Penulis : DYAH RINA

Hari Minggu yang cerah. Ayu sedang sarapan sambil nonton Upin dan Ipin dari VCD, ditemani Murti dan Samsul yang kebetulan sedang pulang. Jangan salah, Ayu bukan sedang memperhatikan si kembar in action tapi lebih memperhatikan Abang Sally, tokoh transgender yang serba bisa itu. Sesekali Ayu dan kedua kakaknya tergelak melihat tingkah kemayu Abang Sally. Tiba-tiba saja terdengar bunyi beepdari Andro yang memang sengaja diletakkan di meja ruang tengah.

Diraihnya Andro dan dilihatnya ada satu pesan dari Rio ‘Assalamu’alaikum. Maaf dadakan. Hari ini ada job di pendopo kabupaten jam 2 siang. Bisa ndak?’

Ayu menutup folder pesan dan membuka organizer di smartphonenya. Mencari-cari apakah sudah ada jadwal manggung hari itu. Ternyata hari itu kosong. Ditulisnya pesan untuk Rio ’Wa’alaikumsalam. Acaranya apa mas?’ kemudian dikirim. Tak lama terdengar lagi si Andro berbunyi. Pesan dari Rio lagi ‘Manten. Dress codenya batik’

Ayu nampak menimbang-nimbang. Tapi kemudian dibalasnya lagi sms Rio ‘Insya Allah saya pasti datang. Kebetulan hari ini kosong. Matur nuwun mas jobnya’

“Dari siapa to Yu? Kok bola-bali (berkali-kali)sms?” Murti penasaran karena selama ini adiknya jarang sms-an dengan siapapun.

“Mas Rio. Ngasih job nanti siang jam dua. Katanya ada manten di pendopo kabupaten. Nggak tahu mantu apa ngunduh mantu. Tapi kata mas Rio pakai baju batik” Ayu menyudahi sarapannya yang emang sudah habis. Segera dibawanya piring makannya ke dapur dan mencuci tangan. ‘Alhamdulillah..enak banget pecel bikinan mbakyuku ini’

Dari dapur Ayu segera menuju kamarnya. Dibukanya lemari pakaiannya dan dicari-carinya baju batik mana yang cocok buat manggung hari itu. Tak lama kemudian Ayu nampak tersenyum. Diraihnya terusan batik Kalteng berwarna hijau dengan bunga- bunga ungu dan kuning itu. Kain batik pemberian Haryo Bayu, oleh-oleh saat pulang dari penelitian di Kalimantan Tengah. ‘Kamu sekarang di mana Mas? Ayu kangen sama mas Bayu’

Ayu menghela nafasnya. Berat. Selalu saja ada hal-hal yang membuat dia teringat Bayu. Pria yang selalu sanggup menggetarkan hatinya setiap saat mengenangnya. Pria yang sampai saat ini masih menempati salah satu sudut hatinya. Belum pernah ada niat untuk menggantikan Bayu dengan siapapun, meski hati kecil Ayu mulai melihat pesona pada Rio.

Digelengkan kepalanya dan memejamkan mata. Diusirnya bayangan Bayu dari benaknya. Ia tidak ingin kenangan itu merusak mood menyanyinya hari ini. Segera disiapkan semua perlengkapan untuk manggung. Anting, kalung, tas dan sepatu. Setelah selesai, Ayu kembali ke ruang tengah dan bergabung dengan kedua kakaknya.

“Nanti naik apa ke kabupaten Yu?” Samsul mencoba mencari tahu.

“Belum tahu mas. Paling naik angkot” Ayu menjawab pertanyaan Samsul sambil memainkan game di smartphonenya.

“Kalau naik angkot, kamu akan lama nyampek ke sana. Dan lagi, baunya itu lho. Tahu to, angkot dari desa ini yang dimuat macem-macem. Dari orang sampai kambing. Kamu mau, sudah dandan cantik malah bau kambing?” Samsul tertawa diikuti Ayu dan Murti. Mereka tidak bisa membayangkan apa jadinya seorang bintang panggung nyanyi dalam keadaan bau kambing.

“Walah…mas Samsul ini bisa aja. Tapi kalau bukan naik angkot mau naik apa mas? Di kota saja taksi ndak ada, apalagi di desa kita..” Ayu menjawab tanpa ekspresi yang berlebihan. Tidak terlihat sedikitpun raut kebingungan di wajahnya. Dia nampak pasrah saja dengan keadaan yang harus dihadapinya.

“Ya kalau mau agak repot sedikit, saya akan berangkat satu jam lebih awal. Nanti ganti bajunya kalau sudah sampai di pendopo saja. Kan enak”

“Bisa juga sih, Yu” Murti menimpali. “Tapi apa ada tempat khusus untuk kamu dandan?”

“Pasti ada mbak. Kalaupun ndak ada, kan bisa pakai kamar mandi buat gati baju” Ayu melihat Murti dan suaminya nampak berfikir, seperti berusaha memahami kehendak Ayu.

“Gimana kalau kamu bareng kami saja? Hari ini rencanannya mbakyumu mau ikut ke kota. Besok ndak ngajar katanya” Samsul menoleh pada istrinya.

“Wah…bener Yu! Kok aku lupa ndak ngasih tahu. Ikut masmu saja! Memang harus agak desekan(berdesakan) sedikit di jok depan. Maklum lah mobil pikep(pick up). Tapi kan lumayan nggak campur sama kambing….” Murti tergelak. Ayu dan Samsul mau ngak mau ikut tertawa.

“Memangnya besok mbak Murti ndak mulang(ngajar) to?”

“Ndak, Yu. Jadwalnya baru ganti. Sekarang kalau Senin sama Sabtu aku kosong. Lumayan bisa sering-sering ketemu masmu. Trus gimana, jadi bareng kami apa ndak?”

“Ya Sudah kalau begitu. Lumayan, nggak keluar ongkos. Matur nuwun lho mas, dapat nunutan(tumpangan)” Ayu memandang kakak iparnya. Sementara Samsul hanya mengangguk.

“Sudah kamu siapkan keperluan manggungmu?” Murti mencoba mengingatkan.

“Sudah mbak. Baju, sepatu, perhiasan, pokoknya semua sudah beres”

“Kalau aku boleh nebak, kamu pasti pakai baju batik Kalteng itu. Iya to?” Murti selalu saja bisa menebak apa yang ada di hati adiknya. Ayu terlihat menunduk. Wajahnya berubah sendu.

“Sampai kapan kamu akan terus nunggu Bayu, dik?” kali ini Samsul yang bertanya. Dia paham perasaan adik iparnya.

Samsul pun sudah mengenal Bayu sejak dia dan Murti belum menikah, sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu, Samsul sedang pedekate dengan Murti dan Bayu baru jadian dengan Ayu. Mereka sering terlibat pembicaraan seru saat sama-sama ngapel. Keempatnya lebih sering pergi bersama karena menurut mereka, kalau jalan rame-rame sekalian menghindari perbuatan yang dilarang agama.

Samsul dan Bayu juga kerap berdiskusi tentang banyak hal. Mulai soal politik, ngobrolin musik, film sampai sepak bola. Bagi Samsul, Bayu pribadi yang menyenangkan. Dia rendah hati dan sangat suka menolong. Bayu juga dikenal sebagai orang yang mudah berempati pada kesusahan orang lain. Barangkali karena itulah Bayu memilih mengabdi di pedalaman dibanding magang di perusahaan ayahnya selepas kuliah. Dan sejak saat itu, Samsul tidak pernah mendegar kabar tentang Bayu. Meski kabarnya program pengabdian itu sudah berakhir, tapi faktanya, sampai detik ini Bayu tidak pernah memberi kabar.

“Yu…..mas ngerti, kamu mencoba untuk setia sama Bayu. Tapi apa kamu ndak ingin, membuka hati untuk pria lain? Teman pria mu kan banyak. Teman kuliah, teman manggung, atau mungkin teman SMA mu dulu? Apa ndak ada yang menarik hatimu?”

Ayu hanya terdiam menunduk. Tangannya sudah berhenti memainkan game dari hape pintarnya. Matanya terus saja menunduk dan terlihat ada air mata yang berusaha disembunyikan , dan diseka dengan ujung jarinya.

“Ndak tahu ya mas. Susah buat nglupain mas Bayu. Dan terus terang saja, aku masih akan menunggunya sampai aku tahu, aku nggak boleh lagi berharap”

“Maksudmu?”

“Aku akan tetap berharap sampai aku tahu mas Bayu sudah jadi milik orang”

“Tapi sampai kapan?! Lagi pula, apa kamu yakin Bayu akan memberi tahu jika dia akan menikah? Belum tentu Yu!” Murti jujur saja merasa heran dengan sikap adiknya. Di Mata Murti, Ayu seperti melakukan hal yang sia-sia. Tapi dia juga sangat paham karakter adiknya. Percuma membujuk Ayu. Karena sampai kapanpun ia akan tetap lakukan apa yang dia yakini benar.

“Sudahlah mbak, mas….biar saja saya nunggu mas Bayu sampai saya tahu nggak mungkin berharap lagi, atau sampai saya bosan untuk menunggu lagi” Ayu meninggalkan kedua kakaknya. Sebenarnya dia sedang tidak ingin membahas Bayu. Ayu hanya ingin semuanya mengalir saja. Kalau toh pada akhirnya penantian itu tak membuahkan hasil yang membahagiakan, ya ndak apa-apa. Karena sesungguhnya semua sudah Ayu pasrahkan pada Sang Maha Welas.

Meski demikian, pembicaraan tentang Bayu mau tidak mau mengganggu hatinya. Sejak meninggalkan ruang tengah, Ayu mengurung diri dalam kamarnya. Dia juga melewatkan makan siang dan setelah sholat Dzuhur langsung berdandan untuk manggung siang itu. Hingga saatnya berangkat pun Ayu tidak banyak bicara. Sepanjang perjalanan dia hanya diam. Matanya menerawang entah ke mana. Ada rasa sesal dalam hati Murti dan Samsul, karena sudah mengusik ketenangan Ayu dengan mempersoalkan penantian yang mereka anggap sia-sia.

“Yu….” Murti menyentuh lengan adiknya.

“Apa mbak?” Ayu melirik kakaknya.

“Maafin mbak dan mas Samsul yo?”

“Minta maaf untuk apa to mbak? Soal mas Bayu tadi?” Murti mengangguk.

“Mbak, aku memaklumi kalau mbak dan mas Samsul mengkhawatirkan aku. Makasih ya. Tapi untuk sekarang ini, biar saja begini. Aku yakin, suatu saat Allah pasti tunjukan padaku, jika sudah tiba saatnya aku harus berhenti berharap. Lagipula, nggak setiap detik aku mikirin dia mbak. Bisa kurus aku mbak….” Ayu mencoba bercanda meski hatinya terasa perih.

Murti mengangguk dan tersenyum sambil memeluk adik semata wayangnya. Murti tahu, meski berusaha bercanda, Ayu sebenarnya sedang bersedih karena tidak tahu Bayu ada di mana dan bagaimana cara menumpahkan perasaan rindunya.

*****

Pendopo kabupaten siang itu sangat ramai. Tamu undangan dari berbagai golongan silih beganti datang dan memberi ucapan pada mempelai. Dari ketua DPRD, Wakil Bupati, Camat, Lurah juga masyarakat sekitar. Pak Bupati memang sedang menggelar pesta pernikahan sekaligus open house. Jadi bisa dimaklumi jika tamunya seperti tak ada habisnya.

Di salah satu sudutnya, Ayu dan Rio sedang menghibur para tamu dengan beragam lagu. Ayu sendiri tidak ingat, sudah berapa lagu yang mereka bawakan baik sendiri atau duet. Mulai lagu pop, langgam, dangdut sampai campursari sudah mereka hadirkan untuk menyemarakkan pesta siang itu. Belum lagi lagu permintaan tamu atau mempelai, juga sudah mereka bawakan. Untungnya ada beberapa tamu yang ikut menyumbangkan suaranya, sehingga ada kesempatan bagi Ayu untuk mengistirahatkan pita suaranya.

Acara yang digelar pukul dua siang itu baru berakhir setelah pukul lima lewat. Bergegas Ayu mencari kamar mandi dan mengganti bajunya. Tidak lupa membersihkan riasannya hingga bersih, dan setelah semua perlengkapannya masuk ke dalam tas, Ayu melangkah keluar dan berjalan menuju mushola.

Di mushola, ternyata Rio pun sedang bersiap untuk sholat Ashar. Wajah dan lengannya masih nampak basah pertanda baru selesai wudhu. Melihat kehadiran Ayu, Rio menghentikan langkahnya yang sudah sampai di pintu utama mushola.

“Mau sholat juga?”

“Iya mas. Mas Rio sudah?” tanya Ayu sekedar basa-basi.

“Ini baru ngambil wudhu. Mau jamaah?” Ayu mengangguk.

“Saya ngambil wudhu dulu mas” Rio mengangguk dan melangkah masuk ke dalam. Sementara Ayu melangkah ke tempat wudhu dan segera bersuci. Segarnya air yang mengalir dari keran mampu sedikit mengusir penat yang diarasakannya.

Selesai wudhu, Ayu segera menyuusl Rio dan mereka pun sholat Ashar berjamah. Usai sholat, Ayu mencoba berdialog dengan Sang Maha Rahim. Karena sejujurnya hatinya terasa berbeban. Kerinduan pada Bayu sangat mengganggunya. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana menuangkannya. Sementara di hadapannya, ada seorang pria yang mulai menyentuh hatinya. Meski hanya beberapa kali betemu, kehadiran Rio membawa nuansa tersendiri di hati Ayu. Mereka memang sangat jarang bertemu kecuali saat bekerja seperti siang tadi. Tapi selalu saja setiap pertemuan dengan Rio mampu membuat hati Ayu bergetar. Meski getarannya tak sedahsyat saat mengingat Bayu, tapi cukup mengusik kesetiaannya.

“Ya Allah…..berikan aku petunjuk. Siapa orang yang Kau kirimkan untuk mendampingi hidupku. Yang akan membimbingku menuju surgaMu. Berikanlah yang terbaik untukku Ya Allah. Amiin” hanya itu yang mampu dipanjatkan Ayu setelah dialognya dengan Sang Maha Penyayang.

Usai sholat, Ayu baru sadar kalau tinggal dia sendiri di dalam mushola. Rio sudah tidak terlihat lagi. ‘Paling sudah pulang’ Ayu membatin. Segera dikemasinya mukena dan melangkah keluar. Sampai di luar Ayu tidak langsung pulang melainkan duduk di teras mushola. Diambilnya hape CDMAnya dan menelpon kakak iparnya. Lagu Mawar Biru menjadi penanda bahwa telpon telah tersambung.

“Assalamu’alaikum. Piye(gimana) Yu, sudah selesai acaranya?”

“Wa’alaikumsalam, sudah mas. Aku jadi dijemput apa jalan kaki ini?”

“Dijemput wae, kamu tunggu sebentar. Ini lagi ngrewangi(membantu) mbakyumu masak”

“Halah…romantis temen ta(bener sih), masak wae berdua. Ya udah aku tunggu di mushola ya mas. Assalamu’alaikum”

“Ya. Wa’alaikumsalam”

Ayu tersenyum. Diam-diam kedua kakaknya punya sisi romantis juga. Dan seperti sebuah artikel yang pernah dibacanya, masak bersama itu mempererat cinta. ‘Coba kamu ada di sini mas Bayu, kita bisa ikut masak bareng mereka’ lagi-lagi Ayu merindukan Bayu. Selalu saja begitu. Apalagi saat lelah seperti ini, Ayu sebetulnya sangat ingin ada Bayu disampingnya. Ingin rasanya berbagi suka dan duka dengannya. Tapi, Ayu hanya bisa membayangkan semua itu dengan hati pilu.

Tiba-tiba Andro berbunyi. Ada pesan dari Rio

Lagi bête ya? Kok mukanya ditekuk gitu. Jangan nglamun, nanti rejekinya dipatok ayam’ Ayu celingukan. Dia heran, kenapa Rio tahu Ayu sedang melamun. Namun tak urung Ayu tersenyum dan membalas pesan Rio.

Rejeki sudah kukantongi. Ndak lagi nglamun kok, Cuma lagi mikir. Namanya juga orang hidup’

Mikir sih mikir, tapi jangan dibawa ke panggung lagi ya? Kelihatan lho kalau lagi sumpeg’

‘Emang kelihatan banget ya mas? Maaf ya, sudah dikasih kerjaan malah mengecewakan. BTW, mas Rio lagi di mana, kok tahu aku lagi bête?’

‘hehe.. aku di depan mushola. Kelihatan kan mobil masih didepan? Mau pulang masih nunggu teman panitia. Sebentar lagi selesai katanya’

Ayu tersenyum sendiri. Apalagi saat melihat mobil Rio yang ternyata ada tak jauh darinya. Kemudian Ayu melihat kaca mobil dibuka, dan si empunya mobil tersenyum sambil melambaikan tangan. Senyum Ayu berubah jadi tawa. Geli saja rasanya bahwa ternyata mereka berjarak tak sampai seratus meter. Lalu Andro berbunyi lagi. Rio lagi.

‘Kalau perlu temen buat cerita-cerita, saya bersedia. Insya Allah saya akan amanah nggak ember kemana-mana’ Ayu tidak membalas. Hanya memandang ke arah Rio. Dan Rio seperti tau ada yang memandangnya lantas menoleh ke arah Ayu. Sorot matanya seolah mengulangi kesanggupan yang ditulis dalam pesan singkatnya barusan. Dan Ayu mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, Ayu melihat mobil Samsul datang. Segera ia berdiri dan menghampiri mobil kakak iparnya. Saat melewati mobil Rio, terlihat Rio keluar dari mobil seperti sengaja menunggunya.

“Sudah mau pulang?”

“Iya mas. Itu kakak ipar saya menjemput” Ternyata Rio ikut berjalan mengiringi Ayu hingga ke mobil. Dengan ramah diperkenalkan dirinya pada Samsul yang kebetulan membuka kaca mobil.

“Saya Rio mas, yang tadi ngajak mbak Ayu nyanyi. Maaf baru memperkenalkan diri. Baru sempat ketemu mas sekarang ini” mereka berjabatan tangan.

“Saya Samsul kakak ipar Ayu. Ndak apa mas, namanya juga baru sempat. Saya sendiri juga jarang ada di rumah. Kebanyakan disini” Rio megangguk sangat sopan.

“Ya Sudah mas, saya pulang dulu. Monggo, Assalamu’alaikum”

Monggo mbak, Wa’alaikumsalam. Hati-hati. Salam untuk mbak Murti” Ayu dan Samsul hanya mengangguk dan segera mereka meninggalkan halaman pendopo kabupaten untuk segera pulang.

“Itu yang namanya Rio?” tanya Samsul dalam perjalanan.

“Iya mas. Kenapa?”

“Nggak. Sebagai sesama lelaki, mas bisa menilai dia baik, tulus dan lumayan ganteng lho Yu. Kamu nggak terarik sama dia?” Ayu tersipu malu.

“Mas, kalau ada perempuan yang nggak tertarik sama Mas Rio, itu cuma perempuan bodoh”

“Kok bisa gitu?” Samsul tidak mengerti pembicaraan adiknya.

“Maksud saya, barangkali memang mas Rio itu punya kekurangan. Dia memang cacat. Tapi diluar itu, begitu banyak kelebihan yang dimilikinya. Pinter manin electone, suaranya juga bagus…..”

“Lho…bisa nyanyi juga to?” Samsul menyela.

“Iya mas. Bagus banget suaranya. Mirip-mirip sama Marcell atau Afgan gitu lho mas. Pokoknya model suaranya orang berkulit hitam” Ayu antusias mendeskripsikan seperti apa suara emas yang dimiliki Rio. Samsul tersenyum. Dia bisa melihat Ayu sebenarnya juga memperhatikan Rio. Hanya saja mungkin rasanya pada Bayu masih mendominasi.

“Terus, selain suaranya bagus dan jago mein elctone, apalagi kelebihan Rio?”

“Mas Samsul ini nanya, apa interogasi, atau mancing-mancing , nyari tahu aku suka apa ndak sama mas Rio, gitu?” Samsul tergelak.

“Hahaha…Ayu..Ayu…Aku ini nanya beneran karena ndak tahu. Kok malah dituduh mancing-mancing. Lha kalo mau mancing ya di sungai sana….” Samsul kembali tertawa melihat Ayu salah tingkah. Sementara Ayu hanya terdiam. Malu rasanya bahwa apa yang ada di hatinya saat ini, bisa terbaca oleh Samsul.

“Mas……Jujur saja, mas Rio memang baik. Ayu juga mulai mengagumi mas Rio. Tapi kalau untuk lebih dari sekedar suka atau kagum, rasanya belum saatnya mas. Terlalau cepat. Kami baru kenal dan hanya beberapa kali ketemu. Komunikasi pun jarang. Dia hanya telpon atau sms kalau mau ngasih job saja. Selebihnya kami jarang ngobrol” Ayu terdiam sesaat. Di pikirannya bayangan Rio menari-nari.

“Saat manggung pun kami jarang bicara. Mas Rio sendiri juga bukan tipe pria yang suka ngobrol meski dengan yang sudah lama kenal. Tapi justru pria seperti itulah yang biasanya menarik hati wanita” Ayu menghela nafasnya.” Termasuk saya mas. Jujur saya memang mulai tertarik. Tapi ya, hanya sebatas itu. Belum ada niat untuk menggantikan tempat mas Bayu dengan yang lain”

Samsul terdiam mendengar penuturan Ayu. Dia mengagumi kesetiaan Ayu pada Bayu. Tidak semua gadis mau melakukan itu. Mereka belum menikah, tapi Ayu sama sekali tidak punya niat untuk mencari pengganti Bayu. Padahal kalau Ayu mau, Ayu bisa memilih satu diantara beberapa pemuda yang sudah terang-terangan menitipkan hati padanya. Tapi Ayu memilih untuk menunggu. Menunggu tanpa batas waktu. Menunggu hingga tak sangup lagi menunggu.

Bayu…Bayu. Betapa beruntungnya kamu memiliki keasih seperti Ayu. Segeralah pulang cah bagus. Jemput mimpimu disini….’ Samsul membatin. Dan senja itu seolah menjadi saksi sebuah kebimbangan yang sedang bersarang di hati seorang Ayu Kusumawati. Haryo Kusumo atau Haryo Bayu?

Salam Ukhuwah, SYAIFUL HADI.