Image

sempet-sempetnya berfoto sebelum berangkat ke lokasi training

“Ibu” sapaku kepada seorang peserta training guru dan remaja kemarin, Minggu 18 Juni 2012, “Sebelum dilahirkan dulu, pernah nggak ibu memilih untuk memiliki kulit yang putih seperti sekarang?”, Ia menggeleng, tidak pernah!

“Atau pernah nggak memilih wajah yang cantik seperti sekarang?” tanyaku lagi. Ia masih menggeleng.

“Jadi memang kita tidak pernah memilih akan seperti apa kita dilahirkan bukan?” tanyaku diiringi instrument Koi nya kitaro. Sebagian besar peserta mengangguk.

“Teman-teman sekalian, begitu juga diri saya! Saya tidak pernah memilih untuk dilahirkan seperti ini! Saya tidak pernah memilih untuk tumbuh menjadi pemuda yang jalan saja tak sempurna! Ya, saya tidak pernah memilih untuk dilahirkan sebagai pemuda yang cacat” ucapku dengan nada meninggi. Suasana menjadi haru, mungkin karena bantuan instrument Koi nya Kitaro yang menyentuh. Peserta seketika hening, bahkan aku melihat beberapa mata mulai beair.

Setelah mereka terhanyut dalam haru, barulah kemudian ku jabarkan beberapa prestasi yang pernah ku raih. Lulus dengan predikat terbaik dari IPB, peraih beasiswa S2 dari KAUST dan USM (Walau kenyataannya tidak ada yang kuambil), peraih dana hibah penelitian dari DIKTI, dan berbagai prestasi lainnya.

Sebenarnya bukan apa-apa, entahlah, mengapa peserta takjub. Tapi itulah tujuanku, memancing mereka berpikir bahwa apapun kondisi kita sekarang, entah kaya, miskin, normal, atau cacat, kita harus bisa menjadi sesuatu. Aku memancing mereka untuk mengatakan pada dirinya sendiri, Jika Syaiha yang cacat saja bisa berprestasi, maka aku juga pasti bisa!

Setelah mereka takjub dengan berbagai prestasiku, barulah kemudian ku jelaskan beberapa hal yang ku lakukan. Bagaimana bisa aku yang memiliki kekurangan ini mampu mengukir berbagai prestasi? Tujuan ku adalah, siapapun mereka sekarang, entah guru atau pemuda yang masih sekolah, mereka harus bisa berprestasi di bidangnya. Menjadi guru idola dan dirindukan, menjadi pemuda yang bisa mengukir berbagai prestasi, aktif di organisasi-organisasi yang baik, dan sebagainya.

Aku menjelaskan bahwa semua manusia itu dilahirkan untuk menjadi orang yang sukses (tentu saja kesuksesan menurut kita masing-masing, tidak bisa disamakan), namun kenyataannya tidak semua bisa memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya, bukan? Mengapa bisa seperti ini?

Menurut buku Bagaimana Berpikir Besar karya Steward, dijelaskan ada beberapa penyakit kegagalan yang sering kali diderita oleh banyak orang.

Pertama, banyak orang yang tidak melakukan apa-apa karena merasa kesehatannya tidak baik. Misal, “Saya kan buta, saya tidak mungkin bisa berbuat apa-apa” atau “Saya sebenarnya ingin membuka usaha, tetapi kesehatan saya buruk” atau “Saya tidak ingin kemana-mana, jantung saya lemah” dan masih banyak lagi. Padahal di luar sana banyak tokoh-tokoh besar yang bisa sukses dengan kesehatan yang tidak sempurna.

Kedua, banyak orang gagal yang menggunakan alasan pendidikan sebagai sebab kegagalannya. Misal, “Saya sebenarnya ingin membuka perusahaan, tapi saya hanya lulusan SD. Saya pasti tidak akan berhasil” atau “Orang yang sarjana saja tidak bisa, apalagi saya yang hanya lulusan SMP” dan banyak lagi.

Orang yang menggunakan alasan pendidikan untuk tidak melakukan apapun tidak sadar bahwa kesuksesan itu tidak berbanding lurus dengan pendidikan, tapi dengan ketekunan dan keuletan.

Ketiga, alasan usia menjadi salah satu penyebab kegagalan juga. “Saya ingin kuliah, tetapi saya terlalu tua” atau “Saya tidak mungkin menjadi pemimpin, saya kan masih muda” dan sebagainya.

Ketiganya adalah penyakit kegagalan yang sering dijadikan alasan oleh manusia untuk tidak melakukan apapun. Di akhir sesi aku menjelaskan bagaimana menyembuhkan ketiga penyakit kegagalan ini.

Entahlah bagaimana hasilnya nanti, kewajibanku adalah menyampaikan yang menurutku baik, sedangkan berubah atau tidak nya mereka menjadi lebih baik lagi, itu urusan Allah yang memberikannya hidayah.

Sebelum menutup materi training aku berujar, “Teman-teman, hidup ini adalah kewajiban, kewajiban melakukan yang terbaik apapun kondisi kita sekarang. Tak peduli apakah anda pintar atau tidak, tak peduli apakah anda tampan atau tidak, tak peduli apakah anda kaya atau tidak, pokoknya apapun kondisi kita sekarang, kita wajib melakukan yang terbaik!” Peserta mengangguk-angguk setuju.

Sore hari setelah training, di salah satu rumah makan daerah Selakau Timur, Kab. Sambas, Kalimantan Barat, Gusti Rahayu, peserta SGI yang mengabdi di Sendoyan, kecamatan Sejangkung berkata, “Bang Syaiha, tadi ada peserta yang nangis loh.. Alhamdulillah ya training hari ini lancar!” Kami berlimapun tersenyum bahagia sambil menikmati bakso spesial yang sudah dihidangkan. Sungguh hari yang menyenangkan!!

Salam Ukhuwah.

Keterangan Foto dari Kiri-Kanan : Jamil Abdullah (Alumnus Unhas, Makassar) mengabdi di Senabah, Irhamni Rahman (Alumnus UI, Depok) mengabdi di Jawai, Junita (Alumnus Unsri, Palembang) mengabdi di Seranggam, Gusti Rahayu (Alumnus Unand, Padang), dan Syaiful Hadi (Alumnus IPB, Bogor) mengabdi di Kota Bangun. Semua berada di pedalaman Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kemarin, Irhamni Rahman sebagai ice breaker, Junita sebagai pemateri I, aku sebagai pemateri II, Jamil dan Gusti Rahayu sebagai singers. Semua menjalankan tugasnya dengan baik.