“Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. (kitab ini) petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang yang beriman kepada hal yang ghaib..” (Al-Baqarah ayat 2-3)

Kitab yang dimaksud adalah kitab Al Quran. Mukjizat terbesar nabi akhir zaman, Muhammad saw. Kitab ini adalah kitab penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Dengan hadirnya Al Quran maka kitab-kitab yang lain tidak digunakan lagi, namun sebagai umat muslim anda tetap wajib mengimaninya.

Kitab-kitab sebelum Al Quran itu adalah Taurat yang diberikan kepada Nabi Muda AS, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud AS, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS. Namun sekarang Al Quran lah yang menjadi pedoman anda kaum muslim. Kitab-kitab sebelumnya sudah disempurnakan dengan AL Quran. Semua kandungan kitab-kitab sebelumnya itu sudah terangkum indah di dalamnya.

Kitab Al Quran adalah pedoman lengkap kehidupan. Namun perlu dipahami bahwa tidak semua hukum tersurat di dalamnya. Oleh karena itulah anda sebagai umat Islam memerlukan penjelasannya dalam hadist nabi, ijtihad para ulama, tafsir, maupun Qiyas. Inilah maksud dari bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa.

Seperti dalam sebuah perjalanan, jika anda baru pertama kali menyusuri jalanan itu, maka anda memerlukan petunjuk, baik peta ataupun petunjuk jalan yang ada di pinggir jalan agar anda tidak tersesat, atau paling tidak anda akan bertanya-tanya kepada orang-orang, bukan? Begitulah Al Quran ini, ia adalah petunjuk bagi kita yang sedang melakukan perjalanan singkat di dunia ini agar tidak tersesat dalam jurang kenistaan.

Lalu siapakah orang-orang yang bertaqwa itu? Merekalah kelompok umat muslim yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. Ciri pertama kelompok ini adalah beriman kepada hal-hal yang ghaib.

Iman itu terdiri dari tiga hal, pertama yakin dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Tidak boleh dipisah-pisahkan. Iblis misalnya, ia yang pernah bercakap-cakap langsung dengan Allah saat penciptaan Adam (Al Baqarah ayat 30) jelas lebih yakin hati dan ucapannya bahwa Allah itu ada, namun amal perbuatannya tidak. Makanya tetap akan dimasukkan ke neraka.

Sedangkan hal-hal yang ghaib adalah semua hal yang tidak bisa anda indera tapi keberadaannya ada. Misal, keberadaan Allah dan wujudnya. Walau anda tidak bisa merasakan Allah dengan indera anda, tapi anda harus yakin bahwa Allah itu ada. Bukan berarti yang tak terlihat itu tidak ada bukan? Toh begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa ada kekuatan maha dahsyat di balik semua keteraturan yang ada di dunia ini.

Beriman kepada Allah berarti adalah hati kita meyakini bahwa Allah ada dengan segala kekuasaannya, kita kuatkan dengan lisan (ucapan), dan kemudian amal keseharian kita mencerminkan bahwa Allah itu ada. Misal, tidak berani bermaksiat karena ada Allah yang selalu mengawasi.

Selain Allah, masih ada hal ghaib lainnya seperti Malaikat, Ruh, syurga dan neraka, pahala dan dosa, dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan adalah fenomena hantu. Apakah itu termasuk hal yang ghaib? Bukan! bagi saya hantu itu tidak ada. Bukankah setiap orang yang meninggal, arwahnya akan berada di dalam alam barzakh, tidak mungkin gentayangan? Maka mustahil ada arwah gentayangan yang biasa dikenal sebagai hantu.

Jikapun ada yang mengatakan bahwa pernah melihat hantu, bagi saya hanya ada dua kemungkinan, Halusinasi atau syetan yang sengaja meniupkan rasa was-was kepada hati anda.

Semoga bermanfaat. Syaiful Hadi.