Lebih kurang seminggu, aku liburan ke rumah Mohtar di bilangan Sambas, Kalimantan Barat. Liburan seminggu kemarin dilakukan karena ingin melepas penat sejenak setelah tiga bulan berada di pedalaman Kalimantan, sekaligus ingin menyaksikan gelaran EURO yang sudah mendekati puncak. Di pedalaman ini tidak ada yang menggunakan TV pra bayar, makanya lebih dari setengah ajang EURO tidak ku nikmati.

Salah satu rumah yang aku kunjungi adalah rumah kakak sulung Mohtar yang berada di dekat pasar tradisional Tebas, Sambas, Kalimantan Barat. Di rumah ini juga ada keponakan Mohtar yang juga suka bola seperti ku, makanya aku bisa nonton bareng bersamanya. Malam pertama disana, ketika hendak Nobar Portugal vs Yunani kemarin, pasar ini sudah ramai sejak pukul 02.00 dini hari.

Aku belajar bagaimana susahnya mereka mencari sesuap nasi dan sekeranjang berlian, harus bangun pagi-pagi sekali untuk berjualan di pasar, padahal di saat yang sama, biasanya aku masih berselimut mimpi. Aku bersyukur karena rejeki yang ku dapatkan tidak membutuhkan pengorbanan seperti mereka. Walau terkadang juga iri melihat semangat dan nilai juangnya.

Selesai menyaksikan pertandingan dan melaksanakan shalat shubuh, aku berkeliling pasar tradisional itu, ramai. Semua kebutuhan pokok ada di sana, seperti beras, minyak, ikan dan udang, serta daging dan yang lainnya.

Ketika sedang asik berkeliling itulah, aku tertegun menyaksikan penjual ayam potong yang sedang memotong ayamnya.

Ya Allah, cepat sekali pemuda itu menyembelih ayam-ayamnya. Gumamku dalam hati. Bahkan sempat-sempatnya ia bersenda gurau dengan teman yang memegang ayam untuk di potong.

Kreess.. urat kehidupan si ayam terpotong, kemudian wuuzzz.. si ayam yang sedang sakarotul maut dilempar ke tumpukan di sebelahnya.

Image

Seketika bulu ku merinding, ya Allah tuh orang baca bismillah nggak ya? Aku langsung takut, ngeri jika selama ini daging yang masuk ke dalam tubuhku di potong tidak dengan menyebut nama Allah, HARAM!!

Sahabat sekalian, bagi yang beragama muslim, kita wajib memilih makanan dengan memperhatikan kehalalan dan kethayyibannya. Tidak boleh hanya halal saja atau thayyib saja, harus dua-duanya.

Perlu diperhatikan bahwa yang halal belum tentu thayyib, dan yang thayyib belum tentu halal. Gula misalnya, ia halal bukan? Tapi tidak thayyib bagi penderita diabetes. Sedangkan daging ayam yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah, ia thayyib tapi tidak halal.

Makanya hari ini, ketika berniat berbagi ke Abduh, aku mengajaknya ke kandang ayam potong milik kepala sekolah ku.

“Pak Syaiful” ujarnya, “Disembelih disini aja ya?” tanya Abduh. Memang akan repot jika disembelih di rumahnya. Anaknya ada 4 orang dan masih kecil-kecil semua, istrinya pasti repot mengurus ayam ini jika disembelih di rumah.

“Jangan Pak, mendingan kita sembelih di rumah aja” jawabku. Kemudian ku jelaskan pengalaman ku di pasar kemarin.

“Bukankah berhati-hati lebih baik daripada mengambil resiko pak?” aku meyakinkan Abduh.

“Oke deh, kita sembelih di rumah aja nanti”

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.