Image

Di tempat ku sekarang, pedalaman Kalimantan, cerita berbau mistis kerap sekali terdengar. Cerita tentang hantu dan keangkeran suatu daerah tertentu menjadi makanan ku hampir setiap hari. Bahkan seminggu setelah aku tiba kemarin, ada seorang warga yang datang ke sekolah, menemuiku untuk minta diajarin ilmu ghaib. Gubraakk!!! Jelas saja aku tidak mengerti. Katanya, ketika menjadi khatib shalat jumat bacaan quran ku bagus, apalagi aku keturunan Jawa yang diyakini punya beberapa ilmu ghaib. Ada-ada aja.

Akibat saking sering dan percayanya warga dengan cerita horor itu, kini mereka memiliki ketakutan yang berlebihan. Pernah suatu ketika anak-anak yang menemaniku tidur di sekolah tidak berani ke kamar kecil, jadilah diriku yang menemani mereka ke toilet untuk buang air kecil, merepotkan. Bahkan jika ada suara dari langit-langit sekolah, yang kuyakini itu adalah ulah tikus, mereka justru mengatakan “Ihh ada suara apa itu, hantu-hantu”. Kasihan sekali anak-anak ini.

Jika ditanya mengapa hal ini bisa terjadi, maka menurutku ada beberapa faktor yang memicunya.

Pertama, kondisi wilayah yang memang masih belukar. Di sekolah ku misalnya, jauh dari rumah warga dan dikelilingi oleh semak belukar dan ladang sagu yang juga nyaris tak terurus. Jadilah ketika malam keadaan sekitar menjadi gelap gulita dan sedikit menyeramkan. Apalagi jika ada hewan malam yang jika diperhatikan, mata mereka akan memancarkan cahaya tertentu, biasanya berwarna merah, hal ini menjadi sensasi tersendiri.

Kedua, kondisi masyarakat yang masih tradisional. Kita semua paham bahwa semakin tinggi pendidikan biasanya semakin maju pikirannya dan semakin tidak mempercayai keberadaan hantu. Tidak logis soalnya jika ada orang yang sudah mati bisa bangkit dan menjadi hantu, entah itu pocong, sundel bolong, atau apalah namanya.

Ketiga, cerita-cerita hantu dari golongan tua kepada generasi penerusnya. Anak-anak yang seharusnya diberikan cerita-cerita mendidik dan menarik, eh malah justru dicekoki oleh cerita horor tak mendidik dan menyeramkan. Inilah, orang tua terkadang tidak mampu memilih cerita yang baik untuk anak-anaknya.

Keempat, perang antara Madura melawan Melayu dan Dayak yang sempat menghebohkan di akhir tahun 90an. Konon ketika perang ini terjadi dulu, di sungai-sungai sekitar sini banyak kepala-kepala korban yang dihanyutkan. Kini mereka menganggap arwah-arwah korban gentayangan di sekitar sini.

Kelima, langsung atau tidak, film-film berbau horor tak bermutu juga menjadi salah satu faktor munculnya ketakutan ini.

Tidak hanya tentang hantu, malah jika ada yang sakit tertentu kadang-kadang dihubungkan dengan hantu atau yang sejenisnya. Keadaan ini menjadikan hampir semua anak-anak sekolah ku memiliki ketakutan yang berlebihan, akibatnya perkembangan psikologis mereka terganggu. Menyedihkan bukan!

Aku teringat almarhum ayahku yang mendidikku dengan sangat bijak tentang hal ini, “Syaiful, dunia ghaib itu memang ada, seperti setan yang selalu menggoda manusia untuk bermaksiat. Tapi kalau untuk hantu seperti pocong, kuntilanak dan sebagainya, ayah belum pernah melihatnya. Bahkan semua teman atau orang tua yang sering menceritakan itu, ketika ayah tanya mereka menjawab tidak pernah juga melihatnya. Entahlah hantu itu memang ada atau tidak” begitu nasihatnya dulu.

“Lagian jika pun ada mereka tidak akan mengganggu kita. Belum pernah ada kan orang mati karena di serang hantu? Jadi tidak usah takut, mungkin memang hantu itu tidak ada. Tapi kamu juga jangan menjadi sombong dan takabbur kemudian menantang-nantang ingin melihatnya. Bersikaplah biasa aja”

Nasihatnya inilah yang menjadikan ku seperti sekarang ini. Ketika warga disini diselimuti ketakutan yang berlebihan, aku malah berani tinggal di sekolah sendirian, jauh dari perumahan warga. Mereka terheran-heran mengapa aku berani memilih tinggal di sekolah, padahal menurut mereka sekolah ini angker.

Sampai sekarang aku tidak tahu hantu itu ada atau tidak, jikapun ada semoga aku tidak pernah melihatnya. Asal aku tidak mengganggu, maka mereka pun tidak akan menggangguku.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi