Hari minggu 10 Juni 2012, saya didatangi oleh Abduh (jika kalian membaca postingan ku dulu, maka pasti kalian kenal Abduh), selain sebagai guru, beliau juga sebagai imam masjid di sini. Abduh lah yang selalu menemaniku kemana-mana dan mengirimi ku makanan setiap hari, baik sekali dia kepada ku. Dan ketika bertemu kemarin beliau berkata, “Sejak Pak Syaiful jarang ke masjid, jamaah shalat maghribnya kini menjadi tidak ada lagi, Pak”. Saya tertegun dan beristighfar.

Image

masjid besar tapi kosong

“Kalau bisa bapak ke masjid dan ngisi tausiyah ke ibu-ibu lagi ya, nanti saya antar jemput aja ke masjid nya” begitu katanya lagi. Abduh memang iba melihatku jalan pelan dan tak sempurna sejauh itu.

Memang, jika diingat-ingat mungkin sudah hampir satu bulan saya tidak berjamaah di masjid, futur sekali diriku kemarin. Disini, saya memang merasa berat untuk ke masjid, disebabkan oleh beberapa alasan.

Setiap sore, disini selalu banjir, bisa semata kaki atau bahkan selutut. Biasalah, air laut pasang. Hal ini menjadikan ku enggan kemana-mana. Takut ada ular seperti waktu itu. Selain itu, jalanku yang tidak sempurna ini (karena kaki kanan cacat) juga menjadikan alasan tersendiri. Masjid jauh dan hampir setengah perjalanan ke masjid gelap gulita. Saya memang tidak nyaman jalan di jalan yang tak rata dengan kondisi gelap, bisa jatuh bangun deh.

Ah tapi itu hanya alasan yang kubuat-buat saja, tidak bisa dibenarkan. Kan bisa pakai senter!! Bahkan kaki kanan cacat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Abdullah bin Umi Maktum di masa Rasulullah. Dulu beliau yang buta kedua matanya pernah mendatangi baginda nabi dan meminta keringanan untuk tidak ke masjid.

“Ya Rasulullah, berilah keringanan untuk ku agar diijinkan menjalankan shalat lima waktu di rumah saja. Kondisiku yang buta ini sungguh menyusahkan” pinta Abdullah bin Umi Maktum ketika itu.

Melihat kondisinya yang memprihatinkan, Rasulullah sudah hampir mengiyakan, tapi kemudian Allah membimbing sang nabi, “Apakah engkau mendengar adzan wahai Abdullah?”

“Iya, ya Rasulullah, saya mendengarnya”

“Maka tidak ada alasan bagimu untuk tidak ke masjid”

Ah saya malu sekali jika ingat siroh ini. Jika dibandingkan dengan Abdullah bin Umi Maktum, maka cacat ini belum seberapa. Sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk tidak ke masjid, bukan??

Sore kemarin kemudian ku tekadkan untuk rutin ke masjid bersama anak-anak yang selalu setia mengekor kemanapun ku pergi. Saat tiba di masjid, suasananya masih sepi, tidak ada orang satu pun. Padahal waktu maghrib sudah masuk. Maka kemudian saya segera adzan dan menjadi imam shalat maghrib.

Selesai memimpin doa, ku lihat jamaah yang hadir, tiga anak laki-laki dan empat orang ibu-ibu yang sudah berumur. Walau miris, saya tetap mengucapkan hamdallah. Untunglah masih ada jamaahnya,  gumamku.

Melangkahkan kaki ke masjid memang berat, iya kan? Sudah, mengaku saja lah. Sama kok seperti saya dan warga disini, mereka juga belum mau memakmurkan masjidnya sendiri, padahal masjidnya besar. Bahkan ada imam cadangan yang sering menjadi khatib tapi tidak pernah menjalankan shalat berjamaah di masjid kecuali shalat jumat dan shalat ‘Id. Ada juga pak Haji yang ketika di ajak ke masjid selalu tidak mau, selalu saja ada alasannya untuk menolak. Padahal rumah mereka hanya sepelemparan batu saja dari masjid.

Kok imam dan pak Haji begitu? Entahlah, mana saya tahu.

Inilah dua pekerjaan rumahku, aku harus rajin ke masjid dan berusaha memakmurkannya, walau hingga kini sebenarnya saya masih bingung harus memulainya dari mana.

Salam Ukhuwah. Syaiful Hadi.