Image

Setiap tahun di bulan Juli generasi muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan selalu disibukkan dengan pendaftaran ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dari SD ke SMP, SMP ke SMA, dan SMA ke Perguruan Tinggi. Biasanya, baik orang tua ataupun anak mengalami kebingungan, akan melanjutkan kemana setelah lulus? Inilah akibatnya jika tidak pernah dipikirkan jauh-jauh hari. Hidup itu tidak bisa hanya mengikuti kemana air mengalir, harus direncanakan dengan baik, begitu pula dengan pendidikan.

Untungnya kebingungan ini tidak terjadi di keponakan ku, Endi Fajar Rahmatullah. Ia baru saja lulus SD dan akan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, melakukan observasi, dan survey, dipilihlah MTs Al Iman di bilangan Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Mengapa Al Iman? Karena sekolah ini memadukan ilmu agama dan umum dengan baik, terbukti dengan lebih dari 10 lulusannya tahun ini yang sedang mengikuti seleksi di Jakarta untuk beasiswa ke AL Azhar, Mekkah, Madinah, dan Turki. Yah, siapa tahu nanti Fajar bisa kuliah di Mekkah. Semoga saja.

Lalu bagaimana merencanakan pendidikan lanjutan untuk anak-anak kita? Berikut beberapa tips dari saya.

Tujuan yang jelas. Ini adalah langkah pertama yang harus ditetapkan. Seorang anak atau orang tua harus memiliki tujuan yang jelas akan dibawa kemana anaknya. Kalau kakak saya memang bertujuan ingin memberikan pondasi agama yang kuat tapi juga tidak menyepelekan ilmu sains. Mungkin tujuan akhir yang diinginkan adalah terbentuknya seorang intelek yang beriman. Maka kemudian kakak saya memilih MTs modern, yang memadukan materi agama dan umum dengan baik.

Kemampuan dana. Ini juga penting sekali bukan? Kita harus bisa secerdas mungkin memilih sekolah yang bagus namun juga terjangkau. Pendidikan memang semakin mahal sekarang, tapi apakah tingginya biaya berbanding lurus dengan kualitas dan lulusan yang dihasilkan? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Maka cerdas-cerdaslah memilih pendidikan yang baik dan terjangkau.

Jajaran pengajar yang mumpuni. Sebuah pendidikan memiliki tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, Guru, Siswa, dan Sumber Belajar. Dari ketiga ini, bagi saya guru adalah sentral pendidikan. Baik tidaknya siswa, sebagian besar dipengaruhi oleh gurunya, terutama untuk pendidikan bawah, SD. Mengapa? Untuk anak SD, guru bukan hanya sebagai pengajar di kelas, Ia juga model yang hidup bagi siswa, dan juga sahabat yang menyenangkan.

Kemauan sang anak. Sebagai orang tua kita harus bijak dan tidak memaksakan kehendak kepada anak kita. Merekalah yang akan menjalaninya, maka berikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Jika pendapat mereka baik maka tidak ada salahnya menuruti kemauan mereka, bukan? Hal ini juga melatih anak kita bertanggung jawab terhadap pilihan yang sudah diambil. Tapi untuk anak SD yang masih kecil, maka mungkin orang tua harus memegang peranan lebih besar memilihkan pendidikan berikutnya bagi sang anak, tapi juga harus menanyakan apakah si anak mau bersekolah disana.

Akses jenjang pendidikan berikutnya. Memilih sekolah bagi anak, juga harus memperhatikan kemudahan dalam melanjutkan ke sekolah berikutnya. Jangan sampai asal-asalan memilih sekolah untuk anak, eh pas sudah lulus malah tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Kegiatan ekstra kurikuler. Mungkin menjadi penting juga untuk menanyakan ke pihak sekolah kegiatan apa saja yang disediakan di sekolah untuk pengembangan softskill peserta didiknya. Semakin banyak pilihan tentu saja semakin bagus bukan? Tapi juga biasanya juga berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Maka melakukan screening minat anak dan kegiatan ekstra kurikuler bisa membantu memilih pendidikan yang tepat.

Inilah beberapa tips dari saya, dan ini pula yang saya sampaikan ke kakak saya kemarin. Semoga menjadi manfaat bagi siapa saja yang membaca.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.