Tags

, , , , , , , , , , , ,

Agak terkejut juga saat mendengar berita UGM terganjal kasus perjokian. Ya, bagaimana bisa kampus yang notabenenya adalah kampus ternama di negeri ini, kampus yang dulu juga ku idam-idamkan bisa melakukan hal itu? Seketika pikiran ku pun langsung nakal, jika kampus ternama saja begitu, lalu bagaimana kampus abal-abal (maaf) yang tumbuh subur setiap hari?

Teringat ketika tahun 2008, saat adik kelas ku ingin masuk ke akademi kebidanan di Lampung. Tes tertulis sudah ia ikuti, tapi malang ia tak lolos. Hingga kemudian ada seorang bapak yang menawarkan kampus kebidanan di kawasan Jakarta, asal sanggup membayar 16 juta, maka pasti diterima. Adik kelas ku ini pun menyanggupi.

Suatu hari aku sms, “Dik, kemarin ikut tes juga ya?” aku penasaran.

“Iya bang, tapi pas tes itu udah ada jawabannya di soal”

Oh my God!! What the hell?!?!?!? Kalau ingat kejadian ini, aku jadi teringat nasihat ayah ku “Ayah tidak akan mau membayar (menyuap) untuk masuk ke sekolah tertentu, jika kamu ingin masuk sekolah bagus maka kamu harus berusaha semaksimal mungkin” ujarnya, “Melakukan suap hanya akan menjadikan ilmu mu tidak berkah!!”

Selain kasus suap menyuap untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kasus yang lain pun banyak terjadi di anak-anak muda kita yang juga dicap sebagai pelajar atau mahasiswa! Tawuran yang hampir setiap bulan ada, free sex dan hamil di luar nikah marak, mencontek saat ujian, dan masih banyak lagi.

Jika melihat semua yang terjadi, aku jadi berpikir, beginikah hasil didikan sekolah di Indonesia? Jika ini yang masih terjadi, aku jadi psimis dengan masa depan negeri ini. Tentu saja tidak semua, tapi sebagian besar begitu.

Kalau kata ayah ku, “Sekolah (kuliah) itu bukan untuk gaya-gayaan dan bukan (hanya) untuk mencari pekerjaan” nasihatnya sebelum meninggal,  “Menurut agama kita, tujuan utama kita sekolah (kuliah) adalah untuk menghilangkan kebodohan!”

Selain itu, ketika hendak melanjutkan kuliah ke Jawa dulu, aku menyampaikannya kepada ayah, “Kamu sudah hampir lulus dari SMA, terus mau ngelanjutin kuliah dimana?” tanya ayahku.

“Saya ingin kuliah di Jawa Yah!! Farmasi UI atau Teknik Kimia UGM!” dulu tak pernah terpikirkan akan masuk IPB. Kaki ku cacat, tentu tidak bisa jadi petani bukan? Bisa kuliah di pulau Jawa dan di kampus ternama adalah kebanggaan tersendiri bagi orang kampung seperti ku.

“Kalau kamu ingin kuliah di Jawa, kamu harus lulus tanpa tes (PMDK) kalau harus tes dan bayar, mendingan kuliah di Bengkulu saja!”

 

Begitulah, Ayah mendidik ku agar terus bekerja keras untuk meraih sesuatu. Tidak ada yang instan dan suap! Walau aku cacat, tidak ada perlakuan khusus untuk ku! Kini aku bangga memiliki ayah sepertinya, ayah nomor satu sedunia!!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI