Image

Di suatu sore beberapa bulan yang lalu, ketika sedang menyaksikan indahnya senja beserta secangkir semangat di teras, sebuah pesan singkat masuk ke Samsung Galaxy Mini ku,

“Disuruh jagain toko malah salah ngasih kembalian, kalau begini terus kan bisa rugi nih kakak” sms dari kakak kelasku.

“Ada apa lagi kak? Akhir-akhir ini kayaknya sering curcol.. hehehe” tanya ku heran melalui pesan singkat.

“Itu syaiha, suami kakak salah ngasih kembalian ke pelanggan. Ini bukan yang pertama loh, tapi sudah berkali-kali. Udah gitu kalau dinasihati malah suka marah-marah. Beginilah kalau menikah sama orang yang tidak lulus SD” sms nya sarat emosi, “Nanti kalau kamu menikah, pilihlah calon yang baik akhlak dan pendidikannya ya, jangan asal-asalan. Menikah itu bukan untuk sebulan dua bulan, tapi untuk selamanya”

“Iya kak, Insya Allah. Kakak yang sabar ya” balasku sambil menyeruput secangkir semangat yang mulai mendingin.

Anggap saja namanya Indah. Ia kakak kelasku dulu di Desa Air Dikit, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Usia kami terpaut empat tahun, tapi aku dan Indah memang akrab, maklumlah, ia adalah tetanggaku di kampung. Sampai sekarang Indah selalu menceritakan semua masalah keluarganya kepadaku, padahal aku juga tidak memberikan solusi apa-apa, hanya mendengarkan dan simpatik saja. Mungkin memang benar bahwa perempuan itu suka sekali curhat, bukan untuk meminta solusi, tapi hanya ingin menumpahkan emosinya saja. setelah semua ditumpahkan, biasanya akan sedikit lega.

Dari kejadian ini, aku banyak mengambil pelajaran. Terutama dalam memilih calon pasangan hidup.

Pendidikan adalah hal yang penting. Ada yang mengatakan bahwa carilah pasangan yang sekufu. Sekufu diartikan dengan sederajat dalam hal pendidikan atau sederajat dalam hal pemahaman agama. Semakin sama tingkat pemahaman anda dan pasangan hidup anda, maka ketidakcocokan bisa sedikit dikurangi. Selain itu, tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap cara pandangnya memandang sesuatu. Tidak mudah emosi dan lebih dewasa menghadapi masalah. Yah walau sebenarnya tidak menjamin, karena kedewasaan biasanya juga hadir dari pengalaman hidup. Tapi sebagian besar adalah semakin tinggi pendidikan seseorang biasanya akan semakin bijak.

Cerdas-cerdaslah memilih pasangan hidup. Jangan sampai dibutakan oleh cinta saja. Benar kata Indah, menikah itu bukan untuk sebulan atau dua bulan, menikah itu untuk selamanya. Maka memilih pasangan yang baik akhlak dan agamanya adalah kewajiban. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Bagi yang beragama Islam, Rasulullah sudah memberikan standar, Enak dipandang, kaya, keturunan baik-baik, dan agamanya bagus. Alhamdulillah jika anda mendapatkan pasangan yang memiliki semua kriteria itu dalam dirinya, tapi agak jarang sepertinya. Maka kemudian, pilihlah yang agamanya baik.

Terimakasih Indah atas semua hikmah yang selama ini kau berikan kepadaku. Doaku senantiasa untukmu dan keluargamu, semoga tetap Sakinah, Mawaddah, Warohmah.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.