Beberapa hari kemarin saya dikejutkan dengan maraknya berita Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai tembakau. Awalnya saya sempat bingung, “Ngapain sih banyak yang protes? RPP kan perlu untuk mengajar”. Nggak nyambung kan? Jelas saja, lah wong pertama ngeliat berita itu saya salah sangka, saya kira RPP yang dimaksud adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hahaha..

Tapi setelah melihat berita sekali lagi dan membaca artikel teman-teman kompasianer, barulah saya paham bahwa yang dimaksud adalah RPP tentang tembakau, bukan RPP untuk mengajar.

Berita mengenai RPP ini marak tepat setelah malam harinya saya menyaksikan acara Menyikap Tabir nya TV One mengenai fenomena anak-anak kecil yang sudah kecanduan merokok. Dalam acara itu diberitakan ada seorang anak, Ilham Hadi (8 tahun, asal Suka Bumi) yang sudah kecanduan dan mampu menghabiskan rokok dua bungkus perhari. Bahkan anak ini sempat minggat dari rumah karena tidak diberi rokok oleh orang tuanya.

Aldi bocah 2 tahun yang sudah merokok 40 batang sehari dan disaksikan oleh seluruh penjuru dunia dan menjadi bahan olok olok di acara Tv show amerika

Berita tentang balita yang kecanduan rokok di Indonesia (konon ada 6 orang balita kecanduan rokok), menyedot perhatian masyarakat internasional. “Kolega saya di Swedia dan Belanda merasa heran dan menanyakan perihal baby smoker ini.”  ujar Seto Mulyadi, Ketua Dewan konsultatif Komnas Anak.

Lantas salah siapa dong?

Maraknya anak-anak kecanduan rokok ini adalah bukti kelalaian pemerintah dalam menjamin hak hidup dan tumbuh kembang anak negeri ini, padahal mengenai hal ini sudah diamanatkan oleh undang-undang.

“Sebagian anak-anak mengenal rokok dari iklan rokok yang mudah dijumpai dimanapun” ujar Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan anak. Itulah sebabnya kelompok anti rokok mendesak agar RPP tentang tembakau bisa segera disahkan.

Selain iklan, jelas prilaku lingkungan menjadi faktor utama yang menyebabkan si anak menjadi perokok. Jika orang tua merokok setiap hari di depan sang anak, maka kemungkinan besar anaknya juga akan mengikutinya. Anak kecil ini kan butuh contoh nyata, living model yang ada di sekitarnya langsung ataupun tidak akan menentukan masa depan sang anak.

Lagian kan seperti nya basi jika si ayah bilang, “Nak kamu jangan merokok ya..” sedangkan ia menyampaikan itu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, menikmati.

Kejadian yang serupa juga sering terjadi antara guru dan siswa. Tapi untungnya selama saya mengajar di pedalaman Kalimantan ini, tidak ada satupun guru yang merokok. Anak muda disini juga tidak ada yang merokok, cuma orang-orang tua saja yang gemar merokok. Bagaimana dengan sekolah kalian??

Selain dua faktor tadi, apresiasi yang salah juga menjadikan si anak gemar merokok. Misal, anak ini dulunya adalah anak yang bermasalah dalam pergaulan sosialnya, tidak memiliki teman dan pemurung. Anak seperti ini cenderung mencari perhatian orang lain.

Nah, jika saat Ia merokok kemudian banyak yang salut kepadanya (memberikan apresiasi negatif), “Wow hebat..” sambil bertepuk tangan riang, maka hal ini akan membuat si anak cenderung mengulanginya lagi.

“Ooohh mereka mau mendekati ku jika aku melakukan ini (baca : Merokok)” begitu mungkin yang dikatakan dalam hati si anak. Maka ia akan mengulangi lagi terus, dan terus hingga kecanduan.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.