Penulis : DYAH RINA

Hampir seminggu lamanya Samsul tidak membuka tokonya. Sejak Ayu sakit, dia memilih untuk menemani Murti menjaga Ayu. Dia tidak bisa membayangkan jika Murti menjaga adiknya sendirian tanpa bantuannya. Begitu banyak yang harus dikerjakannya. Menyiapkan bubur untuk Ayu, menyiapkan makan untuk mereka berdua, belum lagi pekerjaan sebagai guru yang membuatnya tidak bisa ijin terlalu lama atas nama tangung jawab. Jika tanpa bantuan Samsul, tentu akan sangat kerepotan.

 

Ayu memang bukan pasien yang rewel dan manja. Tapi tanggung jawab yang besar membuat Samsul memilih menutup sementara tokonya dan menunggu sampai Ayu benar-benar pulih dan bisa ditinggal. Apalagi kali ini Ayu bukan saja sakit secara fisik tapi lebih ke batin. Sehingga Samsul dan Murti sepakat untuk menemani Ayu agar tidak merasa sendiri dan mau berbagi pada kedua kakaknya. Dan itu terbukti, pada akhirnya Ayu mau terbuka untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.

Meski demikian, baik Samsul maupun Murti hanya bisa mengatakan pada Ayu agar mengikhlaskan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Apalagi Rio toh bukan siapa-siapa bagi Ayu. Hanya seseorang yang secara diam-diam dicintainya dan diharapkan bisa menggantikan Bayu yang lama menghilang. Nampaknya Ayu pun memahami ini. Dan dalam beberapa hari ini, kesehatannya mulai membaik dan bisa bercanda lagi meski masih lebih sering menghabiskan waktunya untuk tidur. Rasanya itu lebih baik dari pada melamunkan hal yang ga jelas.

Dan pagi itu, Samsul baru saja pulang dari pasar. Murti meminta bantuannya untuk membeli sembako dan beberapa keperluan harian termasuk sayur mayur dan lauk pauk untuk persediaan di kulkas. Lumayan banyak yang dibeli Samsul hari itu. Perlu baginya beberapa kali bolak balik dari mobil ke dapur untuk memasukkan belanjaannya.

Baru saja hendak memasukkan tas belanjaan terakhirnya ke dalam rumah, Samsul melihat sebuah mobil berwarna metalik berhenti di depan rumahnya beberapa meter dari mobilnya. Seperti sengaja agar tidak menutupi jalan masuk. Kemudian seorang pemuda berkaca mata hitam nampak turun dari mobil. Tidak langsung menghampiri Samsul, tapi membuka pintu mobil di sisi kiri dan kemudian terlihat seorang anak perempuan berambut kriwil turun dari mobil itu. Berdua mereka berjalan menghampiri Samsul yang mematung di depan rumahnya.

Senyum pemuda itu mengembang saat melihat Samsul. Dibukanya kaca mata hitamnya dan dengan ramah disapanya Samsul yang masih diam terpaku.

“Assalamu’alaikum. Mas Samsul!” Samsul kemudian menyadari bahwa dia mengenal pemuda dan berjalan menghampirinya.

“Subhanallah…Bayu! Wa’alaikumsalam. Kamu ke mana saja nggak ada kabarnya?! Orang se Indonesia mencari dan menunggu kamu pulang!” Bayu tergelak.

“Mas Samsul ini bisa saja. Indonesia bagian mana mas yang nunggu saya kembali?” Bayu membetulkan pegangannya pada bocah kecil yang nampak kebingungan melihat Bayu ngobrol dengan orang yang mungkin menurutnya asing.

“Ya..Indonesia bagian rumah ini…haha..!” kata Samsul sambil menunjuk rumahnya. Keduanya pun berangkulan layaknya sahabat lama. Dan sebenarnya mereka memang sangat akrab sebelum Bayu menghilang tanpa berita.

“Eh…lha kok ada adek kecil yang lucu ini siapa namanya?” Samsul berjongkok dan membelai lembut pipi si bocah kriwil itu.

“Anjani Pak Dhe….Ayo Anjani salim dulu sama Pak Dhe….!” Anjani mengikuti perintah Bayu.

“Aduh….pinternya. Gendong Pak Dhe mau?” tanya Samsul dan dijawab dengan anggukan dan senyum oleh Anjani. Samsul tersenyum dan langsung menggendong Anjani dengan suka cita. Dia sendiri sudah sangat ingin punya anak. Karena itu ketika melihat Anjani lantas ingin menggendongnya. Dan sambil membawa tas belanjaan yang tadi diletakkan di trotoar, Samsul mengajak Bayu masuk ke dalam rumahnya.

“Eh ayo masuk Yu! Kebetulan mbakyumu sedang bikin sarapan. Nanti kita sarapan bareng ya? Tapi ngomong-ngomong ini anak siapa Yu?” Bayu menunduk. Kemudian tersenyum tipis dan memandang Samsul lekat-lekat.

“Anjani anak saya mas”

“Subhanallah….kamu sudah nikah dan punya anak rupanya. Tapi mana ibunya, kok nggak diajak?” Samsul merasa dia tidak berhak menghakimi Bayu yang diam-diam sudah menikah dengan wanita lain meski Ayu masih menunggunya. Karena itu dia memilih menanyakan tentang ibu Anjani.

“Ibunya sudah sumare(meninggal) mas. Sudah tenang di rumah yang menciptakannya” Bayu menunduk sangat dalam. Tergambar jelas kedukaan di wajah tampan itu.

“Innallillahi wa ina ilahi rojiun. Kapan Yu?”

“Beberapa jam setelah melahirkan dia mas. Dua tahun yang lalu”

“Tapi kamu hebat Yu. Kamu bisa menjadi ayah sekaligus ibu buat dia. Buktinya dia jadi anak yang pintar dan penurut. Jadi orang tua tunggal pasti nggak mudah ya Yu?” Bayu hanya tersenyum.

“Ya wis…ayo masuk sini. Silakan duduk Yu. Seperti dulu saja. Anggap rumah sendiri. Sebentar aku panggil mbakyumu dulu. Dik…dik Murti. Coba lihat siapa yang datang!” Samsul beteriak memanggil Murti dari ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Sementara tangannya masih menggendong Anjani yang sesekali tertawa terkekeh karena digelitikinya. Tak lama kemudian Murti pun datang dengan langkah tergesa.

“Ada apa to mas, kok teriak-teriak begitu. Lha ini anak siapa?” tanya Murti saat melihat Anjani.

“Anak siapa itu urusan nanti. Sekarang lihat dulu siapa yang datang ke rumah kita pagi ini?” Samsul menepi untuk memberi jalan pada Murti. Dan setelah melihat siapa yang datang, Murti menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Masya Allah…Bayu! Kamu Haryo Bayu kan?! Apa kabar…..? Lama sekali ndak ada beritanya. Kamu ke mana saja Yu?!” begitu banyak pertanyaan dilontarkan Murti pada Bayu yang hanya bisa tersenyum. Rasa takut yang selama ini menghinggapi hatinya mendadak lenyap saat mengetahui orang-orang di rumah itu masih merindukannya.

“Alhamdulillah saya baik-baik saja mbak. Buktinya sekarang sampai disini. Insya Allah habis ini ndak akan ngilang lagi”

“Ibu…ibu…” Tiba-tiba terdengar suara Anjani memanggil ibu sambil melihat ke arah Murti. Murti pun memandang Anjani dan kemudian menghampiri lalu mengambilnya dari gendongan Samsul. Diciuminya anak berambut kriwil itu.

“Ini bukan ibu cah ayu…ini Bu dhe. Lha ini anak kamu Yu? Mana ibunya kok nggak ikut?”

“Ibunya sudah ndak ada dik. Meningal saat melahirka dia” kali ini Samsul yang menjawab. Sementara Bayu hanya menunduk. Selalu saja mengenang Aisha membuatnya sedih.

“Innalillahi wa ina ilahi rojiun….kamu yang sabar ya Yu. Mengurus dan mendidik anak sendirian pasti ndak mudah”

“Sebenarnya juga nggak benar-benar sendri kok mbak. Selama saya di sana kan ada emak sama abah mertua saya. Mereka sangat membantu saya mendidik dan menjaga Anjani”

“Oh…namanya Anjani. Ayo cari mainan di dalam yo. Aku bawa masuk ya Yu?” Bayu mengangguk dan kemudian Murti menggendong Anjani masuk ke dalam.

“Bikinkan kopi ya dik! Sudah lama ndak ngopi sama Bayu” dan dijawab dengan ”Iya!” oleh Murti sambil berjalan masuk ke dalam.

“Anjani mau boneka?” Anjani mengangguk. Murti pun mengajaknya masuk ke kamar Ayu. Ayu memang mengoleksi beberapa boneka sejak masih SMA dan semuanya masih terawat rapi sampai sekarang.

Melihat begitu banyak boneka. Anjani nampak kebingungan. Tapi kemudian dia memilih Mei Mei. Guling kecil yang menyerupai tokoh kartun kawan Upin dan Ipin. Setelah memilih boneka rupanya Anjani belum ingin keluar kamar.

“Ibu…ibu bobo….” Anjani menunjuk Ayu yang memang sedang tertidur.

“SStt….ga boleh rame ya. Tante Ayu lagi bobo….” Murti meletakkan telunjuknya di bibir.

“Ibu…Jani mau ibu. Bobo sama ibu…..” Murti merasa trenyuh. Anak sekecil itu sudah tidak punya ibu lagi. Padahal dia berada di usia emas yang masih sangat perlu pendampingan orang tua terutama ibu.

“Anjani mau bobo juga?” Murti bertanya dengan pelan takut membangunkan Ayu. Anjani hanya mengangk sambil tangannya terus menunjuk ke arah Ayu.

“Ya sudah….boleh bobo di sini. Tapi nggak boleh rewel ya. Ibu lagi sakit. Yuk sekarang Anjani pipis dulu biar ndak….”

“Ompol…..”

“Pinter. Yuk!” Murti mengajak Anjani ke kamar mandi dan membantunya pipis. Setelahnya dia membaringkan Ajani di sebelah kiri Ayu. Dan Murti pun dibuat takjub oleh pemandangan yang dilhatnya. Anjani langsung memeluk lengan kiri Ayu sementara boneka yang dipilihnya dibiarkan begitu saja di tepi ranjang. Dan Ayu seperti tahu ada yang tidur di sebelahnya langsung memiringkan badannya ke arah kiri dan memeluk Anjani.

“Subhanallah….apa artinya ini?” Murti tersenyum dan memberi isyarat pada Anjani untuk segera tidur. Memang masih lumayan pagi. Tapi anak umur dua tahun bebas tidur jam berapa saja. Setelah meninggalkan Anjani dalam pelukan Ayu, Murti menuju dapur dan membuat kopi pesanan Suaminya.

Sementara itu di ruang tamu Samsul dan Bayu sedang berbincang layaknya sahabat lama.

“Jadi, setelah program kamu selesai, kamu memutuskan untukmeneruskannya secara mandiri?” Tanya Samsul pada Bayu tentang kepergiannya selama ini.

“Iya mas. Saat itu saya berpikir, saya perlu seorang pendamping dan bukan hanya asisten. Kalau saya mengajak Ayu, belum tentu dia mau. Dia kan punya pekerjaan yang dicintainya disini. Sementara gadis yang saya pilih adalah penduduk asli yang pastinya ndak akan kemana-mana. Karena itulah saya lantas menikahi Aisha”

“Tapi kenapa kamu ndak bilang sama Ayu? Dia menunggu kamu pulang lho Bayu” Samsul menyayangkan sikap Bayu.

“Itulah kesalaha pertama yang saya buat mas. Tidak memberi tahu Ayu bahwa saya sudah menikah dan membiarkan dia menunggu sampai empat tahun lamanya. Kesalahan kedua saya adalah, meskipun saya sudah menikahi Aisha saya masih menyimpan foto Ayu”

“Astaghfirullah hal adziim… Bayu! Kamu belum mencobanya tapi sudah kamu putuskan sendiri. Lantas bagaimana sikap Aisha? Dia marah?”

“Itulah hebatnya Aisha. Dia sama sekali tidak marah saat menemukan foto Ayu tersimpan di dompet saya mas. Dia justru dengan baik-baik meminta saya untuk segera memberi tahu Ayu tentang pernikahan saya”

“Tapi kamu tetep nggak bilang kan?” Bayu hanya mengangguk.

“Bukan cuma itu mas. Beberapa menit sebelum meninggal, dia meminta saya agar kembali pada Ayu dan menyerahkan pengasuhan Anjani pada Ayu. Menurutnya, Ayu pasti bisa karena dia perempuan baik” Bayu terdiam. Matanya terlihat berkaca. Penyesalan dan kesedihan tergambar di wajahnya.

“Tapi itulah saya mas. Saya terlalu pengecut untuk bilang sama Ayu. Saya takut menghadapi kenyataan bahawa Ayu akan menolak permintaan saya untuk kembali. Apalagi dengan satus yang berbeda dengan saat saya berangkat. Akhirnya saya menundanya sampai hari ini”

“Lantas, kalau hari ini kamu ada disini, apa berarti kamu sudah siap untuk penolakan itu?”

“Saat ini saya sudah siap dengan kemungkinan yang paling buruk. Jangankan hanya ditolak oleh Ayu, jika masih ditambah dengan caci maki pun saya akan terima dengan segenap kebesaran jiwa. Saya memang salah mas dan saya harus minta maaf pada Ayu atas semua kesalahan saya”

“Tapi rasanya ndak mungkin Ayu akan mencaci maki kamu Bayu” Murti yang tiba-tiba datang dengan dua gelas kopi di nampannya mengagetkan mereka berdua.

“Kok mbak Murti bisa bilang ndak mungkin. Kan sudah jelas saya bersalah sama Ayu mbak. Kalau pun Ayu bukan tipe erempuan yang gampang meledak, minimal saya akan didiamkan sama dia” Murti menggelang dengan pasti.

“Menurut aku itu ndak akan terjadi. Coba kamu lihat sini!” Murti menarik tangan Bayu dan mengajaknya masuk. Samsul yang penasaran pun mengikutinya. Ternyata Murti mengajak Bayu ke kamar Ayu. Dengan perlahan dibukanya pintu kamar Ayu. Dan nampaklah di mata Bayu pemandangan yang ssbenarnya sangat dia impikan. Anjani tidur di pelukan ibunya. Itu yang didambakan Bayu. Dan saat ini, Bayu melihat Anjani terlelap dalam pelukan Ayu.

“Kok bisa tidur sama Ayu mbak? Dan tumben, jam segini Ayu tidur begitu nyenyak?” tanya Bayu setelah menutup pintu kamar dan kembali ke ruang tamu.

“Tadi itu niatnya ngambil boneka. Tapi pas lihat Ayu dia bilang ibu…ibu bobo..gitu. Terus kutanyai apa mau bobo sama Ayu. Dia bilang iya. Ya terus aku baringkan di samping Ayu. Eh lha kok langsung lengan Ayu dipeluknya. Dan kemudian Ayu kok ya terus balas memeluk Anjani. Trenyuh lihatnya Bayu”

“Apalagi saya mbak. Hampir setiap hari dia nanyakan ibunya. Tapi saya ndak bisa bilang apa-apa kecuali bilang ibunya ada di rumah Allah dan nanti akan saya ajak nyusul ke sana. Tapi tadi mbak Murti belum menjawab pertanyaan saya. Kok jam segini Ayu tidur? Tumben banget mbak? Apa dia sakit?” Murti tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah suaminya meminta persetujuan dan dijawab dengan isyarat mata oleh Samsul.

“Iya Yu. Ayu memang sedang sakit. Tapi Alhamdulillah kondisinya sudah lebih baik. Tinggal menunggu tenaganya pulih saja”

“Memangnya sakit apa mbak, mas?”

“Sebetulnya Ayu itu sedang patah hati. Belakangan ini dia menyukai seorang pemuda. Temen manggungnya juga sih. Mereka sering banget sms-an. Awalnya memang hanya untuk urusan kerjaan, tapi belakangan mereka terlibat komunikasi yang lumayan intensif. Saling menyemangati dan mendukung. Nah, lama kelamaan, Ayu melihat pemuda ini memang layak untuk menggantikan kamu Bayu, dan dia menaruh harapan yang terlalu tinggi meskipun diantara mereka tidak pernah ada pembicaraan apapun” Murti diam sebentar untuk mengatur nafasnya.

“Nah, pas tahu pemuda itu sudah memilih gadis lain, dia merasa kecewa. Apalagi menurutnya gadis itu tidak layak bersanding dengan pemuda itu. Akhirnya Ayu melarikan dirinya dengan bekerja berlebihan. Manggung sehari bisa tiga tempat, seminggu empat kali. Bahkan yang terakhir itu dia kehujanan pulangnya. Karena secara psikis dia sudah sakit ditambah fisik yang lelah makanya mnggu dini hari itu dia muntah-muntah bahkan sampai diinfus….dua harian deh. Lha wong ndak bisa makan apapun. Semua dimuntahkan. Tapi Alhamdulillah dia sudah mulai membaik”

“Kebetulan juga kamu disini Bayu. Siapa tahu kehadiran kamu bisa sedikit menghiburnya. Mas yakin dia tidak akan menghindarimu. Apalagi kamu lihat sendiri kan, Anjani begitu lengketnya sama Ayu” Samsul menambahi.

 

Bayu yang sejak tadi hanya menyimak menghela nafasnya. Tidak menyangka bahwa kepergiannya yang tanpa kabar berita menyusahkan orang lain terutama Ayu. Timbul rasa sesal dalam hati Bayu. Kalau saja sejak dulu dia bertahu kalau dia sudah menikah, mungkin saat ini Ayu juga sudah bahagia dengan pria lain. Tapi penyesalan selalu datang belakangan. Dan semua itu kini tak ada artinya. Bagi Bayu yang paling penting sekarang adalah menunggu apa reaksi Ayu jika tahu Anjani, anak kecil yang tidur dalam pelukannya adalah anak dari Haryo Bayu. Lelaki yang pernah diam-diam mengkhianatinya dan kini sedang berusaha untuk mengais maaf darinya.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.