Image

Saya sebenarnya tidak tahu sekarang sudah tanggal berapa Hijriah, tapi kemarin malam, di dusun Kota Bangun, Sambas, Kalimantan Barat, diadakan peringatan Isro’ Mi’roj dan saya dipercaya untuk mengisi pengajian itu. Mungkin sudah tanggal 27 Rajab, mungkin sudah lewat, atau mungkin belum.

Bagi sebagian saudara muslim lainnya, peringatan seperti ini adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah, saya sepakat. Di masa Rasulullah memang tidak pernah ada.

Tapi yang saya tidak sependapat adalah ketika saudara muslim saya ini menganggap peringatan seperti ini adalah bid’ah, sesat, dan neraka. Apakah mungkin majelis yang di dalamnya dibaca ayat Al Quran dan membicarakan kebaikan ini sesat? Bagi saya yang awam ini, asalkan niatnya adalah untuk kebaikan dan tidak mewajibkan kegiatan ini selalu ada setiap tahun, maka sepertinya tidak apa-apa. Toh bukan wewenang kita menentukan ini syurga atau neraka, biarlah Allah saja yang menilai.

Sejak jam setengah enam sore, warga sudah berbondong-bondong menuju masjid utama dusun ini, ramai sekali. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan anak-anak berkumpul riang di halaman masjid menjelang shalat maghrib. Sebagian anak-anak malah berlarian kesana kemari, berkejar-kejaran gembira.

Sedangkan setibanya di masjid, saya langsung duduk di shaf paling depan menunggu waktu maghrib tiba. Beberapa anak-anak memandangku dan melemparkan senyum mereka. Saya yakin, mereka ingin berada di sampingku, tapi imam masjid melarang, “Anak-anak di belakang ya, jangan di depan” begitu katanya. Sebagian orang tua yang mengenalku juga selalu melemparkan senyum ketika tak sengaja pandangan kami bertemu. Ah senangnya.

Malam kemarin memang membahagiakan, bukan karena amanah menjadi pengisi pengajian, bukan sama sekali. Saya bahagia justru karena masjid yang biasanya hanya seperti museum dan panti jombo ini, yang biasanya sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang sudah udzur, malam itu menjadi penuh sesak oleh warga. Semoga saja bisa terus seperti ini. Sayang kan jika masjid yang besar ini hanya menjadi rumah bagi laba-laba dan hewan lainnya.

Setelah melaksanakan shalat maghrib berjamaah, pengajianpun dimulai. Abduh bertindak sebagai pembawa acara, sedangkan istrinya pembaca ayat suci Al Quran. Semua diborong oleh keluarga Abduh, bukan keinginannya, tapi memang tidak adanya generasi lain yang mampu. Inilah akibat buruknya pembinaan usia muda. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya masjid ini nanti jika Abduh dan keluarga tidak ada. Bisa-bisa hanya menjadi bangunan kosong berhantu.

Pada kesempatan mengisi pengajian ini, saya mengambil tema Urgensi Shalat Berjamaah. Saya sengaja mengangkat tema ini agar masjid yang biasanya kosong bisa sedikit lebih ramai nanti.

Materi ini didasarkan tiga dalil, satu dari Al Quran, surat An Nisa’ ayat 102, dan dua dari hadist Rasulullah saw, tentang seorang buta yang meminta keringanan untuk shalat di rumah saja tapi Rasulullah tidak mengizinkan dan hadist tentang ancaman rasulullah yang akan membakar rumah laki-laki yang tidak melaksanakan shalat di masjid. Silakan googling saja, ketiga dalil itu pasti ada.

Ketiga dalil ini menegaskan bahwa shalat berjamaah di masjid adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Artinya kewajiban shalat berjamaah tidak akan gugur walau sudah ada satu atau sebagian orang yang shalat di masjid. Tidak seperti fardhu kifayah yang jika sudah ada yang melakukan satu orang saja, maka gugurlah kewajiban orang yang lain. Contoh fardhu kifayah adalah menshalatkan jenazah.

Saat saya menyampaikan penjelasan tentang urgensi shalat berjamaah, sebagian besar warga mengangguk-angguk setuju. jika seorang penulis senang ketika tulisannya diterima dan dibaca banyak orang, mungkin bagi pembicara, kesenangannya adalah ketika pendengar mengerti apa yang disampaikan. Maka malam itu saya senang melihat anggukan-anggukan itu.

Apakah mereka akan sadar dan mulai meramaikan masjidnya?

Entahlah! Kewajiban saya adalah menyampaikan walau hanya satu ayat, sedangkan hidayah itu hak mutlaknya Allah saja. namun saya tetap berharap masjid ini menjadi bertambah jamaahnya, paling tidak maghrib dan Isya saja dulu lah. Semoga.

Salam Ukhuwah. Syaiful Hadi.