Penulis : DYAH RINA

Hampir pukul dua belas malam. Semua tamu sudah pulang kecuali kerabat dekat pak Lurah dan besan. Kedua pasang mempelai pun sudah berlalu dari pelamian. Mungkin sudah mulai ritual malam pertamanya. Beberapa orang pemuda nampak masih sibuk membenahi beberapa peralatan terutama sound system yang tadi digunakan. Semua dimasukkan dalam satu kotak besar, kemudian disandingkan dengan dua genset yang ada di samping rumah pak Lurah, diikat dan ditutup dengan terpal. Sebuah upaya yang lumayan kuat untuk menghidari kemalingan.

Ayu dan Murti masih duduk di salah satu sudut halaman rumah pak Lurah. Mereka memilih duduk dekat pagar agar lebih mudah untuk mencapai jalan raya saat hendak pulang nanti. Beberapa kali Ayu terlihat menguap. Kantuknya tak bisa lagi diitahan. Tapi pak Samad yang akan mengantarnya pulang tampak masih sibuk mengerjakan banyak hal yang menjadi tugasnya. Maklum saja, pak Samad bukan cuma sopir, tapi orang kepercayaan pak Lurah.

“Gimana ini mbak? Aku dah nggak tahan lagi. Ngantuk banget dan rasanya meriang. Kita minta tolong sama yang lain saja”

“Yang lain itu siapa? Kita ndak kenal siapa pun disini. Meskipun ini desa kita, tapi kita nggak tinggal disekitar sini. Sudah tunggu saja. Mungkin sebentar lagi pak Samad selesai” Murti mencoba menenangkan Ayu. Dia sangat paham jika Ayu merasa sangat kelelahan. Sejak hari Sabtu kemarin dia sangat sibuk. Dari pagi sampai malam menyanyi di beberapa tempat. Dan hari ini juga menyanyi lagi di dua tempat. Satu tadi pagi di rumah salah seorang guru SMAnya, dan sekarang di sini, di rumah pak Lurah.

Sebenarnya tadi sore Ayu bisa saja istirahat sebentar sepulang dari rumah gurunya. Tapi Ayu lebih suka menyiapkan penampilannya malam itu. Mulai gaun, asesoris, sepatu, riasan rambut pokoknya semua disiapkannya sendiri sampai yakin nggak ada yang terlewat. Dan setelah semua siap, Ayu hanya tiduran pun sambil menghafal beberapa lagu baru. Tapi memang begitulah Ayu. Adiknya memang pecinta kesempurnaan. Setidaknya, ia selalu mengusahakan untuk tampil sebaik mungkin. Kalaupun di tengah jalan ada sesuatu yang mengganggu penampilannya, itu urusan nanti.

Murti memperhatikan adiknya. Ayu nampak sedang memijit-mijit tengkuk dan bahunya. Matanya terpejam dan kepalanya tertunduk. ‘Pasti migrainnya kumat’batin Murti. Bukan tanpa alasan Murti menebak seperti itu. Ayu memang selalu terserang migraine jika sedang kelelahan. Tapi adiknya itu tidak pernah mengeluh. Paling-paling kalau sudah nggak kuat lagi, dia minta dibikinkan teh panas, minum obat terus tidur. Dan setelahnya, dia akan kembai seperti sediakala.

“Lho, kok belum pada pulang? Nunggu siapa mbak Murti?” sebuah suara mengagetkan Murti. Setelah dilihat ternyata Rio sudah ada di depannya. Beskapnya sudah ditanggalkan, dan diganti dengan t-shirt warna putih dengan celana jeans.

“Oh…mas Rio. Belum mas. Nunggu pak Samad. Tadi ke sini kan dijemput pak Samad dan rencananya pulangnya mau diantar lagi. Tapi sepertinya pak Samad sibuk” Murti memperhatikan penampilan Rio kali ini. ‘Haryo Kusumo ini memang ganteng. Bahkan lebih ganteng dari Haryo Bayu’ batinnya membandingkan Rio dengan Bayu mantan kekasih adiknya. Mantan? Bukannya dulu belum putus?Murti mengelengkan kepalanya.

“Kenapa Mbak?”

“Ndak mas, nggak ada apa-apa. Kalau bisa minta tolong, pak Samadnya dikasih tau kalau kami menunggu. Kasihan Ayu kayaknya udah capek banget. Seharian diangejob mas, belum istirahat sama sekali” Murti meminta bantuan Rio.

“Oh gitu ya mbak. Baik, saya beritahu pak Samad dulu” Rio pun berlalu meninggalkan mereka berdua. Tapi nampaknya ia tidak berhasil meminta pak Samad untuk sejenak menghentikan aktifitasnya dan mengantar mereka pulang, karena pak Samad tidak muncul juga. Kemudian Murti melihat sebuah mobil menghampiri terop dan berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk. Dan nampaklah Rio keluar dari mobil dan menghampiri mereka.

“Maaf mbak, pak Samadnya nggak bisa nganter. Lagi disuruh pak Dhe, maksud saya pak Lurah mijit. Biar saya saja yang antarkan mbak Murti sama mbak Ayu pulang”

“Apa ndak merepotkan mas? Ini kan sudah malam, sudah waktunya istirahat” Murti merasa tidak enak saja karena baru mengenal Rio beberapa jam yang lalu.

“Ndak apa mbak. Ndak repot kok. Lagipula saya juga belum ngantuk. Kasihan mbak Ayu juga kalau kelamaan nunggu. Mari Mbak..” Rio membuka pintu mobil dan mempersilakan Murti juga Ayu untuk masuk.

“Ya sudah…Ayo Yu..kita pulang. Diantar sama mas Rio” Murti menggandeng adiknya menuju mobil. Dia bisa merasakan badan Ayu sedikit menghangat.

“Aku di belakang saja mbak, mbak Murti duduk depan, sekalian nunjukin jalan ke mas Rio” Ayu langsung masuk dan duduk menyandarkan kepalanya di jok mobil. Tubuhnya yang memang terasa panas tiba-tiba menggigil terkena pendingin yang berhembus dari dasbor mobil.

“Maaf mas Rio, ACnya bisa dimatikan ndak? Saya nggak tahan dingin” hati-hati Ayu meminta agar AC dimatikan, takut menyinggung yang punya mobil.

“Oh bisa…bisa…” Rio pun mematikan AC dan membuka sedikit kaca jendela mobil, membiarkan udara masuk agar tidak terlalu pengap. Tak lama kemudian mobil pun begerak meninggalkan halaman rumah Pak Lurah.

“Bisa nyetir mobil juga ya mas?” Murti berusaha memecah keheningan, meskipun dia sadar pertanyaanya sangat tidak perlu diucapkan.

“Mobil metik(matic) ini mbak. Cuma ngandelin rem sama gas saja. Alhamdulillah kaki kanan saya masih sehat dan kuat, jadi masih bisa untuk nginjak gas sama rem. Kalau mobil manual mungkin ndak akan bisa. Kaki kanan dan kiri kan harus kerja sama” Rio tersenyum pun Murti yang mendengarkan.

“Kalau motor bisa juga mas? Soalnya saya pernah lihat ada beberapa orang penyandang disabilitas yang bisa naik motor. Ya meskipun motornya harus dimodif dulu”

“Bisa juga sih mbak. Tapi sudah lama ndak pernah naik motor lagi. Alhamdulillah ada rejekinya bisa beli yang roda empat meskipun seken(second)” Murti manggut-manggut. Dalam hati dia kagum sama pemuda ini. Selain sangat percaya diri dan berbakat, dia juga sangat supel dan rendah hati.

Suasana kembali hening. Rio konsentrasi dengan kemudi sambil mendengarkan petunjuk dari Murti. Sementara Ayu merasakan kepalanya makin berdenyut dan tubuhnya semakin panas. Tapi Ayu hanya diam. Dia tidak ingin jadi pikiran kakaknya.

“Kata Pak Samad, rumah mbak Murti dekat lapangan. Sebelah mananya mbak? Lapanganya sudah dekat” Rio minta petunjuk jalan dari Murti. Rio lumayan tahu daerah ini karena Pak Lurah adalah Pak Dhenya, dan sejak masih kecil Rio sering main ke desa ini saat liburan sekolah tiba.

“Sebelum lapangan belok kiri mas, nanti ada rumah berpagar kuning orange, itu rumah kami”

“Ok” Rio mencoba memahami petunjuk dari Murti. Sampai di simpang jalan dekat lapangan…”Beloknya di sini ya mbak?”

“Iya mas…belok kiri. Nanti di depan sana ada rumah berpagar kuning orange” Murti mengulangi keterangannya sambil melihat ke belakang. Dilhatnya Ayu masih memejamkan matanya sambil memijit-mijit keningnya.

Tak lama stelah berbelok, mobil pun berhenti tepat di depan rumah Murti dan Ayu. Segera Murti turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk membantu Ayu turun. Murti merasakan tubuh adiknya makin panas.

“Perlu saya bantu mbak?” Rio melihat ke belakang dan nampak Murti kerepotan membantu Ayu turun dari mobil sembari membawa barang-barang yang tadi mereka bawa ke tempat pesta.

“Iya mas….maaf, minta tolong membukakan pintu. Saya harus memapah Ayu. Sepertinya dia sakit…”

“Oh..gitu ya…sebentar” Rio pun bergegas turun dari mobil dan menerima kunci dari Murti. Setelah membuka pagar yang ternyata tidak dikunci, Rio membuka pintu dan menunggu sampai Murti dan Ayu masuk ke dalam.

“Mbak….saya kunci dari luar saja ya? Nanti saya selipkan kuncinya di bawah pintu” Rio merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama di depan rumah para perempuan ini. Hari sudah larut malam. Tidak pantas saja rasanya. Apalagi Rio tidak melihat ada pria di rumah itu.

“Oh iya….ya sudah mas gitu saja. Maaf merepotkan. Hati-hati kalau pulang…..”

“Iya mbak….Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Terima kasih mas Rio”

“Sama-sama mbak….” Rio menjawab dari luar dan segera mengunci pintu kemudian menyelipkan kunci di bawahnya. Tak lama kemudia, Murti mendengar mobil Rio meninggalkan rumah mereka.

Murti segera membawa Ayu ke kamarnya. Dilepaskannya sepatu dan mengganti gaun adiknya dengan daster lengan panjang, kemudian dibaringkan di ranjang. Dirabanya dahi Ayu, dan terasa sangat panas.

Murti menuju dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk Ayu.

“Minum obat sama teh dulu ya Yu? Habis itu kamu istirahat, biar nggak tambah parah” Murti membantu Ayu duduk kembali dan meminum obatnya.

“Tapi aku belum sholat Isya mbak” Ayu kembali berbaring setelah minum obatnya.

“Ya wis….sholat dulu tapi nggak usah wudhu. Badanmu panas. Tayamum saja ya. Sini aku bantu bersihin riasanmu dulu” Murti mengambil kotak make up Ayu dari meja rias, mengeluarkan pembersih dan penyegar, kemudian mulai membersihkan wajah Ayu sampai benar-benar bersih dari make up. Setelahnya di lap dengan waslap yang sudah dibasahinya dengan air hangat lalu dikeringkan dengan handuk hingga benar-benar kering.

“Wis….tayamum sana, trus sholat dan tidur ya….Mbak ke kamar dulu”

Ayu mengangguk dan segera mulai tayamum, lalu sholat Isya sambil berbaring. Sebenarnya dia ingin sholat sambil duduk. Tapi kepalanya tidak bisa diajak kompromi.

“Ya Allah…..berikanlah aku kekuatan untuk mengahadapi apapun yang terjadi dalam hidupku, termasuk sakit yang menderaku saat ini, jadikan sakit ini sebagai penggugur dosaku ya Allah. Ampunilah jika hamba masih sering berkeluh kesah dan kurang bersyukur. Jadikan hambamu ini orang yang selalu bersabar dan bersyukur kepadaMu Ya Allah. Amiin ya Robbal Alamiin”

Ayu melepas dan melipat mukena sekedarnya. Kantuknya tak bisa lagi ditahan. Tubuhnya juga terasa makin panas dan mulai menggigil. Ditariknya selimut dan ditutupkan ke sekujur tubuhnya. Satu hal saja yang ingin dilakukannya. Tidur yang panjang hingga Subuh menjelang.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.