Tags

, , , , , , , , , ,

Penulis : DYAH RINA

Hampir pukul delapan malam saat Rio sampai di tempat kosnya. Rasa penatnya luar biasa. Sebenarnya kalau hanya main electone sampai berjam-jam bukan masalah buat Rio. Tapi yang justru bikin capek adalah menunggu teman kosnya, Ilham yang jadi panitia. Ternyata usai acara harus dievaluasi dulu sama pak Bupati. Yah meskipun akhirnya dapet bonus, tapi yang kebagian nunggu itu yang pegel.

Setelah memarkir mobilnya di garasi, Rio segera menuju ke kamarnya. Saat melintasi teras bersama Ilham, ia langsung diberondong pertanyaan oleh kawan-kawan kosnya yang lain.

“Kok malem bener mas?” Sandi penghuni kos termuda menanyainya. Mau tak mau Rio duduk sebentar mengobrol dengan mereka. Tidak enak saja ngobrol sambil berdiri.

“Iya. Nunggu si Ilham. Dia kan orang pemkab dan kebetulan jadi panitia. Sehabis acara tadi ada evaluasi sama pak Bupati. Makanya lama baru pulang. Mau tak tinggal kasihan, dia nggak ada kendaraan”

“Oh, Mas Ilham panitia? Pantesan dari pagi udah ngilang. Tapi acaranya sendiri tadi sampai jam berapa mas?” kali ini Dennis yang bertanya.

“Kalau acaranya sendiri sih jam lima-an sudah selsai. Tapi maklum aja lah. Namanya juga andhahan(bawahan) jadi musti manut(menurut) sama pimpinan. Kalau pimpinan ngajak evaluasi sampai malem kan nggak bisa nolak juga. Apalagi habis dievaluasi dapet bonus, tambah ndak bisa nolak”

“Ya sudah mas, kalau capek istirahat dulu sana. Apalagi dari tadi kok aku nyium bau-bau apaaa…gitu. Hahaha…!” Sandi menggoda Rio.

“Iya…iya. Bau belum mandi! Ya udah aku mandi dulu ya. Terus abis itu mau langsung tidur. Ngantuk banget. Ntar kalau ada yang nyari aku, bilang aja aku lagi tidur. Kalau maksa mau ketemu juga, suruh masuk ke mimpi ku aja. Ngobrol di sana, ok?” Rio tersenyum karena membayangkan adegan dalam film Spongebob, dimana Spongebob dengan jahilnya masuk ke mimpi semua penduduk Bikini Bottom.

“Mas…mas…emangnya Spongebob? Ya wis, antar kalau ada tamu aku bilangin. Met istirahat mas…”

“Yoi….!” Rio menjawab sambil melangkah masuk ke kamarnya. Sementara Sandi dan Dennis melanjutkan obrolan mereka yang terputus karena kedatangan Rio dan Ilham.

Setelah meletakkan semua peralatan manggungnya, Rio begegas melangkah ke kamar mandi. Tak lupa baju ganti dan sarung dibawanya serta. Segarnya air yang menyiram tubuhnya membuatnya sedikit lebih rileks. Setelah mandi dan mengambil air wudhu, Rio pun menunaikan sholatnya dengan khusyuk. Sebagai seorang hamba, rasanya wajib baginya untuk selalu bersyukur atas apapun nikmat yang sudah dikecapnya di dunia fana ini.

Setelah mengakhiri sholat dan doanya, Rio pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidak lupa mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu lima watt berwarna hijau, juga mengatur hapenya dengan mode silent. Dia benar benar tidak ingin diganggu.

Tapi ternyata matanya tak kunjung terpejam. Entah sudah berapa lama dia berbaring dan berulang kali mengganti posisi tidurnya. Tak terhitung juga berapa kali dia menguap. Matanya pun sudah semakin pedas dan berair. Tapi ia tak lelap juga. Tiba-tiba hapenya bergetar. Setelah dilihat ternyata ada pesan dari Ayu.

Assalamu’alaikum. Sudah sampai rumah mas? Sudah makan belum? Kalau belum disini ada capcay. kersa(mau)?’ Rio tersenyum dan membalas sms Ayu.

“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sudah sampai rumah. tapi sudah mau tidur. capek banget. makasih Capcaynya. Lain kali saja’ Tak lama hapenya bergetar lagi.

‘Waduh, maaf mas kalau mengganggu. Kalau begitu selamat istirahat. jangan lupa besok bangun pagi’

‘Bangun pagi untuk apa mbak?’ Ayu tersenyum karena merasa dapat pertanyaan yang polos banget.

‘Apa ndak mau sholat Subuh to? Kalau bangunnya kesiangan bisa kliwat(terlewat) Subuhnya. perlu dibangunkan?’ Rio tertawa tertahan. Merasa geli bahwa ternyata baru saja mengajukan pertanyaan bodoh.

‘Astaghfirullah hal adziim… iya ya, betul juga. Boleh saja kalau ndak merepotkan’

‘Pakai miscall atau sms mas?’

‘Terserah mbak saja. Yang penting ndak merepotkan. Terima kasih sebelumnya’

‘Ya sudah besok saya miscall saja. Insya Allah ndak merepotkan. Semoga saya bisa bangun pagi. Mest istirahat mas. Have a great dream’ Ayu terkejut dengan apa yang baru ditulisnya. Have a great dream? ‘We lha kok lancang temen ya aku ini(we lha kok lancang bener ya aku ini)?’ Ayu membatin. Tapi terlanjur dikirim, mau apa lagi?

Sementara Rio sendiri juga merasa heran dengan ‘Have a great dream’ yang ditulis Ayu. Meski demikian, Rio membalas dengan kalimat yang sama.

‘Have a great dream to, mbak..’

Di kamarnya Ayu tersenyum membaca sms dari Rio. Ayu merasakan malamnya lebih gemerlap. Sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya. Tapi kemudian matanya tertumpu pada foto Bayu yang ada di dompetnya yang tidak sengaja terbuka.

“Seandainya saja kamu yang kirim sms, aku pasti lebih seneng lagi mas. Sayangnya dia orang lain” air mata Ayu kembali menetes. Namun tak seperti biasanya, kali ini Ayu tak membiarkan dirinya larut dalam kenangan Bayu. Dihapusnya air matanya. Segera dimatikan lampu kamarnya dan memejamkan mata. Ia ingin tidur cepat. Selain lelah karena manggung siang tadi, dia juga sudah berjanji untuk membangunkan Rio esok pagi.

Di tempat yang berbeda, Rio pun serupa dengan Ayu. Ada setitik bahagia saat mendapatkan perhatian dari seorang Ayu yang belum lama dikenalnya. Meski demikian, di satu sisi hati Rio yang lain, ada keresahan yang hadir malam itu. Dan pikirannya melayang pada sosok seorang gadis yang selama ini mengisi hatinya. Seorang gadis yang diangapnya sebagai wanita hebat karena bersedia menerima Rio yang cacat apa adanya. Meski faktanya, sang gadis impian ini sedikit cuek dengan aktivitas Rio, tapi baginya, menerimanya saja sudah luar biasa.

“Kamu sedang apa cah ayu? Harusnya kamu yang nyemangati aku di saat seperti ini. Tapi kenapa justru aku dapatkan dari wanita lain? Kalau saja kamu tahu Dhita, aku lebih suka kalau kamu yang kirim sms-sms tadi. Bukan Ayu Kusumawati yang baru kukenal”

Rio menghela nafasnya. Sesak. Ada gundah dalam hatinya. Jujur saja, Ayu mulai mengusik setianya. Mereka memang jarang bicara, tapi Rio bisa melihat bahwa Ayu perempuan baik dan nggak macem-macem. Disamping bakat yang dimilikinya, Ayu juga seorang yang rendah hati dan pandai bergaul. Dia juga tipe orang yangsendika dhawuh(penurut). Karena selama bekerja sama dengan Ayu, Rio lebih sering melihat Ayu menurut saja pada apa yang dikatakan Rio. Misalnya harus nyanyi lagu apa, atau sebuah lagu harus dinyanyikan seperti apa, Ayu selalu menurut. Kalau pun ada beda pendapat Ayu akan menyampaikannya dengan sangat santun dan selalu didahului dengan kalimat ‘nyuwun ngapunten mas, kados pundi upami(maaf mas, bagaimana kalau)’

Mungkin akan bahagia jika memiliki pendamping yang penurut seperti ini. Tapi sayangnya, Rio sudah menambatkan perahu hatinya pada Anindhita Prameswari. Tapi malam ini Rio tak ingin ambil pusing soal siapa yang memberinya semangat. Mau Dhita atau Ayu, semua bukan masalah besar. Rio hanya ingin merasakan malamnya yang penuh warna. Ibarat baju, bukan lagi hitam, putih atau abu-abu, tapi lebih ke bunga-bunga warna warni, atau kotak-kotak merah hitam biru macam baju Jokowi dan Ahok.

******

Ayu terbangun dari tidurnya sebelum alarm berbunyi. Tadi malam Ayu sudah atur alarm hapenya untuk ‘bernyanyi’ jam setengah tiga. Tapi ternyata dia sudah bangun sepuluh menit lebih awal. Meski masih malas dan ngantuk, Ayu tetap bangun dan segera merapikan tempat tidurnya.

Setelah semua rapi, dia melangkah ke dapur. Diambilnya semangkuk capcay yang sengaja disisihkan tadi malam dari dalam kulkas dan dihangatkan. Ayu juga membuat telur mata sapi dan sambal kecap super pedas. Tidak lupa segelas teh hangat disiapkannya dini hari itu. Ayu bukannya sedang kelaparan di pagi buta, tapi sedang menyiapkan makan sahurnya. Hari itu dia ingin puasa Senin Kamis. Sebuah kebiasaan baik yang sudah lama ditinggalkannya dan ingin dimulai kembali. Entahlah, Ayu seperti mendapatkan suntikan semangat baru untuk melakukan hal baik.

Setelah menu sahurnya siap, Ayu melangkah ke kamar mandi. Menggosok gigi, cuci muka dan mengambil wudhu kemudian sholat malam. Ayu merasakan pagi itu hatinya terasa ringan tanpa beban. Pikiran tentang Bayu memang masih bersarang, tapi tak lagi mengganggu. Ayu memilih untuk kembali memasrahkan semua perkara pada Sang Maha Penentu dan Maha Adil.

“Ya Allah….kuserahkan semua perkara ini kepadamu. Jodoh dan rizkiku semua bergantung padamu. Ajari aku untuk selalu ikhlas dan sabar. Serta selalu bersyukur atas apa yang kau berikan. Yang nampak indah di pandangan, maupun yang buruk menurut padanganku. Karena sesungguhnya Engkau lebih tau yang terbaik untukku. Jadikan aku hambamu yang selalu sabar, ikhlas dan bersukur Ya Allah. Amiin Ya Robbal Alamiin”

Dini hari itu tidak ada air mata tertumpah. Ayu berdoa dengan hati penuh senyum. Dan makan sahurnya pun juga terasa begitu nikmat. Sambil menonton TV, dinimatinya suap demi suap makan sahurnya. Bahkan sampai makanan di piringnya habis pun, Ayu masih tetap di tempatnya, menikmati film dari channel HBO yang ditontonnya. Kebetulan filmnya dibintangi actor favoritnya, Matt Dammon. Makin betah saja Ayu menikmati setiap acting Matt Dammon dalam film Bourne Supremacy pagi itu.

Hingga akhirnya Ayu seperti teringat sesuatu.

“Astagfirullah hal adzim….jam berapa ini ya?” Ayu melihat jam di dinding.

“Alhamdulillah baru jam setengah empat lebih dikit. Subuh masih dua puluh menit lagi. Ntar aja mbangunin mas Rionya pas udah tarhim aja” Ayu kembali menikmati tayangan di TV. Rasanya sayang kalau acting si ganteng itu tidak dinikmati sampai tuntas.

Namun tak urung Ayu harus menghentikan acara nontonnya, ketika mendengar suara tarhim dari corong mushola dekat rumah Samsul. Dimatikannya TV dan kembali ke kamarnya setelah meletakkan pring dan gelas bekas makan sahurnya di dapur. Sampai di kamar, diambilnya Andro dan dibawanya berbaring di kasur. Kemudian dicarinya nomor hape Rio, dan setelah ketemu Ayu melakukan panggilan yang segera dimatikan setelah tersambung.

Merasa belum cukup, Ayu masih menambah dengan satu pesan singkat.‘Assalamu’alaikum. Saya menepati janji untuk membangunkan. Sudah hampir Subuh. Kalau bisa cepet bangun dan sholat sunnah dulu’

Tak lama Andro berbunyi. Pesan dari Rio. ‘Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sdah bangun dari tadi, sholat malam sekalian makan sahur mau puasa senin kamis. Mbak lagi ngapain?’

‘Saya juga baru selesai sahur sambil nonton TV tapi sudah saya matikan lagi. Kok bisa kompak ya mas? Saya juga mau puasa senin kamis. Sudah lama saya tingalkan. Pengen mulai lagi’

Alhamdulillah kalau mulai lagi. Semoga puasanya hari ini nggak ada halangan dan diterima Allah. Amiin’ Tak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang dari mushola. Segera Ayu membalas pesan Rio karena ingin segera sholat terus tidur lagi.

“Amiin. Sama-sama mas. Sudah Adzan. Saya mau sholat dulu. Assalamu’alaikum’

‘Wa’alaikumsalam. Silakan mbak, saya juga mau sholat’ Di dua tempat yang berlainan, keduanya tersenyum penuh arti. Seakan tak peduli lagi apa makna setia yang pernah mereka miliki. Rio sedang tak ingin memikirkan Dhita yang super cuek, dan Ayu sedang ingin mengabaikan Bayu barang sesaat. Mereka hanya ingin menikmati setitik bahagia yang mereka rasakan pagi itu. Bahagia yang datang bersama kehangatan yang tiba-tiba ada diantara mereka.

Sementara itu, ribuan kilometer dari tempat Rio dan Ayu berada, Bayu baru saja menyelesaikan Sholat Subuhnya. Zona waktu yang berbeda membuatnya selesai lebih dulu. Dan seperti waktu-waktu yang terlewat, Subuh Bayu selalu penuh air mata. Terlebih jika melihat Anjani buah hatinya yang masih tertidur lelap.

Dihampirinya Anjani dan dibelainya rambut bocah mungil itu dengan lembut. Selalu seperti ini. Setiap melihat bocah dua tahun itu, Bayu selalu teringat mendiang istrinya, Aisha. Aisha meninggal tepat di saat Adzan Subuh berkumandang beberapa jam setelah melahirkan Anjani. Desa terpencil dan jauh dari tenaga medis membuat Aisha tak terselamatkan setelah kehilangan banyak darah dan tenaga saat berjuang melahirkan putrinya. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Aisha meninggal di pangkuan Bayu.

Bayu terisak. Dipandangnya foto Aisha yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Bayu tidak pernah bisa membohongi nuraninya bahwa dia merasa bersalah pada Ayu yang telah ditinggalkannya tanpa kabar berita. Tapi dia juga tidak bisa mengelak, dia sangat menyayangi Aisha, perempuan yang telah menukar nyawanya demi putrinya, buah cinta mereka berdua.

Bayu mengenal Aisha saat melaksanakan pengabdiannya di desa tempat tinggal Aisha, di pedalaman Kalimantan Barat. Saat itu, Bayu melihat Aisha berbeda dengan teman-teman sekampungnya. Aisha terlihat sangat haus ilmu pengetahuan dan punya semangat belajar yang tinggi. Meskipun usianya sudah lebih dari 18 tahun saat itu, Aisha tidak malu-malu mempelajari apapun yang tidak didapatnya dari bangku sekolah, karena memang hanya sekolah sampai kelas enam SD.

Bayu yang saat itu bertugas sebagai guru SD di kampung itu, menangkap semangat yang dimiliki Aisha dan meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk mengajarkan banyak ilmu termasuk menulis. Dan ternyata, Aisha punya bakat sebagai penulis. Imajinya sangat tinggi dan pandai merangkai kata. Jujur saja, Bayu yang sarjana saja tidak punya kemampuan menulis sepeti Aisha meski dia juga suka menulis. Karena itulah, setaun berada di desa itu, mampu membuat Bayu jatuh hati pada Aisha dan sejenak melupakan Ayu.

Di akhir pengabdiannya, Bayu memutuskan untuk menetap dan menikahi Aisha. Meski demikian, Bayu tak pernah benar-benar menyingkirkan Ayu dari benaknya. Foto Ayu selalu ada di dompetnya. Hingga suatu hari, Aisha melihat foto itu saat Bayu menyuruhnya mengambil uang dari dompet itu.

Aisha tidak tahu harus berkata apa saat melihat paras cantik Ayu. Tapi Aisha bukan tipe perempuan yang gampang meledak. Meski didera cemburu karena suaminya menyimpan foto perempuan lain, Aisha memilih untuk bertanya secara baik-baik pada Bayu.

“Ini foto siapa kak? Adiknya kak Bayu? Kok aku belum pernah ketemu? Pas kita menikah juga cuma bapak dan ibu yang datang..” Aisha menunjukkan foto yang ada di dalam dompet Bayu tanpa mengambilnya. Aisha merasa tidak berhak mengutak-atik barang-barang suaminya.

Bayu hanya terdiam karena terlalu kaget. Dia tak menyangka Aisha akhirnya melihat foto yang menurutnya sudah disimpan dengan rapi itu.

“Aisha, duduk sini deket kakak. Kakak mau bicara sama Aisha” Bayu meminta Aisha duduk di sebelahnya. Aisha menurut dan duduk di sisi kiri Bayu yang segera melingkarkan lengannya di bahu Aisha.

“Aish…..kakak minta maaf sama Aish karena kakak sudah tidak jujur pada Aish. Sewaktu dulu kakak berangkat ke desa ini, kakak tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Ayu namanya, yang fotonya ada di dompet kakak itu. Saat itu, tidak pernah ada kata putus yang kakak ucapkan padanya. Kakak justru memintnya menunggu sampai kakak kembali” Bayu diam sesaat sambil melihat wajah istrinya. Aisha hanya diam tanpa ekspresi apapun.

“Kemudian kakak ketemu kamu di sini. Kakak melihat kamu berbeda dengan teman-teman kamu yang lain. Kamu punya semangat yang luar biasa untuk maju dan memajukan desa ini. Awalnya kakak hanya simpati, tapi kemudian kakak merasa, kamulah yang lebih pantas mendampingi kakak untuk mengabdi disini. Ayu punya pekerjaan sendiri yang mungkin tidak akan pernah rela untuk dia tinggalkan. Sementara kamu, kamu warga asli daerah ini. Jadi kamu tidak akan pernah ke manapun. Kamu akan tetap menemahi hari-hari kakak di desa ini”

Aisha menyimak semua penuturan Bayu. Dia berusaha untuk memaklumi mengapa suaminya melakukan itu.

“Tapi kak, apa kakak member tahu Ayu waktu kakak akan menikah dengan Aish?” Bayu hanya menggeleng.

“Kakak tidak tega memberitahunya. Kakak tidak ingin menyakitinya meskipun sebenarnya saat itu kakak seang melakukanya”

“Kasihan Ayu kak. Bukan tidak mungkin dia masih menunggu kakak sampai saat ini”

Kembali Bayu hanya terdiam. Dia tidak menyangka, setelah mendengar cerita masa lalunya, Aisha sama sekali tidak marah atau cemburu pada Ayu tapi justru bersimpati padanya.

“Bisa jadi begitu. Tapi kakak tidak pernah tega untuk memberi tahunya. Berulang kali kakak mencoba untuk menelponya tapi kakak urungkan. Kakak terlalu pengecut” Bayu melepaskan rangkulannya dari bahu Aisha dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Kak Bayu, kalau ada waktu tidak ada salahnya mencoba lagi menelpon Ayu. Beritahukan yang sebenarnya agar dia bisa segera mencari pengganti kakak. Jangan menggantungnya terlalu lama kak” Aisha membelai lembut kepala Bayu. Dan kelembutan Aisha lah yang membuat Bayu merasa nyaman bersamanya.

“Baik Aish. Insya Allah lain kali aku akan coba telpon dialagi. Tapi sekali lagi, maafkan kakak ya Aish” Bayu memeluk istrinya erat.

“Iya kak. Aish sudah maafkan. Yang penting kan sekarang kakak disini bersama Aish. Itu sudah lebih dari cukup”

Bayu bisa merasakan ketulusan seorang Aisha. Tak ada cemburu, tak ada amarah dan kenyataan inilah yang membuat Bayu makin menyayangi Aisha. Apalagi saat itu Aisha sedang hamil anak mereka. Semakin besar perhatian yang diberikan Bayu padanya.

Meski demikain, janji untuk menelpon Ayu tak pernah dia tunaikan hingga menjelang ajalnya, kembali Aisha mengingatkannya.

“Kak Bayu, Aish tahu, kakak tidak pernah menghubungi Ayu kan? Tapi Aish mohon kak, setelah ini, kakak kembali padanya ya kak? Aish ingin pergi dengan bahagia karena melihat kakak bahagia bersama Ayu”

“Sst….Aish. jangan banyak bicara dulu. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Kalau kamu sudah sehat, kita bicarakan lagi hal ini, ya?”

“Tidak kak. Waktu Aish tidak banyak. ‘Tamu terakhir’ Aish sudah datang. Berjanjilah kak, kakak akan membesarkan anak kita bersama Ayu. Aish percaya, dia perempuan baik dan penyayang. Janji ya kak?”

Bayu tidak mampu lagi berkata. Saat itu yang dilakukannya hanya memeluk istrinya erat. Dan ketika nafas Aisha makin melemah, Bayu dengan sekuat tenaga membimbing istrinya mengucapkan kalimat syahadat. Dan setelahnya, tepat saat adzan Subuh berkumandang, Aisha pun meninggal dengan tenang dan wajahnya tersungging senyum.

Bayu menangis. Bayu menjerit dan meraung. Dia tidak rela kehilangan orang yang sangat berarti baginya. Perempuan yang sudah membantunya berjuang untuk memajukan desa tempatnya mengabdi. Perempuan tempatnya bercerita apa saja, yang selalu memanjakannya dengan kasih dan kelembutannya dan yang dengan rela memaafkannya setelah melakukan kesalahan yang menurut Bayu sangat besar sebagai seorang suami. Menitipkan sebagian hatinya pada wanita lain.

Dan sejak saat itu, tak pernah sekalipun Bayu melalui Subuhnya tanpa air mata. Air mata yang selalu mengalir, terlebih saat melihat Anjani putrinya. Wajah Anjani yang sangat mirip dengan Aisha membuatnya selalu teringat peristiwa itu. meski sudah dua tahun berselang, tak juga Bayu tunaikan amanah Aisha untuk kembali pada Ayu. Dia belum ingin melupakan Aisha yang sangat dicintainya dan dia juga belum ingin menggantikan Aisha dengan wanita lain, meski Ayu sekalipun.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI