Tags

, , , , , , , , , , ,

 

Penulis : DYAH RINA

Ayu terbangun dari tidurnya karena merasakan udara yang sangat panas. Bahkan tubuhnya pun mulai berkeringat. Dia menggeliat panjang membetulkan letak tulang-tulang dan sendinya hingga berbunyi gemeretak. Setelah merasa lebih enak Ayu pun bangun dan duduk di ranjangnya. Seluruh nyawanya belum terkumpul, karena itu dia memilih diam di ranjangnya sambil merapikan rambutnya dan diikat dengan karet hias yang tadi diletakkan di sebelah bantalnya.

 

Kemudian matanya tertumpu pada seorang bocah kecil yang tidur memeluk guling Mei Mei di sebelah kirinya. Ayu kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring dan tangannya pun membelai-belai kening dan rambut bocah kriwil itu.

“Ya ampun ini anak kok lucu banget sih? Anak siapa ini ya? Pipinya tembem, rambutnya kriwil, hidungnya juga mancung. Kayak orang Arab saja” Ayu pun mencium pipi dan kening bocah itu. “Paling anak temannya mbak Murti. Biar saja lah, nanti aku umek-umek malah bangun. Kalau nggak nangis nggak apa-apa. Kalau nangis ya bisa repot wong anak orang”

Ayu pun meninggalkan kamarnya setelah sebelumnya mengambil baju ganti di lemari. Gerah rasanya. Padahal saat pagi tadi berangkat tidur, udara terasa sangat dingin. Namun ternyata udara begitu cepat berubah. Siang yang terik membuat Ayu berkeringat dan ingin mandi. Apalagi saat melihat jam dinding sudah setengah sebelas lewat, sudah dekat waktu sholat Dzuhur.

Usai mandi, Ayu kembali ke kamarnya. Dan dilihatnya bocah itu sudah terbangun dan duduk di atas ranjang. Diam memandang sekeliling dan nampak kebingungan.

“Hei….adek manis sudah bangun? Mau apa sayang? Mau mimik atau mau pipis dulu?” Ayu mendekati anak itu dan tengkurap di depannya. Tangannya membelai-belai pipi si bocah dan disambut dengan senyum.

 

“Mimik…Anjani mau mimik cucu….”

“Oh namanya Anjani ya? Terus, mana susunya sayang?” Anjani menunjuk kursi yang berada di dekat pintu. Ayu menoleh dan nampaklah sebuah tas berwarna kuning dengan gambar Spongebob berada di sana?

 

“Susu Anjani di dalam tas?” Anjani mengangguk.

“Ya udah….tante bikinin dulu ya?”

“Ibu…. ibu aja bikin susu” Ayu kebingungan. ‘Waduh….lha kok nyari ibunya? Tapi hebat bener sih, ndak pakai nangis?’ Ayu membatin.

“Mau ibu yang bikin? Tapi mana ibu Anjani, sayang?” Anjani tidak menjawab tapi lantas berdiri di atas kasur dan menghampiri Ayu yang duduk di tepi ranjang. Dan tetap dengan wajah polos, diletakkan tangannya di dada Ayu.

“Ini ibu…..” Ayu terkejut. ‘Kok anak ini panggil ibu ke aku ya? Tapi biar aja. Toh aku kan memang ibu guru bahasa Inggris biar cuma guru les’ Ayu tersenyum.

“Ok cantik. Kita bikin sama-sama yuk susunya! Gimana, mau?” Anjani tidak menjawab tapi hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Wajahnya nampak berbinar. Setelah membantu Anjani mengenakan kembali sepatu sandalnya, Ayu menggandeng Anjani dan mengajaknya ke dapur untuk membuat susu. Tak lupa tas Spongebobnya dibawa serta.

“Nah, sekarang Anjani duduk sini dulu ya, Ibu bikin susu dulu, ok?” Ayu mendudukkan Anjani di salah satu kursi yang ada di dapur. Anjani hanya mengangguk. Sementara matanya tak lepas mengamati Ayu yang dengan terampil menyeduhkan susu untuknya. Setelah selesai dihampirinya bocah kriwil itu dan berjongkok di depannya.

“Nih…udah selesai susunya. Baca bismilah dulu ya… bismilaahirohmaanirrohiim.. dah, mimik sekarang” Anjani dengan terbata menirukan membaca bismillah dan segera meminum susunya sampai habis tanpa sisa.

“Habis bu…. makacih…”

“Sama-sama sayang… Nah, sekarang susunya sudah habis. Anjani mau apa lagi?” Ayu kembali berjongkok di depan Anjani setelah selesai mencuci gelas dan meletakkannya di rak.

“Main boneka…”

“Main boneka di kamar?” Anjani menganguk. “Ok, let’s go honey….!” Ayu menurunkan Anjani dari kursi dan menggandengnya menuju kamar. Dan tak lama kemudian mereka asik bermain boneka-boneka milik Ayu. Dan hari itu, semua boneka yang sejak lama cuma disimpan karena takut kotor, dikeluarkan semua oleh Ayu. Dibiarkannya kamarnya berantakan penuh boneka. Baginya, Anjani tidak menangis saja sudah cukup.

Anjani pun seperti tak kenal lelah. Berlarian di kamar Ayu yang memang lumayan lebar. Semua boneka dimainkannya. Ada yang dipeluknya, ada juga yang dinaikinya. Bahkan kadang digendongnya dan diajaknya melompat-lompat diatas kasur Ayu yang empuk. Tak hentinya dia tertawa. Dan barisan giginya yang sebagian ompong membuatnya semakin nampak lucu. Tak jarang Ayu pun tergelak dibuatnya.

Tak lama kemudian terdengar adzan berkumandang dari masjid.

“Anjani… ibu sholat dulu ya? Mau ikut sholat?” Anjani hanya mengangguk.

“Yuk kita wudhu dulu yuk, biar bersih dan suci. Habis itu baru boleh sholat” Ayu menggandeng Anjani ke kamar mandi dan membantunya mengambil wudhu. Setelahnya baru dia sendiri berwudhu dan kembali mereka berdua bergandengan menuju kamar.

Ayu menggelar sajadahnya di lantai dan mengambil satu sajadah lagi serta mukena untuk Anjani. Memang bukan mukena untuk anak-anak tapi mukena dua potong milknya yang diambil bagian atasnya saja untuk dipasangkan pada Anjani.

“Duuuh…cantik banget sih pakai kerudung. Kita sholat yuk!” Anjani mengangguk-anggukan kepalanya dan terlihat semakin mengemaskan. Ayu tersenyum geli dan segera memulai sholatnya dengan khusyuk. Tak dipedulikannya lagi Anjani. Apakah mengikuti gerakan sholatnya atau tidak. Ayu hanya ingin sesaat bercengkerama dengan Sang Pemilik Hidup. Memanjatkan segenap syukur kepadaNya bahwa sudah diberikan kesembuhan dan hari itu mendapatkan setitik keceriaan dengan hadirnya Anjani.

Setelah mengakhiri doanya, dipalingkannya wajahnya ke arah Anjani yang ada di sebelah kanannya. Dan dilihatnya Anjani sedang menengadahkan tangannya dan mulutnya komat kamit seperti sedang berdoa. Sementara matanya dipejamkan dan wajahnya tertunduk. Sesaat Ayu terdiam. Ada rasa haru di dalam hatinya. Anak sekecil itu sudah tahu adabnya berdoa, meski Ayu yakin dia hanya menirukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Akhirnya Ayu menggeser duduknya dan duduk di belakang Anjani. Diangkatnya Anjani dan didudukkan di pangkuannya. Di saat bersamaan, Anjani mengusap wajahnya sebagaimana layaknya orang selesai berdoa.

“Tadi Anjani berdoa apa sih sama Allah?” tanya Ayu sambil memeluk Anjani. Pipinya ditempelkan pada pipi Anjani selayaknya seorang ibu sedang memeluk anaknya. Anjani memandang mata Ayu lekat-lekat. Kemudian…

“Anjani minta dicayang ama Allah…Allah cayang Anjani, ibu, ayah…”

“Siapa yang ngajarin berdoa?”

“Ayah”

“Diajarin ayah? Tapi mana ayah Anjani?” Anjani menggeleng.

“Lho, kok nggak tahu? Ya sudah…nanti habis sholat kita cari ayah ya? Sekarang kita bereskan dulu mukena dan sajadahnya, ok?”

“Oke!”

Mereka pun merapikan semua peralengkapan sholat dan meletakkannya di sisi bantal Ayu. Setelahnya mereka keluar kamar menuju ruang tengah. Tapi baru beberapa langkah Anjani menarik-narik tangan Ayu.

“Ada apa sayang?”

“Maem…. Anjani mau maem”

“Oh…laper ya? Kacian. Kalau gitu kita ambil maem dan kita bawa ke depan ya?” Anjani hanya megangguk dan mengikuti langkah Ayu ke dapur. Di dapur dengan segera Ayu menyiapkan makan siang Anjani. Sengaja mengambil porsi agak banyak karena dia sendiri juga ingin makan.

“Anjani suka sayur?”

“Suka! Ikan.. Anjani mau…”

“Oh… ikan ya. Tapi hari ini ibu nggak masak ikan sayang….ayam suka?” Anjani mengangguk. Dan setelah siap mereka kembali berjalan berirngan menuju teras. Melewati kamar tamu Ayu melihat pintunya terbuka. Sesuatu yang tak biasa.‘Tumben bener kamar ini dibuka? Biasanya cuma dibuka kalau ada tamu saja. Ah, paling habis dibersihin sama mbak Murti. Tapi mana ya orang-orang kok sepi bener?’

Ayu tak menghiraukan. Pikirannya sedang fokus pada Anjani dan rasa lapar yang dirasakannya. Sampai di teras mereka duduk bersebelahan. Dan ternyata Anjani sangat lahap makan siang itu. Entah karena masakan Murti yang memang sedap atau karena terlalu lapar, Ayu tidak tahu pasti. Yang dilihatnya Anjani sangat cepat menghabiskan makan siangnya hari itu. Bahkan Ayu yang tadinya ingin ikut makan hanya kebagian sedikit saja. Tapi tak masalah buat Ayu. Entah mengapa dia merasa senang bersama Anjani. Bocah kecil yang menurutnya sangat pintar dan mandiri, karena tak sekalipun dia menangis saat bersamanya.

Sementara itu di kamar tamu Bayu baru saja terjaga dari tidurnya. Rasa sepi karena tidak ada yang menemani ngobrol membuatnya mengantuk. Samsul dan Murti yang semula menemaninya mendadak harus ke kota karena ada pelanggan Samsul yang mendadak pesan barang dalam jumlah banyak. Mau tidak mau Samsul harus membuka tokonya dan meminta Murti untuk membantu agar cepat selesai dan bisa segera kembali.

Saat melihat arloji di tangannya, Bayu terkejut karena ternyata tidur cukup lama. ‘Sudah Dzuhur rupanya. Sholat dulu ah, nanti baru lihat Anjani’ batinnya dan segera keluar menuju kamar mandi. Saat melewati kamar Ayu, dilihatnya pintu terbuka. Ketika dilihat ke dalam, ternyata kosong. ‘Ayu sama Anjani ke mana ya? Mosok keluar rumah? Ayu kan lagi sakit. Biar saja, ntar juga ketahuan ada di mana’ Bayu terus saja berjalan ke kamar mandi. Segera mengambil wudhu dan sholat di kamar tamu. Selembar sajadah rupanya sudah disiapkan pemilik rumah untuknya.

“Ya Allah… berikan aku kekuatan untuk menunaikan amanah ini. Lancarkan lidahku bertutur kata dan menyampaikan amanah ini dengan baik. Engkau lebih tahu apa yang ada di dalam hati ini Ya Allah. Ajarkan aku ikhlas menerima apapun yang akan terjadi setelah amanah ini kusampaikan. Kabulkan doaku Ya Allah. Amiin Yaa Robbal Alamiin”

Usai sholat Bayu keluar dari kamar dan di saat bersamaan dia mendengar suara Anjani sedang tertawa tergelak seperti sedang bercanda dengan seseorang. Bagi Bayu, itu sesuatau yang luar biasa. Anjani memang periang dan jarang menangis, tapi belum pernah Bayu mendengar Anjani seriang hari itu. Segera Bayu mencari arah suara yang ternyata dari teras.

Dari jendela ruang tamu Bayu melihat Anjani sedang bermain dengan Ayu. Mereka bermain kejar-kejaran. Ayu berjalan ke sana kemari dan dikejar oleh Anjani. Meski sebenarnya Ayu berjalan tidak terlalu cepat, tapi bagi bocah dua tahun itu berhasil menangkap ‘ibu’nya sungguh luar biasa.

“Horee.. Anjani juara! Aduuh…ibu capek nih. Istirahat dulu yuk! Anjani minum dulu ya, tuh keringetan” Ayu mengambil gelas berisi air putih dan memberikannya pada Anjani yang langsung meminumnya dengan cepat.

“Wiih…hebat! Habis minumnya, sampai ibu nggak kebagian” Ayu mengelap keringat Anjani dengan tisu. Sementara Bayu yang sejak tadi hanya memperhatikan dari balik jendela merasa takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Apalagi saat melihat Ayu seperti tidak keberatan dipangil ibu oleh Anjani dan bahkan dengan suka rela menyebut dirinya sendiri dengan ibu. Tak terasa air mata Bayu meleleh. ‘Aisha, kamu tidak salah menilai Ayu. Dia sayang pada Anjani. Meski kakak tidak yakin akan tetap sayang setelah tahu siapa ayah Anjani’

“Dedek… cari bunga yuk di luar!” Anjani terlihat mengangguk dan berlari keluar mendahului Ayu. Sesampainya di luar Anjani terlihat begitu senang melihat bermacam bunga yang memang ditanam Ayu dan Murti di halaman rumah mereka yang tak begitu luas. Bunga sepatu warna-warni nampak mendominasi taman mereka.

“Ibu…ibu…Anjani mau bunga!”

“Anjani mau bunga? Boleh. Tapi ndak boleh dipreteli ya. Dismpan buat hiasan” Ayu memetik setangkai bunga sepatu warna merah yang masih setengah mekar. “Kalau ndak mau simpan, taruh sini saja” Ayu menyelipkan bunga itu di telinga Anjani. “Nah…cantik kan! Mau lagi?”

Anjani hanya menganguk dan kemudian memetik sendiri bunga sepatu warna merah itu dengan bantuan Ayu. Setelah mendapatkan kembang yang diminta, Anjani menyelipkan bunga itu ke telinga Ayu, dan kemudian mencium pipi Ayu lantas mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum. Ayu tertawa geli melihat tingkah Anjani. Dalam hatinya salut pada kedua orang tua bocah itu karena mampu mendidiknya mejadi anak yang luar biasa. Selalu bisa bikin orang tertawa. Dicubitnya pipi Anjani dengan gemas, “Kamu lucu banget siiihhh?! Gemes ibu … mmmhhh!”

“Ayah!” tiba-tiba Anjani berlari menuju teras dan menghampiri seseorang yang disebutnya ayah. ‘Lho, kok ayah anak ini ada di dalam? Berarti sedari tadi aku di rumah dengan pria asing? Mbak Murti sama mas Samsul ke mana ya? Ayu memperhatikan langkah Anjani dan kemudian matanya menangkap sepasang kaki sedang dipeluk dengan manja oleh Anjani. Ayu menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa pria yang disebut Anjani sebagai ayah.

Betapa terkejutnya Ayu ketika mengetahui siapa ayah Anjani. Sontak dia berdiri dan menajamkan pandangan matanya untuk meyakinkan.

“Mas Bayu? Ini mas Bayu kan?!” Bayu mengangguk dan menghampiri Ayu sambil menggendong Anjani. Sampai di dekat Ayu, Anjani meronta dan minta digendong Ayu yang langsung dituruti olehnya.

“Betul Yu, ini aku Haryo Bayu. O iya, tadi mas Samsul dan mbak Murti ke kota. Ada pesanan barang mendadak yang harus dipenuhi. Jadi mereka berdua pergi agar lebih cepat selesai dan kembali lagi kemari” Bayu tak berani menatap mata Ayu terlalu lama. Rasa bersalah kembali menguasai dirinya.

“Tadi aku dengar Anjani menyebut ayah pada mas Bayu. Benar dia anak mas Bayu?” Bayu hanya mengangguk.

“Jadi ini yang membuat mas Bayu tidak pernah mengabariku selama ini mas? Kalau memang ini anak mas Bayu, mana ibunya kok tidak diajak kesini? Aku kan pengen kenal juga mas” tidak ada nada marah dalam tutur Ayu. Dalam hati Bayu berucap ‘Alhamdulillah Ayu tidak marah. Terima kasih ya Allah’

“Ibunya Anjani sudah ndak ada Yu. Sudah pulang ke rumah Sang Maha Rahim. Sudah tenang di sana”

“Inalillahi wa inna ilaihi rojiun…kapan mas?”

“Beberapa jam setelah berjuang melahirkan dia dua tahun yang lalu” Bayu menunduk. Ayu spontan menciumi pipi dan kening Anjani. Ada rasa iba dalam hatinya pada anak kecil itu.

“Pasti berat ya mas menjadi ayah sekaligus ibu sendirian?” Ayu menghampiri bangku taman dan duduk di sana. Anjani yang tergolong berisi lumayan berat juga untuk digendong.

“Kalau hanya mengajak bermain, mengasuhnya atau mengajarinya ini itu bagiku ndak terlalu berat Yu. Yang terberat adalah saat dia menanyakan ibunya. Aku seringkali ndak tahu musti jawab apa. Akhirnya aku jawab saja kalau ibunya ada di rumah Allah”

“Oh” hanya itu yang mampu diucapkan Ayu. Sesaat keduanya terdiam. Mereka sama-sama tidak tahu harus bicara apa dan hanya memperhatikan polah Anjani yang kali ini sudah turun dari gendongan Ayu dan kembali berlarian kesana kemari.

“Mas Bayu….mas Bayu kok bisa sih mas, nggantung aku sampai empat tahun lamanya? Selama mas mengabdi di pedalaman sudah jarang kirim kabar. Bahkan saat mas Bayu akan menikah pun masih tidak ngabari aku. Setidaknya putuskan dulu hubungan kita, baru mas menikah dengan ibunya Anjani. Nah, kalau sekarang mas ada disini, apa yang mas Bayu inginkan dari aku?”

Bayu tidak langsung menjawab. Dalam hatinya ada kelegaan bahwa Ayu tidak mencaci makinya seperti yang dia takutkan selama ini. Tapi melihat ketenangan Ayu berbicara bahkan terkesan datar, Bayu menangkap bahwa Ayu sudah begitu matang menghadapi persoalan. Tidak seperti empat tahun yang lalu saat dia berangkat, Ayu adalah seorang gadis yang meski pendiam tapi terlihat sedikit manja. Dan meski Ayu sendiri sempat sakit karena patah hati, namun saat menghadapi kenyataan tentang Bayu yang ternyata sudah menikah dan punya anak, Ayu terlihat tidak emosional.

“Aku minta maaf Yu. Aku memang melakukan kesalahan dengan tidak memberitahu kamu soal pernikahanku dengan Aisha, ibunya Anjani. Saat itu, setelah pengabdianku selesai, aku berfikir aku masih harus tinggal di sana untuk beberapa waktu. Program yang kubuat ingin kupastikan berjalan dengan lancar dan bermanfaat untuk masyarakat. Karena itu aku meneruskan pengabdianku secara mandiri” Bayu diam sesaat mengatur perasaannya yang tak menentu. Kesalahan selalu membuat seseorang berdebar.

“Saat itu, aku merasa perlu seorang pendamping yang bisa menemaniku dan membagi apapun denganku di sana. Dan jika aku mengajakmu, aku takut kamu menolak karena kamu punya pekerjaan yang sangat kamu sukai. Karena itulah aku memilih Aisha dan menikahinya. Alasanku sederhana saja. Selain cerdas, dia juga warga asli kampung itu, yang pastinya nggak akan kemana-mana. Maaf, bukan berarti kamu tidak cerdas jika tidak memilihmu, tapi aku tidak yakin kamu bersedia meninggalkan pekerjaanmu jika aku mengajakmu tinggal di pedalaman”

“Tapi Mas bayu kan belum tanya sama aku, aku mau apa ndak. Iya to?”

“Betul Yu. Itulah kesalahanku. Dan bukan itu saja. Meski sudah menjadi suami Aisha, aku sebenarnya tidak pernah benar-benar bisa melupakan kamu Yu. Fotomu selalu ada di dompetku hinggga Aisha menemukannya”

“Masya Allah mas! Aisha marah?!” Bayu menggeleng.

“Nggak. Dia sama sekali nggak marah ketika kujelaskan siapa kamu sebenarnya. Dia hanya memintaku untuk segera memberitahu kamu bahwa kami sudah menikah. Tapi karena aku terlalu pengecut, aku menundanya dan terus menundanya. Hingga akhirnya, beberapa jam setelah melahirkan Anjani, beberapa menit sebelum ia meninggal, dia berpesan padaku untuk menjaga dan merawat Anjani bersamamu. Dia bilang kamu pasti bisa menyayangi Anjani karena kamu perempuan baik. Dan aku sudah melihat sendiri, Ajani lengket sama kamu Yu”

Ayu terdiam. Dia mencoba mencermati dan memahami setiap kalimat yang diucapkan Bayu. Berusaha sekuat tenaga menempatkan dirinya pada posisi Bayu, memahami kepengecutannya, pengkhianatannya yang diam-diam dan memahami amanah yang baru saja disampaikan Bayu dari mendiang istrinya. Jujur saja Ayu tidak tahu harus menerima atau menolak. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri hatinya, Anjani sudah membuatnya bahagia dengan segala kepolosan dan kelucuannya. Apalagi, permintaan Bayu untuk menjadi pendampingnya bukan semata keinginan Bayu tapi karena amanah mendiang Aisha yang harus ditunaikannya.

“Yu, aku minta maaf, jika setelah lama menghilang aku datang dengan permintaan yang mungkin berlebihan. Tapi aku tidak akan memaksa. Jika kamu memang tidak bersedia, kamu berhak menolak dan aku akan menerima dengan lapang dada. Barangkali ini tebusan atas semua kesalahanku padamu dan Aisha. Dua orang perempuan yang sama-sama berarti dalam hidupku”

Bayu menatap lekat wajah Ayu yang masih saja tetap memperhatikan setiap langkah Anjani yang seolah tak mau diam dan tak kenal lelah. Wajah yang jujur saja belakangan sangat dirindukan. Tetap seperti dulu saat dia meninggalkan Ayu. Cantik alami tanpa riasan meski terlihat lebih kurus. Meski mulai sering merindukan Ayu, bukan berarti Bayu mulai melupakan Aisha, tapi Bayu menaruh harapan besar pada Ayu untuk bisa mendampinginya menjaga dan mendidik Anjani. Tiba-tiba Ayu berpaling dan menatap wajahnya lekat-lekat.

“Mas Bayu, kalau ini hanya menyangkut kita berdua, mungkin aku akan dengan mudah menjawab iya untuk menjadi pendamping hidupmu. Karena jujur saja, sampai saat ini tidak ada yang benar-benar bisa mengisi tempatmu di hatiku. Tapi saat ini ada Anjani. Bisa saja hari ini atau beberapa hari ke depan dia lengket denganku dan aku merasa cocok dengannya. Tapi aku tidak tahu, seberapa sabar aku menghadapi anak kecil. Hari ini dia sedang bahagia dan aku Alhamdulillah bisa menghandlenya. Tapi jika dia sedang rewel, sakit atau merajuk, belum tentu aku bisa mas? Dan jika aku sendiri emosiku sedang buruk, apa aku masih bisa bersikap baik padanya? Itu yang aku pengen tahu mas”

“Maksud kamu apa Yu?”

“Maksudku, kalau mas berkenan, biarkan beberapa hari ini dia tinggal bersamaku. Beri tahu aku apa kebiasaan Anjani dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Termasuk berapa kali harus minum susu dan semua yang berhubungan dengan kesehariannya. Kalau dia tidak kerasan, aku akan antarkan ke rumah Mas Bayu. Rumah bapak ibu belum pindah kan mas?”

“Belum Yu. Masih di alamat yang sama dan bukan alamat palsu” Bayu mencoba berkelakar dan berhasil membuat Ayu tersenyum. “Tapi gimana dengan baju-baju Anjani? Apa harus kuantarkan ke sini?”

“Ndak usah mas. Cukup yang ada di tas Spongebob itu. Nanti kalau kurang biar aku belikan. Tapi maaf, weton (keluaran )pasar”

“Nggak apa-apa Yu. Selama ini aku juga belum pernah belikan baju Anjani di toko atau mall. Di pedalaman belum perlu mall. Lagi pula di pasar juga bagus-bagus kok. Jani pasti senang kalau dibelikan baju baru”

“Anjani! Sini sayang!” Bayu memanggil Anjani yang sedang asik memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran. Anjani pun berlari ke pelukan ayahnya.

“Anjani mau nggak bobo sama ibu?” Bayu mencoba bertanya pada Anjani.

“Ayah?”

“Ayah mau bantuin eyang kakung di kantor dulu. Anjani bobonya sama ibu dulu ya? Mau?”

“Ayah lama?”

“Enggak. Sebentar aja kok. Nanti kalau Anjani pengen sama ayah lagi, ibu anterin ke tempat ayah. Gimana, mau?” Ayu menimpali. Anjani diam. Lama sekali ia hanya menatap Bayu dan Ayu bergantian. Tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan mantab.

“Mau! Mau bobo sama ibu. Bobonya sama boneka juga ya?”

“Iya. Nanti Anjani boleh pilih sendiri, boneka mana yang Anjani mau ajak bobo. Ok?”

“Oce ibu!” Anjani menghambur ke pelukan Ayu dan disambutnya dengan kecupan hangat di pipinya. Bayu merasa lega melihat keduanya begitu dekat. ‘Ya Allah….semoga ini pertanda baik yang Kau tunjukkan padaku tentang masa depanku dan Anjani’

 

Dan ternyata ide Ayu untuk mengajak Anjani tinggal bersamanya bukan ide yang buruk. Semua orang di rumah itu begitu menyayanginya bahkan kadang berebut ingin mengajak Ayu bermain. Jika Ayu sedang memberi les, Murti yang mengajaknya bermain. Bahkan kadang Anjani dibawa ke tempat Ayu memberi les dan menjadi rebutan. Semua gemas dan mengagumi bocah kriwil itu. Samsul pun rela bolak balik dari desa ke kota setiap hari hanya agar bisa memeluk Anjani. Dia memang sudah merebut hati banyak orang terutama Ayu. Namun semua masih belum bisa menebak, apakah kedekatan itu berarti Ayu menerima Bayu kembali atau tidak. Semua masih menjadi rahasia yang tersimpan rapat di hati Ayu.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.