Tags

, , , , , , ,

Pagi ini setelah selesai menghadiri sya’banan di rumah Bu Linda, aku dan Purniadi, berdiskusi tentang banyak hal seputar pendidikan di sekolah, asik sekali. Awalnya berkisar seputar Penelitian Tindakan Kelas (PTK), tapi lama kelamaan bergeser kesana-kemari tidak tentu arahnya. Tapi kami tetap saja asik berdiskusi hingga hampir satu jam lebih.

Diskusi kami terhenti ketika datang Bu Mulida dan anaknya ke sekolah mengantarkan makan siang untukku (Alhamdulillah selama di Kota Bangun, selalu saja ada warga yang berbaik hati memberikan sebagian makanannya kepadaku). Kami yang semula duduk di dalam perpustakaan sekolah terpaksa keluar dan menemani Bu Mulida tersebut di teras. Kan tidak enak kalau sudah mengantarkan makanan langsung diusir pulang.

Kami tidak lama mengobrol dengan Bu Mulida. Namun setelah kepergiannya, aku dan Purniadi tidak lagi melanjutkan diskusi, tapi lebih asik duduk di teras dan menghibur diri dengan bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi hingga hujan deras menghentikan kami.

Kami masuk ke dalam perpustakaan sekolah lagi dan melakukan shalat Zhuhur. Setelah shalat zhuhur Purniadi beristirahat sedangkan aku memilih untuk membaca buku. Bagiku yang berkeinginan untuk menjadi penulis dan ingin ada karya ku yang diterbitkan menjadi buku, maka membaca adalah amunisi terbaik untuk berperang kembali merangkai kata dalam setiap lembaran kertas nanti.

Kujatuhkan pilihan ku pada buku karya Gola Gong yang berjudul Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku.

Sebuah kebetulan, ternyata Gola Gong juga penderita cacat sepertiku. Jika aku cacat di kaki kanan, lumpuh dan kecil karena polio, Gola Gong adalah pria berlengan satu, tangan kirinya diamputasi karena jatuh. Aku iri dengan nya, bagaimana bisa Gola Gong yang hanya bertangan satu mampu menulis beberapa Novel dan buku, tapi aku yang bisa menggunakan dua tangan masih belum bisa menghasilkan karyaku sendiri.

Inti bukunya ini sebenarnya ada dua, Rajin Membaca dan Rajin Menulis. Dua hal ini, membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Rajin atau tidaknya penulis itu membaca buku, bisa dilihat dari tulisannya. Maka benarlah kata Jala Dara, “Rajinlah menulis, menulis apa saja.. dengan tulisan mu itulah kemudian nanti orang akan menilai apakah kamu orang yang rajin membaca atau miskin membaca. Biarlah tulisanmu yang bicara”

Satu hal yang mengejutkan ku dalam buku Gola Gong adalah bahwa sastrawan sekelas Taufiq Ismail pernah melakukan penelitian di 13 negara mengenai budaya baca masyarakatnya. Hasilnya mencengangkan, SMA-SMA di Singapore menugasi anak didiknya untuk membaca Novel 6 judul, Brunei 7 judul, Thailand 5 judul, Jepang 15 judul, Jerman 22 judul, USA 32 judul, Kanada 13 Judul, Prancis 20 judul, dan Belanda 30 judul. Bandingkan dengan Indonesia, 0 judul!! Sayang di buku ini tidak disebutkan itu per bulan, per tahun, atau mungkin per minggu!

Selain itu, di Jepang (menurut buku ini) semua warganya rajin menulis setiap hari. Bahkan menulis yang dianggap remeh oleh orang lain, semisal tips membersihkan rumah, resep masakan ibu-ibu rumah tangga, pengalaman yang dialami setiap hari, dan sebagainya. Makanya buku yang terbit setiap tahunnya di Jepang sungguh mencengangkan, 65.000 judul buku pertahun!! Indonesia? Ah aku tak tahu..

Andai di Indonesia juga melakukan hal yang sama, tukang siomay menulis bagaimana membuat siomay yang baik dan cara memasarkannya, tukang becak menulis tentang kesehariaannya, ibu rumah tangga menulis bagaimana mendidik anak-anaknya, ayah menulis tentang kerja kerasnya mencari nafkah, maka generasi cerdas dan kritis yang kita harapkan, akan terlahir beberapa tahun ke depan.

Membaca buku nya Gola Gong juga mengingatkan saya kepada Jala Dara, seorang TKW asal Ciamis yang pernah bekerja di Hongkong. Jala Dara bukanlah TKW sembarangan, kecintaannya terhadap dunia menulis sejak kecil telah melahirkan 15 bukunya selama bekerja di Hongkong, bahkan mungkin sekarang sudah 16 buku. Buku yang paling disorot adalah Surat Berdarah untuk Presiden, berisi tentang tulisan dari TKW Indonesia yang mengalami tindakan tidak menyenangkan.

Bagaimana Jala Dara yang masih berusia 25 tahun itu mampu melakukannya?

“Saya menyelesaikan 7 buku dalam seminggu untuk saya baca” begitu katanya ketika sharing kepenulisan beberapa bulan yang lalu. “Saya juga selalu menulis setiap hari. Semakin sering kalian menulis maka akan semakin mahir dan indah kalimat yang kalian ciptakan”

Tujuh buku selesai dibaca dalam seminggu, artinya satu judul dalam seharinya, Gila ya!! “Saya selalu membawa buku kemanapun dan membacanya kapan saya sempat, kadang di angkot, di kereta, di bus, dan di tempat-tempat umum lainnya” ujarnya.

Rajinlah membaca dan menulis! Sejak kapan? Sekarang juga!

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.