Penulis : Dyah Rina

Ayu sedang memberikan sentuhan terakhir pada riasan wajahnya ketika Murti kakaknya membuka pintu kamarnya.

“Sudah siap Yu?”

“Sudah mbak. Gimana, ndak terlalu menor to?” Ayu meminta pendapat Murti soal riasannya.

“Ndak kok. Bagus. Kamu makin lama makin pinter dandannya. Jadi aku kan enak, tinggal nyarikan job buat kamu saja. Urusan dandan sama baju, kamu sudah mumpuni” Murti tersenyum bangga pada adiknya dan duduk di ranjang sambil memandangi si adik yang makin cantik. Malam itu Ayu mengenakan terusan warna merah hati dengan bordir di pinggir lengan dan bagian dada. Sementara kerahnya berebentuk rempel menyerupai kelopak bunga yang sedang merekah. Rambutnya hanya dibuat ikal dengan alat catok yang dimilikinya.

“Mumpuni apa to mbak…..biasa saja. Aku kan cuma ngikutin saran-saranmu saja. Ditambah lihat-lihat dari majalah dan TV “ Ayu ikut tersenyum sambil memasang antingnya. Anting kesayangan yang hampir selalu menemani setiap penampilannya.

“Masih pakai anting itu?” tanya Murti penasaran

Ayu menghela nafasnya. Terbayang di benaknya sosok yang pernah singgah di hatinya. Dan anting perak Kota Gedhe itu adalah pemberian terakhir Haryo Bayu sebelum meninggalkan Ayu atas nama pengabdian.

“Masih mbak. Cuma ini kenang-kenangan dari Mas Bayu, dan aku belum ingin mempensiunkannya, seperti aku juga belum ingin melupakannya” Ayu memalingkan wajahnya sekilas pada Murti dan kembali mematut dirinya di cermin. Dia tersenyum, meski tersirat kegetiran di wajahnya.

“Sampai kapan kamu akan terus mengingatnya Yu? Bayu saja belum tentu masih ingat kamu. Pengabdiannya di pedalaman kan sudah lama berakhir. Tapi tak sekalipun Bayu pernah mengabarimu”

“Aku nggak tahu mbak, sampai kapan aku bisa melupakannya. Mungkin sampai aku mendapatkan kepastian, bahwa aku tidak mungkin lagi berharap. Mbak tahu maksudku kan?” Murti hanya mengangguk lalu melihat jam tangannya.

“Ya sudah ayo! Sudah ditunggu pak Samad di depan. Acara di tempat pak Lurah mulai jam sembilan katanya”

“Ya Ayo. Mas Dadang nya gimana, bisa ‘ngamen’ hari ini?” tanya Ayu sambil mengenakan sepatu warna senada dengan gaunnya.

“Hari ini bukan Dadang yang ngiringin kamu. Katanya ada keponakan pak Lurah dari kota yang mau main”

“Lha terus gimana? Aku kan ndak wanuh(kenal akrab) sama dia. Apa dia ngerti lagu-lagu yang biasa aku nyanyiin? Lagi pula ya sungkan ta mbak….”Ayu terlihat gelisah. Meski demikian dia terus saja melangkah masuk ke mobil yang akan membawanya ke tempat PY. PY(peye) adalah istilah yang dipakai para pekerja seni kelas kawinan untuk kerja alias dapat job. Peye sendiri kependekan dari payu alias laku means ada yang nanggap alias kasih kerjaan.

“Sudah kamu tenang aja. Kamu kan sudah professional. Mosok ndak bisa ngatasi keadaan. Semoga saja dia juga seorang player yang mumpuni. Pasrah saja sama kersaning Allah, ya?” Murti yang duduk di samping Ayu berusaha menenangkan adiknya yang kelihatan sangat gelisah. Dia memaklumi kegelisahan Ayu. Selama ini setiap manggung dia selalu diiringi electone Dadang. Tapi kali ini ternyata Dadang sedang kebanjiran job “Ngelectone”, sehingga harus digantikan orang lain.

“Iya mbak….”Ayu hanya mengangguk. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan kakaknya. Seorang professional harus tetep bisa bekerja dengan siapa pun dan dalam situasi apapun. Meski demikian, sepanjang perjalanan ke tempat Pak Lurah, Ayu tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya malam itu.

Sampai di tempat resepsi, ternyata undangan sudah mulai berdatangan. Suara gending-gending Jawa mengalun dari speaker yang terpasang di empat titik. Pesta besar. Itu yang terlihat di mata Ayu dan Murti. Pak Lurah memang sedang menggelar pesta besar-besaran untuk putri bungsunya sekaligus ngunduh mantu kakaknya. Nampak kedua pasang mempelai sudah bersanding di pelaminan. Mempelai wanita sama-sama cantik dan anggun, mempelai pria sama-sama gagah dan ganteng. Ayu tersenyum getir. ‘Kapan ya aku bisa ketemu pangeran impianku?’

Ayu segera menggelengkan kepala. Dia tidak ingin larut dalam kesedihannya karena masih menjomblo. ‘Jomblo kan ga dosa. Malah enak, jauh dari zina’Akhirnya ia pun menggamit kakaknya menuju panggung yang ada di sebelah utara pelaminan. Di sana nampak sudah siap electone yang akan mengiringinya menyanyi. ‘Tapi mana pemainnya ya?’ Ayu memandang sekelilingnya tapi tak melihat siapapun.

“Duduk saja dulu, nanti juga datang yang mau main. Sini duduk sini!” Murti melambaikan tangannya saat melihat Ayu masih kebingungan. Tapi diturutinya permintaan kakaknya dan memilih duduk sambil menikmati teh kemasan dingin yang disuguhkan peladen(pelayan) untuknya. Tak menunggu lama, terdengar suara Mas Pri, MC kondang di kampungnya mulai membuka acara malam itu.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….selamat malam bapak ibu sekalian, para tamu undangan. Selamat datang di acara resepsi dan untuh mantu putra dan putri bapak Lurah Hadikusumo dan ibu Sulastri. Saya mewakili tuan rumah, mempersilakan kepada tamu undangan untuk menikmati malam yang membahagiakan ini, sembari mencicipi hidangan yang telah disediakan dan diringi suara merdu penyanyi kita mala mini mbak Ayu Kusumawati, dan iringan organ tunggal dari mas Haryo Kusumo….monggo…”

Mendengar nama Haryo disebut, ingatan Ayu langsung melayang pada Bayu. Haryo Bayu yang masih saja diharapkan dan baru saja jadi bahan perbincangan. Ada harapan yang mendadak muncul dalam hati Ayu, bahwa yang datang baner-benar Bayu yang menggunakan nama samaran. Namun saat yang disebut namanya muncul, Ayu merasa kecewa bahwa bukan Haryo Bayu yang ada di hadapannya tapi Haryo yang lain.

Pria dengan beskap warna biru dan kain batik Parang Barong itu terlihat sedikit lebih muda dibanding Bayu. Rambutnya juga ikal tidak seperti Bayu yang berambut lurus. Dan satu lagi perbedaan signifikan dari keduanya, Haryo Kusumo seorang penyandang diffable. Sepertinya, ada yang bermasalah dengan salah satu kakinya. Ayu tidak begitu memperhatikan yang sebelah mana. Meski demikian dia terlihat sangat percaya diri. Satu poin plus sudah dimilikinya. Kemudian dengan sangat sopan dia menghampiri Ayu dan memperkenalkan dirinya.

“Saya Haryo Kusumo. Panggil saja Rio” Ayu menerima jabat tangan Rio dan menyebutkan namanya

“Ayu Kusumawati. Panggil saja Ayu, dan ini kakak saya Murti Ambarsari biasa dipanggil Murti” Murti pun berdiri dan menyalami Rio.

Dan setelahnya, segera Rio memulai permaiannya. Jemarinya lincah menari diatas papan kunci melantunkan Lingsir Wengi. Rasa kecewa Ayu mendadak lenyap saat mendengar permainan electone Rio. Ayu tidak lagi peduli apakah yang dia lihat itu Bayu atau Rio, dia terlihat begitu terhanyut dengan langgam Lingsir Wengi yang dibawakan Rio. Kalau saja dia tidak dibayar untuk menyanyi malam itu, mungkin Ayu memilih jadi pendengar saja. Yaahh…itung-itung obat kecewa karena sewaktu David Foster konser di Indonesia, dia nggak punya cukup uang untuk nonton.

Ayu baru sadar ketika merasa ada yang menyentuh tangannya

“Ayu, ayo nyanyi! Jangan makan gaji buta. Atau kamu naksir sama yang main electone?”Murti mulai menggoda.

“Halah, naksir apa to mbak….aku nyanyi dulu ya..” Ayu meninggalkan kakaknya dan menghampiri Rio. Tidak lupa buku tebal yang berisi kumpulan lagu-lagu itu dibawanya serta. Setelah berdiskusi dengan Rio, mengalunlah tembang pertama dari bibir Ayu…

Yen pinuju angrawuhi ing malem resepsi. Kakung putri ngagem busana kang edi peni. Para putri sami lenggah jejer katonrapi. Yen sinawang nganti kaya kontes widadari.[Saat menghadiri malam resepsi, pria wanita berbusana indah dan rapi. Tetamu wanita duduk berjejer rapi, jika dilihat sampai miriip kontes bidadari]

Dan setelah Resepsi berturut-turut mengalun Nuansa BeningWiduriKasmaran danWithout You dari bibir Ayu. Ayu benar-benar menjadi bintang malam itu. Panggung benar-benar menjadi miliknya. Terlebih Ayu mendapatkan pengiring yang menurutnya cukup professional. Diajakin langam…ayo. Diajakin dangdutan…monggo, lagu-lagu anak gaul juga ok. Pokoknya Ayu semangat sekali malam itu. Sampai kemudian dia melihat Rio menggamitnya.

“Kalau capek istirahat dulu saja, makan dan minum dulu sama mbak Murti. Biar saya isi dengan instrument saja” Rio menawarkan pilihan yang menurut Ayu sangat masuk akal. Apalagi dia juga sudah lapar dan haus.

“Mas Rio ndak apa-apa main sendiri?” Ayu merasa nggak enak. Rio menggeleng sambil terus memainkan instrument dari drama Korea Winter Sonata. ‘Mmm….seleranya lumayan juga’ batin Ayu.

“Ndak apa mbak. Silakan, daripada nanti pingsan di panggung malah blaik(celaka). Saya juga ndak sanggup kalau disuruh menggendong. Bisa-bisa ikut pingsan” Rio mencoba berkelakar dan berhasil membuat Ayu tersenyum lebih lebar.

“Ya sudah, saya tinggal dulu ya mas. Ayo mbak!” Ayu mengajak kakaknya menghampiri meja prasmanan. Tapi sebelum mulai mengambil makan malamnya, Ayu menghampiri gubug-gubugan tempat air mineral dan beberapa kue. Diambilnya dua gelas air mineral dan beberapa potong kue, kemudian dibawa ke panggung untuk diberikan pada Rio.

“Silakan Mas…” hanya itu yang mampu diucapkan Ayu kemudian bergegas meninggalkan Rio dan bergabung denga Murti.

“Oh, iya. Terima kasih mbak….!” Sejenak Rio nampak terkejut dengan yang dilakukan Ayu. Tapi segera dia menguasai keadaan dan meneruskan permainannya.

Setelah instrument Winter Sonata, kembali satu lagu Korea dimainkan dalam bentuk instrument oleh Rio. Kali ini Choum Geum Nal Cheorom dari film All In. Rio benar-benar mengerti apa yang mesti dilakukan. Dan meskipun bermain di kampung, tapi dia tahu betul bahwa masyarakat jaman sekarang sedang gandrung dengan drama Korea. Jadi beberapa lagu Korea yang dimainkannya rasanya bukan masalah besar.

Sementara itu Ayu dan Murti tengah menikmati makan malam yang menurut mereka termasuk mewah. Cap cay, Mie Goreng Seafood, plus Acar Ketimun dan Kerupuk Udang. Menu makanan yang jarang disantap Ayu kecuali sedang di bawah terop.

“Enak ya mbak….makanan orang kaya” Ayu tersenyum sambil memasukan suapan terakhir ke dalam mltnya. Murti hanya mengangguk sambil nyemil kerupuk udang yang masih tersisa di piringnya.

Tengah asik menikmati detik-detik akhir makan malamnya, Ayu mendengar suara yang mirip banget dengan Afgan, penyanyi ibu kota yang digandrungi banyak remaja putri itu. Setelah dilihat ke panggung, ternyata Rio sedang membawakan salah satu lagu milik Afgan sambil memainkan electonenya

“Cintaku bukanlah cinta biasa…bila kamu yang memiliki…. Dan kamu yang temaniku seumur hidupku….”

Ayu benar-benar terpesona dengan suara Rio. Bahkan sebenarnya sejak tadi Ayu sudah dibuat terkagum-kagum dengan penampilan Rio. Rio memang cacat, tapi di mata Ayu dia sempurna. Setidaknya, sebagai entertainer Rio sangat sempurna. Bukan cuma pandai memainkan electone saja, ternyata Rio juga punya suara emas. Di negeri ini, sangat langka penyanyi yang sekaligus punya bakat bermusik. Kalaupun ada, keduanya tidak seimbang. Ada yang lebih menonjol bakat nyanyinya, ada yang lebih menonjol bakat bermusiknya. Sehingga saat harus melakukan keduanya justru malah tidak bagus. Tapi malam itu Rio membuktikan dia punya bakat besar. Permaian electone dan menyanyinya sama-sama bagus.