Image

Mengajar di daerah Marginal? Sepertinya menarik!! Itulah mengapa saya mau ikut dalam program SGI Dompet Dhuafa angkatan tiga. Dibina selama enam bulan, kemudian dikirim ke daerah marginal Indonesia selama setahun. Tak terasa kini sudah tiga bulan saya dan teman-teman di penempatan masing-masing. Pasti begitu banyak kesan menarik yang sudah tercipta.

Ehhmmm… dengan modal iseng, juga pas kebetulan membuka Web SGI (Woooww.. ada pendaftaran SGI angkatan 4!!), makanya saya buat tulisan ini sekaligus memberikan informasi bahwa SGI angkatan 4 sudah dibuka! Silakan klik DISINI.

Idenya adalah dengan menanyai teman-teman dan Guru Model lewat sms dan Grup SGI Tiga, bagaimakah kesan teman-teman selama mengajar di daerah marginal? Dan inilah jawabannya..

“Ada deh!!” Julyasman, Guru Model SGI 3 di Buton.

“Jika kita ikhlas menjalaninya, mengajar di daerah itu sangat mengasikkan!” Nani Zulhani, M.Pd, guru inspirator ku di Bengkulu.

“Ngajar di pelosok? Sesungguhnya kita yang belajar! Banyak yang dipelajari seperti bagaimana hidup bermasyarakat, menjadi orang tua, mengatur uang sendiri, dan banyak lainnya.. sedangkan kalau mengajarnya, anak-anak di daerah sebenarnya memiliki potensi yang baik jika didukung oleh orang tua, lingkungan, pemerintah, dan sekolah, terutama gurunya”  Dhiyaudzdzikrillah, Guru Model SGI 3 di Pasar Wajo, Buton.

“Bikin Hidup lebih hidup!!” Imma, Guru Model SGI 3 di Jawai, Sambas.

“Belajar merawat dan membagi cinta NYA”  Siska Dewi (Jogja), Guru Model SGI 3 di Lombe, Buton.

“Selain dapet pengalaman, di pelosok juga dapet saudara-saudara baru yang baik semua” Syaiha, Guru Model SGI di Kota Bangun, Sambas.

“Walau harus menyeberang sungai, mengajar di pelosok itu menyenangkan!! Siswanya masih polos dan mudah diatur, tidak nakal-nakal” Mohtar, Guru Penjaskes SDN 01 Kota Bangun, Sambas.

“Kekeluargaan di pelosok itu masih sangat tinggi” Syafawi, tokoh masyarakat Kota Bangun, Desa Sebangun, Kec. Sebawi, Kab Sambas.

“Anak-anak di pelosok punya semangat yang lebih untuk belajar. Menyenangkan!!” Tantri, Guru Model SGI 3 di Buton.

“Sedih melihat kreativitas yang terkungkung, jauh dari peradaban, malu mengekspresikan diri.. tapi bahagia melihat senyum kepolosan anak-anak,.. walau terkadang juga kecewa melihat potret guru yang seenaknya! Semuanya membuatku bersemangat memberi sedikit perubahan!” Tekad Ayu, Guru Model SGI 3 di Sendoyan, Sambas.

Guru Model adalah sebutan kami, guru dari SGI yang dikirim ke daerah marginal Indonesia. Kami diharapkan bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dan guru di penempatan. Semoga saja.

Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa?

Bagiku, SGI DD adalah kendaraan yang membawaku menjadi bisa sedikit bermanfaat di daerah marginal ini. Tidak banyak memang yang bisa kami lakukan dalam satu tahun ke depan, tapi semoga bisa membekas ke hati anak-anak dan guru. Amin..

Sekolah Guru Indonesia adalah salah satu jejaring divisi pendidikan Dompet Dhuafa yang berkomitmen dalam melahirkan guru model berkarakter pemimpin yang memiliki kompetensi mendidik dan mengajar.

Sekolah Guru Indonesia (SGI), pada awalnya bernama Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) dan diresmikan pada tanggal 24 Oktober 2009 oleh bupati Bogor  sebagai salah satu program pemberdayaan dan peningkatan pendidikan yang dilakukan Dompet Dhuafa di dalam Program Divisi Pendidikan.

Pada awal terbentuknya, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia masuk dalam jejaring Makmal Pendidikan, seiring dengan perjalanan waktu, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia berekspansi menjadi Jejaring sendiri yang dinamai Sekolah Guru Indonesia pada tanggal 8 Februari 2012.

Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) berkomitmen melahirkan guru-guru model berkarakter untuk membangun bangsa berkarakter. Karena Indonesia membutuhkan orang-orang pilihan untuk memperbaiki karakter bangsa. Oleh karena itu, SGI DD mencari putra-putri terbaik bangsa untuk ditempa selama 5 bulan di asrama menjadi guru model berkarakter. Peserta akan mendapatkan kuliah, workshop, training, mentoring, military super camp, program pemberdayaan masyarakat serta magang di sekolah favorit.

Kemudian guru model yang siap mengabdi akan kami tempatkan di sekolah-sekolah dhuafa di daerah tertinggal, terluar dan terdepan di seluruh Indonesia.

Tertarik? Alhamdulillah kini SGI kembali membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi bagian dari arus besar perubahan untuk Indonesia lebih baik. (Untuk pendaftaran SGI 4, DISINI)

SGI adalah kumpulan pemuda yang masih bergejolak! Sebenarnya wajar saja jika kami melakukan protes ke pemerintah tentang pendidikan yang tak kunjung membaik. Tapi kami tidak memilih langkah itu, kami memilih untuk sedikit berbuat sesuatu.

Bukankah menyalakan lilin jauh lebih bijak dari pada mengutuk kegelapan?