Tags

, , , , , , , , , , ,

 

Penulis : DYAH RINA

Malam Minggu selalu menjadi malam yang ditunggu oleh Murti dan Samsul. Karenacuma malam Minggu lah mereka bisa berkumpul bahkan hingga Senin pagi. Kalau Samsul tidak pulang ke desanya pasti Murti akan berangkat ke kota menemui suaminya, dan sampai hari Senin mereka akan menghabiskan waktu berdua. Sebenarnya bisa saja mereka hidup satu atap. Tapi pekerjaan Murti sebagai guru SMP menyebabkan dia tidak bisa dengan mudahnya pindah ke kota. Birokrasi negeri ini yang terkenal mbulet dan tidak mudah buat wong cilik membuat Murti malas untuk mengurus kepindahannya.

 

Di sisi lain, Samsul juga tidak bisa dengan mudah memindahkan kios yang sudah dirintisnya ke desa. Pelanggannya sudah terlanjut banyak. Apalagi kios Samsul menjual barang dengan harga grosir. Ada kekhawatiran jika kiosnya berpindah ke desa, dia bisa dianggap mematikan mata pencaharian pedagang sejenis yang lain. Dan Samsul sangat tidak ingin itu. Karenanya, untuk sementara mereka merelakan untuk tidak bisa berkumpul setiap hari, dan hanya memaksimalkan waktu di akhir pekan seperti sekarang ini.

Selepas Isya, Murti dan Samsul nampak sedang bersantai di teras. Mereka baru saja selesai sholat Isya dan sedang menikmati kopi dari cangkir masing-masing, ditemani sepiring tahu isi plus cabe yang tadi sore digoreng Murti.

“Ayu ke mana dik? Kok sudah hampir malem gini belum pulang?” tanya Samsul penuh nada khawatir. Dia memang selalu merasa khawatir jika sampai malam adik iparnya belum pulang. Ditengoknya arloji di tangannya, sudah jam delapan lewat.

“Tadi siang sih pamitnya manggung di pendopo. Ada pelantikan pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten. Setelah itu ke mana, aku nggak tahu mas. Padahal biasanya dia nelpon kalau mau mampir-mampir. Tapi nggak tahu ya, kok hari ini ndak ngabari? Aku juga takut ada apa-apa” Murti ikut terbawa khawatir.

“Apa lagi punya masalah? Soalnya aku lihat belakangan ini Ayu tertutup banget ndak kayak biasanya. Biasanya kalau aku pulang dia selalu gabung sama kita untuk cerita-cerita. Tapi rasanya sudah sebulan ini aku kayak kehilangan Ayu. Ya bukan apa-apa dik. Aku hanya ndak ingin saat dia punya masalah kita justru nggak tahu. Kita, terutama aku, kan sudah janji pada mendiang bapak ibu untuk menjaga kamu dan terutama Ayu. Jadi aku pasti merasa sangat bersalah, kalau sampai Ayu mengalami sesuatu hanya karena kita kurang perhatian saja”

“Ndak usah sampai begitu mas. Bapak ibu pasti memaklumi, kalau misalnya Ayu yang memang gak mau cerita masalahnya sama kita. Aku sih juga sudah nyoba tanya-tanya, tapi dia bungkam dan aku menghormati bungkamnya itu. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana menyelesaikan sendiri masalahnya. Cuma memang sudah sebulan ini Ayu tuh manggunggnya kayak orang kalap. Sehari bisa sampai tiga kali dan seminggu bisa sampai empat kali!”

“Apa dia sedang melarikan diri dari sesuatu?” tanya Samsul penasaran.

“Sepertinya sih begitu mas. Cuma setelah aku tanyai, dia mengelak dan hanya bilang mumpung masih kuat cari duit, gitu” Samsul manggut-manggut. Dia seperti sedang berusaha memahami mengapa Ayu bersikap tak biasa. Baik pada mereka kakak-kakanya, maupun soal manggung yang menurut Samsul termasuk over dosis.

Saat keduanya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang Ayu, terdengar suara pintu pagar dibuka dan tak lama nampak Ayu muncul dengan baju basah kuyup.

“Assalamu’alaikum” Ayu menyapa kedua kakaknya. Keduan tangannya nampak digosok-gosokkan ke lengan menghilangkan dingin yang mungkin dirasakannya. Sesekali nampak menggosok-gosok rambutnya yang basah.

“Wa’alaikumsalam. Lho kok basah kuyup Yu? Di daerah mana yang turun hujan? Dari tadi sore disini terang benderang kok mas ya?” Murti memandang sekilas pada suaminya dan kembali meperhatikan Ayu. Samsul hanya mengangguk. Matanya tak lepas mengawasi adik iparnya yang malam itu menurut Samsul terlihat agak pucat.

“Di sana daerah mbulak(tanah lapang/persawahan) sana, sebelum jalan ke makam itu lho, mendadak tadi hujan deras. Nah begitu masuk desa kita lha kok terang bederang. Sampai kelihatan batesnya antara yang kena hujan sama yang enggak” Ayu masih bediri di pintu sambil mengibaskan rambutnya.

“Memangnya kamu tadi naik apa, kok basah kuyup begitu? Naik ojek?” tanya Samsul.

“Iya mas, naik ojek. Kalau sudah lepas Maghrib, kan memang cuma itu kendaraan yang tersedia. Angkot ya sudah pada ngandang semua” Ayu mulai merasa kedinginan. Badannya terasa sedikit gemetaran.

“Ya sudah cepet mandi sana! Kalau perlu pakai air hanget biar ga masuk angin. Terus habis mandi digorsok badannya pakai minyak kayu putih. Nanti aku taruh kamarmu ya” Murti menyuruh Ayu untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya yang basah.

Ayu pun menurut karena memang sudah tidak tahan lagi. Dia segera masuk kamar dan membongkar semua isi tasnya. Barang-barang yang basah terutama pakaian diletakkan di keranjang untuk dibawa ke tempat cuci. Sementara barang-barang lain termasuk Andro yang juga terlihat sedikit lembab cuma dilap dengan hati-hati dan diletakkan di meja riasnya.

Malam itu Ayu merasakan capek yang luar biasa. Meski sebenarnya acara di pendopo tidak terlalu melelahkan, karena dia bernyanyi tidak sendiri tapi ada beberapa penyanyi dan pengurus PKK yang ikut menyanyi. Tapi diakuinya, sebulan belakangan ini dia memang bekerja lebih keras dari biasanya. Ayu memang sedang mengalihkan perhatian dan perasaannya dari Rio. Karena itu jugalah sebulan ini dia selalu menolak jika Rio memberikan job untuk bernyanyi bersamanya. Ayu menolak dengan berbagai alasan yang dibuat semasuk akal mungkin. Ayu benar-benar ingin menetralkan rasanya pada Rio meski harus menyiksa dirinya sendiri.

Dan malam itu nampaknya menjadi klimaks kegilaan Ayu bekerja. Tenggorokannya mulai nyeri dan badannya juga mulai terserang demam. Sejak di pendopo tadi sebenarnya meriang itu sudah dirasakannya. Tapi atas nama profesionalisme Ayu tetep menyanyi. Bahkan pulangnya dia masih mampir untuk membeli beberapa aksesoris baru dengan uang hasil ngamennya. Tapi setangguh apapun fisik seseorang jika terus menerus diforsir lama-lama ambruk juga. Dan itu yang dirasakan Ayu sekarang.

Meski demikian dia masih nekad mandi dengan air dingin. Karena meski badannya merasa kurang enak, tapi bekerja sejak siang membuat badannya terasa lengket karena debu dan keringat.

Setelah mandi, Ayu segera menunaikan sholat Isya dan kemudian melompat ke atas kasurnya yang empuk. Tidak lupa menarik selimut tebalnya dan menutupkan ke seluruh badannya. Ayu merasa menggigil. Panas badannya makin tinggi namun dia tidak ingin merepotkan seisi rumah. Ayu berpikir semua ini salahnya karena terlalu keras bekerja demi melupakan Rio. Jadi segala konsekuensi akan ditanggungnya sendiri.

Sementara itu di teras Murti dan Samsul diliputi banyak pertanyaan tentang Ayu. Karena sudah hampir sejam sejak dia pulang tadi, Ayu tidak muncul lagi.

“Tuh kan dik, Ayu ndak mau gabung sama kita lagi. Coba kamu tengok ke kamarnya, siapa tahu lagi perlu apa-apa. Lagipula tadi kamu janji mau naruh minyak kau putih di kamarnya to?” Samsul mengingatkan istrinya.

“Astaghfirullah hal adziim….iya mas. Aku kok lupa ya? Sebentar kalau gitu. Aku tengok Ayu dulu sambil bawakan minyak kayu putih. Dia kan juga belum makan. Siapa tau mau dibuatkan atau dibelikan sesuatu”

Murti meninggalkan suaminya di teras dan masuk ke kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih kemudian dibawa ke kamar Ayu. Sampai di depan kamar Ayu ternyata pintunya tertutup.

“Yu…Ayu…! Ini minyak kayu putihnya…!” Murti mencoba memanggil nama Ayu tapi tidak ada jawaban. Lalu dicobanya membuka pintu. Tak terkunci. Murti pun masuk dan melihat Ayu sudah tetidur dalam posisi miring dengan tubuh terbungkus selimut. Didekatinya adiknya dan dirabanya dahi serta leher Ayu.

“Duh…kok panas banget!” Murti tersentak. “Yu….kamu sudah minum obat? Badan kamu panas banget ini..” Murti menepuk-nepuk pipi Ayu. Tapi Ayu bergeming.

“Ah mungkin sebelum tidur sudah minum obat. Tidurnya kok sepertinya nyenyak banget. Biar saja lah. Mungkin kecapekan. Besok saja kalau mau ditanyai” Maurti membatin dan kemudian diciumnya kening adiknya penuh kasih sayang lalu dia melangkah keluar dan menutup pintu.

Sampai di teras, Murti sudah dihadang Samsul dengan raut muka penuh kekhawatiran.

“Gimana Ayu dik?”

“Tidur mas. Tapi tadi aku sempet raba dahi sama lehernya, panas banget. Mungkin dia kecapekan karena terlalu diforsir. Biasanya memang kalau mangungnya terusan, radang tenggorokannya kumat. Ya gitu, demam tinggi. Tapi biasanya kalau sudah istirahat cepet pulihnya” Murti duduk kembali di samping suaminya. Diseruputnya kopinya yang tinggal setengah cangkir.

“Tapi tadi sudah minum obat belum? Sudah kamu tanyai?”

“Tak bangunin mas ,tapi kayaknya sudah nyenyak banget. Aku malah nggak tega mau bangunin dia. Sebenarya aku juga mau tanya dia sudah makan apa belum. Tapi berhubung yang besangkutan ndak bangun ya nggak jadi tanya. Soalnya belakangan memang dia jarang kelihatan makan. Bisa jadi aku yang ga lihat dia makan. Tapi kalau melihat jumlah makanan yang jarang banget berkurang, dia pasti ndak makan”

“Aku makin yakin Ayu sedang menyimpan masalah dik. Cuma mngkin Ayu ndak mau kita tahu. Mungkin dia merasa ndak enak kalau harus ngerepotin kita”

“Bisa juga mas. Tapi besok saja lah kita tanyai lagi. Kita masuk aja yuk! Cara kesukaanmu habis ini dimulai lho. Indonesian Idol. Ayo mas…!” Murti menggamit suaminya dan segera diiyakan dengan sebuah kecupan mesra di pipi.

“Ayo. Tapi aku kunci pagar dan pintu dulu ya. Takut kalau ditunda malah lupa” Samsul pun segera mengunci pagar dan pintu depan kemudian mengikuti istrinya menuju ruang tengah untuk menyaksika acara kesayangannya.

******

Pukul dua dini hari. Samsul terbangun karena merasa sangat lapar. Kemudian dia ingat bahwa tadi sore mereka tidak makan malam. Hanya nyemil tahu isi dan kopi sambil nonton Indonesian Idol di TV. Samsul tersenyum. Bukan apa-apa. Selama menjadi suami Murti hampir tidak pernah sekalipun dia terbangun tengah malam hanya karena kelaparan. Dia selalu berangkat tidur dalam keadaan perut kenyang, karena Murti selalu menyiapkan hidangan terbaiknya untuk makan malam. Kalaupun ada acara makan malam-malam, itu hanya dilakukan setelah mereka berdua melakukan ‘olah raga’ malam. Tahu sendiri kan, ‘olah raga’ pastinya membakar begitu banyak kalori?

Samsul melirik istrinya yang nampak lelap. ‘Kamu makin cantik saat tertidur dik’gumamnya. Dikecupnya kening sang istri dan melangkah meninggalkan kamar. Tujuannya adalah dapur. Dia ingat kemarin sempat membeli biscuit di pasar sebelum berangkat ke rumah ini. Kalau disandingkan dengan segelas teh hangat pasti sangat menolong untuk mengatasi perut yang keroncongan.

Sampai di dapur, Samsul segera menjalankan aksinya. Membuat teh hangat dan duduk di meja dapur untuk menikmati hasil karyanya. Tak lupa kemasan biscuit rasa kelapa itu dibukanya dan satu demi satu disantapnya perlahan setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam teh. Kelakuannya mirip sama Afika di iklan biscuit krim cokelat itu, dan Samsul tersenyum geli ketika menyadarinya.

Tengah asik menikmati biscuit dan the hangatnya, tiba-tiba Samsul mendengar suara orang muntah-muntah. ‘Siapa ya yang muntah malam-malam begini? Ah, paling tetangga’ batin Samsul dan meneruskan kembali makannya. Tapi kembali dia mndengar suara yang sama dan makin lama makin sering. Rasa penasaran Samsul mendorongnya ntuk bediri dan mencari-cari asal suara.

Ketika sampai di dekat kamar mandi, suara itu terdengar semakin jelas. Samsul juga melihat pintu kamar mandi yang setengah terbuka. ‘Siapa ya yang muntah? Mosok Ayu?’ Samsul kembali membatin sambil berjalan mendekati kamar mandi. Setelah membuka pintu kamar mandi, Samsul melihat Ayu terduduk lemas didingklik(bangku kecil pendek dari kayu), sementara kepala dan bahunya bersandar di dinding kamar mandi yang lembab dan basah. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Bajunya juga nampak basah kuyup karena keringat. Sementara di lantai kamar mandi dan sebagian dinding nampak bekas muntahan Ayu berceceran.

“Astaghfirullah hal adzim…..! Ayu….kamu kenapa Yu?!” Samsul segera berjongkok sambil membawa satu gayung penuh air untuk menyeka bekas muntahan di wajah Ayu yang terlihat pucat. Disibakkan rambut adik iparnya dan disekanya wajah pucat Ayu dengan air dari gayung. Kemudian dengan cekatan dibantunya Ayu berdiri dan segera dipapah menuju kamar.

“Ayo mas bantu ke kamar. Muntah kamu nanti saja biar mas yang bersihkan. Pegang bahu mas ya!” Samsul menyiram kaki Ayu yang terekana cipratan muntah kemudian memapahnya menuju kamar dan langsung dibaringkan.

Setelahnya bergegas Samsul berlari menuju kamarnya dan membangunkan Murti.

“Dik!….Dik Murti bangun dik…! Ayu sakit…..Dik Murti….!” Samsul menepuk-nepuk pipi istrinya agar segera bangun. Murti yang mendengar suara suaminya mengeliat dan mengerjap-ngerjapkan mata.

“Ada apa to mas? Tengah malem gini kok bangunin orang?”

“Itu si Ayu….tadi aku temukan dia lagi muntah-muntah di kamar mandi. Wajahnya pucet banget, terus badannya lemes dan bajunya basah keringetan. Sudah aku bantu balik ke kamar. Sekarang kamu gantiin bajunya!”

“Astaghfirullah hal adzim….Ayu!” Murti langsung melompat dari ranjangnya dan merapikan baju serta rambut seadanya lantas menuju kamar Ayu. Sampai di sana dilhatnya Ayu kembali muntah di lantai kamar. Dan seperti yang dibilang sama suaminya, wajahnya terlihat sangat pucat juga rambut dan badannya basah oleh keringat.

Dengan cekatan diambilnya baju ganti dari lemari dan digantinya baju Ayu dengan yang bersih lalu dibaringkan kembali. Sementara itu Samsul membersihkan bekas muntahan Ayu yang ada di lantai kamar dan kamar mandi. Murti juga tidak kalah sibuk. Setelah membantu Ayu ganti baju, dia bergegas membuat teh hangat dan mengambil obat anti muntah untuk diminumkan pada Ayu.

“Yu…..minum obat muntah dulu. Habis itu makan yo. Makan biskuit saja juga ndak apa, yang peting perut kamu ndak kosong” Ayu hanya mengangguk lemah. Kemudian dengan dibantu Murti ia minum obat dan makan beberapa keping biskuit.

Tapi nampaknya kali ini obatnya tidak bekerja. Tak lama setelah makan biskuit Ayu kembali muntah. Dan dini hari itu tak terhitung lagi berapa kali Ayu muntah. Bahkan teh hangat yang biasanya lolos masuk ke perut Ayu pun kali ini kembali dimuntahkan.

Tapi tak sedikitpun Ayu mengeluh. Dia hanya diam sambil menggigit bibirnya menahan sakit. Sesekali terlihat juga memegangi perutnya. Murti dan Samsul paham, perut Ayu pasti menegang karena muntah terus-terusan.

“Gimana ini mas? Mosok dibiarin gitu aja? Ngaturi(manggil) dokter Puji saja mas! Beliau buka 24 jam kok. Ayo! Naik motor saja biar cepet” Murti meminta suaminya untuk memanggil dokter puskesmas.

“Ya Wis. Kamu jagain Ayu ya. Aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum” Samsul mengecup kening Murti dan segera berangkat.

“Wa’alaikumsalam” Murti menjawab tanpa meninggalkan kamar Ayu. Rasa cemasnya pada Ayu kali ini terlalu besar.

Sepeninggal Samsul, Ayu masih terus-terusan muntah. Murti tidak tahu lagi musti berbuat apa lagi selain hanya mengelap bekas muntahan dari mulut Ayu dan memberinya minum air putih. Kemudian Murti naik ke ranjang dan duduk di sisi Ayu, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Dibisikkannya sesuatu ke telinga adiknya.

“Sabar ya Yu. Kamu pasti kuat ngelewati ini semua. Sabar ya….” Dibelainya rambut dan kening adiknya. Tiba-tiba dia mendengar Ayu bicara sangat pelan

“Aku kangen ibu mbak….” Murti tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Selama ini Ayu tak pernah sekalipun mengatakan kangen pada orang tua mereka yang sudah tiada. Kalau pun kangen, Ayu pasti langsung menziarahi makam mereka dan berdoa sepuasnya di sana. Tapi mungkin saat ini kondisi fisik dan mental Ayu berada di titik terendahnya. Dan rasanya sangat wajar seorang anak perempuan yang sedang mengalami tekanan batin, merasa sangat ingin berada dalam dekapan ibunya.

“Iya. Mbak juga kangen sama ibu dan bapak. Kamu berdoa saja ya untuk mereka. Berdoa juga pada Allah minta kesembuhan. Dan kalau kamu sedang punya masalah, kamu cerita sama aku atau mas Samsul. Biar perasaanmu lebih ringan. Kalau kamu simpan sendiri ya jadinya seperti ini. Kamu malah jadi sakit kan?” Ayu hanya mengangguk. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya air matanya saja yang mengisyaratkan bahwa dia sedang sangat bersedih entah karena apa. Murti tidak tahu, apa yang harus dikatakan untuk menghibur adiknya. Saat ini dia sendiri tengah tak menentu melihat kondisi adiknya.

Tak berapa lama terdengar suara Samsul yang datang bersama seseorang. Dan setelah masuk kamar ternyata dokter Puji pagi itu ditemani asistennya.

“Monggo, silakan bu dokter!” Samsul mempersilakan dokter Puji dan asistennya masuk.

Melihat kedatangan Samsul dan dokter Puji, Murti langsung menghapus air matanya dan segera turun dari ranjang. Samsul menangkap sisa air mata di wajah Murti dan merangkul bahu istrinya. Dia sangat tahu, Murti sedang cemas dan berusaha menenangkan dengan rangkulannya.

“Ini bu dokter, muntah-muntah dan badannya panas” Murti memberi keterangan. Sementara dokter Puji dengan sigap langsung mengeluarkan stetoskop dari tasnya dan memeriksa Ayu.

“Berapa kali muntahnya?” tanya dokter Puji sambil terus melakukan pemeriksaan pada Ayu. Kali ini mengukur tekanan darah dibantu asistennya.

“Waduh kurang tahu dokter. Mulai jam duaan tadi ya sudah ndak terhitung lagi. Semua makanan dan minuman yang dimakan dimuntahkan lagi dokter. Termasuk obat anti muntah” Murti menambahkan keterangannya. Lalu dilihatnya dokter Puji menyuruh Ayu untuk membuka mulutnya dan memeriksa tenggorokannya dengan senter kecil. Tak lama kemudian dokter Puji berdiri dan menghampiri mereka berdua.

“Nampaknya Ayu mengalami radang tenggorokan yang lumayan parah. Sudah mulai memerah dan bengkak. Tensinya juga turun bahkan di bawah 80. Dan sepertinya dia sedang mengalami masalah yang serius. Tolong diajak bicara dan dicarikan solusi untuk masalahnya. Kasihan kalau dipendam sendiri. Soalnya seseorang yang mengalami tekanan biasanya lambungnya akan kena. Dan nampaknya Ayu mengalami itu” dokter Puji diam sesaat sebelum melanjutkan bicaranya.

“Untuk pagi ini, Ayu terpaksa harus diinfus. Ya, hanya agar saya mudah memasukan obat ke dalam tubuhnya saja. Kalau sudah bisa makan dan tidak muntah lagi, infusnya akan saya lepas. Nanti siang biar dikontrol sama mbak Susi asisten saya” kata dokter Puji sambil memandang sekilas pada asistennya dan segera diiyakan dengan anggukan oleh yang bersangkutan.

“Mbak Susi, tolong ambilkan tiang penggantung infuse di mobil sekalian botol infusnya ya”

Injih bu dokter” Susi pun segera berlalu dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa benda-benda yang diminta dokter Puji. Lalu mereka berdua dengan cekatan memasng jarum infuse di lengan kanan Ayu. Ayu nampak meringis saat jarum itu menusuk kulitnya untuk mencapai pembuluh darah di punggung tangannnya.

“Ok. Sudah terpasang infusnya, saya juga sudah berikan obat muntahnya juga penenang agar dia bisa istirahat. Kemudian ini resepnya, nanti kalau sudah bisa menelan makanan dan minuman baru diberikan. Kalau belum bisa ya terpaksa melalui infuse lagi”

“Baik bu dokter. Lalu apa ndak ada pantangnnya?” Murti mencari tahu.

“Pantangan sih sebenarnya nggak ada. Cuma sementara jangan makan yang kasar dan keras dulu. Mungkin untuk permulaan bisa diberikan bubur sumsum saja, nanti baru bubur ayam. Kalau minumnya apa saja asal jangan yang asam ya. Kasihan lambungnya. Mmmm…rasanya itu saja. Wah pas, sudah adzan Subuh. Saya permisi dulu. Cepet sembuh ya Yu….” Dokter Puji memberikan senyum manisnya pada Ayu dan dijawab denga anggukan sangat lemah oleh Ayu.

Adzan Subuh memang sudah berkumandang dari masjid sebelah pasar tak jauh dari rumah mereka. Setelah mengantarkan dokter Puji dan asistennya sampai ke mobil, Samsul dan Murti bergegas kembali ke dalam dan langsung menengok keadaan Ayu.

Tapi sampai di sana, mereka melihat Ayu sedang sholat sambil duduk di ranjangnya. Meski sebenarnya bisa saja dia sholat sambil berbaring tapi Ayu memilih duduk dan terlihat sangat khusyuk berdoa. Murti dan Samsul yang melihat pemandangan itu merasa sangat terharu. Dalam keadaan yang sangat kesakitan Ayu masih mengingat Allah Sang Maha Pemberi Hidup dan Kehidupan. Entah apa yang sedang disampaikannya pada Sang Maha Rahim. Tapi Murti dan Samsul melihat Ayu sesekali menyeka air matanya.

Setelah Ayu selesai sholat. Mereka menghampiri ranjang Ayu dan duduk di sisi kanan dan kiri tempat tidur.

“Ayu, kalau kamu sedang punya masalah, kamu cerita sama kami. Nggak usah takut kami akan merasa direpoti. Nggak Yu. Nggak akan ada yang direpotkan dan merepotkan. Kamu tanggung jawab kami. Jadi apapun yang terjadi sama kamu, sebisa mungkin beri tahu kami. Ya?” Samsul memandang adik iparnya yang hanya menunduk. Ayu melepas mukenannya dan segera diambil oleh Murti untuk dilipat.

“Masmu bener Yu. Kamu boleh saja ndak cerita. Tapi ya jangan menyiksa diri seperti ini. Kalau kamu jadi sakit kan kamu juga yang repot. Ndak enak makan, ndak bisa tidur bahkan mungkin ndak bisa kerja juga. Ya kan?” Murti melihat Ayu hanya menunduk, kemudian segera membaringkan tubuhnya kembali di ranjang. Matanya terlihat memerah dan sedikit berair. Sepertinya sudah mulai mengantuk.

“Ya sudah. Kamu istirahat saja. Tidur yang nyenyak. Jangan pikikan apapun kecuali kesehatan kamu saja. Kami keluar dulu ya. Lampunya kumatikan” Murti membelai kening Ayu dan menciumnya. Setelahnya mereka berdua segera berjalan meninggalkan kamar. Tapi belum sampai di pintu, terdengar Ayu memanggil mereka.

“Mbak, mas…”

“Ada apa Yu?” tanya Samsul seraya menoleh kea rah Ayu. Murti pun memandangnya.

“Makasih ya. Kalian selalu ada untuk aku” Cuma itu yang dikatakannya. Murti dan Samsul pun hanya menjawab dengan senyum dan anggukan. Namun itu sudah cukup menenangkan Ayu. Ia menyadari, semua yang dikatakan kakaknya benar. Seharusnya dia tidak menyiksa dirinya sendiri. Seharusnya dia membiarkan saja semua berjalan secara alami. Mengalihkan perhatian dengan mengerjakan sesuatu yang positif itu baik. Tapi akan jadi tidak baik jika menyakiti diri sendiri. Allah juga pasti ndak akan suka.

 

Akhirnya Ayu memilih untuk menarik selimutnya dan mencoba untuk memejamkan matanya yang mulai terasa berat. “Kuatkan Aku Ya Allah….” Hanya itu yang diucapkannya setelah membaca doa sebelum tidur. Ah…pagi yang sejuk dan dingin ini membuat siapapun ingin terbenam kembali kedalam kehangatan selimut, sembari menunggu waktu sarapan datang menjemput.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI