Tags

Diceritakan ada seorang janda muda, cantik, dan kaya raya, sebut saja namanya Susi. Karena masih muda, kebutuhan biologisnya pun masih menggebu-gebu. Untuk memenuhinya, Susi sering sekali membawa lelaki ke rumahnya. Baginya yang kaya raya, mudah untuk melakukan hal itu.

Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Ia meninggalkan harta yang berlimpah kepada Susi. Selain harta, suaminya juga meninggalkan burung Beo maniak yang sering kali berujar tak senonoh dan tak sopan. Tapi Susi masih menjaganya, ia teringat wasiat suaminya, “Sayang, tolong jaga burung ini ya!

Suatu sore, Susi pulang dengan Honda Jazz merahnya. Ia pulang bersama lelaki hidung belang yang lumayan tampan dan macho. Lelaki ini menggandeng tangan Susi menuju rumahnya.

“Mas, silakan masuk. Ini rumah Susi, maaf ya agak sedikit berantakan”

“Nggak apa-apa sayang” Ujar lelaki itu sambil duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

“Mas.. tunggu ya, Susi buatin minum dulu..” Susi langsung masuk ke dapur, sedangkan lelaki itu duduk sambil memperhatikan sekeliling ruang tamunya. Ia menghentikan pandangannya ke sangkar burung Beo milik Susi.

Burung itu indah sekali, batinnya sambil mendekati sangkar si Beo.

“Om.. sudah lama ya kenal sama Bu Susi?” si beo bertanya.

“Belum.. baru kenal tadi siang di mal”

“Enak sekali ya si Om, baru kenal udah dikasih jatah. Saya aja yang udah bertahun-tahun disini belum pernah dapet jatah dari Bu Susi Om”

“?@!?!@?!?2!?!?” lelaki itu heran, Dasar Beo porno!! Lelaki itu kemudian kembali ke sofa dengan perasaan risih dan malu.

“Ini mas minumannya” suara Susi mengagetkan.

“Sayang, aku mau langsung pulang aja ya. Kapan-kapan aja kita ketemu lagi”

“Loh kok buru-buru amat mas?”

Si lelaki kemudian menceritakan semuanya. Susi marah dan menghukum si Beo dengan meletakkannya di luar rumah. Kini, setiap malam si Beo merasakan dingin yang luar biasa. Tapi hukuman ini tak membuat si Beo jera.

Suatu pagi, ada tukang jamu yang biasa keliling di kompleks rumah Susi. “Jaamuuuu.. jamuuuuuuuuu”

“Suuiiittt.. suuiiittt” si Beo menggoda, “Gila nih tukang jamu, bodinya bohay..”

Si tukang jamu mencari-cari sumber suara yang terkesan meremehkannya, “Siapa tuh yang berani kurang ajar!!”

“Mbak.. boleh dong kenalan??”

Oooo Beo itu rupanya yang kurang ajar!! Si tukang jamu mendatangi rumah Susi dan meminta agar Susi bisa mengajarkan kesopanan ke hewan peliharaannya itu. Susi malu dan meminta maaf.

“Dasar burung sialan! Kurang ya hukumannya?” dibawanya Beo ke belakang rumah dan dimasukkan ke dalam kandang ayam.

Malam hari, kandang ayam ribut bukan kepalang. “Rasain, suruh siapa kamu kurang ajar sama orang-orang!!”. Susi berpikir bahwa si Beo sekarang sedang dikeroyok oleh ayam yang badannya jelas lebih besar dari Beo.

Pagi-pagi sekali, Susi mendatangi kandang ayamnya, ia penasaran dengan kegaduhan tadi malam.

“Ya tuhaannn!!! Kenapa semua ayamku pingsan??”

“Biasa bu, saya perkosa semua tadi malam!! Hahaha, nikmat gila!!”

“Sialan!!” diambilnya si Beo dan dibawa ke samping rumah, kemudian digunduli. Kini si Beo tidak lagi terlihat indah. Bahkan terkadang ia malu melihat dirinya yang sekarang. Si Beo sedih!

Di kesempatan lain, Susi pulang ketika malam sudah larut. Seperti biasa, Susi bersama lelaki menggunakan mobilnya. Susi mengajak teman kencannya masuk.

“Duluan aja sayang, ada yang ketinggalan di mobil” ujar lelaki itu dan Susi pun masuk ke dalam rumah.

Setelah mengambil alat kontrasepsi di mobil, lelaki itu ke rumah Susi. Belum sempat masuk rumah, si Beo mengejutkannya, “Omm.. kok botak??”

Si lelaki tersenyum.

“Sama Om, saya juga Botak! Om kasus pemerkosaan juga ya??”

“?!?!?!@?!?!@?!?”