Malam itu rembulan bersinar indah sekali, apalagi ratusan bintang setia menemaninya di langit. Angin juga bertiup semilir, damai. Makanya selepas shalat Isya aku memilih untuk duduk di lapangan depan perpustakaan menggunakan kursi plastik biru milik sekolah. Sedangkan anak-anak yang setia menemaniku tiap malam, memilih untuk menyaksikan sinetron yang sedang digandrungi, Putih Abu-Abu.

Ketika sedang bersantai itulah, sebuah motor tiba-tiba berbelok masuk ke sekolah dan pengemudinya menyapaku.

“Assalamu’alaikum Pak Syaiful” sapanya, “Lagi santai-santai ya? Mengganggu tidak kalau saya ikut gabung?”

Aku menoleh, Ooh ternyata salah satu Khatib jumat di dusun ini. Sebut saja namanya Iman. Ia adalah pendatang di dusun ini. “Wa’alaikumsalam Pak.. silakan kalau mau gabung” jawabku sambil menyodorkan kursi kepadanya.

Ia duduk, kemudian menghidupkan rokoknya. “Ngerokok pak?” sambil menyodorkan rokok LA nya kepadaku.

“Saya tidak merokok pak” jawabku singkat. “Masa guru merokok! Kan nggak oke kalau diliat sama anak-anak” kilahku sambil tersenyum.

“Gimana pak disini, Betah?”

“Alhamdulillah betah pak, warga disini baik-baik dan ramah-ramah semua”

“Syukurlah..“

Mulailah pembicaraan kami berlangsung, ngalor-ngidul tidak tentu arah. Kadang membicarakan pertanian, kelapa sawit, pendidikan, hingga masalah agama.

“Saya sedih dengan keadaan masjid disini pak?” ujarku.

“Emang kenapa pak Syaiful?”

“Masjidnya kan besar, cuma kok sepi ya? Kan sayang kalau masjid itu hanya dijadikan sarang laba-laba dan hewan lainnya”

Ia diam dan mengangguk-angguk sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Entahlah sudah rokok yang keberapa sekarang.

Mungkin juga Ia merasa tersindir karena tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu di masjid selama saya disini, padahal rumahnya cukup dekat dengan masjid.

“Saya sebenarnya dulu rajin ke masjid Pak”

“Terus..??”

“Cuma sejak imam masjidnya menggunakan pengeras suara saat jadi imam, saya jadi malas ke masjid lagi”

“Loh emang kenapa pak”

“Begini pak Syaiful, menurut saya imam masjid itu riya. Lah wong jamaahnya aja sedikit kok, ngapain juga pakai pengeras suara”

“Ooohhh… Mungkin biar terdengar sama warga lain yang belum ke masjid pak. Siapa tau ada yang tergerak hatinya untuk ke masjid juga, kan masjidnya jadi ramai nanti”

“Tapi saya nggak nyaman aja. Apalagi menurut saya itu nggak sesuai kondisinya. Kecuali kalau jamaahnya banyak”

Saya mengangguk saja sambil menikmati bulan di langit. Lagian saya juga bingung mau jawab apa lagi.

“Kalau bukan riya, apalagi dong” tambahnya. “Shalat juga kan harus tenang dan hening biar khusyuk, nah saya tidak bisa kalau ia menggunakan pengeras suara begitu. Makanya saya shalat di rumah saja”

“Ooohhh..”

Akupun kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Aku tidak nyaman membicarakan orang lain, apalagi ini bukan wewenang manusia untuk menjudge si A begini, atau si B begitu.

*****

Sahabat sekalian, Riya adalah penyakit hati, yaitu sikap ingin dipuji oleh orang lain, bukan mengharap ridho Allah. Dalam Islam riya memang tidak boleh, karena inti agama Islam adalah tauhid. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu hanya karena mengharap ridho Allah saja, bukan mengharapkan pujian orang lain. Hanya saja, sebagai manusia biasa kita tidak boleh sembarangan menuduh siapapun melakukan riya. Karena hanya Allah lah yang berhak mengatakan si A riya atau tidak.

Riya itu kan masalah hati, dan kita tidak pernah tahu isi hati orang lain. maka lebih baik berhati-hati dan tidak sembarangan menuduh, jangan sampai ada hati yang tersakiti dengan ucapan kita yang belum tentu kebenarannya.

Salam Ukhuwah. Syaiful Hadi.