Kita lanjutkan pembahasan kita kemarin mengenai tumbuh kembang anak. Bukan berarti saya ahlinya, tapi karena sekarang ilmu itu mudah sekali di dapat, dari buku, artikel, diskusi, dan lain-lain, makanya saya yang sarjana teknologi pertanian ini pun bisa menuliskan sedikit tentang tumbuh kembang anak sesuai kapasitas ilmuku. Selain dari buku dan internet, kebetulan juga ketika masih di Bogor, dua bulan diriku mengikuti pelatihan dari SGI dan ada materi tentang psikologi perkembangan.

Menuliskan hal ini bukan untuk gaya-gayaan saja, lebih kepada untuk belajar. Karena saya selalu yakin bahwa dengan menuliskannya maka saya juga akan semakin ingat dan tertanam kuat dalam memori otak saya.

Tulisan KEMARIN, baru sampai tumbuh kembang anak usia 5-7 tahun, maka sekarang kita lanjutkan.

Usia 7-11 tahun. Pada usia ini anak cenderung bahagia dan suka bermain bersama teman-teman sebayanya. Kemampuan sosialnya terus meningkat. Akibatnya anak semakin tertutup kepada orang tuanya disebabkan anak sudah merasa dewasa dan berpikiran mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri.

Usia 11-18 tahun. Perkembangan usia ini anak sudah mulai menunjukkan kedewasaan. Inilah masa transisi antara kekanak-kanakan yang menanjak dan kedewasaan yang mulai menjanin. Pada masa transisi inilah orang tua harus ekstra mengawasi perkembangan sosial dan moralnya. Pada usia ini juga sangat rentan terhadap hal-hal yang dapat merugikan masa depan anak.

Kemampuan sosial yang semakin meningkat menjadikan anak semakin tertutup kepada orang tua, toh sekarang mereka menganggap dirinya semakin mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. Selain itu, pada masa ini anak sudah memiliki beberapa sifat sebagai berikut, ingin dipercaya dan diakui keberadaannya, ingin mengekspresikan diri, dan suka memberontak.

Masa remaja. Kata orang masa ini adalah masa anak mulai melakukan pencarian jati diri, mulai kuat dalam mengambil keputusan, menganggap dirinya mampu menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya, kurang menghormati orang tua dan sesekali suka memberontak. Sebagai orang tua yang bijak sebaiknya tidak menganggap tingkah laku ini sebagai bentuk serangan kepadanya.

Sesekali larutlah dalam tingkah laku anak, menjalin hubungan yang hangat dalam keluarga, rela mendengarkan keluhan anak, juga menjelaskan semua bentuk larangan dengan bahasa yang santai tanpa terkesan menggurui. Dianjurkan pula untuk sering membuat kesepakatan bersama untuk membantu tumbuh kembangnya termasuk kehidupan sosialnya.

Selain semua hal di atas, dalam diri remaja juga terjadi perubahan hormonal yang menyebabkan perubahan suasana hati dan meningkatkan kepekaan. Akibatnya remaja lebih suka mencari teman sebaya untuk berinteraksi dan bergaul karena pada diri temannya inilah ditemukan banyak kesamaan. Pergaulan dengan teman sebaya yang semakin meningkat ini mulai memunculkan perasaan suka terhadap lawan jenis yang lebih dari sekedar teman, tapi romantisme yang indah.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa perkembangan konsep diri remaja cenderung mengarah kepada hal yang negatif. Ini disebabkan karena pertumbuhan fisiknya yang sangat drastis, terkadang juga karena pertumbuhan tubuh yang kurang proporsional, dan lain-lain. Oleh karena itu orang tua harus mampu menjelaskan dengan bijak dan santai agar anak tidak minder dan susah bergaul dalam lingkungan sosialnya.

Perkembangan Kognitif Remaja. Remaja sangat kritis terhadap sesuatu hal. Semuanya harus jelas dan rasional. Rasa ingin tahunya juga sangat tinggi dan cenderung suka mencoba hal-hal baru dan melakukan eksplorasi.

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.