Tags

, , , , , , , , ,

Dua hari yang lalu, Abduh datang ke sekolah mengajak ku magang. Bukan praktek kerja di instansi atau perusahaan, magang disini adalah ekspresi kebahagiaan menyambut Ramadhan dengan berbelanja makanan enak untuk makan sahur pertama. Jika di jawa mungkin namanya adalah punggahan, dan Aceh menamainya meugang. Semua sama, ekspresi bahagia menyambut Ramadhan.

“Assalamu’alaikum..” ujar Abduh, “Maaf pak ya, telat”. Ia datang sekitar jam 2 siang. Padahal janji awalnya adalah jam 1.

“Wa’alaikumsalam.. masuk pak” jawabku, “Iya nggak apa-apa pak”

“Tadi itu sudah siap mau berangkat, tapi ada warga yang sakit” ujar Abduh, “Saya disuruh datang dan diminta berdoa untuk kesembuhannya”

“Sakit apa pak?”

“Kayaknya sih stroke”

“Innalillahi wainna ilaihi Rojiun” ucapku, “Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja pak?”

“Tadi udah saya bilang, dibawa ke rumah sakit aja, tapi kata keluarga mereka, dibacakan apa-apa dulu aja pak” jelas Abduh, “Begitulah pak kalau warga kampung, sakit apapun pasti dihubung-hubungkan dengan hal-hal klenik

Dan hari kemarin saat hendak melaksanakan shalat maghrib di masjid, pak Abduh berkata, “Pak Syaiful, bapak yang sakit kemarin meninggal jam 3 sore tadi”

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun.. nanti kita takziyah setelah tarawih ya pak”

*****

Beberapa tahun yang lalu hal yang mirip terjadi juga pada bibi ku. Usianya masih muda, sekitar 30 tahunan. Anaknya sudah 2 orang dan masih kecil-kecil. Saat itulah tiba-tiba perutnya membesar, bukan karena hamil lagi. Sayangnya keluarga tidak mampu untuk memeriksakannya ke rumah sakit propinsi.

Hingga almarhum ayah berinisiatif, “Ya udah, bulan ini ikut saya saja ke Bengkulu kota untuk diperiksa perutnya. Bulan ini kan saya juga harus cek diabetes” Kala itu pihak keluarga menyetujuinya.

Dari pemeriksaan itu akhirnya diketahui bahwa bibi menderita kista di rahimnya. Perutnya kembung disebabkan karena cairan yang ada di rahimnya dan harus disedot untuk dikeluarkan.

“Ini harus di operasi pak” ujar Dokter ke ayahku.

Semua hasil pemeriksaan dokter disampaikan ke keluarga bibi. Ayah juga menganjurkan untuk dilakukan operasi untuk kesembuhannya, masalah biaya tidak usah dipikirkan. Toh memang bibi punya kebun sawit yang cukup luas juga, walau saat itu kebunnya belum panen. Namun mungkin karena pertimbangan lain, bibi justru berobat ke dukun.

Bibi diminta untuk beli kambing betina dan tali. Si Dukun beraksi dengan mengikatkan ujung tali ke perut kambing dan ujang yang lain ke perut bibi. “Biar saya pindahkan kistanya ke kambing ini..” ujar si dukun dengan yakinnya.

Beberapa hari kemudian setelah itu, bukannya kesembuhan yang diperoleh, tapi justru ajal. Bibi meninggal dunia!

Benarlah yang dikatakan Eko Laksono dalam IMPERIUM 3, zaman kebangkitan besar nya bahwa primitif itu menyebabkan harapan hidup manusia semakin kecil. Dalam buku itu dijelaskan bahwa pada zaman dahulu, orang-orang selalu menganggap bahwa sakit itu disebabkan oleh gangguan roh halus, kemudian untuk mengobatinya adalah dengan mengadakan ritual-ritual tertentu. Bahkan jaman dulu, masuk angin pun dianggap sebagai gangguan dari roh halus!! Jelas saja banyak orang yang meninggal ketika itu. Tapi kini dengan ilmu pengetahuan yang meningkat, harapan hidup juga akan meningkat. Orang-orang akan percaya bahwa sakit adalah akibat mikroba atau virus dan harus diobati.

Walau demikian, pengobatan alternatif ke dukun atau kiyai di masyarakat negeri ini juga masih kental, terutama di masyarakat pedesaan yang tingkat pendidikannya masih sangat rendah. Lihat saja fenomena batu ajaibnya Ponari beberapa waktu silam! Selain pendidikan, pemerintah seharusnya juga menyediakan bantuan pengobatan kepada warga yang miskin agar mereka tidak lari ke dukun karena alasan biaya yang lebih murah.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.