Tags

, , , , , , , ,

 

Penulis : DYAH RINA

Senin pagi yang indah. Setelah hujan semalam, pagi ini matahari muncul dan menghangatkan seisi alam. Ditingkahi kicau burung dan tetesan sisa hujan dari genting dan dedaunan. Ayu tengah asik di dapur. Seperti biasa, bukan masak karena sudah selesai beberapa menit yang lalu. Juga bukan sarapan karena belum terlalu lapar, tapi main-main dengan Andro sambil nyruput secangkir semangat untuk Indonesia. Dia sedang membuka akun Fb bergantian dengan twitter untukcheck baby check 123, siapa tahu ada job yang disampaikan teman-temannya melalui sosial media. Tiba-tiba dari arah ruang tengah terdengar Murti berteriak memanggil namanya

 

“Yu…..Ayu! Sini cepet Yu…!”

“Ada apa to mbak..?!” tanya Ayu kalem sambil berjalan meninggalkan dapur. Sementara matanya masih asik melototin layar si Andro dan jemarinya masih menari-nari di atas layar sentuhnya.

“Cepetaaann..! Itu Lo, mas Rio masuk TV!”

Apa sedheng ta mbak? Wok sakmono gedhene kok dilebokne TV(Apa cukup to mbak? Wong segitu gedenya kok dimasukin TV)” Ayu tetep stel kalem meski tak urung dia sampai juga ke ruang tengah tempat Murti dan suaminya sedang menikmati berita pagi dari sebuah chanel TV lokal.

“Mana?” tanya Ayu setelah sampai di depan TV dan menghentikan aktifitasnya bersosial media.

“Itu. Itu Rio to, yang lagi diwawancara itu?” Murti menunjuk kea rah layar TV.

“Eh bener! Tapi dalam rangka apa mbak, kok sampai diwawancara?”

Lali pa piye(Lupa apa gimana)? Kan jadi Guru teladan ta nduk?” Ayu menepuk dahinya. Dia baru ingat kalau Rio baru saja mendapat gelar Guru Teladan tingkat Kabupaten. Akhirnya Ayu duduk manis menyimak wawancara Rio dan stasiun TV yang ternyata sudah sampai segmen ke dua.

“Mas Rio, sebagai penyandang diffable yang memiliki keterbatasan secara fisik, saya melihat anda sangat bersemangat. Bahkan lebih bersemngat dibandingakn mereka yang terlahir dengan kesempurnaan. Apa sih yang membuat anda sangat bersemangat?”

“Begini, dalam hidup, kita dihadapkan pada banyak sekali pilihan mulai kita bangun tidur hingga tidur kembali. Tapi ketika Allah menakdirkan saya cacat, itu bukan pilihan saya atau dengan kata lain saya tidak memilih. Karena tidak pernah ada orang yang mau terlahir dengan ketidak sempurnaan. Karena itulah, bagi saya, hidup bukan sekedar pilihan tapi juga kewajiban”

“Maksudnya?”

“Maksud saya, meskipun saya cacat, saya harus tetap berbuat sesuatu dan menjadi bermanfaat bagi orang lain. Intinya saya tidak boleh berpangku tangan. Meskipun barangkali jika itu saya lakukan, akan ada banyak permakluman. Misalnya orang akan berkata ‘oh maklum saja, dia kan cacat’ tau ‘rasanya wajar kalau tidak berkarya, dia kan cacat’. Tapi saya tidak mau seperti itu. Saya memilih untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk orang lain. Dan saya berharap, apa yang sudah saya lakukan bisa menginspirasi banyak orang terutama murid-murid saya, agar mereka lebih semangat lagi sekolahnya, seperti yang selama ini saya lihat. Mereka selalu tersenyum dan bersemangat ketika bersama saya”

“Nah, bicara soal semangat, siapa saja sih yang memberikan dukungan pada anda sehingga bisa begitu bersemangat melakukan banyak hal, mulai mengajar yang kadang merangkap kelas, bermain musik juga bersosialisasi dengan teman-teman anda?”

“Yang utama tentu orang tua dan keluarga, teman dan sahabat, juga semua siswa yang selalu penuh semangat itu. Karena, semangat seseorang itu menular lho mas. Kalau kita bertemu orang yang bersemangat, kita akan tertular semangatnya. Begitu juga sebaliknya jika bertemu orag yang mudah mengeluh, kita akan jadi pengeluh juga”

“Bagaimana dengan pendamping, maksud saya, istri?”

“Kalau pendamping, sampai saat ini terus terang memang belum ada. Kerena dalam kaca mata saya, hanya wanita hebat saja yang bersedia mengatakan ‘iya’ untuk ajakan menikah dari saya mas”

“Hebat yang seperti apa mas?”

“Yang saya maksud wanita hebat adalah yang hebat dalam menyikapi kehidupan ini, juga bijak dalam menilai setiap kejadian. Karena semua juga pasti bisa melihat secara kasat mata, bagaimana kondisi fisik saya. Berjalan saja saya tidak sempurna. Dan jika wanita tersebut terlalu mencintai dunia, tentu menerima saya ibarat mendapatkan musibah, risih , atau mungkin malu. Karena itu saya bilang, hanya wanita hebat yang mau menerima ajakan menikah dari saya”

“Tapi ngomong-ngmong sudah ketemu belom nih?”

“Hehehe…saat ini saya masih terus berusaha untuk memperbaiki diri saya mas. Karena laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya, perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik. Dan saat ini saya belum merasa menjadi laki-laki yang baik apalagi hebat. Karena buat saya, menjadi hebat itu baik, tapi merasa sudah hebat itu kehancuran. Mungkin juga, karena saya masih harus banyak memperbaiki diri itulah, kenapa Allah belum mempertemukan saya dengan wanita hebat itu”

Ayu tertegun mendengar jawaban Rio terutama soal pendamping hidup. Jawaban yang menurutnya sangat cerdas dan bijak. Dan di saat yang sama, ada rasa kagum yang diam-diam berubah arahnya, muncul di hati Ayu. Selama ini Ayu hanya sebatas kagum dan kagum saja. Tapi hari ini, rasa kagumnya mulai berubah menjadi rasa suka. Bukan hanya suka karena Rio teman yang menyenangkan, tapi rasa suka antara seorang wanita kepada lawan jenisnya. Tanpa disadari oleh Ayu, sedari tadi Murti dan Samsul memperhatikannya dan juga pipinya yang mendadak merah merona.

“Hayooo!!! Ngapa(kenapa) kok bengong?!” Murti tiba-tiba mengagetkan Ayu dengan tepukan di bahu.

“Hisss…ngapa ta mbak(kenapa sih mbak)? Ngganggu saja!”

“Ngganggu apanya? Mengganggu lamunan kamu tentang Rio? Sudah, ngaku saja! Kamu sudah mulai jatuh cintrong ta sama Rio?!” Murti terus saja meledek adiknya. Sementara Ayu hanya tersipu malu. Wajahnya makin memerah menahan malu.

“Kalau kamu suka sama Rio, itu hal wajar kok dik” Kali ini Samsul yang bicara. “Kamu perempuan single dan Rio juga sepertinya belum punya pasangan. Tadi pun dia tidak menyebutkan secara gamblang apakah sudah terikat pada seseorang atau belum. Iya kan?” Ayu cuma menganguk. Kakak iparnya ini selalu bisa mengucapkan kata-kata yang bijak dan menenangkan.

“Kalau kamu selama ini sudah sering memberi perhatian dengan sms atau telpon, mungkin tingal menunggu waktu saja buat Rio untuk nembak kamu ‘dorr!!’ Dan setelah itu di depan rumah ini akan ada kwade(pelaminan) untukmu bersanding dengannya. Tapi apa kamu siap jadi wanita hebat itu Yu?”

“Ndak tahu ya mas? Selama ini, meskipun kami terbilang dekat, belum pernah ada omongan apapun dari mas Rio yang menjurus ke arah sana. Semua masih datar-datar saja. Apalagi mas Rio itu sangat sopan dalam berbicara dan nggak clamitan. Tapi kalau memang berjodoh, Insya Allah aku siap mas. Mas Rio memang cacat. Tapi toh cuma sebelah kaki saja. Selebihnya dia sempurna” lagi-lagi Ayu tersipu malu. Tapi kemudian dia memupus harapannya sendiri.

“Sudah lah mas, mbak. Kita tunggu saja bagaimana nanti. Belum-belum kok sudah gede rasa. Kalau batal kan blaik(celaka). Ya wis lah. Aku mau sarapan dulu. Bareng Yuk!” Ayu mengajak kedua kakaknya srapan.

“Kamu duluan saja. Lagi pula, bikin nasi goreng cuma seporsi kok ngajak-ngajak makan. Nggak cukup. Aku sama mas Samsul mau jalan-jalan dulu ke pasar. Nitip apa?” Murti berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ayu mengikuti dan berhenti di pintu.

“Nitip serabi sama rujakan(bahan rujak) mbak. Tapi ndak usah pakai timun yo. Nih uangnya” Ayu mengulurkan selembar lima puluh ribuan dari kantong baju tidurnya. Tapi ditolak oleh Murti.

Mengko wae totalan mburi. Aku budal sik ya(nanti saja dihitung belakangan. Aku berangkat dulu ya). Assalamu’alaikum” Murti menggandeng suaminya dan melangkah keluar.

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya!” Ayu menutup pintu depan dan melangkah ke dapur. Di meja dapur sudah siap sepiring nasi goreng yang tadi dibuatnya sendiri.

Namu ternyata Ayu tidak segera memulai makannya. Di pikirannya masih bergelayut wawancara Rio dengan stasiun TV tadi.

“Hmmm…..Wanita harus jadi wanita hebat ya? Ok mas. Aku siap jadi wanita hebat itu mas Rio. Tinggal menunggumu beraksi saja. Tapi, mosok aku cuma diem-diem nunggu tanpa berbuat apapun? Tapi ya mau ngapain coba? Ah..embuh ah….melu apa kersane Gusti Allah wae lah. Yen pancen jodo ya Alhamdulillah, yen ora ya ihtiar maneh.. (gak tau ah. Ikut apa kehendak Allah saja lah. Kalau memang jodoh ya Alhamdulillah, kalau nggak ya ihtiar lagi)” Ayu tersenyum dan menggedikkan bahunya. Nasi goreng di meja itu sudah terlalu lama ditinggalkan. Sebelum bener-bener menjadi tidak enak, Ayu segera menghabiskannya tanpa sisa.

******

Hampir seminggu ini, lapangan depan rumah Ayu terlihat ramai. Lapangan yang merupakan pusat kegiatan warga itu nampak dipenuhi pedagang dan aneka wahana permainan. Yess! Di lapangan memang sedang digelar pasar malam. Hiburan rakyat yang cuma ada setahun sekali itu memang selalu dinanti warga yang haus hiburan. Apalagi, desa tempat tinggal Ayu juga merupakan ibu kota kecamatan. Jadi tidak heran jika setiap hari warga dari seluruh penjuru kecamatan datang berbondong-bondong untuk sekedar jalan-jalan atau berbelanja.

Bagi yang membawa anak-anak, biasanya akan mengajak mereka naik komidi putar, bianglala atau kereta mini keliling lapangan. Yang datang berdua pasangan, biasanya akan memilih berbelanja di stand pakain yang banyak digelar di pingir lapangan. Dan buat anak-anak muda yang datang bersama ganknya, mereka akan memilih menyaksikan pangung hiburan yang juga digelar di sisi lain lapangan, atau makan di warung tenda yang banyak dibuka di sekeliling lapangan. Pokoknya lapangan itu bener-bener menjadi magnet bagi seluruh warga.

Dan malam itu Ayu dan beberapa orang penyanyi sedang menghibur warga di panging hiburan. Tidak bersama Rio sebagai pengiring, tapi kali ini Ayu bersama Dadang partner lamanya. Sejak selepas Maghrib, Ayu sudah di atas panggung dan bernyanyi secara bergantian dengan teman-temannya. Beragam lagu pun sudah dia bawakan mulai yang mellow sampai yang up beat. Dari dangdut sampai Korea bahkan lagu India. Malam itu Ayu sangat enikmati penampilannya. Banyaknya penonton dan semangat mereka untuk terus bergoyang membuat Ayu dan teman-temannya ikut bersemangat untuk menghibur. Meski membuat rambut panjangnya acak-acakan tertiup angin malam, tapi tidak menyurutkan semangat Ayu dan teman-temannya untuk beryanyi dari hati.

Menjelang tengah malam, panggung pun usai. Ayu yang malam itu mengenakan jeans dan kemeja putih nampak berjalan sendiri menuju rumahnya. Tas yang berisi dompet dan Andro diselempangkan di bahunya. Sementara tangan kannanya menenteng tas kresek berisi sebungkus tahu petis yang masih hangat siap disantap. Ia tak perlu merasa khawatir terjadi sesuatu, karena hampir semua orang yang ada di lapangan itu dikenalnya dengan baik. Sehingga bila terjadi hal yang kurang menyenangkan, akan sagat mudah meminta pertolongan.

Beberapa meter dari pagar rumahnya, Ayu mendengar suara perempuan yang memanggilnya, tapi bukan kakaknya.

“Ayu…!” Ayu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara. Terlihat olehnya seorang gais berjilbab berjalan menuju arahnya.

“Siapa ya?” Ayu merasa belum kenal dengan gadis itu.

“Maaf kalau bikin kaget. Saya Anindhita Prameswari. Call me Dhita” Ayu sedikit mengernyitkan dahinya. ‘Pakai bahasa Inggris? Kok nggaya bener?’

“Ya mbak Dhita, ada apa ya mbak mencari saya malam-malam begini? Terus kok tahu saya dari siapa?” Ayu membuka pintu pagar dan mengajak Dhita duduk di kursi teras. Malam itu Murti ada di kota dan menginap di rumah suaminya. Ayu hanya sendiri. Jadi dia berfikir kalau tamu perempuan malem-melem gini ndak apa-apa.

“O Iya saya lupa bilang. Saya banyak dengar tentang kamu dari tunangan saya. Rio”

“Maksud mbak Dhita, Haryo Kusumo?” Dhita mengangguk dan tersenyum. Tapi entahlah mengapa Ayu menangkap kesombongan dalam senyum Dhita.

“Oh …maaf lho mbak, kalau selama ini saya sering sms mas Rio. Antara kami ndak ada apa-apa. Kami hanya saling menyemangati saja” Ayu merasa tidak enak pada gadis di depannya itu.

“Nggak apa-apa kok. Justru saya mau bilang terima kasih. Sms kamu ke Rio membuka mata saya, bahwa selama ini saya kurang perhatian sama semua aktivitasnya. Saya bahkan tidak pernah merasa cemburu sedikitpun melihat dia bernyanyi duet dengan siapapun termasuk sama kamu, meskipun saya melihat adachemistry diantara kalian saat bernyanyi. Dalam pikiran saya, Rio nggak mungkin berpaling dari saya. Lagipula, siapa sih yang mau sama Rio selain saya? Rio itu kan….” Dhita menggantung kalimatnya.

“Kenapa mbak? Karena mas Rio cacat?!” Dhita mengangguk pelan namun pasti.

“Maaf ya mbak. Mas Rio itu memang cacat, tapi cuma satu kakinya saja mbak. Selebihnya dia sempurna. Kami para penyanyi yang sering bekerja sama dengan dia selalu menjadikannya inspirasi dan panutan karena dia begitu bersemangat dan sangat bijak menyikapi kehidupan. Kami semua mengagumi mas Rio dan bahkan ada beberapa diantara kami yang menyukai mas Rio termasuk saya” Ayu terang-terangan tentang perasaannya. Dhita nampak terperanjat mengetahui bahwa ternyata Ayu pun menyukai Rio.

“Mbak Dhita, beberapa menit yang lalu saat saya tahu mbak adalah tunangan mas Rio, dalam hati saya merasa bersyukur bahwa akhirnya wanita hebat itu sudahditemukan mas Rio. Tapi mendengar omongan mbak barusan, ternyata mbak sama piciknya dengan orang-orang lain yang memandang sbelah mata pada penyandang cacat. Saya tidak bisa membayangkan betapa terlukanya hati mas Rio jika mendengar omongan mbak tadi”

“Satu lagi mbak. Mas Rio itu orang yang sangat baik. Jadi saya harap mbak Dhita benar-benar bisa menjaga perasaannya mas Rio. Kalau mbak Dhita tetap picik seperti ini, jangan salahkan jika suatu saat akan ada yang merebut mas Rio dari tangan mbak Dhita. Terutama saya”

Ayu merasa lega sudah memuntahkan isi hatinya. Apalagi melihat ekspresi Dhita yang terkaget-keget mendengar omongannya. Jujur saja dia merasa tidak terima jika orang yang diam-diam dia sayangi itu disakiti orang lain. Meskipun saat ini Ayu sendiri mersa sangat terluka. Tapi Ayu mencoba untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.

Tiba-tiba terdengar hape Dhita berbunyi.

“Assalamu’alaikum. Aku di teras rumah Ayu mas. Jemput ke sini ya!” Entah dengan siap dia bertelepon, tapi Ayu menduga itu pasti Rio. Dan dugaan itu terbukti. Tak lama kemudian Ayu melihat mobil Rio berhenti di depan rumahnya.

“Assalamu’alaikum!” Rio meyapa mereka dengan salam setelah turun dari mobil.

“Wa’alaikumsalam. Monggo mas, mbaknya ada disini” Ayu menjawab salam Rio dengan ramah meski sebenarnya hatinya sedang tidak menentu. Pemuda di hadapannya itu tidak mungkin dimilikinya lagi. Tapi ironisnya, wanita yang diangapnya hebat ternyata sama piciknya dengan kebanyakan orang.

“Kamu ini pergi kok ndak bilang? Desa ini kan asing buat kamu, Dhit. Untung cuma ke rumah mbak Ayu. Kalau kesasar gimana? Kan aku juga yang susah. Pulang yuk! Pak Dhe dan Bu Dhe nyariin kamu” Ayu menangkap perhatian yang luar biasa dari Rio kepada Dhita. ‘Beruntungnya kamu Dhita mendapatkan pria berbudi luhur seperti mas Rio. Jangan sampai kamu nyakitin dia. Aku ngak akan rela’ Ayu membatin

“Mbak Ayu…..mbak baik-baik aja?” Rio yang melihat Ayu cuma bengong mencoba menyapanya.

“Oh…ndak…ndak apa mas. Cuma kepikiran mbak Murti” Ayu menjawab asal saja.

“Lho, memangnya mbak Murti ke mana?”

“Lagi nginep di rumah mas Samsul, mas”

“Wah, kalau di sana ya ndak usah dipikirin mbak. Sudah ada yang urus..hehe…Ya sudah mbak, kami pulang dulu. Mbak Ayu hati-hati di rumah sendirian. Kalau ada apa-apa jangan sungkan nelpon saya”

“Terima kasih mas. Insya Allah nggak akan ada apa-apa. Mas sama mbak hati-hati di jalan”

“Iya mbak. Assalamu’alaikum” Rio mengucapkan salam dengan sangat sopan diikuti Dhita yang juga berpamitan pada Ayu dengan cara yang sangat berbeda.

“Ayo Yu! Aku pulang dulu ya. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Assalamu’alaikum”

“Iya mbak, mas..Wa’alaikumsalam”

Ayu memandangi sepasang kekasih itu hingga mereka menghilang dari padangannya yang semakin kabur karena air mata yang tak mampu lagi ditahan.

Setelah menutup pagar, Ayu segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Diletakkannya semua bawannya di atas meja rias. Kemudian diambilnya pembersih dan penyegar untuk membersihkan riasannya. Sambil membersihkan wajahnya dengan kapas, Ayu mencoba untuk mempercayai apa yang baru saja dia lihat dan dia dengar.

Rio sudah bertunangan dengan sorang gadis yang diangapnya wanita hebat karena mau menerima kekurangan Rio. Tapi di belakang Rio gadis itu sama piciknya dengan kebanyakan orang. Ayu merasa sangat tidak terima. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Meski mengutuk hingga semalam suntuk, atau membenci hingga mati pun tak akan mengubah apa yang sudah berlaku. Kenyataan yang harus diterima Ayu adalah Rio bukan bagian dari jalan takdirnya. Rio bukan untuknya. Meski barangkali rasa yang dimiliki Ayu lebih besar dibandingakan Dhita, tapi sekali lagi Rio sudah memilih Dhita dan itu kenyataan. Kenyataan yang bagi Ayu sangat menyakitkan.

Meski demikian, dalam tangisnya malam itu Ayu masih membingkiskan sebait doa untuk Rio.

 

“Semoga kamu bahagia mas Rio. Semoga Dhita benar-benar wanita hebat yang selama ini kamu tunggu-tunggu. Terima kasih sudah mengisi hari-hari sepiku. Seperti namamu Haryo Kusumo, kamu memang seperti bunga yang bermekaran di padang gersang hatiku mas. Namun seperti layaknya bunga, tak ada bunga yang bermekaran selamanya. Bunga hanya akan mekar sesuai waktu yang ditentukan, kemudian layu dan digantikan oleh bunga yang lain. Semoga hariku tetap indah meskipun tak bisa lagi menikmati  indah dan wangi bunga”

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI