Penulis : DYAH RINA

Adzan Subuh membangunkan Ayu dari tidurnya. Dirasakannya sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Suhu badannya sudah tidak sepanas tadi malam dan kepalanya pun terasa lebih ringan meski masih sedikit berdenyut. ‘Alhamdulillah’ Ayu bersyukur dalam hatinya. Meski belum sehat betul dia merasakan badannya jauh lebih enak dibanding semalam sepulang manggung.

Ayu menggeliat malas. Masih kurang rasanya tidurnya semalam. Masih ingin rasanya terbenam dalam kehangatan selimut yang semalam membungkus tubuhnya. Tapi kemudian “Astaghfirullah hal adziim…Cuma meriang saja kok males sholat. Masih banyak orang yang sakitnya lebih parah dari ini, tapi tetep sholat dengan rajin. Duuh..Ampuni hamba ya Allah”

Ayu segera bangun dan merapikan selimut serta tempat tidurnya. Mukena yang semalam hanya dilipat sekedarnya, dan teronggok di bawah ranjang juga dirapikan dan diletakkan di sisi bantalnya. Setelah semua rapi, Ayu mengikat rambutnya yang panjang dan membuka lemari pakaian. Diambilnya stelan warna pink berlengan panjang kesukaannya. Dasternya yang basah oleh keringat ingin digantinya. Tidak nyaman saja rasanya jika sholat dalam keadaan lengket di sekujur tubuh.

Dari kamar Ayu melangkah ke kamar mandi yang berada di belakang rumah. Sampai di dapur dilihatnya Murti sedang memasak untuk sarapan mereka berdua. Dan selalu seperti itu. sejak kedua orang tuanya meninggal, Murti lah yang mengurus Ayu. Bahkan sekolah dan kuliahnya juga dibiayai oleh Murti yang seorang guru SMP dan Samsul suaminya yang bekerja sebagai pedagang di kota. Bagi Ayu, Murti itu segalanya.

Setelah lulus kuliah pun, Murti yang mencarikan Ayu pekerjaan sebagai guru les Bahasa Inggris, disamping pekerjaannya sebagai penyanyi kawinan. Pendeknya, Murti itu kakak merangkap menejer sekaligus konsultan buat Ayu. Banyak hal yang dikerjakan Ayu atas arahan Murti. Dan terbukti, Ayu sekarang menjadi bintang di kampungnya. Tidak ada yang tidak kenal Ayu Kusumawati sang bintang panggung. Meski demikian Ayu tetap rendah hati bahkan dia rela menyanyi tanpa dibayar jika acara yang digelar untuk tujuan amal. Bagi Ayu, menyenangkan orang lain itu lebih penting, termasuk menyenangkan kakak sendiri yang dengan setulus hati mencurahkan kasih sayangnya. Karena itulah, apapun yang dikatakan Murti, selama itu baik untuknya pasti dikerjakannya.

Ayu tersenyum memandangi kakaknya dari pintu dapur. Perempuan 27 tahun itu nampak cekatan mengerjakan pekerjaannya.

“Pagi mbakku cantik. Masak apa?” Ayu memeluk kakaknya dari belakang.

“Lho, kok sudah bangun? Gimana, sudah mendingan?” Murti melepaskan pelukan adiknya dan berbalik menghadap ke arah Ayu. Dirabanya dahi adiknya, masih terasa hangat.

“Alhamdulillah, nggak sepanas tadi malam” Ayu mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Tapi masih nggliyeng(pusing) mbak. Kalau jalan dan berdiri agak lama rasanya mau jatuh. Berat kepalaku” Ayu menghampiri meja dapur dan duduk di bangku panjang yang ada di dekat meja.

“Ya sudah, duduk dulu. Itu sudah mbak bikinkan teh anget. Minum dulu biarkemringet(berkeringat). Kalau udah kemringet biasanya lebih enak” Murti menyodorkan segelas teh yang sudah dibuatnya.

“Kalau cuma kemringet ya sudah dari semalam mbak. Ini bajuku sampai basah. Pengen mandi dulu sebelum sholat. Lengket semua ndak enak rasanya”

“Kalau masih anget ya ndak usah mandi dulu. Diseka saja kalau terasa lengket. Nanti mandi malah panas lagi. Apalagi ini masih pagi, masih dingin. Tapi kalau mau mandi tunggu sebentar. Itu aku lagi ngrebus air, bentar lagi mateng. Tunggu ya?” Ayu hanya mengangguk dan kemudian meminum tehnya. Hangatnya teh yang masuk melewati tenggorokan dan terus ke perutnya, menerbitkan rasa hangat di sekujur tubuhnya. Beberapa tegukan mampu membuat badannya kembali berkeringat.

“Yu…ini sudah matang airnya. Aku bawa ke jeding(kamar mandi) ya?” Murti sudah siap mengangkat panci berisi air mendidih ke kamar mandi.

“Aku saja mbak yang bawa. Mbak Murti siap-siap saja ke sekolahan. Hari Senin upacara to?” Ayu berdiri dan menghampiri kakaknya kemudian berusaha menggantikan kakaknya untuk membawa panci itu ke kamar mandi.

“Sudah ndak usah. Katanya masih pusing. Nanti kamu malah jatuh trus air panasnya tumpah ke badan kamu, kan malah repot. Sudah biar aku saja, kamu siapkan saja keperluanmu sendiri” Murti bergegas melangkah ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara air yang dituang ke dalam bak besar yang memang sudah tersedia di kamar mandi.

“Sudah, gek(segera) mandi sana. Tapi dihemat airnya, cuma satu bak. Cukupkan buat wudhu juga. Jangan kelamaan mandinya, Subuhnya keburu habis!” Ayu tidak menanggapi omongan kakaknya. Ia memilih segera mandi karena sudah tidak tahan dengan badannya yang lengket. Selain itu waktu Subuh pun akan segera berakhir. Malu rasanya sama Allah kalau sampai telat sholatnya atau bahkan kehilangan waktunya.

Ayu pun beregas mandi. Siraman air hangat yang membasahi tubunnya membuatnya merasa segar. Dan aroma sabun kesayangannya mampu menyingkirkan bau keringat yang semalaman menempel di tubuhnya.’Hmmm…haruum’ batin Ayu. Tapi Ayu tak mau berlama-lama di kamar mandi. Segera diselesaikannya ritualnya pagi itu dan mengambil air wudhu. Meski kepalanya masih sedikit berat, mau tak mau Ayu setengah berlari menuju kamarnya untuk segera menunaikan sholat Subuhnya yang hampir terlambat.

“Alhamdulillah….segala puji dan syukurku kepadaMu Ya Allah. Telah kau ringankan sakitku. Ampuni jika aku bermalas-malasan pagi ini Ya Allah. Berikanlah aku kekuatan untuk menjalani hariku hari ini. Jadikan aku hambamu yang selalu bersyukur dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Amiin Ya Robbal Alamiin” Ayu mengakhiri doanya. Setelah melipat mukena dan sajadahnya, dihampirinya meja rias untuk menyisir rambutnya.

Sedang asik mengatur rambunya, tiba-tiba Ayu seperti teringat sesuatu.

“Lho….Andro mana ya?” Ayu mencari-cari Andro di meja riasnya, tempat dimana dia biasa meletakkan semua perlengkapannya. Dan Andro adalah sebutan untuk smartphone miliknya. Jangan salah, biarpun cuma penyanyi kelas kawinan, Ayu merasa perlu untuk memiliki smartphone, karena aktivitasnya di jejaring sosial yang cukup tinggi. Melalui jejaring sosial, biasanya Ayu akan mendapatkan job manggung di luar desanya, bahkan hingga luar kota meski belum sampai ke Ibu Kota.

Bukan cuma urusan manggung dan jejaring sosial, tapi semua nomor penting termasuk nomor telpon dan nomor rekening banknya dia simpan di situ. Ayu cuma nggak mau repot membawa banyak catatan saja, sehingga memilih menyimpan nomor-nomor penting pada Andro.

“Mbak….mbak Murti…!” Ayu melangkah ke luar kamarnya dan mencari kakaknya. Ternyata Murti sedang membersihkan motornya di teras depan.

“Ada apa to Yu, kok teriak-teriak kayak orang kebakaran jenggot?!”

“Kebakaran jenggot…kebakaran jenggot. Nggak mungkin lah perempuan secantik diriku jenggotan. Mbak ini bisa aja. Itu lho…mbak lihat Andro ndak?”

“Andro, hape pintermu itu?” Ayu mengangguk.

“Semalam kamu bawa to, ke tempat pak Lurah?” Ayu kembali mengangguk. “Lha terus pulangnya ndak ketinggalan di sana?” kali ini Ayu menggeleng.

“Pas masuk mobil sudah aku bawa kok mbak. Apa ketinggalan di mobile mas Rio, yo?”

“Bisa jadi” Murti menjawab pendek sambil terus saja mengelap motornya. Sudah hampir jam tujuh, sudah saatnya berangkat mengajar.

“Terus piye iki (gimana ini)mbak? Tanpa Andro, jadwalku bisa berantakan”

“Sudah kamu tenang dulu. Sekarang kamu sarapan dulu, minum obatnya terus istrirahat. Soal Andro biar aku yang urus. Sekolahan kan dekat samadaleme(rumahnya) pak Lurah. Nanti biar aku mampir ke sana, ya?” Ayu menatap ragu pada kakaknya. Tapi kemudian ia mengangguk.

“Ya Wis terserah mbak Murti saja. Lagian ada baiknya juga gak ada Andro hari ini. Aku bisa tidur nyenyak”

“Nah…gitu kan bagus. Wis ayo sarapan. Aku keburu telat ini!” mereka pun masuk ke dalam beriringan untuk segera sarapan. Di meja makan, dua piring nasi goreng buatan Murti sudah menunggu untuk disantap.

*******

Hampir jam sepuluh pagi. Ayu baru saja terbangun dari tidurnya. Selesai sarapan tadi, dia merasa sangat mengantuk. Entah karena obat yang diminumnya, atau karena memang masih ngantuk karena tidur larut semalam, Ayu tidak tahu pasti. Yang jelas, habis sarapan dia langsung tidur sampai nggak tahu kakaknya berangkat kerja.

“Sendirian gini ngapain ya? Biasanya kalau ada Andro pasti ngapalin lagu. Tapi kalau nggak ada, harus nyetel VCD dulu. Waduuh…malese!” Ayu bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri meja rias. Disisirnya rambut panjangnya yangberantakan.

“Sholat aja ah..terus ngaji. Daripada bengong nggak dapet apa-apa, kan lumayan biar tambah disayang sama Gusti Allah” Ayu pun melangkah ke luar kamar dan menuju kamar mandi. Tapi baru saja selesai menggosok gigi, Ayu mendengar suara orang mengucapkan salam dari arah pintu depan.

“Assalamu’alaikum….!” Terdengar suara seorang pria.

“Siapa ya? Apa mas Samsul? Tapi kalau mas Samsul kok nggak langsung masuk? Kalaupun dikunci kan punya kunci sendiri” Ayu segera mencuci mukanya dan begegas keluar. Saat itu, kembali terdengar si tamu mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam. Sekedap nggih(sebentar ya)!” Ayu segera mengambil kunci dari atas meja dan membuka pintu. Seketika Ayu dibuat tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Seraut wajah tampan dengan senyum yang menawan terlihat di hadapannya.

“Assalamu’alaikum mbak Ayu…” Ayu segera tersadar dia tidak sedang mimpi.

“Ah..eh…wa’alaikumsalam. Monggo mas Rio, pinarak(duduk)” Ayu mempersilakan Rio untuk duduk. Rio mengangguk dan segera duduk di kursi teras. Sekilas dia melihat mata Ayu memerah seperti bangun tidur.

“Baru bangun to mbak?”

“Tadi Subuh sudah bangun mas, tapi habis sarapan tadi tidur lagi. Masih sedikit pusing”

“Waduh…berarti saya mengganggu ini?” Rio merasa tidak enak.

“Ndak kok mas. Kebetulan memang sudah bangun. Tapi tadi lagi di dapur jadi agak lama baru dibukakan pintu. Ada apa ya mas, kok mas Rio datang ke rumah saya?Diutus(disuruh) pak Lurah to?” Jujur saja Ayu heran melihat ponakan pak Lurah itu sampai datang ke rumahnya. Tidak mungkin kalau hanya iseng. Rio sepertinya bukan pemuda yang suka iseng. ‘Pasti ada yang penting’ Ayu membatin.

“Ndak kok mbak. Pak Lurah ndak utusan(menyuruh) apa-apa. Ini saya mau mengembalikan ini, smartphone. Ketinggalan di jok belakang” Rio menyerahkan sebuah smartphone yang ternyata benar si Andro.

“Alhamdulillah. Betul mas, ini memang punya saya. Tapi kok mas Rio tahu itu hape pinter saya?” Ayu terheran.

“Tadi mbak Murti sempat ke rumah Pak Dhe, menanyakan apa ada hape ketinggalan di mobil saya. Kebetulan memang tadi pagi waktu mbersihkan mobil saya nemu itu. Terus saya kasih lihat ke mbak Murti dan katanya itu memang punya mbak Ayu. Makanya saya kembalikan ke mari”

“Lha kok repot-repot to mas? Tadi kan bisa dititipkan ke mbak Murti saja. Jadi mas Rio ndak perlu repot kemari” Ayu merasa tidak enak merepotkan orang yang baru dikenalnya. Meski sebenarnya dalam hatinya Ayu senang dengan kedatangan Rio.

“Ah…ndak repot kok mbak. Saya kan sekalian jalan mau balik ke kota. Selain itu saya juga pengen nengok mbak Ayu. Semalam kan sakit. Gimana, sudah mendingan?” tanya Rio sambil menatap Ayu yang lebih banyak menunduk.

“Alhamdulillah sudah enak mas. Memang masih pusing sedikit, tapi sudah jauh lebih enak dibanding semalam. Sudah ndak panas lagi” Ayu menatap Rio malu-malu. Hatinya mendadak dag dig dug entah karena apa.

“Oh…syukurlah kalau sudah lebih baik. Saya ikut senang” Rio terdiam. Dia seperti kehabisan bahan pembicaraan.

“Kalau begitu saya pamit dulu mbak Ayu. O Iya, boleh ndak minta nomor hape mbak Ayu. Siapa tahu saja ada job dan saya perlu bantuan mbak Ayu”

“Oh bisa mas. Ini nomor saya..” Ayu menyebutkan dua belas digit nomor GSMnya dan 6 digit nomor CDMAnya. ”Tolong miscall mas, biar saya juga punya nomor mas Rio”

“Baik mbak” Rio pun segera melakukan pangilan ke nomor hape Ayu dan segera mematikan setelah tersambung.

“Sudah masuk dan sudah saya simpan mas. Terima kasih”

“Sama-sama mbak. Kalau begitu saya permisi dulu, harus buru-buru biar cepet sampai. Jam sebelas saya harus ngajar”

“Lho, selain main electone ngajar juga to mas?”

“Iya mbak. Guru SD. Tapi ya, namanya SD pinggir kota, kadang gurunya sakpenake dhewe(seenaknya sendiri). Waktunya ngajar malah cangkrukan(duduk-duduk sambil ngobrol). Jadi kadang saya ngrangkep mbak, beberapa kelas sekaligus. Padahal sebenarnya saya guru IPA. Eh malah kadang ngajar PKn, Matematika, SBK…hhhhh!” Ayu tersenyum mendengar cerita Rio yang lebih mirip curhat.

“Lagi curhat to ini?”

“Walah..iya. Kok jadi malah curhat sama mbak Ayu. Ya sudah mbak, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum” Rio berdiri dan segera menuju mobilnya. Sementara Ayu hanya mengangguk dan memandanginya dari teras.

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati mas!” Dari kaca jendela yang terbuka Ayu melihat Rio mengangguk dan tersenyum manis. Ayu membalas senyumnya.

“Ya Allah….perasaan apa ini ya, kok deg degan gini lihat senyumnya mas Rio? Mosok aku….Ah nggak mungkin wong baru kenal”

Ayu dibuat bingung sendiri dengan perasaannya. Rio memang baru dikenalnya. Tapi di mata Ayu Rio memiliki pesona tersendiri. Mungkin Rio memang punya kekurangan. Tapi kelebihan yang dimilikinya jauh lebih banyak. Setidaknya itu yang nampak di mata Ayu. Ayu tidak berani memastikan perasaan yang dirasakannya sekarang. Yang jelas, Ayu seperti melihat mekarnya bunga di padang gersang. Padang gersang yang tercipta semenjak Haryo Bayu meninggalkannya atas nama pengabdian.

 Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi