Tags

, , , , , , , , , ,

Sore ini Bunga datang ke sekolah untuk minta diajarin Matematika, ia datang bersama adiknya. Sedangkan aku, Syahrul, dan Dandi sedang menikmati jeruk pemberian warga di sekolah ketika mereka datang. Sore ini menu utama bunga adalah Theorema Phytagoras. Pelajaran Matematika kelas dua SMP. Kalian ingat?

Tapi tulisan ini bukan membahas materi itu, bukan juga ingin membahas Matematika. Malam-malam begini, mending membahas yang lain saja bukan?

Awan mulai mendung ketika Bunga datang ke sekolah, padahal selepas shalat Jumat langit masih cerah dan terik. Tapi sekitar pukul 2 siang, angin dari utara membawa segerombolan awan bermuatan air ke Kota Bangun. Gerimis kecil-kecil mulai jatuh di bumi. Tapi Bunga makin asik dengan Phytagorasnya, masih belum ingin berhenti.

Ketika aku dan Bunga asik belajar, Syahrul dan adiknya Bunga berpura-pura membaca buku meminta perhatianku. Sedangkan Dandi berkeliling lapangan di depan sekolah menggunakan sepeda. berteriak-teriak menyanyi,

Dua tiga kapal berlayar di samudera, ayo sahabatku kita bergembira, bermain bernyanyi bersama menikmati indahnya dunia.. Karena sahabat.. untuk selamanya, bersama.. untuk selamanya, kau dan aku sahabat, untuk selamanya.. setia..

Kami yang berada di dalam perpustakaan tertawa terbahak-bahak mendengar Dandi bernyanyi tak karuan. Tempo dan iramanya berantakan. Tapi mampu menghibur kami, kocak.

Dandi membuat lintasan menggunakan kulit batang sagu di tengah lapangan. Ditumpuk-tumpuk menjadi tanjakan, kemudian ia ngebut dan wusss, sepedanya lompat. Mengasikkan sekali. tapi entahlah mengapa tiba-tiba, gubrakkk!!! Dandi terjatuh. Bukannya kesakitan, ia malah tertawa. Kami pun akhirnya ikut tertawa.

Tepat ketika waktu shalat Ashar masuk, Bunga mengakhiri belajarnya. Ia dan adiknya pulang, sedangkan aku, Syahrul, dan Dandi langsung melaksanakan shalat Ashar bersama.

Hujan semakin lebat ketika kami selesai melakukan shalat Ashar, tapi justru membuat Dandi dan Syahrul girang. Mereka berlari ke lapangan, bermain bola. Sedangkan aku memilih diam di dalam perpustakaan, karena sedikit saja kepala ku basah karena air hujan, bisa dipastikan malamnya hidung ku akan bermasalah, meler dan mampet.

Dari kaca jendela lah ku perhatikan Dandi, Syahrul, dan teman-temannya asik bermain bola di bawah guyuran hujan.

Selepas Maghrib aku menikmati secangkir kopi di masjid bersama Abduh, dinginnya udara karena hujan membuat secangkir kopi hangat semakin nikmat. Sedangkan anak-anak, berlarian kesana kemari, bermain Zombie.

Salah seorang dianggap meninggal, kemudian ditidurkan terlentang, ditutupi seluruh tubuhnya dengan sajadah, sedangkan yang lain sembunyi. Ketika ada yang berkata “Sudah..!!!”, barulah si mayat bangkit, berjalan dan mengeluarkan suara menyeramkan bak hantu-hantu di TV serta mencari teman yang lain. Permainan ini sebenarnya hanya modifikasi dari permainan petak umpet.

Lagi-lagi aku terperangah kagum melihat semangat dan keceriaan mereka. Padahal cuma bermain sesederhana itu, tapi mereka mampu tertawa riang sekali.

Kejadian ini membawa ingatanku kembali ke masa kecil, sekitar 15-20 tahun silam, ketika aku masih seusia mereka. Ya! terkadang aku memang rindu dengan masa-masa itu. Masih ingat sekali dalam ingatanku, cerianya bermain gobak sodor, patok lele, kelereng, kasti, pecah piring, dan sebagainya. Apalagi jika lampu padam, aku dan teman-teman akan membuat api unggun menggunakan berondolan sawit yang sudah kering. Kemudian duduk melingkar dan bercengkerama. Ah, aku benar-benar merindukannya.

Ya, aku serius! Aku memang merindukan masa itu, atau lebih tepatnya aku rindu dengan permainan itu. setidaknya ingin sekali melihat anak-anak bermain sepertiku dulu. Sayangnya, anak-anak sekarang sudah asik dengan permainan masa kini. Mereka tidak lagi bergerak kesana-kemari dan jarang berkejar-kejaran satu sama lain. Bermainnya anak-anak jaman sekarang adalah duduk tenang di depan komputer, menikmati game online yang keras. Atau memelototi TV sambil menggerakkan jemarinya, bermain play station. Permainan tradisional yang memanfaatkan kearifan lokal sudah mulai raib.

Untungnya di Kota Bangun, beberapa permainan masih sering ku jumpai. Anak-anak disini masih belum mengenal game online atau permainan lain yang sejenis. Paling tidak melihat mereka bermain, sedikit banyak bisa mengobati kerinduan ini.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.