Sebenarnya aku sudah kenyang ketika kakek itu lewat. Omelet dan secangkir teh hangat sudah mengganjal perut di pagi yang dingin ini. Tapi saat mendengar suara tua nya berteriak-teriak menjajakan jualannya, aku menjadi tak tega. Kalimat almarhum ayah mengiang-ngiang kembali di telinga ku.

“Kue…. Kue.. “ suaranya bergetar, khas suara seorang kakek 70 tahunan.

“Kamu mau kue nggak Dan?” tanyaku ke Dandi yang juga baru saja menghabiskan semangkuk mie rebusnya. Dandi terlihat malu-malu. “Kalau mau panggil aja kakek itu, nggak usah malu-malu”

Dandi langsung keluar dan memanggil si kakek penjual kue itu. “Aki.. sitok lah (Kek kesini lah)” teriak Dandi.

Si kakek dengan wajah sumringah masuk ke pekarangan sekolah menuju perpustakaan, rumah sementaraku di pedalaman Kalimantan ini.

“Rul, sini! Ambillah mau kue apa?” perintahku ke Syahrul yang juga menginap di sekolah tadi malam. “Kamu juga Dandi, ambil aja, bapak yang bayar” Mereka berdua terlihat senang. Juga pak tua si penjual kue.

Kakek ini adalah langganan ku setiap pagi. Namun sudah tiga hari kemarin tidak berjualan, makanya tadi selepas shubuh aku langsung membuat omelet untuk mengganjal perut ku yang keroncongan dan menghangatkan tubuh yang kedinginan.

“Kemarin beberapa hari nggak jualan kemana Kek?”

“Nggak enak badan pak” jawabnya dengan bahasa Indonesia seadanya.

Setelah Dandi dan Syahrul mengambil kue, aku pun membungkus beberapa potong kue dan kemudian membayar semuanya. “Terimakasih ya Kek” ujarku.

“Sama-sama, Pak”

Sang kakek penjual kue itu kemudian mengangkat keranjang jualannya dan melanjutkan perjalanan mengelilingi kampung hingga kuenya habis.

*****

Sahabat sekalian, kehidupan ini adalah kampus terbaik untuk menimba ilmu dan hikmah. Keduanya bisa datang dari siapapun dan dimanapun. Asal mau mengerahkan pikiran sedikit saja, maka anda mungkin bisa menjadi sedikit lebih bijaksana.

Seperti pagi ini, aku mendapatkan kuliah kehidupan gratis dari sang khalik.

Pelajaran pertama

Almarhum ayahku dulu pernah berkata, “Nang.. jika mau beli sesuatu kelak, lebih baik cari penjual yang memang membutuhkan. Selain kita mendapat keinginan kita, insya Allah orang itu juga akan senang karena jualannya laku. Bukankah menyenangkan hati orang lain itu berpahala?”

Kalimat inilah yang mendorong ku untuk selalu membeli kue si kakek setiap ia lewat. Bahkan jika berpuasa sunah pun, aku tetap membelinya. Ku simpan hingga buka puasa atau ku berikan saja ke anak-anak. Siapa tahu dari uang yang tidak seberapa itu bisa sedikit membantu nafkah keluarganya.

Pelajaran kedua

Kadang aku malu pada diri sendiri. Bagaimana bisa aku bermalas-malasan, padahal tulang, otot, dan otakku masih kuat. Lihatlah kakek itu, ia yang sudah renta saja masih sanggup bekerja keras.

Nah diriku, buku yang tinggal sedikit lagi selesai malah diterlantarkan. Bekerja keraslah sedikit lagi!

Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya! Inilah anjuran sang Nabi untuk umatnya agar bekerja keras. Maka tidak ada alasan untuk berpangku tangan. Bekerja keraslah!!

Apapun kondisi kita sekarang, kita wajib melakukan yang terbaik untuk masa depan dunia dan akhirat kita.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi