan pagi itu, Ayu baru saja selesai memandikan Anjani. Sebuah perjuangan yang melelahkan karena Anjani selalu menolak untuk mandi pagi. Entah karena terbiasa dimandikan agak siang, atau karena semua anak kecil memang susah mandi, Ayu tidak tahu pasti. Yang jelas, sebelum berhasil membawa Anjani ke kamar mandi selalu didahului dengan kejar-kejaran. Tapi buat Ayu atau Murti itu bukan masalah. Hitung-hitung olah raga, begitu kata mereka.

Baru akan memasang jepit di rambut Anjani, terdengar Andro berbunyi. Lagu Anginmilik Dewa terdengar nyaring. Lagu yang dipasang untuk penanda kalau Bayu yang menelponnya. Diambilnya Andro dari meja rias dan duduk kembali di ranjang sambil merapikan sebagian rambut Anjani yang masih berantakan.

“Assalamu’alaikum” Ayu mengucapkan salam.

“Wa’alaikumsalam. Kamu ndak kerja Yu? Hari rabu biasanya ada les kan?” tanya Bayu dari seberang.

“Iya mas, tapi masih nanti sore. Jadwal sengaja kupindah karena kalau pagi Anjani nggak ada yang jaga. Kalau sore kan ada mbak Murti. Biasanya sih kuajak mas ke tempat les. Cuma beberapa hari ini kalau sore sering hujan. Takut Anjani malah sakit kalau diajak-ajak”

“Lagi ngapain dia sekarang? Udah mandi apa belum? Maaf aku lupa ndak ngasih tau kamu kalau Anjani memang agak susah disuruh mandi. Kerepotan ya ngajak dia mandi?”

“Udah mandi mas, baru aja. Tuh, baru aja mau kupasang jepit rambutnya, mas keburu nelpon. Tadi juga lumayan menguras tenaga untuk ngajak dia mandi. Lari-larian terus. Jadi tiap pagi aku musti kejar-kejaran dulu sama dia kalau mau mandiin. Kalau pas udara dingin, air hangatnya sampai jadi ikutan dingin karena dia nggak cepet ketangkep. Tapi ndak apa mas, seru aja” Ayu berdiri dan melangkah ke arah jendela. Ditinggalkannya Anjani yang masih duduk di ranjang daN memainkan boneka.

Bayu tersenyum. Dia membayangkan betapa menyenangkannya jika dia juga ada di sana, bersama Ayu dan Anjani. Dan Bayu juga bisa merasakan kedekatan Ayu dan Anjani yang semakin erat. Akan bertambah bahagia hati bila Ayu bersedia menerima ajakannya untuk bersama-sama menjaga dan mendidik Anjani seperti amanah Aisha.

“Mas, kok diem? Ada yang salah ya dengan omonganku?” Ayu tidak mendengar jawaban.

“Mas…mas Bayu masih di situ…? Hapemu ndak dimatiin kan mas?!” Bayu tersentak.

“Oh…maaf, ndak kok Yu, ndak mati hapenya. Tadi cuma ngebayangin aja betapa repotnya kamu ngurus Anjani” Bayu berbohong.

“Mas…..ndak ada yang merasa repot. Kan aku yang minta agar Anjani tinggal disini. Lagi pula ada mbak Murti dan mas Samsul. Mereka berdua juga seneng banget ada Anjani disini. Bahkan, percaya ndak, mas Samsul itu sekarang rela bolak balik setiap hari dari kota agar bisa main sama Anjani. Gimana, hebat to?”

“Siapa dulu bapaknya? Haryo Bayu…!”

“Walah…malah nirokna(menirukan) iklan teh celup. Iya..iya..bapaknya juga hebat! Puas?!”

“Wee…lha kok ngambeg? Jangan ngambegan, nanti ilang cantiknya”

“Ndak usah ngrayu. Aku ndak akan termakan rayuanmu….!” Bayu tergelak. Lega rasanya mendengar Ayu merajuk. Ternyata masih bisa juga merajuk seperti dulu.

“Ya sudah….ndak jadi ngrayu. Gini aja, hari Minggu besok ada job ndak?”

“Aku sudah hampir sebulan ini ndak kerja selain ngelesi mas. Dan juga ndak terima job sampai sebulan kedepan”

“Lho…kenapa? Ndak ada tawaran manggung?”

“Kalau tawaran banyak mas. Tapi aku yang kepengen istirahat dulu. Awalnya gara-gara sakit kemaren itu. Terus aku putuskan untuk istirahat dulu. Toh aku juga nggak nganggur. Masih ngelesi. Kenapa mas, kok tumben tanya soal kerjaan?”

“Begini lho Yu, hari Minggu itu aku mau ngajak kamu menghadiri pernikahan temenku. Sebenarnya dia adik kelasku. Tapi kami lumayan akrab. Apalagi dia istimewa buatku”

“Temennya mas Bayu pengantin pria apa wanitanya mas?”

“Memangnya kenapa kalau wanitanya? Kamu cemburu?”

“Hiss….dalam kamus hidupku ndak ada kata-kata cemburu. Lagi pula cemburu itu membuang energy. Apalagi aku kan ndak punya hak untuk cemburu mas. Mas Bayu boleh kok bergaul dengan siapa saja yang mas Bayu kehendaki” Ayu sedang berbohong. Padahal dalam hatinya dia akan sangat cemburu jika Bayu mendekati wanita lain apalagi sampai mengatakan dia istimewa. Ayu tersenyum. ‘Ternyata aku masih cinta sama mas Bayu. Masih merasa was-was kalau-kalau teman istimewa itu adalah seorang wanita’

“Nggak kok Yu. Dia seorang pria. Aku sudah lama tidak ketemu sama dia sejak lulus kuliah. Aku dengar sekarang dia jadi guru di kota ini. Baru saja mau aku hubungi, eh..dia malah sudah lebih dulu datang dan kirim undangan pernikahannya. Kamu bisa ndak nemenin aku?”

“Insya Allah mas. Nanti aku telpon lagi ya?”

“Ya sudah. Kamu terusin aja nyisir rambutnya Anjani. Kalau kelamaan dibiarin ndak sisiran, bisa kayak rambutnya Bob Marley….Hehe”

“Bisa aja mas Bayu ini. Ndak pengen ngomong sama Anjani?”

“Ndak usah. Dengar kabar dia baik-baik aja sudah cukup buat aku. Aku pamit dulu ya Yu. Mau bantu bapak di kantor. Yuk, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam” Ayu menutup telponya. Ada rasa lega setelah mendengar suara Bayu. Entahlah. Padahal dia tidak sedang menunggu telpon dari Bayu. Tapi mendnegar suaranya, candanya, tawanya, terasa begitu menyenangkan. Ibarat merasakan hembusan angin di siang yang terik. ‘halah..kok dadi(jadi) lebay’ batin Ayu. Tapi jujur saja, itu yang dirasakan Ayu saat ini. Bahagia.

Setelah meletakkan kembali Andro di meja rias, Ayu melanjutkan kembali menyisir rambut kriwil Anjani. Dia senyum-senyum sendiri mengingat omongan Bayu tentang rambut Bob Marley. ‘Ada-adaaa saja. Rambut anak sendiri kok dibilang kayak Bob Marley…

Dan di hari Minggu , seperti yang dijanjikan, Ayu memutuskan untuk bersedia menemani Bayu menghadiri pernikahan kawan lamanya. Pukul delapan pagi hari itu, Ayu terlihat sudah rapi. Entah mengapa hari itu dia ingin sekali mengenakan busana batik Kalteng, juga anting perak Kota Gedhe pemberian Bayu. Ayu seperti ingin menunjukkan pada Bayu, bahwa dia masih merawat semua pemberian Bayu seperti dia menjaga cinta itu tetap di hatinya. Anjani juga sudah didandani cantik. Dengan baju berbahan kaos warna ungu cerah, dan rambut yang dihias bando warna senada, membuat bocah kecil itu semakin imut.

Saat Ayu sedang membenahi riasan wajahnya, Anjani yang sebelumnya berada di teras besama Samsul tiba-tiba berlari masuk ke kamar dan menarik-narik tangan kirinya.

“Ada apa sayang….? Anjani mau minta apa?” Anjani mengeleng.

“Ayah…! Ada Ayah….!”

“Ayahnya sudah datang? Di mana sekarang?”

“Di luar sama Pakdhe…..” Anjani melepaskan tangan Ayu dan menatap wajah Ayu lekat-lekat. Selama di rumah Ayu, Anjani memang tidak pernah melihat Ayu berdandan kecuali memakai bedak dan lipstick. Tapi hari itu Ayu juga mengenakanblush on dan eye shadow meski sangat tipis. Tapi di mata Anjani semua membuat Ayu nampak berbeda.

“Kenapa sayang? Ibu jadi jelek ya?” sambil mengenakan sepatunya Ayu bertanya pada Anjani. Anjani menggeleng. Namun kemudian mengacungkan kedua ibu jarinya, lalu kedua telunjuknya ditempelkan di pipi.

“Cantik….” Ayu tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi tembem Anjani.

“Kita berangkat yuk! Kasihan ayah nunggu lama…” Ayu menggandeng tangan Anjani dan melangkah keluar setelah sebelumnya mengambil tas dan diselempangkan di bahu. Bukan tas tangan seperti biasanya, tapi tas Spongebob milik Anjani yang berisi keperluannya.

Sampai di ruang tamu, Bayu terlihat sedang berbincang dengan Samsul. Mata Ayu langsung tertuju pada pakaian yang dikenakan Bayu hari itu.

“Lho…mas? Kok…?” Ayu tidak melanjutkan kalimatnya hanya menunjuk baju yang dipakai Bayu dan kemudian memperhatikan gaunnya sendiri.

“Kenapa? Kaget ya aku juga punya baju yang sama? Dulu memang sengaja beli yang sarimbit(berpasangan). Siapa tahu saja ada kesempatan untuk memakainya sama kamu. Dan ternyata kesempatan itu baru datang sekarang” Bayu tersenyjm lebar. Dalam hati dia salut pada Ayu yang masih saja menyimpan dan merawat pemberiannya. Apalagi dia juga melihat anting perak itu dipakai Ayu dan menambah kecantikan gadis pujaannya itu.

“Iya mas. Nggak nyangka aja, ternyata mas Bayu juga punya. Lho…lha mbak Murti ke mana to mas Samsul? Belum pulang to dari rumahnya lik Ginem?”

“Belum Yu. Ya maklum saja, lik Ginem itu kan tukang pijit yang lumayan laris. Hari Minggu gini pasti banyak yang minta dipijit” Samsul memberi penjelasan.

“Oh…gitu ya? Ya maklum, aku kan ndak pernah pijit sama lik Ginem. Jadi ya ndak tahu. Gimana mas Bayu, kita berangkat sekarang? Kalau kesiangan takut Anjani keburu ngantuk. Nanti malah rewel”

“Kalau kamu sudah siap ya ayo. Kami pergi dulu ya mas, pamitkan pada mbak Murti kalau sudah datang” Bayu berpamitan pada Samsul, kemudian berdiri dan melangkah keluar. Samsul dan Ayu mengikuti langkah Bayu menuju mobil.

“Aku pergi dulu ya mas. Hati-hati di rumah sendirian. Ga boleh ngalamun, nanti ayam tetangga mati” Ayu berpamitan sambil menggoda kakak iparnya.

“Hiss…apa hubungannya ngalamun sama matinya ayam tetangga? Sudah berangkat sana! Anjani sun pakdhe dulu” Samsul mencium pipi Anjani dengan gemas dan melambaikan tangan. Anjani pun membalas lambaian tangannya dan masuk ke mobil bersama Ayu.

“Kami berangkat mas, Assalamu’alaikum” Bayu dan Ayu pun mengucakan salam dan tak lama kemudian mobil warna metalik itu pun meninggalkan rumah Samsul.

Dalam perjalanan Ayu lebih banyak diam atau menjawab pertanyaan Anjani tentang semua yang dia lihat dalam perjalanan. Mulai mobil, sawah, kerbau dan sapi sampai warna baju yang dipakai orang yang mereka lewati.

“Yu….makasih ya” kalimat Bayu memecah kesunyian perjalanan mereka.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Ayu tidak mengerti.

“Terima kasih karena sudah menjaga dan merawat benda-benda pemberianku. Bahkan kamu masih memakainya”

“Ndak usah terlalu berlebihan mas. Aku selalu berusaha untuk menjaga dan merawat pemberian siapa saja sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan. Jika seseorang memberikan sesuatau padaku sesederhana apapun itu, pasti mereka sudah meluangkan banyak waktu untuk memilih jenis, bentuk dan juga warnanya. Dan itu bukan hal yang mudah. Karena itulah siapa pun yang memberi apapun padaku selalu kuusahakan untuk kusimpan dengan baik”

“Kamu tidak pernah membenciku Yu?”

“Kenapa harus benci?”

“Yaach…..karena aku sudah mengabaikanmu dan juga perasaanmu. Menggantungmu sedemikian lama tanpa kabar berita. Rasanya sebuah alasan yang cukup masuk akal untuk membenciku”

“Untuk apa membenci, jika mencintai lebih membuat bahagia” Bayu terkejut mendengar pernyataan Ayu. Tapi dia tidak berani memastikan makna dari ucapan Ayu bahkan tidak berani menanyakannya. Dan setelah itu keduanya kembali terdiam sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di gedung tempat acara berlangsung.

Saat memasuki gedung, mata Ayu tertumpu pada foto prewedding sang pengantin yang ada di depan pintu masuk. Ayu menghentikan langkahnya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Bayu yang baru selesai mengisi buku tamu menghampiri Ayu.

“Kenapa Yu? Kamu kenal dengan pengantinnya?”

“Mas, teman mas Bayu pengantin pria kan?” Bayu mengangguk.

“Namanya Haryo Kusumo, pinter main electone dan penyandang diffable?”

“Lho…kok kamu kenal?” Ayu tersenyum.

“Bukan cuma kenal tapi lumayan akrab. Kami sering manggung bareng”

“Oh” Cuma itu yang diucapkan Bayu. Dia merasa tidak perlu menanyakan seberapa dekat Ayu dengan Rio. Bayu ingin segera bertemu kawan lamanya itu dan memilih untuk segera memasuki ruangan pesta.

Pesta pernikahan siang itu berlangsung meriah meski sederhana. Mempelai tidak duduk di pelaminan untuk menerima ucapan selamat, tapi membaur dengan tetamu yang datang. Dari kejauhan Ayu melihat Rio tengah berbincang dengan beberapa orang tamu, sementara Dhita si mempelai wanita juga menemani sekelompok tamu yang lain tak jauh dari Rio.

Begitu melihat Bayu, Rio langsung menghampirinya. Langkahnya yang tertatih namun tetap bersemangat membuat Ayu terharu. Sebagai mempelai yang jadi raja hari itu, Rio tidak segan menghampiri Bayu yang memang lebih tua dan juga kakak tingkatnya di kampus. Nampak aura semangat di wajahnya, juga gurat kebahagiaan yang jelas terbaca. Entah karena hari itu dia bersanding dengan si wanita hebat, atau karena bertemu dengan sahabat lama.

“Mas Bayu! Subhanallah….apa kabar mas? Lama banget ndak dengar kabar mas Bayu. Terakhir kudengar masih di pedalaman. Gimana, sudah selesai pengabdiamu?” mereka berangkulan melepaskan kerinduan.

“Wah..sudah dari tiga tahun lalu Yo. Tapi aku meneruskannya secara pribadi dengan biaya sendiri. Yach….anggap saja tabungan di akhirat. Betul kan?”

“Betul…betul banget mas” kemudian mata Rio tertumpu pada Ayu yang sejak tadi hanya jadi pendengar dan luput dari pandangannya.

“Lho…kok ada mbak Ayu juga? Maaf lho mbak, kemaren itu lupa nggak ngirim undangan. Padahal sudah saya ingatkan si Dhita untuk mencatat nama mbak Ayu. Mungkin dia lupa” Ayu tersenyum. Dia ingat betul percakapan mereka berdua malam itu dan ungkpan ‘picik’ yang dikatakan Ayu tentang Dhita. ‘Mungkin dia nggak ingin aku datang’ batin Ayu.

“Ndak apa mas. Namanya orang punya gawe, banyak yang diurusin. Tapi kan sekarang saya sudah disini. Selamat ya mas, semoga barokah dan langgeng”

“Iya Yo….selamat. Akhirnya wanita hebat itu berhasil kamu sunting. Happily ever after ya friend” Bayu menepuk pundak Rio sementara Rio hanya mengangguk dan tersenyum bahagia.

“Amiin….makasih doanya mbak, mas. Nah…yang imut ini siapa ya? Kok om belom pernah lihat? Ini siapa mbak?” tanya Rio begitu melihat Anjani yang ada di gendongan Ayu. Ayu tersenyum. Ada ide yang tiba-tiba melintas di benaknya. Kejutan untuk Bayu.

“Ini anak saya mas Rio”

“Anak? Mbak Ayu kan…?” Rio tidak melanjutkan pertanyaannya.

“Kenapa mas? Karena saya belum menikah?” Rio mengangguk tapi masih bingung. Apalagi Bayu. Dia sangat terkejut mendengar Ayu menyebut Anjani sebagai anaknya. Tapi kemudian berfikir itu hanya karena Anjani menyebutnya ibu, tak lebih dari itu.

“Saya memang belum menikah mas. Tapi anak ini, bapaknya ini yang kasih ke saya. Calon suami saya mas. Insya Allah” Ayu memandang sekilas pada Bayu yang masih nampak terkejut dan salah tingkah disebut sebagai calon suami. Tak mampu dia memaknai ucapan Ayu. Serius atau sekedar menggodanya.

“Waaahh….mas Bayu ini, kok ndak bilang kalau bawa calon istri! Selamat ya mas, kami tungu undangannya” Bayu hanya mengangguk karena tidak tahu harus bilang apa. Jujur saja dia bingung, Ayu belum mengatakan apa-apa padanya tapi sudah bilang pada orang lain kalau dia calon suaminya. Dan itu bukan hanya pada Rio. Setiap bertemu kenalannya di pesta itu, Ayu selalu bilang Anjani itu anaknya dan Bayu calon suaminya. Tapi Bayu memilih untuk diam saja. Bahkan mulai menikmati disebut sebagai calon suami Ayu. Bukankah itu yang diharapkan? Jadi ya nikmati saja, sambil berharap bahwa Ayu tidak sedang memberi harapan semu.

Dalam perjalanan pulang, Bayu tidak sabar lagi untuk mencari tahu arti ucapan Ayu tentang anak dan calon suami yang sering diucapkannya selama pesta tadi.

“Yu….Aku boleh nanya sesuatu?” Bayu bertanya dengan hati-hati.

“Tanya apa mas?” Ayu membetulkan posisi tidur Anjani di pangkuannya. Sebenarnya bisa saja Anjani tidur di jok belakang. Tapi Ayu memilih untuk memangkunya saja.

“Tadi di tempat Rio, kamu selalu bilang Anjani itu anakmu dan aku calon suamimu. Maksud kamu apa Yu?” Ayu tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ternyata sarjana lulusan terbaik itu tak selamanya cerdas untuk hal-hal tertentu.

“Mas, tujuan mas menemuiku apa?”

“Ya…untuk mengajakmu menunaikan amanah Aisha. Apa lagi?”

“Mas masih menunggu jawabanku tidak?”

“Tentu saja masih Yu. Kenapa memangnya?”

“Kalau masih mengharapkan jawabanku, apa yang tadi kuucapkan pada semua orang belum cukup menjadi jawaban? Apakah seorang sarjana lulusan terbaik masih perlu penjelasan seperti ABG yang baru kenal cinta? Atau apakah mas Bayu berfikir aku hanya main-main? Selama ini aku nggak pernah main-main kan mas?” Bayu mengeleng.

“Jadi artinya…?”

“Mas….aku mungkin tidak punya pengalaman mendidik dan mengurus anak karena aku belum pernah punya. Aku juga tidak akan pernah bisa menggantikan kedudukan Aisha baik disisimu maupun di hati Anjani. Sampai kapanpun Aisha adalah ibunya Anjani. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik buat dia dan tentu saja istri yang baik buat mas Bayu”

Tiba-tiba pandangan Bayu mengabur. Matanya berkaca. Karena tidak ingin terjadi sesuatu, dia memilih menepikan mobilnya dan mematikan mesin. Dipalingkan wajahnya pada Ayu. Diantara air mata yang mengenang dia menatap Ayu lekat-lekat seolah tak ingin berpaling lagi.

“Ayu…barusan aku dengar kamu bilang, ingin menjadi ibu buat Anjani dan istri buatku? Aku nggak salah dengar kan?”

“Ndak mas…mas Bayu ndak salah dengar. Saya bersedia untuk menjalankan amanah Aisha. Semoga Allah ridho dan memudahkan saya menjalankan niat baik ini mas”

“Amiin. Alhamdulillah Ya Allah….Alhamdulillah… Makasih ya Yu….! Anjani sayang, Anjani sekarang punya ibu, ibu akan tinggal sama kita selamanya nak” Bayu menciumi anaknya dengan air mata berderai. Bahagia rasanya mendengar kesanggupan Ayu. Terbayang sudah hari-hari bahagia yang akan mereka rajut bersama. Mendidik dan membesarkan Anjani sampai saatnya kelak dia siap untuk diberi tahu siapa ibu kandungnya.

“Yu…hari ini juga, aku akan melamarmu pada mas Samsul dan mbak Murti. Dan setelah itu kita langsung urus segala sesuatunya untuk pernikahan kita. Aku sudah menunda banyak hal. Dan untuk yang satu ini aku tidak ingin menunda lagi. Bagaimana yu, kamu siap kan?”

“Iya mas, tidak usah menunda kalau bisa segera. Mumpung aku masih libur ndak nyanyi. O iya, nanti ndak usah rame-rame ya mas. Cukup akad nikah dan resepsi sederhana saja. Keluarga besar kita saja mas”

“Kenapa? Kamu malu karena dapet duda dengan satu anak?”

“Bukan itu mas. Kalau malu menikah dengan duda, aku nggak akan menerimamu. Aku cuma ingin pernikahan ini mejnadi pernikahan yang sakral dan suci, yang akan kita kenang seumur hidup sampai kita hidup lagi di akhirat kelak”

“Oh…gitu ya. Ndak apa Yu, kalau memang itu keinginanmu. Aku ndak bisa bilang apa-apa lagi selain terima kasih, karena kamu bersedia menerimaku untuk bersamaku membesarkan Anjani seperti amanahnya Aisha. Matur nuwun Yu….” Bayu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Meski berurai air mata, tapi kali ini air mata bahagia. Ingin rasanya memutar waktu lebih cepat agar bisa segera tiba di hari bahagia itu. Tapi itu tidak mungkin dilakukan. Yang bisa dilakukan sekarang adalah bersabar menunggu saatnya tiba.

 

Sementara itu, Ayu sendiri merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Impiannya untuk bersanding dengan Bayu akan segera menjadi nyata. Tak sia-sia penantiannya selama ini. Meskipun Bayu ‘tak seperti dulu lagi’, tapi bagi Ayu Bayu tetaplah Bayu yang dia kenal dulu. Yang selalu bersahaja, selalu apa adanya dan tidak pernah malu mengakui kesalahannya. Dan meskipun telah ada Anjani diantara mereka, tapi Ayu merasa Anjani justru akan menjadi perekat cinta mereka berdua. Ayu terlanjur jatuh cinta pada Anjani seperti dia jatuh cinta pada Bayu, untuk kedua kalinya.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI