Sejak kecil Ayah memang mengajarkan untuk mengikuti pemerintah dalam menentukan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal, makanya malam ini adalah malam pertama ku tarawih dan besok hari pertama puasa.

Walau sebenarnya ada yang berbeda di Ramadhan tahun ini, tapi tetap  ada kebahagiaan tersendiri menyambut malam ini. Makanya sejak jam setengah 6 sore aku sudah datang ke masjid membawa tas besar ku. Sudah ku niatkan untuk sebulan ini mabit di masjid. Mencoba mengevaluasi diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sampai di masjid masih sepi dan aku langsung adzan, karena memang waktunya sudah masuk. Shalat Maghrib petang ini hanya di hadiri oleh beberapa orang saja, bahkan satu shaf pun tidak penuh. Tiga rekaat selesai dan dilanjutkan doa yang dipimpin oleh imam.

Selesai dzikir dan doa, Abduh dan Pak Lebay Ketua (Lebay adalah istilah untuk tokoh agama disini) terlihat berdiskusi sejenak dan sejurus kemudian mereka mendekatiku yang sedang duduk bersila, merenung.

Setelah bersalaman, Abduh berujar “Begini pak Syaiful, kita ingin pas malam nuzulul quran nanti bapak sebagai penceramah disini!” Pak Lebay Ketua mengiyakan, “Kayak waktu ngisi pengajian sekecamatan kemarin loh pak”. Beberapa minggu yang lalu aku memang sempat menjadi penceramah di pengajian ibu-ibu sekecamatan Sebawi dan Alhamdulillah semua ibu-ibu yang hadir puas.

Baru juga malam pertama tarawih, udah ditodong aja nih jadi penceramah, batinku.

Aku diam, tidak mengiyakan dan tidak menolak. Itu saja. Di pedalaman Kalimantan ini aku memang sering sekali diberi amanah untuk hal-hal seperti ini, menjadi penceramah, menjadi khatib, mengisi tausiyah ibu-ibu setiap ba’da Maghrib dan lain sebagainya. Jelas, semua warga disini mempunyai ekspektasi yang tinggi kepadaku. Apalagi aku dinaungi oleh nama besar Dompet Dhuafa yang notabenenya adalah lembaga Islam! Terus saja aku diminta menjadi penceramah di hari-hari besar islam, Isro’ mi’raj kemarin, pengajian ibu-ibu sekecamatan, dan sekarang diminta di nuzulul quran. Padahal sebenarnya sesekali aku juga ingin mendengar dan menuntut ilmu agama dari mereka.

Seperti sebuah teko yang jika terus menerus dituangkan isi nya, maka lama kelamaan akan habis bukan? Begitu juga yang ku alami! Jika terus menerus begini tanpa diimbangi dengan mengisi ruhiyah, maka akan hambar nanti.

Aku harus mencari kajian rutinan disini, tapi dimana? Aku gusar!

Kini aku menyadari bahwa ta’lim (pengajian) setiap hari yang kulakukan dulu bersama ustadz di Bogor sangat berarti. Ketika kuliah di Bogor, aku mengikuti kajian setiap ba’da Maghrib dan Shubuh setiap hari! Materinya beragam, mulai dari aqidah, fikih, bahasa arab, muhadharah, tsaqofah islamiyah, dan sebagainya.

Kajian itu sangat berarti, selain mampu memberikan energi baru bagi jiwa, juga menjadi amunisiku disini untuk mengisi pengjian yang sering dadakan. Kini, aku harus mencari amunisi baru untuk kembali berperang!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.