Tags

, , , , , , , , ,

Aku sudah lupa kapan tepatnya kejadian ini terjadi, yang aku ingat cuma  aku masih duduk di bangku SD saat itu. Karena aku lupa, anggap saja saat itu aku kelas 5. Berarti adik bungsu ku kelas 4. Usia kami memang berjarak 3 tahun, tapi kami hanya berjarak setahun di sekolah. Hal ini terjadi karena sekolah SD ku dulu jauh sekali (sekitar 7 km) dari perumahan tempat ayahku bekerja dan di tahun 90an daerah itu (pelosok Bengkulu) masih hutan belantara. Aku baru bisa masuk sekolah ketika berusia 8 tahun, saat ayahku mampu membeli sepeda motor untuk mengantar jemputku sekolah.

Kejadian itu terjadi di pagi hari, kami bermain gobag sodor di halaman belakang sekolah. Aku dan teman-teman asik bermain, sedangkan anak kelas bawah, kelas 1,2, dan 3, lebih banyak duduk diam menyaksikan kami, sesekali tertawa-tawa. Walau kaki kananku cacat, aku tetap ingin ikut dan bermain bersama teman-teman, mereka mengijinkan. Dengan bersusah payah, terseok-seok aku berlari semampuku. Tapi semua teman tidak menganggapku berbeda.

Saat itulah ada seorang bocah yang tiba-tiba berteriak, “Yeee… pincang!!! Pincang!!!”

Semua yang sedang asik bermain diam dan berhenti sejenak, kini semua mata tertuju kepadaku. Aku cuma tersenyum. Ya! aku memang pincang, terus kenapa?

Aku memutuskan berhenti bermain dan mendekati bocah itu, bukan mau marah, cuma mau duduk dan menasihatinya. Tapi sekali lagi, jalanku yang tak sempurna ini membuatnya mengolok-olokku lagi, “Yee.. pincang!! Pincang!!”

Entah dari mana datangnya, adikku yang sedang di kelas 4 langsung keluar melalui jendela kelas nya dan mendekati si bocah. Buuuukkk!! Sebuah bogem mentah bersarang di perut si anak kecil itu. Ia kesakitan dan menangis kesakitan.

“Awas kalau berani mengejek abang ku lagi!!” teriak adik bungsun ku.

“Kau kenapa sih Yud? Dia itu masih kecil, malah kau tinju begitu. Kalau terjadi apa-apa gimana?” bentakku ke adik ku.

“Biar dia tau rasa! Suruh siapa ngejek orang sembarangan!” ujar Yudi sambil berlalu.

Aku mendekati anak kecil itu dan menenangkannya, menyuruhnya diam. Kejadian itu, walau aku lupa tepatnya, tapi tak mungkin terlupa.

Sekarang, saat aku sudah dewasa dan mengabdi di pedalaman Kalimantan, keadaannya sudah berbeda. Jika ketika kecil dulu aku sering diolok-olok, sekarang justru kekaguman dari banyak orang silih berganti datang.

“Saya salut dengan bang Syaiha” ujar seseorang yang baru saya kenal beberapa hari yang lalu, “dengan kondisi cacat begini justru mau berbagi dengan orang lain” atau kalimat lain yang senada ketika selesai memberi pelatihan motivasi kemarin “Saya salut sama pak Syaiha, walau punya kekurangan, tapi bisa berprestasi!” bahkan hari ini, ketika selesai memberi ceramah agama di acara pengajian Kecamatan, seorang ibu mendatangi ku, “Ustadz, bisa minta no hapenya? Siapa tau nanti kami butuh pembicara, jadi bisa menghubungi bapak lagi. Ceramahnya bagus!” katanya sambil menyelipkan amplop k etas mungil ku.

Olok-olok ketika kecil dulu sudah jarang terdengar, paling cuma dari anak-anak kecil yang kadang saya temui di stasiun kereta, di pasar, di mal, atau di tempat-tempat ramai lainnya.

“Ma.. kok om itu jalannya pincang?”

“Huussh.. nggak boleh gitu ya sayang!” bisik mamanya tidak ingin aku tersinggung dan marah. Padahal, toh aku tidak pernah marah dengan pertanyaan anak-anak yang begitu, mereka memang masih dalam masa yang serba ingin tahu. Wajar saja mereka menanyakan hal itu, karena aku berbeda darinya.

“Tidak apa-apa bu” ujarku, “Sini sayang, Oom pincang karena waktu kecil nakal, terus om sakit dan disuntik. Makanya kaki om pincang. Nah kamu jangan nakal ya”

“Iya om..” dan aku tersenyum kepada anak itu.

Aku meminjam kalimat dokter yang mengamputasi tangan Gola Gong di RSCM, kalimat itu kabarnya keluar ketika Gola Gong akan meninggalkan RSCM setelah menginap di sana selama 3 bulan, “Kamu sudah boleh pulang dan harus siap kembali bermain bersama teman-temanmu. Cacat kamu ini akan menjadi olok-olok dan pujian di luar sana, nanti”. Bagi orang cacat, rumah sakit seperti penjaranya bagi narapidana. Ya, jika masih di rumah sakit, Gola Gong tidak akan pernah mendapat olok-olok sepertiku. Tapi di luar, who knows?? Pun narapidana, ketika di dalam penjara, ia tidak merasakan tekanan sosial dari orang lain, tapi ketika dia bebas, bisa dipastikan banyak gunjingan yang akan membuatnya tersiksa.

Masyarakat kita memang belum siap dengan perbedaan, jika ada yang berbeda maka dianggapnya aneh. Yang muncul kemudian adalah “Kok dia begitu sih?” bukan “Dia sama seperti kita cuma kakinya saja yang cacat karena polio”. Akibatnya diskriminasi sering terjadi, seperti Gola Gong yang tidak bisa menjadi guru karena tangannya buntung. Atau sepertiku yang dulu susah mendapatkan pekerjaan. Ah Indonesia!!

Olok-olok adalah dunia anak-anak, sudah tidak ada di dunia dewasa. Biasanya dulu waktu anak-anak, kita sering memanggil teman sesuai ciri yang ada pada dirinya, si pincang, si bongkok, si item, si buntung, dan sebagainya. Walau di dunia dewasa panggilan seperti itu sudah hampir tidak ada, namun olok-olok biasanya masih ada dalam versi berbeda, pandangan aneh dan meremehkan juga termasuk olok-olok.

Tapi mari kita lupakan saja olok-olok itu, hanya orang-orang berpikiran dangkal yang masih suka melakukannya. Toh bagi anda yang berpendidikan, seseorang itu dinilai dari karya nya, bukan dari kekurangannya bukan? Maka, selamat berkarya!!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.