Bulan sya’ban sudah terlewati setengahnya, artinya hanya sekitar dua minggu lagi umat muslim akan kedatangan tamu istimewa, Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat dan barokah. Semoga kita disampaikan ke Ramadhan kali ini hingga selesai dan diberikan kekuatan untuk bisa mengisinya dengan amalan terbaik kita, amin.

Bulan Sya’ban konon memiliki banyak keutamaan dibandingkan bulan-bulan yang lain, itulah sebabnya banyak umat muslim yang mengisinya dengan berbagai kegiatan. Nabi Muhammad sendiri juga mengisi bulan ini dengan amalan-amalan pemanasan menuju Ramadhan, Puasa sunah dan sedekah diperbanyak.

Sedangkan di Kota Bangun, Kec. Sebawi, Kab Sambas, Kalimantan Barat, tempat ku mengabdi sekarang, acara yang dilakukan adalah Sya’banan. Awalnya saya sempat bingung ketika diundang oleh warga untuk menghadiri Sya’banan di rumahnya. Acara apa itu Sya’banan? Baru kali itu saya mendengarnya. Tapi setelah mengikutinya, barulah aku tahu bahwa ternyata Sya’banan itu nama lain dari Tahlilan, mengirim doa ke sanak famili yang sudah meninggal. Tapi tidak membaca Yasin.

Hampir setiap hari selepas pertengahan Sya’ban ada warga yang mengadakannya. Ketika saya menanyakan ke Abduh mengenai hal ini, Ia menjawab bahwa Sya’banan merupakan bentuk bersedekah ke warga dengan mengundangnya makan bersama di rumah.

Sya’banan di Kota Bangun terdiri dari dua gelombang. Pertama adalah jamaah lelaki yang melaksanakan doa. Jika jamaah lelaki sudah selesai barulah ibu-ibu datang beserta anak-anaknya membawa beras atau bahan pokok lainnya untuk tuan rumah.

Jika di Jawa biasanya jamaah Tahlilan pulang dengan membawa makanan yang biasa disebut Berkat. Tapi di Kota Bangun ini, tidak ada Berkat, tidak ada makanan yang dibawa pulang. Jamaah yang hadir makan bersama di rumah tuan rumah dengan cara Saprahan.

Saprahan adalah makan bersama enam orang. Tidak boleh kurang atau lebih, kecuali jika sangat terpaksa. Dalam Saprahan, semua serba enam, piring yang disediakan, lauk-pauk yang dihidangkan, dan minuman yang disajikan. Walau lauk-pauk yang disajikan ada enam macam, bukan berarti setiap anggota Saprahan boleh mengambilnya satu-persatu. Semua harus nyuil sedikit demi sedikit dengan tangan yang sudah bolak-balik masuk ke mulutnya.

Kemudian, nambah nasi juga seakan menjadi hal yang wajib dalam Saprahan. Makanya selama mengikuti Saprahan, aku selalu mengambil nasi sedikit saja agar bisa nambah.

Yang menarik adalah lauk pauk yang disajikan, ehhmmm, lezat semuanya. Ada daging sapi, ayam, ikan Kakap, Tongkol, atau Bawal, udang, telur, sayur, timun. Enam diantara lauk-pauk itu selalu ada di Saprahan. Tentu dengan komposisi yang berbeda di setiap rumah.

Hari ini ada dua Sya’banan yang harus dihadiri, Alhamdulillah, itung-itung perbaikan gizi. 

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.